Dampak Penggunaan Antibiotik yang Irasional

Kamis, 17 September 2009 | 11:22 WIB

KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.

Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak rasional.

“Kenyataannya, kita ‘boros’ dalam menggunakan antibiotik sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama,” sesal dr Purnamawati S Pujiarto, SpA (K), MMPed, yang akrab disapa Wati ini.

Selain itu, ada beragam efek yang mengancam bila anak mengonsumsi antibiotik secara irasional, di antaranya kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, ruam kulit, gangguan saluran cerna, pembengkakan bibir maupun kelopak mata, hingga gangguan napas. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini berisiko menimbulkan alergi di kemudian hari.

Dampak lain akibat pemberian antibiotik irasional adalah gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Risiko kelainan hati muncul pada pemakaian antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid.

Golongan amoxycillin dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis (peradangan hati). Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Selain itu, pemberian antibiotik spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu perkembangan flora normal usus karena dapat mematikan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh. Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, seperti bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan serta pembentukan vitamin B dan K.

Nah, anak yang kelebihan antibiotik bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah perdarahan. Selain itu, juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan mengalami iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.

Diare disebabkan terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus sehingga bakteri “jahat” menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan.

Akibat lain dari pemberian antibiotik yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap makhluk memiliki kemampuan untuk bertahan, begitu pun bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus-menerus, akan tercipta suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi atau berubah bentuk sehingga sulit dibunuh oleh antibiotik. “Jadi, semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin resisten pula bakteri, parasit, atau jamur tersebut!” tandas Wati.

Bibit penyakit yang resisten itu dikenal dengan nama superbugs. Superbugs ini dapat menjadi masalah serius bagi kesehatan, baik bagi si penderita maupun masyarakat luas. Bila ada anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Infeksi akibat superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping kesehatan yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya akan kebal kembali terhadap antibiotik yang superkuat tadi.

Itulah sederet akibat buruk dari penggunaan antibiotik secara berlebihan (irasional). “Yang akan dirugikan tentu bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Wati. Lantaran itu, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, atau batuk.

Memang, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat bakteri atau kuman sehingga tak lepas perannya dalam proses penyembuhan. Akan tetapi, penggunaan yang irasional menyebabkan antibiotik lebih banyak merugikannya ketimbang menguntungkan. (Nakita/Hilman Hilmansyah)

Sumber : Kompas

Comments (2) »

Indonesian doctor sends her message via radio and TV

The practice of parcelling ground-up drug mixtures to treat paediatric conditions, still common in Indonesia, results in irrational drug use that threatens the health of children. An Indonesian paediatrician is using radio and television to call for the practice to stop. Cininta Analen reports.

When Sasha Jusuf’s six-month-old baby developed a fever she took her to the emergency department. “Zea had a temperature of 40°C, and was coughing,” Sasha remembers. A doctor at the hospital in Jakarta diagnosed a common cold and prescribed paracetamol and a cough syrup. But, seeing little improvement in Zea’s condition, 27-year-old Sasha went to a paediatrician the following day. He took a quick look at the baby, “diagnosed” throat inflammation – needless to say, not a disease but a symptom – and prescribed amoxycillin.

After two days on the antibiotic, Zea became extremely lethargic. Alarmed, Sasha returned to the emergency department in the middle of the night where the doctor she had seen on the first visit now discovered hives behind Zea’s ears. This time he diagnosed measles and scribbled out a list of powerful medications that included an antibiotic, an antihistamine, an anti-asthma drug and, to top it all off, an anticonvulsant. These were to be ground up into a powder by a pharmacist and given to the baby in fifteen “paediatric” packets.

WHO/Martin Weber
Piles of puyers, cocktails of medicines ground up into powder.

Such concoctions, known as puyers – derived from “powder” in Dutch – are a typical response to commonplace paediatric ailments in Indonesia. According to studies carried out in the Indonesian provinces of Bali in 2000 and West Sumatra in 2006, puyers contain on average around four active ingredients, while a national study carried out by the Indonesian Ministry of Health in 1997 reported an average number of medications per prescription of 3.49.

But the reality may be even more alarming according to a preliminary study of prescribing patterns for common paediatric ailments carried out in 2006–2007 by paediatrician Purnamawati S Pujiarto, founder of a nongovernmental organization (NGO) Yayasan Orang Tua Peduli, in collaboration with her colleague Dr Arifianto. This limited study, based on e-mail testimony from mothers aged between 26 and 30 years, found that in every case the women’s children had been prescribed mixtures of up to 11 medications for ailments that were both mild and self limiting. The most commonly prescribed drugs were antibiotics.

According to Purnamawati, more than 50% of the medicines consumed in Indonesia are prescribed, dispensed, or sold irrationally, often as a result of the grinding and compounding that is a key aspect of puyer production. “Medicines are prescribed for children when they are not needed, when they are inappropriate, when they are ineffective and when they are unsafe,” she says. The practice also leads to overuse of antibiotics and steroids, which can lead to drug resistance. Meanwhile, effective and affordable medicines that are available, including many generic medicines, are underused or not used correctly.

For Dr Sri Suryawati, a leading proponent of rational drug use in Indonesia, where she runs the International Network for Rational Use of Drugs (INRUD), polypharmacy – the prescription of many drugs at one time – is one of the biggest risks associated with the use of puyers, notably where there are adverse drug-to-drug interactions. Meanwhile, where side-effects occur, the fact that the drugs have been taken together makes it difficult to pinpoint which medicine is causing the problem. Other concerns include the likelihood of human error in mixing, contamination and lack of information for the consumer. “Puyer packets have no information on them,” says Suryawati, pointing out that this means that puyers are not in compliance with a 1992 law on complete and accurate labelling.

WHO/Cininta Analen
Dr Purnamawati S Pujiarto

Children are put at particular risk when the doctor grinds adult solid dosages to a powder, which is then divided into assumed paediatric doses. This was one of many problems underlined by a meeting in March in Geneva of the World Health Organization’s Expert Committee on the Selection and Use of Essential Medicines. In a draft report of that meeting published on the Internet, the committee concluded that puyers should not be used because “some medicines in the mixture are not indicated for the condition being treated. These medicines add to the risk of adverse events without any possibility of adding additional benefit.”

In Indonesia, there are signs that things may be changing. Suryawati takes heart from a recent government decision to include paediatric preparations in the latest revision of the Indonesian National Essential Medicine List of 2008. “This revision is extremely important as there will be no place for compounding anymore when paediatric preparations are available,” Suryawati says.

Given the powerful scientific argument against the use of puyers, why is it still commonplace in Indonesia? According to Purnamawati, one reason is convenience. “It’s easier and faster for the doctors to write the same template prescription over and over again, rather than prescribing individually and having to explain the sickness, its cause and what must be done by the patient,” she says, noting that her study revealed that doctors seldom informed parents about the cause of a given ailment. “They just repeat the symptoms as the ‘diagnosis’ – the most common being ‘a sore throat’,” she says. This practice puts the focus on medicating the symptom rather than the cause.

Inertia also plays a role: “Prescribing puyers has become a part of the health-care culture,” Purnamawati says. It is simply the way things have been done for a long time. Finally, there is the perennial issue of financial interest. “The prescribing pattern in one of our studies showed a low rate of generic prescriptions,” says Purnamawati, noting that doctors preferred to prescribe brand-name drugs likely to generate money for the providers.

WHO/Cininta Analen
Zea with her father, Jusuf. Zea is now 18 months old.

In an effort to push back against these entrenched practices, Purnamawati’s NGO has made a concerted effort to address the public directly through mass media rather than try to persuade doctors to change their ways. Since 2005, Purnamawati, has promoted the cause of rational drug use through a Be Smarter, Be Healthier campaign, which she publicizes in interviews on radio, television and the Internet. “We encourage people to get health information to reduce their dependency on curative services from doctors,” Purnamawati says, adding that a more informed public will encourage doctors to adopt rational use practices.

Needless to say the approach has upset members of Indonesia’s medical establishment. Back in February, Purnamawati spoke about puyers on a programme entitled Polemik Puyer, aired on a private television station, RCTI. The show provoked a good deal of controversy and Purnamawati was surprised by the number of doctors who spoke out against her, saying that her statements were misleading. At the same time she was encouraged by the public response. “This show encouraged a critical attitude in the general public and as a result many parents consulted me directly,” she says.

Of course not every mother has the courage to adopt this critical attitude when faced by a doctor. Sasha Jusuf certainly did not. But she did have misgivings. “When I got home, I did some research in magazines and on the Internet and I found out that at six months my baby would start teething and that the fever was a common symptom,” she says. She didn’t give Zea the puyer and after a couple of days the baby made a complete recovery. Without knowing it, she was following Purnamawati’s recommendations for people who doubt their doctor’s puyer recipe. “If there are more than two lines in the prescription don’t buy it,” Purnamawati says. ■

Source : www.who.int

Comments (1) »

Ada 13 SOP dalam Pelayanan Rumah Sakit

Selasa, 16 Juni 2009 15:06

Berikut wawancara SH dengan Komisaris Rumah Sakit Krakatau Medika, Serang, Banten, DR Dr H Tb Rachmat Sentika Sp.A, MARS.
Berkaca dari kasus Prita Mulyasari versus Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Tangerang, sebenarnya Standar Operasional Prosedur (SOP) sebuah rumah sakit dalam menangani pasien itu seperti apa?
Sebuah rumah sakit wajib menyusun standard operating procedure. Setidaknya ada 13 jenis standar yang diperlukan. Di antaranya adalah untuk pelayanan medis, penunjang medis, keperawatan, sumber daya manusia, keuangan dan adminitrasi, pelayanan umum, pemasaran, manajemen infus, QUMR, kebersihan dan keselamatan kerja, perinasia/kamar bayi, dan penyebaran bahan-bahan berbahaya dari rumah sakit. Jadi rumah sakit yang tidak punya standar seperti ini tidak bisa keluar surat izin sementaranya.

Penjelasannya seperti apa?
Ada pula untuk pelayanan medis bagaimana penerimaan pasien di UGD, penerimaan pasien di poliklinik dan unit rawat jalan, bagaimana menangani pasien di rawat inap. Untuk penunjang medis ada farmasi, laboratorium, radiologi, instalasi medik. Sementara untuk laboratorium medis ada beberapa tindakan, cara memilih kreagen, kesesuaian hasil, ketidaksesuaian hasil bagaimana cara penanganannya.

Apakah pihak rumah sakit sudah memberi tahu pasien tentang hak-haknya?
Ada Undang-Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dalam Pasal 47 dikatakan bahwa setiap pasien berhak untuk menerima informasi mengenai penyakitnya, hasil pemeriksaan dirinya, dan rencana pengobatannya. Setiap kejadian ditulis di medical record. Medical record kepunyaan rumah sakit, tapi isinya kepunyaan pasien. Dan pihak yang berhak mengetahui hanya dokter dan pasien itu sendiri, bahkan pihak manajemen rumah sakit tidak boleh mengetahuinya. Selanjutnya, hak-hak pasien lainnya ialah berhak mendapat informasi dari ahli/dokter lainnya. Setiap pasien berhak mengemukakan pendapatnya, tetapi dokter tidak boleh.

Tetapi pasien sering tidak tahu hak-haknya?
Rumah sakit yang memiliki penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit (PKMRS) wajib memberitahukan mengenai hak-hak pasien. Di setiap rumah sakit pasti ada tulisan mengenai hak-hak pasien. Untuk itu, diperlukan SOP di setiap rumah sakit, yang setidaknya ada 13 standar itu.

Bagaimana dengan rumah sakit yang tidak memberi tahu hak-hak pasien?
Sekarang yang diperlukan ialah kepercayan pasien dan dokter, begitu pula sebaliknya. Ketika dia menyerahkan jiwa raganya kepada dokter, memang terkadang ada dominasi dari pihak rumah sakit yang kadang membuat pasien menderita. Untuk menghilangkan hal seperti itu, kami di rumah sakit dilatih bagaimana supaya bukan pasien yang membutuhkan kami, tetapi kami yang membutuhkan mereka. Kalau falsafah ini diterapkan, maka tidak akan ada masalah di kemudian hari.

Apakah setiap rumah sakit harus memiliki falsafah seperti itu?
Rumah sakit yang memberikan pelayan prima bukanlah mengatur. Seperti yang tertulis di UU Praktik Kedokteran, setiap dokter harus menjunjung tinggi sifat humanitas. Jika tidak memiliki sifat seperti itu, jangan menjadi dokter. Dan rumah sakit harus menganggap setiap pasien yang datang untuk berobat adalah mitra rumah sakit, karena secara tidak langsung pasien akan mengeluarkan uang untuk sembuh, kenapa kami tolak?

Dalam kasus Prita Mulyasari, bagaimana dengan soal rekaman medis itu?
Prita meminta rekaman medisnya dari dokter di gawat darurat (emergency), padahal dia harusnya meminta rekaman medis pada dokter penyakit dalam yang memeriksanya. Prita memang tidak diberikan hasil rekaman medis yang pertama karena hasilnya belum valid.
Hasil pemeriksaan trombosit belum bisa dijadikan alat diagnostik yang menunjukkan seseorang menderita demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan WHO, ada enam substansi yang bisa dijadikan alat diagnostik seseorang terserang DBD, di antaranya adalah panas tubuh 39 derajat Celcius selama tiga hari berturut-turut, ada rasa nyeri di ulu hati, disertai dengan bintik-bintik merah dan pendarahan, pembesaran hati dan limpa, ada pengentalan hemotoklit serta trombosit.
Namun orang selalu mengartikan kalau trobositnya kurang dari normal, langsung mencap dia terserang DBD. Itu tidak bisa serta merta dijadikan alat diagnostik. Dalam kasus Prita ini, terjadi kesalahan komunikasi antara dokter dengan pasiennya.
(heru guntoro /
stevani elisabeth)

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/

Comments (2) »

Jarang Menyusui, Mengurangi Produksi ASI

Sunday, 14 June 2009

HAMIL dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seorang wanita. Selanjutnya, predikat sebagai seorang ibu menjadi lengkap ketika dia berhasil menyusui buah hatinya.

Menyusui merupakan suatu aktivitas psikososial yang bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri,terutama bagi ibu yang baru memiliki anak pertama. Menyusui memang menjadi kodrat seorang ibu. Bahkan, jika memungkinkan, idealnya bayi lekas disusui segera setelah dilahirkan.

”Begitu terdengar lengking tangis bayi mengawali kehadirannya di muka bumi,tali pusat digunting, bayi pun ditaruh di atas perut ibu agar dapat merasakan kedekatan emosional.Si kecil pun segera mencari puting susu ibu dan mulai menetek,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, Dr Purnamawati S Pujiarto SpA (K) MMPed.

Dia menambahkan, gagalnya seorang ibu memberi ASI eksklusif sebagian besar sebenarnya disebabkan hal yang bisa dicegah. ”Yang kurang hanya dukungan, baik dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatannya itu sendiri,” sebutnya.

Saat menyusui, seorang ibu memerlukan ketenangan pikiran dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan (stres) karena akan berpengaruh terhadap produktivitas ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu.”Kuantitas ASI juga tergantung dari isapan bayi yang dapat merangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI berikutnya,” kata spesialis anak dari Sentra Laktasi, Dr Nanis Sacharina Marzuki SpA.

Mungkin itulah sebabnya ketika ibu mulai jarang menyusui produksi ASI-nya juga kian berkurang. Bahkan,menurut pengakuan beberapa ibu, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali (kering).

Secara teknis,faktor penyebab berkurangnya produksi ASI, antara lain karena setelah lahir bayi tidak langsung disusui dan ASI tidak diperah.Padahal jika payudara tetap penuh, maka akan terbentuk PIF (Prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan pembentukan ASI. Sedangkan secara psikologis, berkurangnya ASI bisa disebabkan rasa khawatir, stres, rasa nyeri, dan rasa ragu yang dirasakan si ibu.

”Terkadang ibu merasa tidak percaya diri karena ASI-nya kurang. Ditambah lagi pendapat dan saran yang salah dari orang lain menyebabkan ibu cepat berubah pikiran dan jadi stres. Akibatnya bisa menekan refleks sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik,”tutur Nanis.

Perlekatan yang tidak tepat antara mulut dan puting susu ibu juga bisa menyebabkan nyeri dan puting menjadi lecet sehingga ASI tidak keluar dengan lancar. Adapun perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terputar ke bawah dan sebagian besar areola (puting susu) ibu masuk ke mulut bayi. ”Untuk meningkatkan jumlah ASI, cobalah berpikir dengan penuh kasih sayang pada bayi,”saran Nanis.(inda)

Sumber : SINDO

Comments (2) »

Memahami Pneumokokus Pada Bayi

quote :

*Lantas, bagaimana sebaiknya sikap­ orang tua menghadapi kondisi ini? Dokter Purnamawati, spesialis anak yang juga salah satu pendiri Yayasan Orang Tua Peduli, menyatakan penyebab pneumonia dan meningitis banyak sekali. Virus dan kumannya macammacam, tak selalu Streptococcus pneumoniae, tapi bisa saja kuman HiB, tuberkulosis, dan lainnya. Belum ada data tentang virus atau bakteri apa yang paling banyak menyebabkan pneumonia dan meningitis di sini

Memang, vaksin IPD yang masuk ke Indonesia bagus, karena mengandung tujuh jenis kuman Streptococcus pneumoniae. Tidak soal jika orang tua memberikan vaksin ini pada anak. Masalahnya, apakah bakteri Streptococcus yang ada di sini termasuk tujuh jenis bakteri di dalam vaksin itu. Jangan sampai, seperti terjadi di beberapa negara Asia dan Afrika, vaksin ini ternyata tidak mencakup bakteri Streptococcus yang ada di sini.*

Pengancam Bayi
Pneumokokus, penyebab utama kematian anak. Dapat dicegah dengan vaksin dan peningkatan kekebalan tubuh.

TANTY masih pedih mengenang peristiwa itu. Pukul satu dini hari beberapa tahun lalu, Farel Nauval Isya, anaknya, tibatiba mengerang. Wajah bayi yang belum genap setahun itu mendadak pucat. Tanty segera memboyongnya ke rumah sakit. Setiba di ruang dokter, putranya tak bisa bernapas sehingga diberi pernapasan buatan. Farel menggelepar, hingga akhirnya maut menjemput.

Baru belakangan Tanty paham, putra tercintanya terinfeksi bakteri pneumokokus yang menyerang saluran pernapasan. Kasus ini diangkat dalam advokasi Asian Strategic Alliance for Pneumococcal Disease Prevention (ASAP) Indonesia yang dihadiri sekitar 250 dokter dan tenaga medis di Denpa­sar, 25 Maret lalu.

Aliansi strategis pencegahan infeksi pneumokokus ini adalah kelompok independen di Asia yang beranggotakan 20 negara, termasuk Indonesia.

Di negeri kita, pneumokokus menyebabkan sekitar dua juta kematian setiap tahun. Hampir separuhnya adalah anak di bawah lima tahun. Dari beraneka penyakit pneumokokus, yang paling tinggi menyebabkan maut adalah pneumonia (radang paru).

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 98 orang bayi meninggal setiap jam akibat pneumonia di Asia Pasifik. Satu dari lima kematian anak di dunia disebabkan penyakit ini. Maka WHO pun menyebut pneumonia sebagai ”penyakit terlupakan pembunuh anakanak”. Badan Perserikatan BangsaBangsa juga menempatkan Indonesia di urutan keenam—setelah India, Cina, Nigeria, Pakistan, Bangladesh—terbanyak penderita pneumonia.

Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, spesialis anak konsultan penyakit tropis dan infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang juga wakil Indonesia di ASAP, menjelaskan penyakit pneumokokus adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri pneumokokus ada lebih dari 90 tipe. Sebelas di antaranya ganas dan mematikan.

Pneumokokus dapat menyebabkan invasive pneumococcal disease atau IPD, antara lain, pneumonia (radang paru), bakteremial (infeksi bakteri dalam darah), sepsis (darah yang teracuni), meningitis (radang selaput otak).

Ada pula pneumokokus yang bersifat noninvasif, yaitu yang menyebabkan penyakit di telinga, hidung, atau tenggorokan (THT), seperti media otitis (radang telinga tengah) dan sinusitis (infeksi pada sinus). Jika tidak ditangkal atau ditangani dengan tepat, penyakit pneumokokus dapat menyebabkan hilangnya pendengaran, kemunduran inteligensi, kesulitan berbicara, kelumpuhan, hingga kematian.

Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, mengungkapkan bakteri pneumokokus ini dapat ditemukan pada tenggorokan dan rongga hidung orang dewasa serta bayi dan anakanak. Yang patut diwaspadai, penyakit ini bisa dengan mudah menjangkiti anak sehat yang datang dari lingkungan sehat. Ia menyebar dengan sangat mudah hanya melalui udara, yaitu ketika penderita atau pembawa penyakit (carrier) batuk, bersin, dan memercikkan ludah.

Memang, berdasarkan data WHO, tak semua kasus pneumonia disebabkan pneumokokus. Hanya setengah dari jumlah total penderita pneumonia yang terjangkit pneumokokus. Sedangkan 30 persen akibat terinfeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B (HiB). Sisa­nya disebabkan virus dan bakteri lain. Dua bakteri itu—pneumokokus dan HiB—juga menjadi penyebab meningitis pada anak.

Dari berbagai macam penyakit yang disebabkan pneumokokus, dua yang utama adalah pneumonia dan meningitis. Pneumonia adalah radang paru atau dalam bahasa awam paruparu basah. Kantong udara di paru dipenuhi cairan. Artinya, organ pernapasan itu tak bisa mengantar oksigen secara efektif ke pembuluh darah. Selain karena pneumokokus, pneumonia juga bisa disebabkan virus dan bakteri lain, serta parasit dan jamur.

Sedangkan meningitis adalah penyakit yang menyerang selaput otak atau pembuluh yang melindungi otak dan susunan saraf pusat. Penyebabnya infeksi bakteri atau virus meningitis. Kasus ini paling sering menimpa anak di bawah lima tahun, 1725 tahun, dan di atas 55 tahun. Yang paling rentan adalah mereka yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Efek meningitis sangat beragam, mulai dari kehilangan tungkai atau lengan, gangguan pendengar­an, gangguan mental, hingga kematian.

Bakteri pneumokokus secara normal berada di dalam rongga hidung dan tenggorokan anakanak dan dewasa yang sehat, dengan empat serotipe berbeda yang terkandung secara bersamaan. Artinya, tidak semua individu akan menderita penyakit ini ketika terkena bakteri ini. Namun tetap saja pa­tut waspada. Sebab, ketika sudah terjadi kolonisasi bakteri dalam tubuh, orang tersebut akan menjadi pembawa sekaligus penyebar penyakit melalui partikel udara: lewat bersin, batuk, percik­an ludah, serta kontak tubuh.

Karena tak ada keluhan atau gejala apa pun, si carrier sering tak menyadari kondisinya. Ironisnya, seperti dikemukakan Soetjiningsih, yang paling banyak menularkan bakteri ini justru orang rumah. Ia mengemukakan sebuah penelitian di Bandung terhadap bayi baru lahir hingga usia dua bulan pada 2006. Ternyata, dari semua res­ponden yang mengidap pneumokokus, lebih dari setengahnya tertular pneumokokus dari kakaknya dan 11,9 dari ibunya. Sisanya tertular dari orang lain di luar keluarga.

Soetjiningsih menyebutkan, kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.

Karena ada berbagai jenis penyakit yang disebabkan pneumokokus, gejalanya juga beragam. Gejala meningitis antara lain demam dan sakit kepala, mual, muntah, kaku pada leher dan fotofobia (sakit karena melihat cahaya) pada anak yang lebih besar. Pada bayi biasanya ditandai demam dan tandatanda penyakit tidak spesifik lainnya. Sedangkan gejala pneumonia adalah gemetar tibatiba, kedinginan, batuk, demam, dan sesak. Media otitis akut (radang telinga tengah) ditandai demam, sakit pada telinga, dan pende­ngaran terganggu.

Salah satu pencegahan pneumokokus adalah dengan imunisasi Pneumococcal Saccharine Conjugated Vaccine (PCV7). Vaksin ini membantu mencegah penyakit pneumokokus invasif (IPD) pada anak di bawah dua tahun, dan melin­dungi anak hingga sembilan tahun.

Masalahnya, di Indonesia harga vaksin ini termasuk mahal: Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta sekali suntik. Padahal vaksin ini mesti diberikan satu seri, yakni tiga kali. Selain itu, baru ada satu perusahaan obat yang memproduksi vaksin ini, sehingga dikhawatirkan bisa terjadi ”monopoli”.

Lantas, bagaimana sebaiknya sikap­ orang tua menghadapi kondisi ini? Dokter Purnamawati, spesialis anak yang juga salah satu pendiri Yayasan Orang Tua Peduli, menyatakan penyebab pneumonia dan meningitis banyak sekali. Virus dan kumannya macammacam, tak selalu Streptococcus pneumoniae, tapi bisa saja kuman HiB, tuberkulosis, dan lainnya. Belum ada data tentang virus atau bakteri apa yang paling banyak menyebabkan pneumonia dan meningitis di sini

Memang, vaksin IPD yang masuk ke Indonesia bagus, karena mengandung tujuh jenis kuman Streptococcus pneumoniae. Tidak soal jika orang tua memberikan vaksin ini pada anak. Masalahnya, apakah bakteri Streptococcus yang ada di sini termasuk tujuh jenis bakteri di dalam vaksin itu. Jangan sampai, seperti terjadi di beberapa negara Asia dan Afrika, vaksin ini ternyata tidak mencakup bakteri Streptococcus yang ada di sini.

Jadi yang terpenting adalah membentuk kekebalan tubuh anak sejak dini. Yang paling sakti adalah air susu ibu. Dokter Sri Rezeki mengingatkan salah satu risiko tertinggi terkena pneumokokus adalah tidak atau hanya sebentar mendapat ASI. ”Menyusui terbukti menurunkan angka terkena penyakit infeksi pada bayi dan anak,” katanya.

Andari Karina Anom

Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com

Comments (3) »