Anak Flu Jangan Diberi Antibiotik

JAKARTA (Lampost): Jika bayi dan balita menderita flu, jangan diberi antibiotik. Karena flu akan sembuh dengan sendirinya, sementara antibiotik hanya memberi efek plasebo (bohongan).Demikian dikemukakan dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A.K., M.M.Ped. yang aktif mengedukasi para orangtua dalam mengonsumsi produk dan jasa medis, termasuk melalui milis (mailing list), Rabu (27-4). “Antibiotik itu tidak mempercepat, apalagi melumpuhkan, virus flu,” katanya.

Ia mengakui masih kerap terjadi dokter dengan mudahnya meresepkan antibiotik untuk bayi dan balita yang hanya sakit flu karena virus. Memang gejala yang menyertai flu kadang membuat orangtua panik, seperti demam, batuk, dan pilek. “Oleh sebab itu, tak sedikit orangtua yang malah mendesak dokter memberikan antibiotik yang dianggap sebagai “obat dewa”. Pasien irasional seperti ini seperti menuntut dokter menjadi tukang sihir,” ujarnya.

Ia menjelaskan orangtua sebagai yang dititipi anak oleh Tuhan seharusnya tak segan-segan bertanya sama dokter. Apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik? Bukankah penyebabnya virus? “Tanyakan itu kepada dokter,” kata Purnamawati.

Namun, kadangkala menghadapi orangtua yang bersikap kritis, sebagian dokter beralasan antibiotik harus diberikan mengingat stamina tubuh anak sedang turun karena flu. Jika tidak diberi antibiotik, hal itu akan memberi peluang virus dan kuman lain menyerang.

Purnamawati menjelaskan sejak lahir manusia dibekali sistem imunitas yang canggih. Ketika diserang penyakit infeksi, sistem imunitas tubuh terpicu lebih giat lagi. Infeksi karena virus hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhunya di atas 38,5®MDSU¯o Celsius. “Jadi, bukan diberi antibiotik. Kecuali kalau kita punya gangguan sistem imun seperti terserang HIV,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan farmakolog Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp.Fk. “Antibiotik seharusnya tidak diberikan kepada anak karena malah merusak sistem kekebalan tubuhnya. Yang terjadi imunitas anak malah turun, lalu sakit lagi. Lalu jika dikasih antibiotik lagi, imunitas turun lagi dan sakit lagi. Terus begitu dan kunjungan ke dokter makin sering karena anak tambah mudah sakit,” ujar Iwan.

Selanjutnya Purnawati menggarisbawahi antibiotik baru dibutuhkan anak ketika terserang infeksi yang disebabkan bakteri.

Contoh penyakit akibat infeksi bakteri adalah sebagian infeksi telinga, infeksi sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, tuberkulosis, dan diare akibat ameba hystolytica.

Namun jika antibiotik digunakan untuk infeksi yang nonbakteri, hal itu malah menyebabkan berkembang biaknya bakteri yang resisten.

“Perlu diingat juga, untuk radang tenggorokan pada bayi, penelitian membuktikan 80–90 persen bukan karena infeksi bakteri streptokokus, jadi tidak perlu antibiotik. Radang karena infeksi streptokokus hampir tidak pernah terjadi pada usia di bawah dua tahun, bahkan jarang hingga di bawah empat tahun,” kata Purnamawati.

Beberapa keadaan yang perlu diamati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam kulit, hingga pembengkakan bibir, kelopak mata, hingga gangguan napas. “Berbagai penelitian juga menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini akan mencetuskan terjadinya alergi pada masa mendatang,” kata Purnamawati.

Kemungkinan lainnya, gangguan akibat efek samping beberapa jenis antibiotik adalah demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah turun. Lalu, kemungkinan kelainan hati, misalnya antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid. Golongan amoxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis. Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, dan ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, pastikan dokter meresepkan antibiotik yang hanya bekerja pada bakteri yang dituju, yaitu antibiotik spektrum sempit (narrow spectrum antibiotic). Untuk infeksi bakteri yang ringan, pilihlah yang bekerja terhadap bakteri gram positif, sementara infeksi bakteri yang lebih berat (tifus, pneumonia, dan apendisitis) pilihlah antibiotik yang juga membunuh bakteri gram negatif. Hindari pemakaian salep antibiotik (kecuali infeksi mata), serta penggunaan lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Jika anak terpaksa menjalani suatu operasi, untuk mencegah infeksi sebenarnya antibiotik tidak perlu diberikan dalam jangka waktu lama. “Bahkan pada operasi besar seperti jantung, antibiotik cukup diberikan untuk dua hari saja,” ujarnya.

Purnamawati menganjurkan para orangtua hendaknya selalu memfotokopi dan mengarsip segala resep obat dari dokter, dan tak ada salahnya mengonsultasikan kepada ahli farmasi sebelum ditebus.

Sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru dan lebih kuat. Sementara kuman terus berkembang makin canggih dan resisten akibat penggunaan antibiotik yang irasional. Inilah yang akan menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Antibiotik dalam penggunaan yang tepat adalah penyelamat, tetapi jika digunakan tidak tepat dan brutal, ia akan menjadi bumerang.

“Antibiotik seperti pisau bermata dua. Untuk itu, media massa berperan besar menginformasikan hal ini dan tidak perlu khawatir jika industri farmasi ngambek tak mau beriklan,” ujarnya. S-1

Sumber : lampungpost

19 Responses so far »

  1. 1

    irma said,

    Mbak Pur, (maaf sy panggil demikian..hehe). Saya miris sekali membaca artikel diatas karena saya mengalami sendiri bagaimana mudahnya dokter or bidan kasih antibiotik. Saya termasuk yg anti antibiotik, jk diresepin antibiotik pasti saya search dl di net kebanyakan sich gak rekomendasiin. Satu kejadian aneh or lucu.. waktu itu anak saya kena panci panas dan jarinya ada yg melepuh kena panci. Pas ke bidan selain dikasih salep jg suruh minum antibiotik..Haah?? Ada apa dng praktisi kesehatan di Negara Tercinta Indonesia ini…. …. akhirnya sd umur 10 bulan anakku ga pernah minum antibiotik (alhamdulillah). Tapi pas minggu kemaren demam tinggi slma 3 malam, ke dokter suruh tes darah, Widal n Salmonella… eh taunya positif 4 Salmonella alias tifus. Aku Shoockkedd.. impossible getooo. Tp betul. n akhirnya harus minum antibiotik Biothicol, contains Thiamphenicol… duuuh sedih dech.. hiks… dokter ini kasihnya 1 botol aja, 3 hari udah abis.. hari sabtu habis… eh, ketemu dokter dikantor (dokter yg sama) nanyain kabar dsb. Eh, taunya minumnya katanya harus sd 7 hari alias 2 botol..laaah.. piye toh resepnya… akhirnya disambung lagi mulai hari senin… saya lg search.. apa bisa disambung lagi n keputus 1 hari???? mbak Pur tolong kasih info. karena yg saya baca Bakteri Tifus termasuk yg berat ya?? Help please….. pls send your comment to irmadewi10@yahoo.com.

    Thanks……

  2. 2

    Ella Iskandar said,

    Salam kenal Dr. Pur, aku ella ibu 1 anak usia 28 minggu. Dok, belum lama Raffi anakku batuk pilek hampir 2 minggu. Pertama ke dokter umum dekat rumah, lalu dikasih puyer dan obat batuk sirup “Baby CaugH”, masih belum sembuh dan setelah 3 hari saya berhenti kasih dia obat. Lalu ganti dokter lagi, masih batuk pilek jg akhirnya akhirnya aku bawa ke specialis anak, dikasih obat puyer, obat tetes dan antibiotik. pileknya sembuh, batuknya berkurang dan masih suka berdahak cuma reaksi bikin kulitnya timbul merah2, akhirnya saya hentikan pemakaian obatnya (obatnya saya baru kasih 2 kali) sampai dengan sekarang. Lalu hubungi dokternya, dia bilang antibiotiknya jangan dikasih lagi dan dia harus lihat kondisi anak saya. Cuma sampai sekarang saya belum balik lagi, saya takut dikasih obat lagi. Saya minta saran dari Dr. Pur, apa ayng saya lakukan sekarang? Karna ditubuhnya masih suka merah2 dok, malah saya pernah lihat merah bentol seperti kena ulat bulu, memang tidak besar2 sih dok. Dokter Pur minta sarannya dong ke ellaiskandar@yahoo.com yah…piss..plis…. :p

  3. 3

    syarip76 said,

    bagaimana dengan antibiotik pada susu sapi? apakah susu uht dijamin tidak tercemar seperti susu formula?

    vet-indo.com/Kasus-Medis/Bagaimana-Pengobatan-Mastitis-yang-Efektif.html

  4. 4

    Hiks..mau dunk…deket dengan Dr. Wati… disekitar ku ga ada dokter yg RUM

  5. 5

    raya said,

    bagaimana yang sudah terlanjur dikasih antibiotik, makanya saya juga worry… klo kedokter ato bidan pasti dikasih antibiotik…., anak saya sering terserang flu, n sering panas klo flu sekarang umurnya 13bln…dr pur mohon saranya

  6. 6

    sayful said,

    Ibu Dokter…

    Dok, Anak saya umur 1 bulan dan sekarang dia batuk2 terus dan nangis, tidurnya kurang nyeyak dan ada ingus dihidungnya….

    untuk pertolongan per tama apa yang harus kami lakukan…terus terang kami cemas Dok…karena masih anak pertama kami
    kata teman2, jangan diminumkan obat…lebih baik ibunya aja suruh minum obat ( anak saya minum ASI ) padahal istrinya tidak sakit….apakah ada pengaruhnya.

    Mohon saranya Dokter … apa yang harus kami lakukan pertama kali…

    Salam,

    Sayful

  7. 7

    Ananta said,

    Btul skali dok..
    Regulasi antibiotik itu sangat perlu dikendalikan..
    Kalo yg pernah saya baca, di luar negeri itu pemberian resep antibiotik sangat ketat sekali, hanya dokter spesialis apa… gt yg boleh memberikan resep antibiotek tu.. dokter spesialis infeksi kali ya..

  8. 8

    Hari Wahyudi said,

    Dokter pur yth,
    Saya baru saja punya baby baru umur 6 hari. Waktu baru lahir dan dicek darah di lab, leukosit tinggi, oleh dokter anak (dokter yanti,RSB Permata Sarana Husada,Pamulang) dikasih treatment antibiotik slm 3 hari, pada hari ke 3 tsb dicek darah lagi leukosit masih di level 11,800 (nilai rujukan 10,000), pada hari itu jg anak saya bawa pulang,tp dokter yanti masih melanjutkan treatment antibiotik jenis amoxylin untuk max 5 hari lg. Sampai hari ni masih kami berikan 3xsehari. Saya sebetulnya sangat khawatir mengapa bayi yg baru berusia 6 hari harus diberikan treatment antibiotik yg begitu lama. Mohon nasihat dari dokter pur ke email saya hr_choe@yahoo.com. Terimakasih,Hari Wahyudi

  9. 9

    Nelviasmi said,

    Dokter Pur yg terhormat

    Dok, anak saya berumur 4thn 6bln tiap bln rutin terserang batuk pilek, setiap saya bawa berobat selalu dikasih obat batuk dan anti biotik,jd setiap bln selalu rutinitas makan obat batuk dan antibiotik,saya mohon nasihat dokter apa yg saya lakukan??
    Anak saya seperti itu mulai dari berumur 1 thn sampai sekarang,maklum dok tempat daerah saya tinggal tidak ada dokter anak mohon bantuannya dokter pur ke email saya nelvisianturi@yahoo.com

  10. 10

    shinta said,

    duh… bu dokter, lana anakku klo sakit batuk pilek pasti di kasih antibotik sama dokter.( ya .. dokter anak, dokter umum, bidan)… saya sedihhhh sekali membaca artikel ini , karena sudah terlanjur minum antibiotik untuk anakku… gimana ya dok?…

  11. 11

    maya said,

    Betul dok,saya jg selektif memberi anak saya antibiotik saya selalu mengamati gejala dan kondisi anak saya apakah terinfeksi virus atau bakteri,walaupun dokter meresepi antibiotik klo saya rasa tidak perlu tdk saya berikan,saya jg terus menghimbau kpd teman2 saya spy selektif memberikan anti biotik pd anak2 dan org tua hrs kritis dan mencari pengetahuan seputar kesehatan spy anak2 qta sehat dimasa skrg dan masa depannya

  12. 12

    Azkahareva said,

    Anak saya juga sudah 2 minggu terserang batuk pilek disertai demam. 1 kali ke Puskesmas obatnya 2 macam dan kondisi anak saya tidak membaik kemudian 2 kali kedokter ee obatnya 4 macam kondisinya tetap tak membaik, pergi yang ke2 obatnya 2 macam dan tetap kondisi batuk, pilek dan demamnya tetap tak ada perubahan (sepertinya semuanya ada obat antibiotiknya). Dok, saya merasa sangat kasihan dengan anak saya anak sekecil itu kok banyak minum obat dan saya putuskan tiak akan atau stop minum obat dari dokter. Hari berikutnya karena demam, batuk pileknya masih ada disarankan orang tua saya untuk dibawa ke tukang urut/pijat dan setelah diurut/pijat anak saya tidur dengan nyenyak tapi kondisi demamnya masih ada. Karena masih demam saya cuma beli paracetamol sirup dan saya berikan ke anak saya dan alhamdulilah 3 kali minum anak saya demam anak saya sembuh. Hanya batuk pileknya saja yang masih. Dan untuk batuk pileknya saya pakai obat tradisional yaitu dengan jeruk nipis. Dok.. Kalau demamnya sembuh apa perlu kita kasih obatnya lagi? Dan mohon berikan saran dengan apa yang saya sampaikan semuanya ini dok..

  13. 13

    dr.kusuma yudopranoto said,

    ikut komen nich…sy sbg sangat setuju dg isi artikel ini dr.Pur,krn sangat sesuai dg teori yg sy dpt selama dulu sy kuliah kedokteran(saat ini sy bekerja sbg dokter di igd salah satu rsud di jateng)
    tp yg msh jd salah 1 mslh menurut sy bener kt salah 1 ibu/bpk di atas,yaitu regulasi obat di negara qt…selain dokter yg dg mudahnya memberikan resep antibiotik,antara lain:
    1.apotek dg mudahnya menjual antibiotik tanpa resep dokter bahkan kadangkala hanya untuk sekali atau 2x minum,contohnya di daerah saya ,klo ada org sakit lalu pergi ke apotek,dia bilang sedang sakit bla-bla-bla,lalu mau beli obat,dgn entengnya apotek melayaninya(sering ada antibiotiknya),pokoknya asal ada uang ada barang yg qt mau gtu….
    2.perawat/mantri setau saya tdk punya kewenangan mengobati apalagi memberi antibiotik,tp prakteknya????
    3.bidan,harusnya setau sy kewenangannya hanya menangani persalinan normal,periksa kehamilan normal dan sekitarnya,tp prakteknya….(maaf buat ibu2 yg di atas yg membawa anaknya ke bidan,sy rasa tindakan anda kurang tepat)
    4.para dokter spesialis,anak khususnya,setiap pasien yg berobat hampir selalu diberi antibiotik,bahkan di suatu daerah di deket t4 tgl saya dulu,klo ngasi antibiotik ga tanggung2,anak blm pernah kenal antibiotik ud dikasih cefadroxil(menurut saya berlebihan,mohon klo ada kesalahan dikoreksi oleh pakar sekalian)
    5.dokter umum,mreka juga dikit2 pasti kasi antibiotik,pengalaman saya kadang dilema jg krn ortu pasien yg minta.klo sy pribadi,sebisa mgkn sy usahakan untuk edukasi,terutama pd teman2/saudara yg sekiranya mau mendengar nasehat sy,beberapa sampai sekarang alhamdulillah klo sakit tdk langsung make antibiotik & nyatanya sembuh juga,termasuk sy,sebisa mgkn sy hindari antibiotik &obat klo perlu,sy hanya istirahat yebih dr biasanya serta asupan gizi yg sy perrbanyak,nyatanya alhamdulillah sy jg sembuh tu…cm org awam seringnya susah dikasih tau,mreka maunya instan

    itulah kira2 urun rembug dr saya,klo ada yg kurang berkenan sy mhn maaf,klo ada yg salah mhn dikoreksi

    maturnuwun

    • 14

      purnamawati said,

      Dear Doc
      Thx a lot atas asupannya

      1. Regulasi
      Sistem yang bagus sekalipun, tetap saja tidak bisa “sempurna”
      Apalagi ketika tidak dilengkapi dengan “perangkat” yang “robust” termasuk audit
      Di lain pihak, ketika kita bicara hajat orang banyak, apalagi anak (Children … Their name is Today) … Bisa kah kita menunda-nunda tunggu regulasi dan law enforcememt nya lebih baik?

      2. Perawat dan mantri
      3. Bidan
      4. Spesialis anak
      Itu memang salah satu potret buram layanan kesehatan di negeri ini
      Bagaimanapun, kita bisa memilih
      Mengamini dan melestarikan praktek spt ini (mengutip orasi gurubesar prof Iwan Dwiprahasto)
      Atau
      Tidak setuju dan diam
      Atau
      Do something (no matter how small) to make things brighter …

      Semoga semakin hari, kita bisa semakin baik ya Doc
      Selamat bertugas
      Gusti Allah mboten sare ya Doc

      Maaf kalau ada kata2 yang tidak berkenan
      Wati
      Patient Safety, first

      • 15

        dr.kusuma yudopranoto said,

        setuju Doc…qt mulai dari diri sendiri,dari yg kecil dan dari sekarang…semoga semakin banyak orang yg menyadari pentingnya hal ini dan mau menerapkannya…setiap niat baik insyaAlloh selalu ada jalan.amin

  14. 16

    hargun said,

    salam kenal saya seorang ayah.
    duh anak saya lagi flu. gimana nih cara ngobatinnya. gara garanya kemarin sore dimandiin sama omnya kelamaan di air.somebody helpme.
    email me please smoth_lee@yahoo.co.id

  15. 17

    shinta said,

    dok. saya ibu dari 3 org balita. bila anak saya flu mereka jd susah minum dari botol susu, krn sesak akibat hidung yg tersumbat. Krn terganggu minum dan tidur saya selalu membawa ank2 ke dokter anak, dan selau diberi puyer yg isinya mucopect. dan celestamine syrup. apa obt2 tersebut aman dong u ank umur 2 thn. trima kasih. pls repyly ke emai saya ya dok. shinta_tohang@yahoo.com

  16. 18

    shinta said,

    siang dokter pur.saya ada pertanyaan lagi. anak saya baru sembuh dari batuk, setelah batuk kering dan berdahak selama 3 minggu. baru seminggu sembuh mereka terserang batuk lagi. untuk anak umur 2 tahun 8 bulan obat apa yg harus saya beri u mereka, saya juga orang yg paling takut dengan antibiotik. tlg bls ya dok ke email saya. saya kasihan melihat si kembar 3 saya kalo sudah batuk. trims

  17. 19

    ilham said,

    slmt siang pak pur,,sblmys maaf,,anak saya sehat tp sewaktu mau di gendong atau naik motor kaki n tangan gerak getar sediri,,anak saya baru umur 2 mingguan,,,tp sudah di kasih obat sama dokter itu efeknya bagaimana ya pak,,,makasih


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 71 other followers

%d bloggers like this: