Archive for January, 2009

E-DRUG: Compounding and dispensing problems in Indonesia

E-DRUG: Compounding and dispensing problems in Indonesia

I am a pediatrician (gastrohepatologist) and since 2002 I have been working in  community health care, promoting the rational use of medicine, in particular in pediatrics.  I am concerned about overmedicalization in pediatric practice.  For upper respiratory tract infections, Indonesian pediatricians frequently prescribe an antibiotic plus a mixture of pseudoephedrin/ephedrin, antihistamin, mucolytic, triamnicolone, phenobarb, and other drugs (called “puyer”, after the Dutch word for “powder”).

The ingredients are put in a bowl, crushed and the resulting powder is divided into equal parts in small sachets (usually 15 sachets to be used over the course of 5 days). Some pediatricians add this “puyer” to a syrup (e.g. thyme syrup and even ranitidine or amoxycillin syrups)

One example of a puyer prescription:

A 15 month old girl with fever and coryza was given:

1. SYRUP: Bufect (Ibuprophen) 60 ml

2. PUYER:

* Nalgestan (PPA 15 mg, chlorpheniramine maletae 2 mg)
* Luminal (phenobarbitone) 50 mg – 6 tablet
* Mucohexin 8 mg – 10 tablet
* Kenacort (trianicolone) 4 mg – 10 tablet
* Codein 20 mg – 3 tab
* Lasal (salbutamol) 4 mg – 4 tablet
* Etaphylline 250 mg – 3 tablet
* Equal neo tablet refill

3. PUYER:

* Lapicef (cefadroxil) 500 mg/ capsul – 4 capsul
* Equal

4. PUYER:

* Curvit emulsion 175 ml

5. PUYER

* Pankreoflat – 10 tablet
* Cobazym 1000 mcg – 10 tablet
* Heptasan (cyproheptadine) – 10 tablet
* Lysagor (Pizotifen, here used as an appetite stimulant) – 10 tablet
* Equal

I am conducting two studies, of which the first one is finished and I am writing out the results. I found:

1. Poly pharmacy (median number of drugs per prescription for URIs is 5)
2. Overuse of antibiotics
3. Overuse of steroids (branded trianicolone)
4. Symptomatic prescribing
5. Prescriptions of supplements, herbal, multivitamin, “appetite stimulants”
6. Brand name prescribing

I have been trying to change this practice since 1996, but met with strong resistance from my colleagues who believe that a “puyer” is good for Indonesians. Other stated reasons are that the “puyer” is cheap.

I said that prescriptions for URI is very expensive; always more than a day wage
(in Indonesia medicines are mainly paid out of pocket). Second, does a child really
need so many medicines?

I have educated parents on rational use, giving the message to avoid “puyers”.
We tell parents to count the number of lines in the prescription … if more than two lines,
do not buy it: call us. However, many parents reported back that doctors became upset with them. Doctors said they are giving the best for the children by prescribing a “puyer.”

In summary, despite my work to educate health consumers (mailing list, web, parenting classes, radio talk shows, publications, and studies of prescribing pattern, children continue to be given inappropriate “puyers”.

I am finalizing my study report, and I am asked by my overseas colleagues to look for information on similar practices in other countries.
I want to ask you whether this practice exists in other countries; how providers can be convinced that such practice is not recommended; and what are the potential problems from a pharmacological and pharmacotherapeutic point of view?
I really need scientific bases to argue about such practice, and I hope you can help me.

Thanks,

Purnamawati Pujiarto (Wati)
Indonesia

URL : ISFINATIONAL.OR.ID

Comments (1) »

Hindari Obat Irasional

Sering Kali tidak Menyasar Sumber Penyakit Konsumsi obat kerap dibutuhkan untuk mengatasi penyakit. Namun perlu diwaspadai, pemakaian obat berlebih dapat menimbulkan gangguan ginjal dan hati.

B EBERAPA tahun lalu, Gendi memeriksakan anaknya, Pasha, yang berusia sepuluh bulan ke dokter langganan keluarga. Kepada dokter, ayah muda itu mengungkapkan kekhawatirannya karena Pasha terlihat kurus. Saat mendengar keluhan yang disampaikan Gendi, sang dokter yang bergelar profesor itu langsung curiga Pasha terkena tuberkulosis (Tb).

Namun, setelah dilakukan uji mantuk kepada Pasha, hasilnya negatif. Dokter kemudian menyarankan Pasha dirontgen. Didapati ada bercak putih di paru-paru Pasha. Atas dasar itu, dokter langsung menyimpulkan Pasha terkena Tb dan diresepkan obat anti-Tb (OAT) yang harus dikonsumsi selama enam bulan.

Setelah konsumsi obat berlangsung tiga bulan, Gendi membawa Pasha kembali ke dokter untuk evaluasi. Saat itu, tanpa melihat kondisi Pasha lebih jauh, dokter menyarankan konsumsi OAT diteruskan sampai genap enam bulan.

Sebulan kemudian, Gendi membawa Pasha kembali ke dokter yang sama. Tujuannya sekadar untuk pemeriksaan rutin. Saat itulah Gendi merasa ada yang tidak beres dengan dokter tersebut.

“Setelah melihat rekam medis (medical record) Pasha, dokter bertanya apakah Pasha masih mengonsumsi OAT. “Padahal, sebulan lalu ia sendiri menyarankan OAT harus diteruskan sampai enam bulan,” kisah Gendi kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin lalu (17/1).

Karena merasa ada yang tidak beres, laki-laki asal Pejaten itu membawa Pasha ke dokter anak lain untuk mencari second opinion. Betapa kagetnya Gendi ketika hasil konsultasi dokter anak tersebut dengan koleganya yang ahli paru menyatakan Pasha sebenarnya tidak pernah terkena Tb.

Selain Gendi, pengalaman ‘buruk’ serupa juga dikisahkan Trinovi Riastuti. Sekitar dua tahun silam ibu yang akrab disapa Ria itu memeriksakan bayinya, Nathan, ke dokter. Penyebabnya, pagi-pagi Nathan muntah-muntah setelah malamnya sempat jatuh dari tempat tidur.

Berdasar cerita Ria, dokter curiga Nathan mengalami cedera otak dan disarankan melakukan CT scan. Ia juga meresepkan obat vitamin otak untuk membantu memulihkan Nathan. Beruntung, Ria tergolong ibu yang rajin mempelajari pengetahuan tentang kesehatan anak.

‘’Saya tidak percaya dokter begitu saja. Dari melihat cara muntahnya Nathan serta dari tukar pengalaman di milis kesehatan anak, saya justru curiga masalah Nathan ada di saluran cernanya,’’ kisah ibu asal cengkareng itu.

Ria semakin yakin Nathan bermasalah dengan saluran cernanya ketika selain muntah Nathan juga diare. Karena itulah Ria mengurungkan niat men-CT-Scan Nathan dan tidak jadi menebus vitamin otak yang diresepkan dokter.

“Terlebih hasil browsing di internet menyatakan efek samping vitamin otak itu bagi bayi cukup berbahaya. Dengan menggencarkan pemberian ASI, Nathan pulih,’’ kata Ria.

Kisah Gendi dan Ria cukup memberi gambaran bahwa dokter juga bisa melakukan kesalahan dalam menangani pasiennya. Penting bagi para orang tua untuk membekali diri dengan pengetahuan tentang kesehatan anak agar tidak terkecoh.

Terlebih, sebagian dokter di Indonesia belum menerapkan konsep penggunaan obat secara rasional (rational use of drug/RUD). Mereka, sadar atau tidak, justru masih menerapkan konsep penggunaan obat yang irasional (irrational use of drug/IRUD).

Polifarmasi Spesialis anak dr Purnamawati S Pujiarto, SpA(K), MMPed, mengungkapkan hal itu pada sebuah seminar tentang bahaya obat irasional yang digelar di Kemang Medical Care, beberapa waktu lalu. ‘’Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya,’’ jelas dokter yang juga duta WHO untuk penggunaan obat rasional ini.

Dokter yang akrab disapa Wati ini menambahkan, pola pengobatan yang rasional juga bukan pengobatan yang tergopoh-gopoh mengobati gejala, melainkan mencari akar permasalahan. Misalnya, mengapa batuk, mengapa diare. “Bukan memberi resep obat batuk atau obat mampat diare,” tutur Wati yang juga Direktur Medis Kemang Medical Care itu.

Menurut Wati, perlu diketahui bahwa kasus demam, batuk, pilek, radang tenggorok, dan diare akut tanpa perdarahan yang kerap dialami anakanak, sebagian besar disebabkan virus dan bisa sembuh sendiri tanpa perlu obat. Namun di masyarakat, kerap terjadi pada kasus-kasus tersebut dokter meresepkan beberapa jenis obat.

Pemberian obat berlebihan (polifarmasi) kata Wati, merupakan salah satu bentuk penggunaan obat irasional yang lazim ditemui. Dalam kasus tersebut biasanya pengobatan bersifat simtomatis atau pengobatan terhadap gejala, bukan pada sumber penyakit.

“Contohnya, ketika menghadapi pasien dengan lima keluhan dokter memberi lima jenis obat. Pasien pun senang karena semua keluhannya sirna. Namun, hal itu justru potensial menciptakan kondisi dengan diagnosis tetap mengambang, bahkan bisa terlambat dideteksi,” jelas Wati.

Selain polifarmasi, bentuk penggunaan obat yang irasional antara lain, pemberian antibiotik, steroid, dan suplemen berlebihan serta peresepan obat bermerek padahal ada generiknya.

“Minimnya informasi terkait dengan obat-obat yang diresepkan juga termasuk praktik penggunaan obat irasional. “Biasanya informasi sebatas, ini obat radang, ini untuk dahak, ini untuk mulas,” terang Wati. (S-6) eni@mediaindonesia.com

Tips menghindari resep obat irasional:

1. Pelajari penyakit-penyakit ‘harian’ seperti demam, batuk pilek, diare, dan sakit kepala. Biasakan browsing di internet dari situs yang tepercaya, seperti Mayoclinic, AAP, RCH, Kidshealth, CDC, WHO, BMJ, dan NEJM.

2. Ketika ke dokter, pahami, tujuannya adalah berkonsultasi, bukan sekadar meminta secarik resep. Berdiskusilah, mintalah diagnosis dalam bahasa medis sehingga bisa digunakan saat mencari informasi tambahan di inter net atau sumber lain, mintalah penjelasan penyebab timbulnya masalah, diagnosis, dan rencana penanganannya.

3. Ketika diberi resep, hitung jumlah barisnya. Jika lebih dari dua, alarm kecurigaan terhadap praktik polifarmasi harus dipasang.

4. Tanyakan baris per baris obat ke dokter (dan farmasis), meliputi kandung an aktifnya, mekanisme kerja, indikasi, kontra indikasi, dan risiko efek samping.

5. Resep jangan langsung dibeli, cari informasi tambahan mengenai obat obatan yang diresepkan. Tidak perlu khawatir kondisi akan memburuk se bab apabila kita berada dalam kondisi gawat darurat, tentu akan langsung dirujuk rawat inap dengan berbagai intervensi segera (pemberian oksigen, pasang infus).

6. Mintalah resep obat generik.

Sumber : Media Indonesia

Comments (2) »

Diare = Reaksi Alami

Hanya diare plus darah yang harus diobati.

Boleh dibilang hampir semua orang pernah merasakan derita akibat buang air besar berkali-kali alias diare. Biasanya, yang terpikir dalam benak setiap orang adalah obat untuk memampatkannya alias yang beraksi stop diare. Solusi seperti itu diperkuat oleh tayangan komersial yang menyarankan untuk menghentikan gejala tersebut dengan cara menelan obat pemampat. Pada orang dewasa, kondisi ini sudah bisa membuat orang menderita, apalagi pada anak-anak. Lazimnya, jalan keluarnya pun sama.

Saat ini, ada sederet obat diare untuk anak yang kerap diberikan kepada para bocah. Sebut saja kaolin, smectite (Smecta), LactoB, atau obat jamur dan antibiotik. Bertolak belakang dengan saran iklan di layer televisi, obat stop diare justru tidak diperlukan. Dr Zakiudin Munasi, SpA(K) menyebutkan diare adalah reaksi alami ketika ada “benda asing” yang masuk ke tubuh. Ia menjelaskan, ketika ada racun menerobos ke dalam tubuh, otomatis ada respons dari tubuh. Nah, aksi yang muncul adalah mengeluarkan racun tersebut dengan cara buang air besar. Sering kali harus berkali-kali.

Spesialis anak dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ini menjelaskan bahwa hal tersebut natural dan tak perlu distop dengan obat-obatan. “Dengan menelan obat pemampat, racunnya berarti tak keluar alias mengendap dalam tubuh,” ia menuturkan beberapa waktu lalu dalam peluncuran sebuah produk susu untuk anak. Hal senada juga dilontarkan oleh spesialis anak lain, dr Purnamawati Sujud Pujiarto, dalam kesempatan terpisah. Dokter Wati, demikian biasa ia disapa, menyatakan bahkan dalam SOP, diare dengan atau tanpa muntah hanyalah gejala, bukan penyakit. Karena itu, yang terpenting adalah mencari penyebabnya.

Wati menyebutkan penyebab utama diare adalah infeksi virus, maka obatnya adalah cairan rehidrasi oral (oralit) dan air susu ibu (ASI) untuk mencegah dehidrasi. Orang, terutama yang tinggal di kota-kota besar, saat ini sudah menganggap remeh peran oralit. Dianggapnya sebagai obat kampung. Padahal, di dunia medis, jelas-jelas bahwa diare akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. “Tidak ada obat yang diperlukan selain cairan dehidrasi oral,” Wati menegaskan.

Walhasil, Wati menyebutkan, ketika terserang diare, konsultasi ke dokter pun tak perlu berakhir dengan secarik kertas resep, apalagi dengan catatan nan panjang. “Pemberian obat-obat tersebut tidak ada SOP tata laksana diare dan muntah, juga tidak ada evidence-nya,” ia menegaskan. Ia pun menjelaskan satu per satu obat yang disebut sebagai “penyembuh” diare itu. Misal, kaolin. Dalam informasi di situs Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak ditemukan soal obat ini. “Obat ini memang tidak dipakai di negeri lain,” ujarnya.

Bahkan, Wati menyebutkan produsen obat ini menyatakan dengan jelas bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan pada infeksi E coli, salmonella, shigella, juga diare plus darah serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai kasus bedah lain. Ia mengingatkan, kaolin dapat menimbulkan efek samping yang disebut toxic megacolon, yakni terkumpul dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga racun-racun yang seharusnya dikeluarkan tubuh akan meracuni tubuh. “Selain itu, ada warning untuk tidak memberikan Kaopectate karena ada kandung aspirin di dalamnya,” ujarnya.

Diare pada orang normal tidak memerlukan antijamur. “Obat antijamur justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan karena obat tersebut membunuh jamur ‘baik’ yang ada dalam usus kita,” kata Wati. Perlukah antibiotik? Ia menyebutkan hanya diare akibat parasit yang umumnya ditandai darah dalam tinja yang perlu antibiotik. Memang hanya jenis diare plus darah ini yang harus dikonsultasikan dengan dokter. Namun, bila disebabkan kuman tidak perlu obat jenis itu karena pemberian antibiotik akan mengganggu flora normal di usus hingga memicu gangguan pencernaan termasuk diare berkepanjangan.

Wati memaparkan bahwa antibiotik juga menyebabkan kolitis pseudomembranosa, yaitu suatu kondisi ketika usus besar dilapisi selaput akibat banyaknya kuman–yang aslinya bukan kuman jahat–sehingga proses penyerapan air di usus besar terganggu dan terjadilah diare berkepanjangan.

Bila balita mengalami diare plus muntah, dokter pun sering meresepkan antimuntah. Wati menjelaskan, muntah ada dua jenis, yakni karena kelainan usus yang memerlukan pembedahan dan muntah karena infeksi. “Sebagian besar muntah pada bayi dan anak disebabkan oleh virus gastroenteritis,” ujarnya. Walhasil pemberian obat muntah sangat melawan proses fisiologis tubuh untuk membuang racun. Pada kasus muntah yang perlu tindakan bedah pun, pemberian antimuntah bisa menyesatkan. “Belum lagi antimuntah juga menimbulkan efek samping,” Wati mewanti-wanti. RITA NARISWARI

Sumber : Koran Tempo

Comments (4) »

Anak Batuk, Tak Perlu Panik

Batuk bukanlah penyakit. Kebanyakan karena alergi dan virus yang tidak perlu obat.

Hujan dan panas kini silih berganti menyapa penghuni negeri ini. Kemarin diguyur hujan, hari ini bergelimang dengan terik mentari. Dalam udara yang berubah-ubah seperti ini, bila tubuh tak dalam kondisi fit, batuk dan flu pun rajin menyapa. Seperti yang dialami Kiki, bocah berumur 7 tahun. Anak sekolah dasar yang aktif ini mulai merasakan sakit di tenggorokannya . Sesekali ia batuk, saat pagi ataupun malam hari. Seperti kebanyakan para ibu, sang mama langsung mengambil solusi pemberian obat batuk. “Kebetulan obat batuknya ada yang cocok dengan dia. Jadi, sudah disiapkan di kotak obat di rumah,” ujarnya. Pemberian obat itu membuat si mama tak lagi merasa cemas.

Sebenarnya tidak perlu ada yang dicemaskan dengan kehadiran batuk pada anak. Seorang spesialis anak secara ekstrem menyebutkan tidak ada anak yang meninggal dunia gara-gara batuk. Dr Purnamawati Sujud Pujiarto, SpAK, dari Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, pun menjelaskan bahwa pada dasarnya batuk adalah sebuah refleks yang pusat pengaturannya berada di otak. Refleks batuk juga merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh terhadap benda asing yang masuk ke saluran napas. “Ketika tersedak, ketika terkena infeksi flu, lendir yang berlebihan pun akan dibatukkan oleh tubuh,” katanya.

Kebiasaan pemberian obat batuk ini tak hanya terjadi di negeri ini. Di Amerika Serikat pun, para orang tua masih melakukan hal serupa. Peneliti dari Universitas Boston, pada Mei 2008 menemukan hampir 10 anak di Amerika Serikat menggunakan satu atau lebih obat batuk dan flu selama seminggu. Peneliti merasa sedikit heran bahwa frekuensi dosis obat batuk pada anak di Negeri Abang Sam itu masih belum dipahami oleh para orang tua.

Dalam studi juga ditemukan bahwa pemberian obat batuk itu tidak hanya dilakukan terhadap anak berusia 2-5 tahun, tetapi juga di bawah 2 tahun. Padahal, hampir di semua jenis obat tersebut, 64,2 persen menggunakan lebih dari satu bahan aktif. Ketua peneliti, Louis Vernacchio, MD, menyebutkan konsumsi obat batuk ataupun flu bagi anak balita ini tidaklah perlu. “Yang perlu diwaspadai malahan efek berbahaya dan rendahnya bukti klinis bahwa pengobatan tersebut efektif untuk anak-anak,” ujarnya, seperti dikutip Sciencedaily.

Masih lalainya para orang tua tentang dosis obat batuk dan flu tersebut terlihat dari tren meningkatnya jumlah anak-anak overdosis obat batuk dan flu berupa sirup di ruang gawat darurat rumah sakit. “Kami menemukan banyak kasus bahkan orang tua langsung memberikan obat ke mulut anak langsung dari botol,” kata Dr Richard Dart, Direktur Pusat Obat dan Keracunan Rocky Montain, Denver, seperti tertera dalam msnbc, 18 Desember lalu. Bart menyebutkan komplikasi karena bahaya penggunaan dosis obat batuk dan flu anak yang tidak tepat itu sudah diketahui publik, tetapi orang tetap saja tidak waspada. Kondisi ini telah membuat Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat pada Oktober lalu mendesak perusahaan obat batuk dan flu anak untuk pencantuman larangan obat tersebut untuk anak di bawah 4 tahun. Bahkan, mereka tengah mempertimbangkan larangan penggunaannya untuk anak di bawah 12 tahun.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat pun tegas-tegas menyatakan bahwa batuk ataupun radang tenggorokan tidak membutuhkan terapi antibiotika. “Yang perlu ialah perbanyak minum, maka batuk pun akan mereda karena lendir menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan,” ucap Wati. Batuk muncul karena peningkatan produksi dahak yang dipicu oleh infeksi virus atau alergi. Spesialis anak yang biasa disapa Wati ini menyebutkan, batuk akibat infeksi virus flu bisa berlangsung hingga dua minggu bahkan lebih malah lagi jika anak sensitif atau alergi.

Kebanyakan, Wati menyebutkan, penyebab batuk pada bayi dan anak kecil adalah virus parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus influenza. “Batuk lama pada anak besar bisa karena pertusis, mycoplasma pneumoniae, tetapi kebanyakan tetap karena alergi dan infeksi virus sehingga umumnya tidak membutuhkan antibiotik,” paparnya. Ia menambahkan pada anak besar, batuk yang berlangsung lebih dari 4 hingga 8 minggu, memang perlu dipikirkan kemungkinan terjadi hipersensitivitas saluran napas, aspirasi benda asing, tuberkulosis, pertusis, cystic fibrosis, atau sinusitis. “Dalam kondisi ini, baru terapi antibiotik perlu dipertimbangkan.” RITA

Tip Kurangi Produksi Lendir

  1. Minum air hangat yang banyak.
  2. Bila masih bayi, gunakan bantal yang agak tinggi.
  3. Jangan gunakan antibiotik, penekan batuk codein, atau dekstrometorfan (DMP).
  4. Batuk yang bukan penyakit, cari penyebabnya.
  5. Tidak ada yang namanya obat batuk, kecuali jika batuknya disebabkan oleh asma.

Sumber : Koran Tempo

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 74 other followers

%d bloggers like this: