5. Outdoor Activities vs Sinar Matahari

Dear all,

Selamat pagi. Apa kabar? Sudah sempat bergerak (berolah raga)?

Sewaktu masih menjadi staf pengajar di FK (akhir 1990an sd awal 2000an), saya mengelola program kuliah tamu. Umumnya tamu-tamu dari luar indonesia. Saat itu, yang membuat saya mumet adalah penyusunan itenerary para profesor dan tenaga ahli luar tersebut. Diajak kemana utk dinner? Obyek wisata outdoor mana yang patut dikunjungi?

Puncak? Pernah mencoba ke sana. Sampai Cipayung nyerah. Muaceet. Ya akhirnya paling banter: kebun raya Bogor.

Pernah diajak ke pantai sekitar Marbella. Sampai tujuan sudah malam.

Maceet …

Subuh sudah harus ke airport..

Pusing saya.

Mereka pencinta outdoor

Saya bisa paham setelah saya berkesempatan tinggal di beberapa negara. Park and outdoor activities (plus sunshine … ) bagian dari nafas sehari hari.

Di Biak, di Senggigi, Labuan Bajo, anak main di pantai sampai matahari undur diri.

Di Jakarta?

Anak tidak suka berkeringat.

Gadget yang justru bagian dari nafas keseharian.

Duduk.

Screen.

AC (di rumah, di mobil, di kantor)

Kapan exposed to outdoor atmosphere?

Kapan exposed to UV-B?

Kapan naik sepedanya? Kapan main bolanya?

Kapan hujan-hujanan? (Pas musim hujan nanti, ayo bikin agenda: main hujan bareng).

Kapan nyiram tanaman?

Yuuuk main di luar!

Asiiik…!

Keringetan…

Ingus pada meler (gak usah beli sterimar).

Yang kerja kantoran .. jalan kaki ke halte.

Jika telepon dari kantor, jangan tanya soal makan dan lain-lain..

Tanya:

Dah main di luar?

Salam becek-becekan

Wati

Leave a comment »

4. Asam Lambung, Kawan atau Lawan?

Dear all,

Selamat pagi,

“Saya kena asam lambung!”

“Kata dokter, saya punya maag”

“Saya sedang dalam perawatan asam lambung”

Dan seterusnya, dan seterusnya

Dan ketika saya tanya, apa keluhan ibu? Apa yang dirasakan?

“Kembung.”

“Perut penuh. Pusing. Lemes.”

“Dada gak enak. Lemes. Makan mual.”

Dst dst, kurang lebih sama.

Celakanya … Diagnosis yang tidak jelas ini, jadi diagnosis keranjang sampah. Artinya, banyak pasien ketika dokter tidak menemukan kelainan, lantas dicap … “Diagnosis: asam lambung”.

Mengapa bisa begini?

Kalau kita simak keluhan-keluhan di atas, kan tidak khas. Artinya, tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Umumnya rasa tak nyaman di perut dengan lemas atau pusing … merupakan gejala prodromal infeksi virus.

Prodromal = gejala awal, sebelum yang bersangkutan benar-benar ambruk.

Sedihnya, tidak sedikit masyarakat yang memiliki mind set yang intinya:

asam lambung itu JAHAT/BAHAYA.

Lalu … mengapa Tuhan menciptakan asam lambung?

Pertama,

Lambung gerbang masuknya mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, parasit) melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Kedua,

Mikro organisme tersebut mati di lingkungan asam (pH rendah)..

Jadi?

Kalau tidak punya asam lambung, celaka! Kita rentan infeksi.

Asam lambung baru menyebabkan masalah kalau di lambung ada tukak. Atau kalau dia bolak balik naik ke atas dan menyebabkan iritasi esofagus.

Jadi?

Pertama,

Hati-hati kalau dilabel asam lambung. Minta diagnosis dalam bahasa medis.

Dyspepsia dan gratitis akan membaik dengan mengubah pola hidup (baca di mayo clinic)

Kedua,

Hati-hati mengonsumsi obat untuk menurunkan asam lambung.

Apakah itu golongan H2 antagonis (ranitidine; merek mah macam-macam) atau golongan PPI (omeprazole).

Jangan basmi asam lambung. Sila baca di web milissehatyop plus di link di bawah ini.

Salam

Wati

(There is a reason to everything)

https://www.straitstimes.com/singapore/health/hsa-stops-supply-of-8-medicines-used-to-treat-heartburn-due-to-cancer-causing

Leave a comment »

3. Cuaca dan Dosa

Dear all,

Selamat akhir pekan. Semoga penuh dengan agenda kebaikan; bukan agenda dosa (pengingat bagi diri sendiri).

Apa hubungan cuaca dengan dosa?

Bumi tengah merana dengan fenomena “rumah kaca”nya. Jangan bilang kita, manusia, mahluk ciptaanNya yang tertinggi, tidak punya andil.

Dosa pertama, tidak peduli.

Dosa kedua, tidak berbuat sesuatu untuk membantu bumi demi anak cucu cicit.

Kita tutup hati.

Mata telinga buta tuli.

Padahal…

Saat ini, akibat global warming:

– cuaca ekstrim, penyakit di sana sini

– bencana alam; gempa, topan, banjir, longsor, dst dst

– kelangkaan pangan

– kepunahan fauna dan flora

– dst dst

Kita berperan besar dalam kerusakan bumi ini.

Kita ….

Boros air

Boros listrik

Boros makanan

Boros bensin

Boros plastik

Boros sampah (apalagi kalau plus dibakar)

Kalau paham filosofi MODERASI, kita bisa lebih bijak.

Mengatasi pemanasan bumi bukan berarti menyelamatkan bumi

Melainkan

Menyelamatkan KEMANUSIAAN/HUMANITY.

Saya berusaha:

1. Mengurangi pemakaian plastik (termasuk yang sekali pakai).

2. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah ketimbang daging merah.

3. Memilah sampah organik dan non organik: membuat kompos sendiri.

4. Hemat listrik.

5. Hemat air (cuci mobil tidak di rumah, memanfaatkan air cuci bahan makanan, membuka keran kecil saja, hemat cuci baju, dst).

6. Tidak bakar sampah dan manis-manis ajak lingkungan tidak bakar-bakar sampah.

7. Hemat pakai kendaraan pribadi; hemat BBM.

8. Pakai BBM oktan tinggi.

Apa lagi ya yang bisa saya kerjakan?

Salam anti global warming,

Wati

Leave a comment »

2. Nasi dan Beras

Selamat pagi,

Saya baru pulang dari Manado.

Banyak hal saya peroleh di sana. Banyak hal menambah pengetahuan dan wawasan saya.

Itu sebabnya saya sangat menikmati tugas promotif berkeliling Indonesia.

Subhanallaah…

Betapa kaya dan betapa beragamnya Indonesia.

Terimakasih Allah.

Salah satu aspek menarik perjalanan keliling Indonesia adalah food wisdom-nya.

Sulawesi Utara misalnya. Usai acara, kami santap malam bersama di kantor.

Luar biasa.

Kompak, hangat.

Menunya hebat.

Didominasi ikan. Mulai dari tude kuah kuning, sambal roa, cakalang suwir, tuna rica rica, sampai perkedel ikan.

Tentu saja ada kangkung dengan bunga pepayanya.

Ada juga bruine boonen soup (sup kacang merah).

Karbonya?

Meski disediakan nasi, umumnya karbo yang disantap adalah pisang goroho kukus, ubi ungu-singkong kukus

Atau jagung rebus yang manis.

Saya tanya:

“Sedang diet?”

“Tidak, Bu”

“Kan sudah ambil ubi.”

Hmmm…

Yuk, kita kurangi konsumsi beras putih!

Kita tingkatkan asupan ikan, sayur dan buah

Salam sehat tanpa nasi

Wati

Leave a comment »

1 : Masker dan Empati

Dear all,

Saat kita bepergian misalnya dengan pesawat terbang, ada beberapa hal yang buat saya irritating.

Salah satunya, ketika ada yang batuk-batuk, tapi dengan egoisnya, tidak memakai masker.

Dengan egoisnya, tidak merasa bersalah.

Padahal, di ruangan tertutup, ber AC, virus yg disemburkan setiap kali batuk dan bersin, dalam waktu singkat menyebar dan memperbanyak diri secara lebih agresif.

Kalau dia seorang diri, lain cerita. Tetapi kita bersama banyak orang lain, ada balita, ada manula. Seharusnya hatinya membimbing rasionya. “Ambil dan pakai masker”.

Katanya

Manusia itu mahluk sosial.

Katanya

Manusia itu tinggi harkatnya antara lain, krn punya rasa,  punya empati.

Mari kita tingkatkan kepedulian sosial kita. Mulai saja dari hal hal yang kecil.

Salam pakai masker

Wati

Leave a comment »

%d bloggers like this: