RALLY FOR ANTIBIOTICS AWARENESS IN JAKARTA

4 March 2014

Dozens of youths, children and parents took part in a colorful rally on March 2nd in central Jakarta, Indonesia to highlight the need to preserve antibiotics for future generations.

The rally was organised by Yayasan Orangtua Peduli (YOP), an Indonesian non-governmental organisation working with ReAct as part of the global CSO (Civil Society Organisations) project, that aims to help bring about behaviour change on the use of antibiotics among community organisations in Asia, Africa and Latin America.

The participants in the rally included officials from the Indonesian Ministry of Health, doctors and volunteers working with YOP as well as dozens of parents who came along with their children. Holding placards with messages on the need to stop misuse of antibiotics the rallyists marched over two kilometers through the streets of central Jakarta- which are designated ‘car-free’ zones and where thousands of other Jakartans gather every Sunday.

 

“This is the first ever street-level campaign on safe use of antibiotics in Indonesia we have conducted and the response is very good,” said Dr Wati, founder of YOP, that was set up in 2003 and currently has a network spread across 17 cities in Indonesia.

YOP runs programmes and projects focused on health promotion, particularly of children. The YOP also promotes rational use of medicines, especially antibiotics. Core activities of the network include a social media campaign; health education courses for parent;, a model clinic promoting physician-parent/patient partnership, a breast-feeding support group and consumer research.

The membership of the online social media campaign through Twitter, Facebook, mailing lists and blogs, of the network stands at over 12,000. Since 2012 YOP has also been running the Smart Use of Antibiotics (SUA) project, which was inspired by the ASU (Antibiotic Smart Use) project in Thailand.

Source : reactgroup.org

Leave a comment »

Announcement : Statement from WHO (Expert Commitee) about “Puyer” is Irrational !

Page 21 of our report:

The Committee also considered extemporaneous preparations involving polypharmacy. The Committee noted that in 1985, WHO defined rational use of medicines as requiring that “patients receive medications appropriate to their needs”. The custom in some places is to treat sick children with a mixture of several medicines (“puyer”), not necessarily all appropriate to their needs. Commonly, adult solid dosage forms are mixed together, ground to a powder, and the powder divided into assumed paediatric doses and then dispensed for administration to the child. Often, some medicines in the mixture are not indicated for the condition being treated. These medicines add to the risk of adverse
events without any possibility of conferring additional benefit. The Committee recommended that as this practice is irrational it should not be used.

Source : http://www.who.int/selection_medicines/committees/expert/17/en/index.html

Leave a comment »

Jangan Jadi ‘Pasien Pasrah’ Agar Hasil Pengobatan Lebih Efektif

Radian Nyi Sukmasari – detikHealth
Selasa, 14/10/2014 18:58 WIB
Jakarta, Ketika berobat, biasanya pasien cenderung menerima obat apa yang diresepkan oleh sang dokter. Semestinya, pasien pun harus kritis dan banyak bertanya untuk mendapat info suatu obat pada dokternya lho supaya pengobatan lebih efektif.
“Sebagai bentuk evolusi perlu diubah mindset ‘pasien pasrah’ menjadi konsumen yang bijak. Hubungan dokter dan pasien itu harus seperti klien dan konsumen jadi dokter terbuka memberi informasi kepada pasien dan pasiennya bebas mencari info tentang obat dan kondisinya,” kata dr Purnamawati SpA dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba.

Hal itu disampaikan dr Purnamawati di kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (14/10/2014) karena penggunaan obat salah satunya antibiotik yang tidak bijak bisa menimbulkan resistensi pada bakteri penyebab infeksi. Maka dari itu, dr Purnamawati dengan tegas mendorong pasien untuk giat mencari tahu, bertanya, dan berbagi.

“Saat konsultasi dengan tenaga kesehatan, bertanyalah sampai Anda mendapat informasi yang jelas. Jangan sungkan bertanya info tentang kandungan obat, cara kerja, efek sampingnya, lalu tidak boleh dipakai kalau kondisi apa, kemudian soal harganya,” papar dr Purnamawati.

Tak ada salahnya pula Anda meminta diagnosis dengan bahasa kedokteran supaya bisa mencari informasi dari sumber yang memadai. Sementara itu, Prof dr Taralan Tambunan, SpA(K) menambahkan dokter pun harus turut aktif memberi informasi selengkap-lengkapnya untuk pasien. Dalam pemberian obat pun harus bijak, masuk akal dan rasional. Pedoman tersebut dikatakan Prof Taralan terdiri dari 7 prinsip benar.

“Kita sebagai dokter harus benar diagnosis, indikasi penyakit, pilihan obat, dosis, interval lama pengobatan, rute pemberian, dan ketepata tepat waktu, serta tepat memberi info. Misalnya saja kalau nulis obat 3x sehari sebaiknya tiap 8 jam sekali karena tiga kali bisa saja tidak pagi, siang, dan malam,” papar Prof Taralan.

Terkait penggunaan antibiotik yang bijak, pada 16 Oktober menatang Kemenkes akan meresmikan komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi antibiotik dengan bijak. Program pengendalian resistensi antimikroba juga diberlakukan di RS dan bagi tenaga kesehatan agar lebih bijak dalam memberikan antibiotik untuk pasien.

Menurut Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan dr H Chairul R Nasution, SpPD, KGEH, FINASIM, MKes, berdasarkan riset beberapa kuman sudah kebal terhadap antibiotik karena penggunaan yang kurang tepat, pemberian antimikroba tidak sesuai indikasi dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi antibiotik secara bebas.

“Kita juga perlu lakukan upaya supaya apotik tidak memberi bebas jika ada masyarakat yang membeli antibiotik. Untuk masyarakat, gunakanlah antibiotik seperlunya saat dibutuhkan, patuhi penggunaannya dan ketika diresepkan tanyakan apakah sudah sesuai. Juga jangan memaksa agar diresepkan antibiotik,” kata dr Chairul.

Sumber : Detik

Leave a comment »

Antibiotik si ‘Obat Dewa’, Sering Diberi pada Anak Meski Cuma Sakit Ringan

Radian Nyi Sukmasari – detikHealth
Selasa, 14/10/2014 19:48 WIB

Jakarta, Wajar jika orang tua khawatir saat si kecil sakit, misalnya demam, batuk, dan pilek. Bahkan terkadang, ada pula yang nekat memberi putra putrinya antibiotik agar cepat sembuh meskipun kenyataannyannya si anak tidak terinfeksi bakteri.

Menanggapi hal ini, dr Purnamawati SpA dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba mengungkapkan berdasarkan penelitian, anak adalah populasi yang paling terpapar penggunaan antibiotik. Sudah pasti, penyebabnya karena mereka sering sakit.

“Dalam setahun balita bisa 8-12 kali sakit. Tapi kan sakit ringan seperti demam, batuk pilek, diare, muntah. Disebut ringan sifatnya self limiting, sembuh sendiri. Penyebabnya juga virus dan antibiotik tidak bisa menyembuhkan,” kata dr Purnamawati.

Pemberian antiboiotik untuk penyakit yang memang tidak disebabkan infeksi bakteri pastinya tidak akan menimbulkan hasil. Oleh karenanya, dr Purnamawati sangat mengajurkan ketimbang ‘meracik’ obat sendiri termasuk dengan membeli antibiotik di apotek, lebih baik bawa anak ke dokter jika kondisinya tak membaik.

“Penyakit sehari-hari di mana anak butuh antibiotik misalnya infeksi saluran kemih. Kalau sudah diketahui sakitnya itu, kita cari penyebabnya apa lalu cari antibiotik yang sesuai untuk bakteri tersebut,” lanjut dr Purnamawati di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Senada dengan dr Purnamawati, selaku Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba dr Anis Karuniawati SpMK, PhD mengatakan saat anak demam 3 hari tidak seyogianya langsung diberi antibotik. Sebab, virus juga bisa menyebabkan demam pada anak.

“Makanya ada pemeriksaan penunjang untuk menemukan ada infeksi virus atau bakteri. Dulu memang saat baru ditemukan Flemming, antibiotik dianggap sebagai ‘obat dewa’ karena dulu memang penyakitnya kebanyakan infeksi bakteri. Kalau sekarang kan mesti kita teliti lagi,” kata dr Anis.

Oleh karena itu, ia menyarankan sebaiknya orang tua tak asal memberi antibiotik pada anak saat sakit. Ketika membawa berobat ke dokter pun diharap orang tua bisa lebih kritis dan aktif. Apalagi, meskipun kecil, bakteri memiliki daya tahan yang besar untuk melindungi diri sehingga tidak bisa dilakukan eradikasi murni, yang dapat dilakukan ketika terjadi infeksi bakteri yakni memperlambat resistensi dan mencegah transmisinya.

Sehubungan dengan pembelian antibiotik, Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian drs Bayu Teja Muliawan, M.Pharm, MM, Apt menegaskan peresepan antibiotik termasuk kategori obat keras. Sehingga, pembeliannya harus dengan resep dokter. Maka dari itu perlu ada pendidikan bagi masyarakay bagaimana penggunaan antibiotik yang benar.

“Kita galakkan juga agar apoteker di RS atau faskes lainnya untuk memberi informasi yang benar tentang obat-obat apa saja yang diberikan, jenis dan penggunaannya, kapan harus berhenti. Masyarakat juga jangan ragu minta info dari apoteker. Pemerintah melalui BPOM juga melakukan monitor dan pengawasan terhadap distirbusi antibiotik,” terang Bayu.

Sumber : Detik

Leave a comment »

Ayu Bowan…

Ayu bowan
(Welcome …. To Sri Lanka)

Dear all

Akhirnya, kami sampai di penghujung consultative meeting dan draft strategi patient safety untuk regional area of south east Asia – selesai sudah.

Persiapan di masing2 negara sudah mulai dari sebelumnya. Paling tidak sebulan sebelumnya.

Adapun negara yg masuk regio asia tenggara berdasarkan pembagianm regions nya WHO adalah:
India, Bangladesh, sri Lanka, Maldives, Nepal, Bhuttan, myanmar, Thailand, Korea Utara, timor Leste dan Indonesia. Dan saya bersyukur telah mengambil keputusan yg tepat (untuk berangkat ke SL).
Banyak pembelajaran, banyak kawan, banyak tambahan wawasan dan pengalaman.

Kali ini saya cuma dongeng perihal Sri Lanka/Colombo.

Kami tiba jam 2.00 AM (alias jam 03.30 WIB; lumayan delay nya). SQ kok delay sih? Hehehe Soetta nya yg menjengkelkan. Sudah sedikitnya 1 tahun, setiap kali akan terbang, pasti delay lantaran antrian di runway yg tak masuk akal.
Kalau akan melanjutkan penerbangan (connecting flight; apalagi kalau airline nya beda dg airline yg pertama ditumpangi), bisa runyam.

Sesampainya di sing, kami harus gerak cepat, naik train, poindah terminal, untuk masuk gate ke penerbangan berikutnya ke colombo.

Jadi … Soetta kita memang sudah tak layak jadi airport international. Semoga pembangunan perluasannya lancar dan segera rampung.

Sesampainya di colombo, saya cukup kagum. Tengah malam, airport nya masih “alive”, terang benderang. Ada pameran alat elektronik pula hehehe (emangnya ada ya yg mau beli alat elektronik di airport; tengah malam pula hehehe)

Saya ke imigrasi. Antrian pendek, cepeeet. Kalau di soetta, antriannya puanjang. Luama hehehe

Dari situ saya ke belt luggage. Ternyata, gak lama, koper merah mungil saya muncul. Wow … Gumam saya.
Di Soetta, ambil bagasi dr LN, luamaaa.
Kalau mau cepat?? Ada caranya
Bayar diam2 kuli, kasih lembar bagasi kita. Voila!!

Dari situ saya ke toilet. Kagum lagi saya. Bersiiihhhh! Kering!!! Gak bau pesing!!
(Di soetta, becek, pesing pula)
(Jadi ingat kalau Pesat, maaf ya, ke toilet sebelum jam 10 masih nyaman, habis itu mah becek bau gak karuan hiks; maaf).

Dari teoliet kami keluar, sudah ada yg menjemput. Udara segar. Di mobil van, kami meluncur (37 km) menuju hotel. Lho kok teratur ya tata jalan; trotoir lebar, pohon rindang banyak. Lampu terang.
Daaaaan bersih, No litters!
Tapi mungkin krn tengah malam ya (hehehe, maksudnya?)

Sampai hotel (bagus hotelnya), urus check in. Masuk kamar. Mandi hangat lalu terkapar. Jam 6 waktu setempat kaget, bangun, lihat jendela – view nya cantik.

Seharian di dalam ruangan conferemce – jam 18 selesai. Jam 19 diundang kereception night, ada pegelaran tari tradisional.
Masih kalah jauh sama indo/India/Thai
Jam 21 gak kuat. Tidurrrrrr

Rabu, jam 6 pagi, jalan ke beach – 15 menit lah kalau santai2. Bangunan tua kiri kanan; sangat terpelihara dan cantik. Trotoir lebar dan sangat bersih. Sampai di beach, sepanjang tepian jalan lebar untuk pejalan kaki dan jogging. Lalu lalang masyarakat lokal dan asing. Saya iri.
Di bali, anyer, rakyat setempat tak lagi memiliki pantai. Semua punya hotel/resort. Aneh pemerintah kita.

Hal kedua yg mengagumkan buat saya, kebersihannya. Pasirnya coklat lembut – tak ada sampah. Bersih sih sih sih sih. Subhanallaah
Hebatnya orang Sri lanka (jadi ingat di Soetta, salah satu peserta (kan total dr indoa – 4) tanya dg sinis:
Apa sih yg bagus di sri lanka.
W: pemandangannya bu!
Muka nya langsung ketekuk hehehe – cuma sebentar kok.
Banyak ruby ya bu, kata beliau….)

Sambil menikmati udara pagi yg nyaman, saya duduk di bangku tepi pantai. Kok bisa ya mereka disiplin.
Oh ya, tempat sampah tersedia – banyak – besar2 – rapi dan bersih.

Sepanjang pantai ada yg jualan?
Ada
Kaki lima tapi kiosnya seragam, warnanya hijau. Apik serba teratur.

Jalan dari pantai, bis nya manusiawi meski tua. Stop nya di halte. Bajaj nya (three wheelers namanya) – bersih, rapih. Kok bisa ya disiplin naik turun di halte. Hiks indonesia…

Tak jauh sebelum hotel, ada kantor informasi tourists.
Jam 7 pagi sudah buka.
Sangat informatif, peta, brosur, buku2 tentang SL lengkap.
Hmmmm … Apiknya.

Sore – jam 17 – selesai meeting seharian – ikut sight seeing. Ke temple agak di luar kota. Kami berdesakan satu van (ber 17) sisanya, shopping.

Sepanjang jalan, meski macet – saya menikmati ancient city yg apik. Motor bisa dihitung dg jari. Sisanya bis dan mobil (jarang lihat mobil mewah).

Temple agak jauh sekitar 15 km. Besar sekali. Penduduk SL mayoritas menganut agama budha tetapi temple nya sangat dipengaruhi tempel hindu dari India.

Di sana kami dibagikan bnga lotus – lambang kedamaian.
Penduduk tengah duduk di pasir, menjalankan ibadah. Semua memakai baju warna putih. Tranquil.

Pulang dr temple, keliling colombo. Parliament – cantik. Danau di tengah kota sebrangnya ada park – cantik dan resik.

Bahkan perkampungannya sekalipun, bersih meski lusuh. Gak ada sampah berceceran, apalagi kantong plastik.

Saya benar2 kagum
Sederhana
Tetapi disiplin.

Sudah dulu ya
Bentar lagi ke bandara
Take off jam 01.20

Love from colombo

Tashi delek (bhuttan)
Kyay zu tin bar de (myanmar)
Dhanyawad (india)
Kam su hap ni da (Korea)
Dhanyabad (Nepal)
Onrigada (Timor Leste)
Shukuriyya (Maldives)
Kopkunwa (Thai)
Terimakasih
Wati
-patient’s safety first-

sri_lanka1 sri_lanka2

Leave a comment »

Tak Perlu Selalu Musuhi Bakteri

Penulis : Unoviana Kartika | Kamis, 6 Maret 2014 | 16:16 WIB


KOMPAS.com — Jika mendengar kata “bakteri”, kerap kali yang terlintas di pikiran adalah organisme yang merugikan dan menyebabkan penyakit. Namun, sebenarnya bakteri tidak selamanya seperti yang dibayangkan karena sebenarnya mikro-organisme satu ini juga banyak menguntungkan manusia. Jadi, dapat dikatakan bakteri bukanlah musuh manusia karena manusia tidak bisa hidup tanpa bakteri.

Dokter spesialis anak Purnawati Pujiarto yang juga aktivis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengatakan, tidak semua bakteri itu “jahat”. Ada juga bakteri “baik” yang menguntungkan manusia. Upaya manusia melawan atau memusnahkan bakteri dapat berdampak kontraproduktif. Pasalnya, bakteri yang dibunuh akan membentuk resistensi.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan aman menyebabkan bakteri bermutasi dan menjadi resisten atau kebal sehingga tidak lagi mampu dilawan dengan antibiotik.

“Kondisi tersebut akan merugikan konsumen karena jika bakteri yang semakin kebal dengan antibiotik akan lebih sulit lagi dibunuh jika benar menyebabkan penyakit,” tegas Purnawati dalam sebuah diskusi kesehatan bertajuk “Bakteri: Kawan atau Lawan?” di Jakarta, Kamis (6/3/2014).

Dalam kesempatan yang sama, Satya Sivaraman dari ReAct, jaringan global dengan konsentrasi aksi resistensi bakteri yang berpusat di Uppsala University Swedia, mengatakan, dari jutaan jenis bakteri yang ada di dunia, hanya sekitar 150 jenis yang bersifat patogen atau menyebabkan penyakit pada manusia. Sisanya tidak menyebabkan penyakit atau bahkan menguntungkan manusia.

“Bakteri sangat berguna dalam proses pencernaan. Dari mulai saluran pencernaan paling ujung, yaitu mulut, hingga ke usus besar terdapat bakteri yang membantu proses tersebut,” ujarnya.

Bakteri, lanjut dia, juga berada di kulit manusia dalam jumlah yang banyak sekali. Bahkan jumlahnya 10 kali lipat lebih banyak daripada sel-sel tubuh yang ada di kulit itu sendiri. Fungsi bakteri itu, kata Satya, adalah untuk melindungi tubuh.

Satya menggambarkan, bakteri memberikan manfaat pada manusia selama berada dalam kondisi yang benar seperti buah yang memberikan manfaat jika dimakan dengan benar.

“Tapi kalau dimakan dalam kondisi salah, misalnya sampai menimbulkan tersedak, tidak bisa dikatakan buah tidak baik untuk dimakan. Begitu pula dengan bakteri yang ada di kulit, bisa membahayakan jika kulit terluka, bakteri bisa masuk ke dalam aliran darah dan menginfeksi tubuh,” kata Satya.

Selain itu, fungsi positif bakteri antara lain digunakan untuk industri makanan, seperti pembuatan produk-produk fermentasi seperti yogurt atau keju. Bakteri juga berguna dalam pembusukan limbah, industri minyak, dan lain-lain.

Sumber : Kompas.com

Leave a comment »

Anak Pilek dan Diare Jangan Buru-buru Kasih Antibiotik

Penulis : Unoviana Kartika | Jumat, 7 Maret 2014 | 08:52 WIB


KOMPAS.com – Jika membawa anak ke dokter karena sakit pilek atau diare, tidak jarang dokter memberikan resep antibiotik. Bahkan jika tidak diberikan sekalipun, kadang-kadang konsumen justru memintanya. Padahal untuk sakit tertentu, penggunaan antibiotik dinilai sebagai tindakan yang berlebihan.

Dokter spesialis anak Purnawati Pujiarto yang juga aktivis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) memaparkan, jika mengalami sakit maka perlu diperiksa penyebabnya. Apakah karena infeksi atau lainnya. Jika memang terjadi infeksi, perlu diketahui lagi penyebab infeksinya oleh virus atau bakteri.

“Jika virus maka tidak perlu diberikan antibiotik karena antibiotik tidak bisa mematikan virus, melainkan bakteri. Jadi bakteri yang bukan menyebabkan penyakit juga mati akibat antibiotik. Jika dibiarkan maka akan lama-lama akan menimbulkan resistensi,” tutur Purnawati dalam sebuah diskusi kesehatan bertajuk “Bakteri: Kawan atau Lawan?” di Jakarta, Kamis (6/3/2014).

Untuk penyakit pada anak seperti pilek dan diare, imbuh dia, sebenarnya tidak memerlukan pengobatan apalagi antibiotik. Pilek yang dimaksud adalah pilek umum dengan gejala produksi lendir meningkat disertai pusing dan batuk. Sementara diare akut yang tidak berdarah.

“Obat-obatan untuk sakit seperti pilek dan diare tidak perlu karena memang akan sembuh dengan sendirinya. Obat-obatan itu hanya memberikan sedikit rasa nyaman,” ujarnya.

Menurut Purnawati, pada anak, kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang umum terjadi. Apalagi menurut situs kesehatan Mayo Clinic, anak wajar jika sakit belasan kali di usia kurang dari dua tahun.

“Sakit pada anak itu justru baik untuk memacu sistem pertahanan tubuhnya supaya kuat,” tegasnya.

Atas dasar itu pula lah, Purnawati juga menyarankan agar orangtua tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kesehatan anak jika mereka ingin bermain tanah atau hujan. Pasalnya kegiatan tersebut akan membantu mereka lebih kebal terhadap serangan panyakit.

Sumber : Kompas.com

Leave a comment »

Antibiotik Berlebihan Ancam Kesehatan

PENGGUNAAN antibiotik sesuai dengan kebutuhan dan penyakit harus diperhatikan masyarakat yang jadi pasien agar tidak muncul resistensi bakteri atas antibiotik yang bisa mengancam kesehatan.
Karena itu, kesadaran masyarakat atas penggunaan antibiotik harus ada terutama bersikap cermat saat diberi dosis obat oleh dokter.

“Jika antibiotik tidak sesuai dengan kebutuhan dan penyakit, mereka mesti bertanya pada dokter,’’ kata Dr Purnamawati dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) pada diskusi Pentingnya Pengetahuan Masyarakat atas Antibiotik, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, resistensi bakteri terhadap antibiotik akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai bisa menyebabkan beberapa hal, di antaranya memperpanjang periode sakit, memperburuk kondisi klinis, meningkatkan biaya pengeluaran, serta menimbulkan efek samping dan toksisitas yang lebih besar pada tubuh.

“Resistensi bakteri atas antibiotik pun akan menyebabkan peningkatan potensi jumlah pasien infeksi dan menambah risiko terjadinya

pandemi bakteri yang resistens terhadap antibiotik,’’ terang Purnamawati.
Dia menyarankan pasien agar saat berkonsultasi ke dokter menanyakan tiga hal, yaitu mengenai diagnosis penyakit, tata laksana penyakit, dan kapan harus cemas.

“Pasien pun diminta cermat sebelum dia diberikan obat dengan bertanya apakah dia benar-benar membutuhkan obat itu, jumlah obat, apa kandungan aktifnya, cara kerja, efek sampingnya, dan lain-lain,’’ kata Purnamawati.

Secara terpisah, Communication Advisor Action on Antibiotic Resistance ReAct Satya Sivaraman menyatakan terdapat lima cara untuk menghentikan resistensi terhadap antibiotik.

Kelima hal tersebut ialah menggunakan pendekatan ekologis, menciptakan kebijakan nasional, meningkatkan kepedulian konsumen, membentuk suatu guideline atau patokan, dan mengadaptasi pesan-pesan ke konteks lokal. “Para tenaga kesehatan dan masyarakat juga perlu mendapatkan pengetahuan terkait dengan penggunaan antibiotik.’’ (Vei/H-2)

Sumber : mediaindonesia.com

Leave a comment »

%d bloggers like this: