PELANGI 8 : Sedikit Oleh-oleh – Hak Konsumen Kesehatan

Dear all

Selamat malam … hujan ya sore … senangnya saya
kalau hujan (terutama ketika hujan sudah tiba di rumah
hehehe).
Tadi ikut seminar future nursing karena ada satu
pembicara lawyer dari Ausie yang berbicara tentang
consumers’ rights … menarik meski kurang menggigit
mungkin karena beliau belum mengenal Indonesia …
akibatnya ..para perawat kurang menangkap isi dan
pesan bahwasanya … layanan kesehatan yang
berkualitas adalah yang aman .. public protection
intinya
Menarik ketika ia berbicara tentang PERAN KONSUMEN
DALAM LAYANAN KESEHATAN .. ada 3 katanya

1. Sebagai COMPLAINANTS (secara kasar … boleh
dibilang bahwa salah satu tugas konsumen adalah …
MENGAJUKAN KELUHAN … karena dari keluhan ini tenaga
medis bisa belajar banyak … tetapi tentunya bukan
asal mengeluh … tetap harus bijak

2. Sebagai PARTICIPANTS dalam suatu regulatory regime
berpartisipasi di badan pembuat kebijakan, di
organisasi profesi .. misalnya .., asosiasi perawat di
Ausie .. menyediakan kursi bagi konsumen sehingga
duduk sama2 membuat kebijakan, standardisasi dll ..
sebagai pengamat lah

3. Sebagai RECIPIENTS OF INFORMATION … harus mau dan
mampu menyerap informasi .. baik informasi ilmiah
kesehatan maupun informasi kebijakan

Nah .. organisasi konsumen kesehatan australia
mempunyai one charter of rights and responsibilities
… ada 8 yang intinya sbb:

1. The right to satisfaction of basic needs – salah
satunya adalah kesehatan

2. The right to safety (hak dilindungi akan produk,
proses produksi serta layanan/services yang bisa
mengancam kesehatan
Note saya: bagaimana perlindungan terkait produk
makanan (pewarna, pengawet, antibiotikanya???)
Mengapa barang yang diekspor jauh lebih bagus
ketimbang barang yang dipasarkan di dalam negeri?
Industri makanan kita bangga kala produknya bisa masuk
di jepang misalnya meski produknya untuk bangsa
sendiri produk kelas 2.

3. The right to be informed … diberi data dan fakta
.. protected against dishonest or misleading
advertising and labelling
Contohnya .. ketika harus menanda tangani surat ijin
tindakan (informed consent) .. harus disertai
kesadaran sepenuhnya perihal proses yang akan
dilaksanakan
Note: Persetujuan pasien hanya efektif bila ybs
sepenuhnya memahami dan menyetujui apa yg
ditandatangani

4. The right to choose – boleh memilih dari berbagai
jenis produk serta services yang tersedia dengan harga
yang kompetitif tentunya serta jaminan kualitas
Note saya:
1. Boleh minta generik dong
2. Boleh menolak pengobatan … misalnya … beberapa
bulan lalu curhat dan sharing orang tua perihal paket
konsultasi medis yang mencakup peresepan yang sudah on
line
INI SUNGGUH MELANGGAR … kita harus tahu obat yang
diberikan kepada kita baik isi, efektivitas maupun
risiko efek sampingnya …
kita berhak meminta waktu berpikir mau tebus atau
tidak obatnya

5. The right to be heard –
Note: tugas tenaga medis memang mendengar …
mendengar merupakan bagian amat penting dalam
menegakkan diagnosis
Mendengar di sini juga terkait representasi pihak
konsumen di pemerintahan dan organisasi profesi ketika
mereka membuat suatu kebijakan

6. The right to redress
Berhak akan ganti rugu ketika memang dirugikan

7. The right to consumer education

8. The right to a healthy environment

Nah … selamat merenung
sudahkah kita menjadi konsumen yang menjalankan ke 3
peran kita
sudahkah kita menjalankan kewajiban kita sehingga hak
kita terpenuhi

selamat tidur … dah menjelang dini hari
maaf ya belum sempat buat bunga rampai
love
wati

PELANGI 9 : Peran konsumen kesehatan di Indonesia?
Posisinya?
Jakarta, 6 November 2005 jam 1.57 am

Dear all,
Selamat dini hari … Semua sudah lelap … hening
sekali … waktu yang tepat untuk menulis hehehe …
karena sebenarnya …. sudah lama ada niatan untuk
menulis Pelangi tetapi berhubung satu dan lain hal
terutama kesibukan dan ketahanan fisik (hehehe) …
selalu tertunda. Pada dasarnya … saya ingin sharing
pengalaman saya sehari-hari termasuk di ruang
konsultasi

Niat ini muncul seiring dengan semakin banyaknya
sharing perihal pola layanan kesehatan di Indonesia
… Semakin kuat setiap membaca email mengenai
obat-obatan yang diberikan kepada anak yang tidak
jarang diikuti dengan pertanyaan dari kalian ..
mengapa??? mengapa??
Termasuk Churchart… (cp) sehabis sharing perihal
anak temannya (subject RADANG) …ternyata
…responsnya ramai sekali (28 Oktober 2005) …. luar
biasa …
Dan ketika bermunculan email mempertanyakan
dasar/alasan peresepan yang kalian istilahkan sebagai
pola pengobatan yang “menyeramkan” … (dimana saya
mingkem hehehe) … muncul beberapa email ibarat upaya
“rescue” … yang mengemukakan banyaknya faktor yang
berperan terhadap pola peresepan dan salah satu
diantaranya adalah “patient demand” … saya sangat
bangga … kalian benar-benar bijak bukan sekedar
“smart”

Hal yang senada berulang kali dilontarkan SP lainnya
ketika ada yang bertanya dokter yang RUD … beberapa
SP pun lalu mengingatkan agar kitanyalah yang sedapat
mungkin berupaya agar menjadi pasien yang RUD …

Tahukah kalian .. di tengah malam .. ketika kantuk dan
lelah menyerang … email kalian mampu menggugah
sejuta rasa … mulai dari mesem-mesem geli sendiri
… bersyukur karena kagum …. tetapi kadang ..
nyesss … pedih dan sedih ….
Nah … kalian kan sering sharing pengalaman kalian,
sering mengajukan pertanyaan … ijinkan saya juga
sharing pengalaman saya ya … siapa tahu kalian punya
jawabannya …Mohon maaf sebelumnya karena email ini
akan suangat puanjang … anggap cerpen saja ya hehehe

ahhhh seperti biasa … mau berangkat praktek rasanya
bueraaat banget … dasar orang rumahan (lagian
pasien2 saya mah dah pinter2 begitu senantiasa
jawaban saya kepada banyak pihak yang mem[pertanyakan
mengapa saya begitu sering mangkir) ….
Di lain pihak …tidak banyak yang sebenarnya bisa
dilakukan di ruang konsultasi 3×3 m … ada
keterbatasan waktu sehingga upaya edukasi (sebagai
bagian dari komponen layanan kesehatan) menjadi sangat
terbatas pula … tapi … saya sudah terlalu sering
mangkir … malu dan tak enak hati … yang punya RS,
klinik pasti nelongso meski gak pernah ngomong hehehe
… yang justru sering memarahi saya … ya para orang
tua … gimana sih … kemana aja sih … susah amat
dicari … dst dst … biasanya mesem aja saya ..
pasrah!!! …

KASUS 1. pasien baru
Bayinya batuk pilek … demam sejak subuh … nah
pasti bukan anggauta milis sehat nih … saya mbatin
… (ada rasa bersalah ..kasihan si ibu … ngapain
juga mesti capek2 datang dan buang uang dan tenaga
untuk suatu kondisi yang sebenarnya self care) …
Mulailah acara “ngobrol” (tepatnya anamnesis alias
upaya memperoleh informasi), lalu pemeriksaan fisik,
ldan akhirnya penjelasan serta rencana tatalaksana..
Mulailah saya menerangkan makna colds, infeksi virus
serta manajemen nya hehehe berbuih lah pokoknya sih
Ibu tak puas … “dok anak saya biasanya dikasih
puyer” …
“wah bu … gak usah makan puyer … (common colds
mesti dikasih puyer apa ya hehehe)”
“tapi kalau makan puyer biasanya cespleng dok”
“bu … kalau sudah waktunya sembuh .. pasti sembuh
… bukan karena puyernya anak ibu sembuh”
… Ibu tetap duduk dan tetap tak puas (batin saya
… mungkin si ibu nih kesel buanget sama saya dan
merasa “:rugi” bayar saya hehehe) …
Pendek kata .. pingpong di antara kami terus
berlangsung untuk waktu lumayan lama … jawaban saya
persis kayak kaset rusak hehehe di ulang2 lengkap
dengan lakon bintang film India karena saya
gedeg-gedeg kepala terus …

KASUS 2: juga pasien baru
Sepasang suami istri masuk … sang ayah memegang
tangan anak perempuannya berusia 5 tahun .. Wajah ibu
“panik”
“dok .. saya panik dok, periksa lab dong anak saya …
demam sudah 3 hari (padahal belum 72 jam lho dan
anaknya masih oke keadaan umumnya) .. ngeri saya”
“tenang bu … ibu takut apa kok minta periksa
darah?”
“pokoknya periksa aja deh dok kali DB atawa gejala
tifus..”
engingngennnnngggggg ….

“coba ibu cerita … sakitnya Q” …
“Q batuk pilek 2 hari lalu demam. malam itu juga saya
bawa ke dokter … dapat obat 3 macam .. (AB, puyer,
dan “peningkat daya tahan tubuh” hehehe)
Keesokam harinya demam tetap aja naik turun dok. 3 jam
habis makan obat pasti demamnya naek lagi. Sorenya
saya bawa lagi ke DSA langganan … obat suruh
diterusin tapi ditambah obat panas P sama satu lagi
puyer (jebulnya another AB) … tapi masih demam juga
nih dok makanya saya bawa sekarang …(memasuki hari
ke 3)”
“Nafsu makan?” “masih mau makan dok” (hehehe anaknya
overweight)
Muntah? tidak .. Diare? tidak .. Tidur oke ..
selama anamnesis anak nya beberapa kali tanya sama
bapaknya .. pak habis ini beli nasi goreng ya …
siomay juga ya …
Meski geli … ini kan good sign .. . kesadaran baik,
nafsu makan baik rasanya sih bukan DB atau tifus …

pas periksa … suhu 36.9 hehehe … nothing
significantly wrong …
“tenggorokannya merah ya dok .., aduh anak saya nih
kenapa ya dok sering sekali radang tenggorokan” ….
(jadi ingat komentar Junice ketyika dengar radang
tenggorokan hehehe … benar kamu Junice … label
radang tenggorokan sudah terpateri erat baik di
kalangan medis maupun di orang tua .,.. lengkap dengan
miskonse3psi harus terapi AB)
“Oh iya dok … anak saya sedang dalam perawatan
alergi … obatnya 3, puyer
(salbutamol-teofilin-steroid dll), AB dan R” …. Wah
… pusing kepala saya

Mulailah saya menerangkan soal demam, soal DB, soal
tifus dan soal alergi … ditutup dengan kesimpulan,
banyak minum, observasi, dan keep in touch. ehhh sang
ibu justru terus mendesak … “dok kalau besok panas
gimana?” “Dokter praktek dimana aja sih selain
disini?” teruus diulang2 hehe …
“Bu .. saya juaaaraaang sekali praktek” … message
saya … bu be smart pleae … jangan dependent dan
pasif pasrah seperti itu … terbayang di benak saya
… jika esok dia shopping lagi ke dokter … entah
apa obat apa lagi yang akan dikonsumsi si anak besok
“Pak… coba browse situs bla bla bla … kalau bapak
sibuk .. minta bantuan staf bapak atau sekretarus”
…hehehe … saya tak tahu lagi mesti gimana sih ….

KASUS 3: pasien lama yang sudah lama “menghilang”
Anak ini pernah untuk jangka aktu cukup lama menjadi
pasien saya tetapi sudah berpindah DSA karena DSA ini
ABnya kuat … makan 1 – 2 kali sudah sembuh … meski
katanya ABnya muahalll (kalau ibu ini bilang mahal …
mestinya memang luar biasa mahal)
Anaknya demam sejak kemarin lalu dibawa ke ER …
diberi obat al Abbotic (AB) … nah karena hari ini
masih demam, ibu meminta dengan sangat ketemu saya
sambil membawa hasil lab yang semuanya normal termasuk
widal (nah di milis ini kita sudah sering membahas
soal widal ya). Explanation .. tak ada obat … saya
minta nanti 72 jam kalau masih demam kontak saya
kembali (jatuhnya hari rabu malam)
Nah keesokan harinya kan masih demam … ibu sms …
menanyakan apakah dosis ABnya biaa ditingkatkan?
tentunya another explanation dilayangkan
Nah rabu pagi .. mereka sudah di lab .. hasilnya?
within normal limits … saya anjurkan untuk second
opinion ke dr X … (GP tetapi very smart and wise,
ilmunya juga up dated banget) … singkat kata …
sama… suruh stop AB dan observasi
Sorenya .. karena masih demam … ke dokter lain ..
ABnya diganti Bactrim hehehe (jadi total 3 AB ya
karena kelomnpok bactrim, septrim … dianggap sebagai
combned antibiotics)
Besok paginya … ibu sms .. sebenarnya meski belum
normal, pola demam sudah jauh membaik … katanya
disuruh ganti dengan urfamycin oleh DSA lain … wah
bingung saya …

KASUS 4:
telp … ada konsul di RS X … dengan kelainan fungsi
hati. SGOT SGPT di atas 1400
Demam memasuki minggu ke2. Di poliklinik berobat 4
kali
Kali pertama .. diberi AB dan puyer batuk pilek …
2 hari kemudian .. di rumah menggigil, ibu cemas …
dibawa lagi ke DSA … radang tenggorokan katanya …
ABnya diganti dengan AB untuk radang tenggorokan
hehehe …Besoknya … sedikit mimisan … dibawa ke
UGD … lab normal … disuruh kembali ke DSAnya saja
Datang ke DSA lain … diperiksa lab .. ketemu hasil
lab di atas … ke DSA pertama lagi … lalu rawat
inap
AB lagi, dll dll … obat demamnya 3 macam … N, P, T
Nah kalau fever of unknown origin atau prolong fever
… kan ada SOPnya (coba deh kalian buka AAP) …
antara lain, singkirkan kemungkinan autoimmune.
yang menambah sedih …
1 tahun yl pernah rawat inap karena demam 39.5 …
diberi AB … tantenya yang DSA menyatakan bahwa dosis
ABnya ketinggian … lalu ibu diskusikan hal ini
dengan DSAnya dan menurut DSAnya … ABnya tidak boleh
diturunkan mendadak … nah akhirnya selama 1 tahun
diberi AB yang bertahap diturunkan … ibu tak tahu
diagnosisnya apa …

Nah … saat ini anak demam tinggi serta menggigil
hebat tetapi pasca pemberian AB infus …
Agak sesak, agak “bengkak”
Saya khawatir overload cairan ..
bingung … kenapa diagnosisnya jadi DB …

KASUS 5:
Ada telp .. konsul … diagnosis bronkopneumonia dan
kelainan hati (SGOT SGPT di atas 1500)
Ada ruam tetapi tidak khas ruam campak … yang jelas
nfeksi virus (ternyata lab nya .. jumlah sel darah
putihnya normal bahkan cenderung turun dan yang
lainnya normal) … Saat saya periksa anaknya sudah
tak demam.
Obatnya? Banyak … maaf saya sebut ya .. kan untuk
pelajaran kita semua … stimuno, imboost, vistrum,
isoprinosin, cefspan, septrin, vometa, 2 obat demam,
infus cairan dan asam amino dan antibiotik … sedih
saya … buat apa ya obat sebanyak itu? Nah … bulan
depan topik PESAT adaalah RUD …semoga kita bisa
belajar lebih lanjut ya soal RUD …
Ibu memperlihatkan 2 kresek obat dengan mimik biasa
… tanpa rasa jengah sedikitpun .. saya tak habis
pikir menduga apa yang ada di benaknya … adakah
terbersit di benak ibu … anakku serius ya .,.. kok
obatnya banyak banget … infusnya bergelantungan 2
buah dan tampaknya sudah overload juga … hiks
(soal kelebihan cairan infus nih … ahhh bisa satu
pelangi tersendiri)

KASUS 6: OOT
hehehehe … memangnya kalian saja yang bisa OOT
hehehe
sudah lama tak baca koran .. tapi berita di TV hampir
rutin baik DN maupun LN …
tetapi … belakangan ini saya baca lagi .. kenapa ya?
hehehe … baca analisis ekonomi … (salah jurusan
mungkin ya … dulu sih memang hari H Sipenmaru ..
saya pegang 2 “tiket” .. satu untuk FK satu untuk FE
.. terus 1 jam sebelumnya masih sibuk FE FK FE FK FE
FK … kayak tokek … doaaaa terus … kok duduk di
section FK … padahal dulu kepngiiin banget
makroekonomi … hehehe nasib pasti beda yaaaaa …
Prihatin sekali dengan kondisi hiperinflasi … ah
mingkem ah saya …
Yang jelas .. kualitas hidup semakin menurun begitu
yang saya baca (ya lah … ) … lapangan kerja?
Aduuuh ….
ngobrol2 sama para dokter muda … ngobrol2 juga sama
yang baru jadi spesialis anak … prihatiiin saya ..
sedih nelangsa
Mengurus penempatan suasaahhh .., PTT misalnya .,..
haaahhhh jalan panjang berlikuuuu
Mau spesialisasi? Uangnya dari mana?
Semntara … nabung deh .. praktek sana sini … kalau
dokter umum .. di klinik 24 jam, di RS (mungkin
mulainya dari RS2 kecil;)
Tahukah kalian … ada yang membayar dokter per pasien
kurang dari 2500 rupiah … alhasil .. dokternya
mesti kerja rodi dan/atau … dapat uang dari obat …
katanya …
Tapi ini soal dokter yang masih baru lho … bukan
yang senior … mesti OOT lain lagi ….hehehehe

LESSONS LEARNED:
Kasus 1 – 3 sedikit banyak mencerminkan konsumen yang
demanding … konsumen yang turut berperan mencetak
blue print pola peresepan …
Jujur saja … saya beberapa kali “ketakutan”
menghadapi pasien seperti ini … takut menyerah pada
pressure hehehe … kasihan kan dokternya …
Di lain sisi .. sedih sekali rasanya ketika mencoba
bersikap sesuai guideline, mencoba menerapkan konsep
RUD … justru malah dilabel sebagai dokter anti obat
atau anti antibiotik … helpppp hehehehe

Kasus 4 – 5 …. apakah bisa dianggap turut
menyuburkan iklim paternalistik dalam layanan
kesehatan; semua ditelan …
bagaimana dengan upaya berbagi responsibility?
bagimana dengan proses berbagi informasi, hak atas
informasi
Disini .. kondisinya belum memasuki taraf diskusi;
Diskusi kan muncul ketika kita mengajukan 3 pertanyaan
dasar: apa penyebab gangguan kesehatan anak saya; apa
yang harus dilakukan/apa rencana tatalaksananya;
apakah anak saya benar2 membutuhkan obat? Apa kerja
obat dan apa risiko efek sampingnya

Antibiotik setahun baru bisa distop dan diturunkan
bertahap .. ahhh …. kalau maksudnya TBC kok 1 tahun
ya…. apa dasar diagnosisnya ya? Mengapa diturunkan
bertaha ya? dst dst tetapi intinya .. tak ada
komunikasi …
Idealnya .. transparan .. anak sakit apa .. obatnya
apa …
nah … siapa tahu dokternya sudah melakukan itu …
tetapi ibunya lupa? Ketika saya tanya obatnya apa ..
lupa katanya … Sakitnya apa? … tak tahu katanya

kalau kita harus mengkonsumsi suatu zat terus menerus
selama 1 tahun .. apakah mungkin kita tak tahu apa
yang kita telan .. apakah mungtkin kita tak mau tahu
penyakit kita? dst dst …

Lama saya membuat pelangi ini (4 etape) … banyak
“gamang”nya
editing nya berkali-kali
tolong jangan diartikan sebagai suatu upaya
menyalahkan suatu pihak tertentu …
anggap saja ini bentuk lain dari tulisan saya tahun
2003 tempo hari yang intinya .. doctors cry too…

Selamat dini hari
Jakarta 11 Nov 2005 jam 2.20

wati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: