Pelangi 11 : Obat, Ongkos

Jakarta, 15 januari 2007 jam 10.32 pm

dear all ….. selamat malam
tadi malam baru kembali dari Solo  (hiks as usual, delayed pesawatnya … oh endonesia)..
alhamdulillaah .. Insya Allah kunjungan ke3 nanti awal Maret
Ternyata januari lumayan puadattt
Kayaknya april mau istirahat ah hehehe … enak kali ya … Insya Allah …
Wah dipotong dulu ya …

Sambung lagi
Saya janji lamaaa sekali mau membuat Pelangi .. saya kepingin share soal “obat” …. tapi ya itu, baru malam ini meski sebenernya mata sudah 5 watt

Tadi saya di radio … talk show. Sudah lama saya ingin share perihal talk shows saya .. dulu sih selalu ada SP yang membuat summary nya lalu dishare di milis hehehe

Nah berikut ini script yang disusun oleh saya dan Ida Arimurti (siapa tahu lalu ada yang berminat mau membantu membuat script setiap 2 minggu buat Ida dan saya hehehe nikmatnya) ….
Oh ya … waktu on air tidak bisa ketat mengikuti script nya tapi 80% tercapai.
Tadi SMS banyak yang masuk … ruame hehehe …
ada 2 on air phone calls

Saya copy paste ya run down nya … siapa tahu bisa dinikmati sekaligus jadi bahan renungan …
Saya selalu mempergunakan font 14 supaya di studio gak usah pakai kacamata hehehe …

SESI 1. (DELTA) Delta Medika, be smarter – be healthier bersama Dr Purnamawati/wati …. sebagai suatu upaya agar kita semua menjadi konsumen yang cerdas dan BIJAK.

Topik hari ini …  ISU SEPUTAR HARGA OBAT DI INDONESIA
Selama ini, kalau bicara obat …. kita cuma bicara aspek medis klinisnya … ternyata obat juga punya konteks psikososial ya dok?

W: Sejak 3 dekade terakhir ini, obat menjadi salah satu andalan utama bagi sistem pelayanan kesehatan. pengembangan obat di dunia berlangsung begitu cepat. Kondisi ini antara lain diakibatkan karena sistem layanan kita semakin berkiblat pada upaya kuratif, bukan pada upaya edukatif dan preventif…. Bahkan puskesmas sekalipun … lebih berkutat di upaya kuratif ketimbang upaya penyuluhan kesehatan dan pencegahan penyakit. Bagaimanapun, upaya kuratif (baca = layanan seputar obat) …. memang lebih menjanjikan dari sudut pandang ekonomi.

Dilain pihak .. kenyataannya …. memang … Pelan tapi pasti, obat telah menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia.  Tuntutan pasar yang demikian tinggi, khususnya di negara-negara sedang berkembang, telah menjadikan obat sebagai suatu industri yang sangat menggiurkan. Persainganpun terjadi di kalangan industri farmasi untuk merebut minat pasar yang begitu tinggi. Tidak jarang …. para pelaku pasar farmasi menggunakan berbagai strategi yang secara sadar telah melanggar nilai-nilai etika dan kepatutan. Kondisi ini potensial violating hak manusia untuk memperoleh layanan kesehatan, hak kemudahan mengakses obat yang aman dan efektif.

DELTA: Berbeda dengan komoditi ekonomi lainnya, obat punya sifat khusus terkait fungsinya dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian. Untuk barang seperti ini, apakah bijak kalau obat sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar?

Kita sambung nanti

SESI 2. DELTA: Mahal ya obat itu. Sedih ya kalau sakit … ongkosnya jadi guede … Tapi, harga obat yang mahal itu cuma di Indonesia atau di seluruh dunia? Jadi bisa dibilang bahwa obat … sudah mendiskriminasi sosial-ekonomi masyarakat?

W: Obat memang sudah menjadi komoditas ekonomi artinya ….  penetapan harganya diserahkan pada mekanisme pasar. Coba saja simak … Ada perbedaan harga yang sangat lebar antara obat generik dan obat merek dagang (branded generic) – bisa mencapai 300 kali lipat. Ini kan bukti bahwa telah terjadi penetapan harga obat oleh industri yang tidak rasional, tidak transparan, dan tanpa mekanisme kendali. Ironisnya, ketidakadilan penetapan harga obat justru marak di negara sdg berkembang (daya belinya rendah).

Obat merupakan komoditas ekonomi yang sangat menggiurkan. Pasar obat dunia mencapai US$ 600 milyar. Di Indonesia (perkiraan jumlah penduduk 218 juta jiwa), total market obat mencapai Rp 34 trilyun (IMS, 2005). Gemuk ya  … OKI obat pun menjadi “kue” ekonomi yg diperebutkan 200 industri farmasi yang ada di Indonesia.

DELTA: Kondisi ini pasti besar dampak sos-ek nya. Kok kayaknya “kejam” banget. Dimana posisi pasien  sebagai konsumen nya?

W: Memang apa kondisi inilah yang disebut sebagai an Imperfect market. Ketika Seseorang yang membutuhkan obat (apalagi obat yg diresepkan) justru tidak memiliki hak untuk memilih”, karena:

1.    Keputusan ditetapkan oleh dokter (Sepihak ya).

2.    Tidak tersedia informasi transparan mengenai sifat-jenis obat, mutu, kelebihan-keunggulan, serta harga dari masing-masing obat sehingga masyarakat tidak bisa menetapkan pilihan

3.    pemilihan umumnya dilakukan tenaga medik, yang keputusan pemilihannya cenderung tidak transparan … lebih banyak dipengaruhi oleh industri farmasi yang secara implisit lebih memberikan keuntungan bagi tenaga kesehatan bersangkutan.

DELTA: Menyedihkan, yang membayar justru tidak bisa membuat keputusan … Kita sambung setelah jeda berikut ini

SESI 3: DELTA – Obat telah kehilangan rohnya sebagai bagian dari hak individu rakyat untuk dapat sembuh dari penyakit atau memperpanjang usia. Kesehatan sudah benar2 jadi industri ya ……

W: DR Magie Mahar dalam artikelnya (2006) berjudul Money-Driven Medicine: The Real Reason Health Care Costs So Much. Menyatakan: dalam 25 tahun terakhir, “power”nya system layanan kesehatan sudah bergeser dari dokter ke korporasi, ke industri. Nah, kiblatnya korporasi = kepentingan shareholders’, pemegang sahamnya. Sehingga, keputusan alokasi biaya layanan kesehatan merupakan keputusan ekonomi/pasar. Pengembangan produk atas dasar keuntungan tertinggi … bukan berangkat dari kebutuhan pasien. 1 dari 3 dolar belanja kesehatan terbuang untuk tes yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, untuk prosedur yang belum terbukti efektivitas dan safetynya (belum ada EBMnya), dan untuk obat/alat baru yang tak lebih baik dari yang mereka gantikan.

DELTA: Dok, money-driven medicine alias layanan kesehatan yang sarat dorongan finansial…. bikin tambah sengsara orang sakit…. ongkos tinggi yang dibelanjakan pasien juga sebenarnya mubasir ya?

W: Sengsara rakyatnya, sengsara pemerintahnya. (1) menciptakan kondisi duplikasi. Kalau satu RS membeli alat MRI baru, maka RS tetangganya pun membeli alat MRI yang baru . nah. bagaimana mereka membayar alat itu? Tentunya dengan mempergunakannya! (2) system layanan kesehatan yang berorientasi keuntungan, berlaku praktek: what is good for business is more business: more drugs, more devices, more procedures, more tests. Mahal tapi kondisi kesehatan tdk menjadi lebih baik.

DELTA: Sedihnya. Susah bener jadi pasien di Negara berkembang apalagi kalau negaranya BELUM memiliki sistem asuransi kesehatan yang kokoh.

SESI 4, DELTA: Bagaimana proses penetapan harga obat di Indo? Pengalaman sih … obat yg sama … beda harganya. Kok bisa?

W: Di Indonesia, harga obat untuk jenis yang sama juga sangat bervariasi. Harga amoksisilin kaplet 500 mg bervariasi mulai dari Rp 425,-, Rp 615,-; Rp 875; Rp 1100,-; hingga Rp 2850,- atau harga tertinggi mencapai sekitar 7 kali lipat harga terendah.

Ternyata, penetapan Harga obat memangtdk transparan dan tidak berpihak pada konsumen. Obat yang oleh suatu industri farmasi semula ditetapkan dengan harga jauh lebih murah dari kompetitornya, akhirnya harus juga menyesuaikan/menaikkan harga dengan harga yang ditetapkan oleh industri farmasi yang telah terlebih dahulu  memiliki “brand image”. Ini dilakukan agar tetap mendapat kepercayaan dari konsumen.

Saat mengikuti lokakarya “Obat murah, efektif, mungkinkah?” ketika sedang terjadi forum diskusi … ada seorang apoteker yang angkat bicara. Singkatnya … ia mangatakan bahwa …. “Org INDONESIA TIDAK SUKA OBAT MURaH!)

DELTA: Nyata sekali bahwasanya konsumen memang tak berdaya menghadapi proses penetapan harga yg demikian “chaotic”.Apa saja sih komponen harga obat? Dan yang paling besar komponen apa? R & D, atau marketing, atau bahan bakunya?

W: Di negara sedang berkembang (Indonesia), kecil sekali proporsi industri yg melakukan R & D. OKI … komponen harga sektor R & D tidak sebesar yg dikeluarkan industri ybs di negara asalnya.

5 komponen utama yg sgt menentukan harga obat: (1) bahan baku; (2) Biaya manufacture; (3) biaya pemasaran; (4) distribusi; dan (5) penetapan harga di tingkat retailer/outlet.

Biaya pemasaran paling sulit diketahui dg pasti, umum nya 20-40% … semakin baru produknya, semakin tinggi pula biaya marketingnya  (Wagner, ’04). Jadi … Terlihat tetapi tak mudah untuk dilacak. Penyediaan biaya kongres, pertemuan ilmiah, biaya transportasi peserta kongres, akomodasi, hingga pelayanan permukaan (surface services). Pada dasarnya tidak terbantahkan tetapi sulit dibuktikan karena umumnya menggunakan pos-pos dana yang seolah dimasukkan sebagai komponen biaya produksi.

DELTA: Ada berapa m,acam sih obat itu? Kok obat generik murah? Apa karena biaya marketingnya rendah? Kita sambung lagi ya nanti

SESI 5 – DELTA: Sebenarnya, ada berapa macam sih obat itu .. tadi dokter menyebut branded generic .. nah maksudnya apa? Apakah itu sama dengan obat paten?

W: Obat ada berapa macam? Kalau mau jujur dan saintifik, obat hanya ada 2 kelompok yaitu obat paten (original) dan obat generik.

(saya menerangkan perihal obat paten …… [tidak sedikit masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa obat paten adalah obat yang kuat … padahal paten artinya hal cipta)

Jadi, sebetulnya penggunaan istilah branded generic merupakan tindakan yang “membodohi” konsumen. Wong isinya sama … Kenapa dia harganya mahal dan berkali lipat dari obat generik? Karena ongkos promosi nya, ongkos manufacturing nya (kemasan, warna, rasa, bentuk dll)

Jadi, karena moto kita ini be smarter be healthier, saya yakin pendengar Radio Delta tak akan ragu untuk memilih obat generik!!

Kedua, pendengar radio Delta juga semakin menyadari bahwa kita punya hak untuk bisa mengakses obat yang aman dan efektif

DELTA: Jadi, jangan kita terpaku pada pola pikir bahwa yang mahal pasti lebih baik ….

Kita jumpa Dua minggu lagi …. masih seputar obat dan farmakoekonominya

Be smarter, be healthier

Script di atas berangkat dari keikut sertaan dalam Workshop di bulan lalu dengan tema yg sudah saya kemukakan di atas

Tulisan ini juga bahan dasarnya adalah makalah Dr Iwan DP dari UGM …. wah enak lho kalau mendengar beliau bicara

Berikut ini saya copy paste beberapa sms. Komentar di bawahnya adalah urun rembug saya dengan kalian (kebetulan sms yg di bawah ini bukan/tdk termasuk sms yang saya tanggapi langsung tadi/on air) .. yaitu sms yang akan saya balas melalui milis Ida arimurti …

Nah kalau ada yang mau bantu menjawab buat saya hehehe .. thanks a lot lhoo

Mbak ida, sy bkn praktisi farmasi, hanya pernah jadi medrep utk waktu yg singkat. Menurut sy hrg obat tinggi krn ada “biaya siluman” yg keluar. Mungkin dr wati bisa terangkan. Le…, otw.
nah ini biaya marketing mungkin ya ….

Sebetulnya kalau Pemerintah MAU memberantas praktek’dokter kontrak’ yg menyebabkan harga obat mahal,bisa mengaudit resep di apotik oleh Depkes/Ag……-Jati…..

Tuh, konsumen saja sudah paham pentingnya audit
Kita diaudit kok tapi bukan oleh pem/organisasi profesi melainkan oleh industrinya

Sy juga heran tentang harga obat di sini, dgn kandungan yg sama, harga obat import itu harganya separo dari harga obat lokal !!

Leonie, 43 Taman Aries mohon tanya harga obat import kan jauh lebih murah daripada obat lokal, gimana dengan kualitasnya apakah yg lokal jadi lebih baik? Thanks

Wiwik, 36th,bekasi. Dr Wati, kalo obat generik sama isinya, knp dr jrg menyarankan u/ pake generik? Aplg kl qt punya asuransi. Gmn donk ??

Apakah

Setiap obat yg dikirim suplayer/apotik sama? Kenepa setiap apotik hrg obat berbeda,artinya aptk mengambil marginsendiri2x/ican

ini contoh komponen ke 5 yang menentukan harga obat
saya kalau punya apotek juga mungkin bisa saja menentukan harga obat sesuai selera
Untungnya BPOM sudah mengeluarkan aturan agar obat mencantumkan label HET

Pmrntah sdh layak masukn obat sbg bhn kbutuhn pokok ke 10,dg dmikian mulai bhn baku sd/ distribusi dpt diatur,diawasi masyrkt.Hrg obat bisa turun 50% “Un….   ….o”

Memang ada penelpon yang berargumen bahwa obat kita mahal karena bahan bakunya impor
Kalau dolar naik .. harga bahan bakunya jadi semakin mahal
lalu saya bilang … bahan baku hanya 1 dari 5 komponen utama penentu harga obat
kedua, ketika dolar melemah dan nilainya menurun  dibanding rupiah, harga obat toh juga gak turun hehehe

satu lagi nih
Waduh mba ida, bgs skali acara dg Dr Wati. Congrat.

gak ngarang lho saya hehehe
seneng ada yg appreciate (soalnya ada juga yang ….)
semoga memang bermanfaat

Sudah ya .. segitu aja contoh sms nya … hehehe
yang lain … buat disimpen aja deh .. syeremmmmm

Ok … 2 minggu lagi insya Allah delta Medika … masih seputar obat deh kayaknya

ok selamat melanjutkan mimpi

wati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: