Archive for February, 2008

Hadiah Berharga Pertama Bagi Kehidupan

Konsep pemberian makan bayi usia 0-6 bulan adalah ASI, ASI, dan ASI.

Sebentuk bayi mungil yang masih merah, rambut basah, dan mata merem tampak tengkurang di atas dada ibunya. Cukup lama dia di sana tanpa aktivitas yang berarti. Pemandangan seperti itu yang terkadang membuat dokter dan suster atau bidan tidak tahan sehingga cepat-cepat mengambilnya, dan menyerahkan pada ibunya agar disusui pertama kali.

Namun, setelah 20 menit, tampak bayi yang baru beberapa menit itu lahir mulai menggerakkan kepalanya, lalu hidung dan mulutnya mulai mengendus-endus dada ibunya ke arah kanan. Dia mencoba mencari-cari sumber air susu ibu (ASI). Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) memindahkannya menjauhi arah kanan. Tak lama kemudian sang bayi ‘merangkak’ kembali ke arah kanan mencari puting ibunya.

Pemandangan itu bukan rekayasa. Melainkan salah satu video rekaman yang menggambarkan bagaimana bayi yang baru lahir bila diletakkan di dada ibunya akan mencari sumber ASI. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu di pedalaman di sebuah desa di Bantul, DIY.

Dan benar. Tak sampai satu jam, sang bayi bisa menyusu ASI dengan lahap. Pemandangan tersebut membuat trenyuh siapa pun yang menyaksikan. ”Jadi, beri waktu bayi yang baru lahir satu jam pertama kehidupannya untuk mengenal dan mendapatkan ASI,” tutur Utami.

Itulah yang disebut inisiasi dini, yaitu menyusui langsung setelah bayi lahir. Sayang, tidak jarang bayi yang lahir langsung ditimbang lalu dimandikan dan baru kemudian diserahkan ke ibunya. Lalu sang bayi coba diberi ASI.

Pengenalan ASI awal yang benar adalah bayi yang baru lahir dibersihkan dengan cukup dilap badannya. ”Jangan hilangkan selaput putih yang ada di kepalanya,” kata Utami. Kalau ibu khawatir sang bayi akan masuk angin, kepala mungil tersebut ditutupi topi dan punggungnya ditutup selimut.

Reaksi bayi atas inisiasi dini berlainan. Ada yang tidak lama sudah bisa mulai menghisap puting ibunya. Tapi ada juga yang sudah dipaksa-paksa tetap tidak mau. Ada bayi yang akhirnya tidak bisa atau bahkan tidak mau mengonsumsi ASI.

Pemadangan berikut yang bisa disaksikan usai acara Media Gathering ‘ASI adalah Solusi: respons lembaga peduli ASI terhadap kenaikan Harga Susu’ yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia, Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), pekan lalu, di Jakarta, adalah bayi yang baru lahir dimandikan dulu dan ditimbang, baru kemudian ditaruh di dada ibunya.

Reaksinya lamban sekali. Bahkan, ada yang hampir satu jam baru sang bayi mulai mencari-cari puting ibunya. Itu yang berhasil. Tidak jarang ibu dan orang-orang di sekitarnya sampai putus asa, sang bayi tidak bereaksi. Ini termasuk kelompok bayi yang gagal mengenal ASI pertamanya.

Padahal, ASI pertama yang keluar dari ibu adalah kolostrum, yang sangat kaya nutrisi dan dibutuhkan bayi untuk tahan dari infeksi.

Kalori ASI
Menurut rekomendasi WHO, ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga enam bulan pertama kehidupannya.  Selama itu, tak perlu makanan dan minuman tambahan sebab ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan secara lengkap. Setelah itu ASI tetap diberikan dengan tambahan makanan tambahan yang tepat hingga usia 2 tahun.

”Setelah usia dua tahun, kebutuhan gizi anak dapat dicukupi dengan variasi makanan lokal tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ujar Dr Fransiska E Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps Indonesia.

Utami menganggap kenaikan harga susu dan langkanya susu formula di sejumlah kota beberapa waktu lalu ada blessing in disguise (hikmah) tersendiri, yaitu relaktasi (kembalilah menyusui).

Lulusan FK Unpad itu mengungkapkan, dari 500 ml ASI yang diberikan seorang ibu ke anaknya yang berumur 2 tahun masih dapat memenuhi energi anak sebanyak 31 persen, protein 38 persen, vitamin A 45 persen, dan vitamin C 95 persen.

”Bayangkan bagaimana kalau bayi berusia satu tahun, atau malah enam bulan. Kita bicara masalah gizi,” ujar Sekretaris Selasi itu.

Utami menambahkan, kebutuhan kalori per hari yang dipenuhi dari 500 ml ASI untuk bayi usia 6-8 bulan sebanyak 70 persen, usia 9-11 bulan sebesar 55 persen, dan usia 12-23 bulan sebanyak 40 persen. Di Indonesia, lanjutnya, susu formula lebih sering menyebabkan bayi mencret.

Utami lalu mengutip sejumlah penelitian ilmiah yang menyebutkan, ASI mengurangi 6-8 kali risiko kanker pada anak (limphoma maligna, leukimia, hodgkin, dan neuroblastoma), dan mengurangi 2-5 kali kematian akibat penyakit pernapasan. ASI juga mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema, alergi makanan dan alergi pernapasan selama masa anak-anak. ”Dan, anak ASI 16x lebih jarang dirawat di rumah sakit,” ujarnya. Ia menceritakan, Rafa, cucunya, kini berusia 15 bulan, yang mendapatkan inisiasi dini dan ASI eksklusif selama enam bulan penuh belum pernah sakit apa pun.

”Jadi, kalau mau donasi, hangan belikan susu formula, tapi makanan untuk ibunya,” tegas Utami.

Pendiri YOP dan dokter anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPaed, Purnamawati mengemukakan, terjadi kelirumologi dalam pemberian makan pada batita. Paham yang selama ini dianut ibu-ibu tapi keliru di antaranya adalah:

* bila batita susah makan maka perlu diberi vitamin dan penambah nafsu, serta perbanyak minum susu
* beri formula sesuai usia untuk anak lebih dari setahun
* semakin komplit dan mahal susu formula, semakin baik untuk anak
* tidak tega memberikan susu yang tidak mahal.

”Susu bukan lagi makanan utama bagi anak di atas usia 1 tahun melainkan hanya salah satu asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, dan brokoli,”  kata Purnamawati lulusan FK UI ini menegaskan.

”Menurut saya, kalau mengacu pada gizi seimbang, tidak perlu panik tanpa susu,” kata Ir Kresnawan MSc dari Depkes.

Di akhir presentasinya Utami menunjukkan gambar seorang ibu dari Dhaka, Srilanka, yang memegang dua anak kembarnya, laki-laki-dan perempuan. Dia hanya mampu memberikan susu formula pada satu anak, dan dia pilih anak perempuannya karena dia menganggap anak laki-laki lebih kuat. Sedangkan bayi laki-laki cukup diberi ASI.

Pada gambar tampak di tangan kanan dia memegang anak laki-laki (yang badannya subur dan sehat) sementara di tangan kiri seorang bayi berbadan kecil dan kering (yang perempuan). Satu jam setelah pengambilan foto tersebut oleh WHO, bayi yang di tangan kiri meninggal dunia.

(cis)

Sumber : Republika

Leave a comment »

Anak Flu Jangan Diberi Antibiotik

JAKARTA (Lampost): Jika bayi dan balita menderita flu, jangan diberi antibiotik. Karena flu akan sembuh dengan sendirinya, sementara antibiotik hanya memberi efek plasebo (bohongan).Demikian dikemukakan dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A.K., M.M.Ped. yang aktif mengedukasi para orangtua dalam mengonsumsi produk dan jasa medis, termasuk melalui milis (mailing list), Rabu (27-4). “Antibiotik itu tidak mempercepat, apalagi melumpuhkan, virus flu,” katanya.

Ia mengakui masih kerap terjadi dokter dengan mudahnya meresepkan antibiotik untuk bayi dan balita yang hanya sakit flu karena virus. Memang gejala yang menyertai flu kadang membuat orangtua panik, seperti demam, batuk, dan pilek. “Oleh sebab itu, tak sedikit orangtua yang malah mendesak dokter memberikan antibiotik yang dianggap sebagai “obat dewa”. Pasien irasional seperti ini seperti menuntut dokter menjadi tukang sihir,” ujarnya.

Ia menjelaskan orangtua sebagai yang dititipi anak oleh Tuhan seharusnya tak segan-segan bertanya sama dokter. Apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik? Bukankah penyebabnya virus? “Tanyakan itu kepada dokter,” kata Purnamawati.

Namun, kadangkala menghadapi orangtua yang bersikap kritis, sebagian dokter beralasan antibiotik harus diberikan mengingat stamina tubuh anak sedang turun karena flu. Jika tidak diberi antibiotik, hal itu akan memberi peluang virus dan kuman lain menyerang.

Purnamawati menjelaskan sejak lahir manusia dibekali sistem imunitas yang canggih. Ketika diserang penyakit infeksi, sistem imunitas tubuh terpicu lebih giat lagi. Infeksi karena virus hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhunya di atas 38,5®MDSU¯o Celsius. “Jadi, bukan diberi antibiotik. Kecuali kalau kita punya gangguan sistem imun seperti terserang HIV,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan farmakolog Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp.Fk. “Antibiotik seharusnya tidak diberikan kepada anak karena malah merusak sistem kekebalan tubuhnya. Yang terjadi imunitas anak malah turun, lalu sakit lagi. Lalu jika dikasih antibiotik lagi, imunitas turun lagi dan sakit lagi. Terus begitu dan kunjungan ke dokter makin sering karena anak tambah mudah sakit,” ujar Iwan.

Selanjutnya Purnawati menggarisbawahi antibiotik baru dibutuhkan anak ketika terserang infeksi yang disebabkan bakteri.

Contoh penyakit akibat infeksi bakteri adalah sebagian infeksi telinga, infeksi sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, tuberkulosis, dan diare akibat ameba hystolytica.

Namun jika antibiotik digunakan untuk infeksi yang nonbakteri, hal itu malah menyebabkan berkembang biaknya bakteri yang resisten.

“Perlu diingat juga, untuk radang tenggorokan pada bayi, penelitian membuktikan 80–90 persen bukan karena infeksi bakteri streptokokus, jadi tidak perlu antibiotik. Radang karena infeksi streptokokus hampir tidak pernah terjadi pada usia di bawah dua tahun, bahkan jarang hingga di bawah empat tahun,” kata Purnamawati.

Beberapa keadaan yang perlu diamati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam kulit, hingga pembengkakan bibir, kelopak mata, hingga gangguan napas. “Berbagai penelitian juga menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini akan mencetuskan terjadinya alergi pada masa mendatang,” kata Purnamawati.

Kemungkinan lainnya, gangguan akibat efek samping beberapa jenis antibiotik adalah demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah turun. Lalu, kemungkinan kelainan hati, misalnya antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid. Golongan amoxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis. Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, dan ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, pastikan dokter meresepkan antibiotik yang hanya bekerja pada bakteri yang dituju, yaitu antibiotik spektrum sempit (narrow spectrum antibiotic). Untuk infeksi bakteri yang ringan, pilihlah yang bekerja terhadap bakteri gram positif, sementara infeksi bakteri yang lebih berat (tifus, pneumonia, dan apendisitis) pilihlah antibiotik yang juga membunuh bakteri gram negatif. Hindari pemakaian salep antibiotik (kecuali infeksi mata), serta penggunaan lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Jika anak terpaksa menjalani suatu operasi, untuk mencegah infeksi sebenarnya antibiotik tidak perlu diberikan dalam jangka waktu lama. “Bahkan pada operasi besar seperti jantung, antibiotik cukup diberikan untuk dua hari saja,” ujarnya.

Purnamawati menganjurkan para orangtua hendaknya selalu memfotokopi dan mengarsip segala resep obat dari dokter, dan tak ada salahnya mengonsultasikan kepada ahli farmasi sebelum ditebus.

Sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru dan lebih kuat. Sementara kuman terus berkembang makin canggih dan resisten akibat penggunaan antibiotik yang irasional. Inilah yang akan menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Antibiotik dalam penggunaan yang tepat adalah penyelamat, tetapi jika digunakan tidak tepat dan brutal, ia akan menjadi bumerang.

“Antibiotik seperti pisau bermata dua. Untuk itu, media massa berperan besar menginformasikan hal ini dan tidak perlu khawatir jika industri farmasi ngambek tak mau beriklan,” ujarnya. S-1

Sumber : lampungpost

Comments (19) »

Overmedication of children does more harm than good

Whether it’s a simple case of the sniffles or the worrying onset of diarrhea, parents here are likely to trust a doctor and his prescription pad to put their children right.

Yet it’s children who stand to suffer the most as victims of the chaotic drug situation in the country.

With doctors prescribing them medicines they do not need, and the danger of significant side effects, the country’s kids are considered overmedicated.

In a society with a tradition of self-medication, a recent study showed about 70 percent of parents gave their toddlers more than four kinds of drugs at one time to treat their illnesses.

More than 35 percent of toddlers were taking from five to seven different kinds of medicine, according to Foundation of Concerned Parents’ spokeswoman Purnamawati S. Pujiarto.

Moreover, 85 children in the study had taken antibiotics, on the advice of doctors, for every malady they suffered.

“This phenomenon is dangerous. First, not all diseases can be treated with medicines — like influenza, for example. Second, such an amount of consumed drugs could harm our children’s health, especially their livers,” said the pulmonary specialist.

Pharmacologist and physician Iwan Darmansjah said there were few clinical trials — tests done on humans to determine the efficacy of a new drug — specifically for children.

Tests showing the different reactions of the drugs in adults and children, whose smaller body mass would affect how they were absorbed, are also extremely rare.

“It was only in 1998 and 1999 that the FDA required pharmaceutical companies to do the study on all medicines for children,” the professor emeritus at the University of Indonesia said, referring to the U.S. food and drug regulating body.

“Before then, the data was always based on adults. It’s not like a child is a small adult that you can just halve the adult dosage the dosage.”

There have been a few studies since, he said, but none conducted in developing countries.

“That’s why children in Jakarta go to the same doctor every two weeks, with the same disease, to receive the same, wrong medication which reduces their immunity,” he said.

“Ninety-five percent of the children are suffering from cough, fever and cold, which should’ve been treated with a symptomatic drug instead of stuffing them with antibiotics.”

Executive director of the International Pharmaceutical Manufacturers Group Parulian Simanjuntak said that clinical trials of children were difficult to conduct due to ethical concerns.

“A trial must be carried out voluntarily, where a person knows what s/he is doing, the risks and so on. It is still being debated whether children can give informed consent, as an adult could, or whether parents can decide for the children. That’s why studies on children are not as wide as adults,” Parulian said.

“And it’s why pharmaceutical industries estimate the dosage for children based on the dosage for adults.”

Parulian said developed countries have discussed “assent consent”, where children can say yes or no about participating in trials.

“But so far, it’s still only under discussion.”

Source : The Jakarta Post

Comments (1) »

Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas

Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana, mencerdaskan sesama orangtua agar terhindar dari ”kesesatan”. Mereka berusaha menjadi orangtua kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut. Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang dipercaya begitu saja.

”Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu, yang dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya,” tutur Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat secara rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis.

Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha membina dan mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi nama Grup Sehat. Moto komunitas ini ”be smarter be healthier”. Upayanya, yang telah tahunan dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga menjadi salah satu konsultan WHO.

Kini, pada mailing list sehat@yahoogroups.com telah tercatat 3.218 anggota dari penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para orangtua dapat berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokter lain, sampai dibimbing mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs terpercaya.

Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada anak-anak yang umumnya disebabkan virus.

Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit itu disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan sering memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru antibiotik spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang tergolong baik pun turut tergilas.

”Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik itu kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang, dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak minum air putih hangat, makan makanan yang disukainya, dan istirahat. Kalau demam, saya kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas saja. Enggak perlu antibiotik dan suplemen,” tutur Pujiati.

Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya. Sang suami malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh. Orang awam memang kerap mengira komunitas ini anti-obat, anti-antibiotik, bahkan anti-dokter. Padahal sama sekali tidak. Koridor konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup Sehat.

”Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang). Ketika kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat jiwa,” ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli.

Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam bakteri yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs). Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin sering menggunakan antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti kerap ditemukan Wati, yang juga ahli hepatologi anak ini.

Proses menyenangkan

Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu formula.

”Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan lengkap juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu agar disukai anak,” kata Wati.

Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia di atas satu tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature (UHT) atau pasteurisasi. Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk perkembangan otak hanyalah klaim yang tidak berlandaskan prinsip ilmiah evidence based medicine (EBM).

”Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya. Gizi anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham piramida makanan. Siapa bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat,” tutur Wati yang prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut dia, semakin tak etis.

Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula. Susu berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen pemasaran susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi susu formula supaya gemuk.

”Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak kelak. Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka bilang, kok anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja,” ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.

Tanpa tes alergi

Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak alergi susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak bermasalah.

Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat, lincah, dan mudah buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu makan.

Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi. Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine (IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) tidak berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan divaksinasi secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, mengurangi risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat terbentengi imunitasnya.

Belum lagi dokter yang ”bereksperimen” dengan meresepkan obat yang tidak perlu untuk mengurangi efek demam dari imunisasi.

”Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi DPT (difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang saraf. Katanya, biar orangtua enggak repot,” tutur Alia Indardi (34), ibu dari tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi.

Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang normal. Jika anaknya terganggu dengan demam tersebut, pemberian obat penurun panas saja sudah mencukupi.

Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan lagi. ”Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. Jadilah anak itu dikasih obat penenang saraf,” ujar Alia.

Sumber : Kompas

Comments (1) »

Awas, Salah Pasang Termometer!

Oleh: dr. Purnamawati S. Pujianto, Sp. AK, MMPed

Sudah bukan rahasia lagi, anak-anak gampang demam. Maklum, mereka memang sangat rentan terhadap infeksi virus, seperti pilek, flu, dan selesma. Buntutnya, ibu-ibu mereka jadi makin akrab dengan alat pengukur suhu tubuh atau termometer.

Namun, apakah para ibu sudah paham betul cara memaksimalkan termometer?

Pasalnya, banyak banget termometer dijual orang. Selain yang berisi merkuri, ada juga pengukur digital, termometer liang telinga, dan termometer fleksibel yang ditempelkan di dahi.

Termometer digital sangat praktis, karena bisa membaca suhu tubuh dengan cepat dan akurat. Termometer jenis ini dapat dipakai untuk mengukur suhu tubuh secara oral (di rongga mulut), rektal (melalui anus), atau ketiak (dikepit di bawah lengan atas). Biasanya bergagang plastik dengan sensor dan layar hasil pengkuran di kedua sisinya.

Sedangkan termometer telinga dipakai untuk mengukur suhu gendang telinga atau suhu di dalam liang telinga. Pada anak yang agak besar, pengukuran dapat berlangsung cepat, akurat, dan mudah. Namun, pada bayi tidak begitu akurat, karena liang telinga masih kecil. Harganya pun lebih mahal. The American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menganjurkan penggunaan alat ini pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.

Berikutnya, termometer strip plastik, merupakan lempengan tipis plastik yang ditempelkan di kening anak. Alat ini dapat dipakai untuk mengukur suhu tubuh, tapi akurasinya rendah, khususnya pada bayi dan anak kecil. Sedangkan termometer kaca merkuri yang pernah menjadi termometer paling banyak digunakan para ibu, kini tak dianjurkan, karena bahaya pencemaran merkuri (jika termometer pecah, misalnya).

Ada pula pacifier thermometers (termometer empeng). Meski mudah digunakan, pengukur suhu satu ini sering tidak akurat, sehingga tak dianjurkan dipergunakan pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.

Para ibu harus memaksimalkan fungsi termometer, karena data suhu tubuh sangat dibutuhkan oleh tenaga medis. Metode yang dipilih dalam mengukur suhu tubuh anak sangat ditentukan oleh usia dan seberapa kooperatif anak. Apabila berumur kurang dari tiga bulan, misalnya, lebih akurat bila diukur menggunakan termometer digital.

Ketika berusia tiga bulan sampai dengan empat tahun, dapat dipilih termometer digital atau telinga. Termometer digital juga dapat dipakai untuk mengukur suhu di ketiak, meski hasilnya akan kurang akurat. Setelah anak berusia lebih dari empat tahun, termometer digital menjadi pilihan untuk mengukur suhu di dalam rongga mulut.

Namun, jika anak batuk berulang atau bernapas melalui mulut (akibat selesma yang menyumbat hidung), pengukuran suhu rongga mulut tidak lagi efektif. Gantinya, pakai termometer telinga, atau ukur suhu ketiak atau rektum dengan termometer digital.

Sebelum mengukur temperatur rektal, lumasi ujung termometer dengan jelly yang larut air (bukan petroleum jelly seperti vaselin). Baringkan anak di pangkuan, atau di atas tempat yang rata dan agak keras. Satu tangan memegang bagian bawah pantat, anak agar tidak bergerak-gerak. Sementara tangan lain memasukkan termometer melalui anus sejauh 1 – 2 cm. Bila ada tahanan, jangan masukkan lebih dari 1 cm. Tenangkan anak, lalu tunggu sampai terdengar nada “beep” (pada termometer digital).

Untuk mengukur temperatur di dalam rongga mulut (oral), bila anak baru saja minum atau makan, tunggu 20 – 30 menit.

Pastikan tidak ada makanan, permen, di dalam mulutnya. Letakkan ujung termometer di bawah lidah, minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer. Ingatkan dia untuk tidak menggigit atau berbicara saat ada termometer di dalam mulut.

Terakhir, saat mengukur temperatur di ketiak, termometer harus menyentuh kulit, bukannya baju.

Yang harus diingat, apa pun metodenya, ingat pantangannya: jangan mengukur suhu tubuh segera setelah anak mandi, atau ketika ia tengah dibedong, karena akan mempengaruhi hasil pengukuran.*

Sumber : Kompas

Comments (2) »

ASAH, ASIH, DAN ASUH, Pola Pembentuk Karakter

Orangtua mana yang tak senang melihat buah hati yang dinantikan sembilan bulan lamanya, tumbuh sempurna.Tak hanya asupan nutrisi, pola asuh yang baik turut menentukan perkembangan fisik dan mentalnya di kemudian hari.ASAH, asih, asuh. Para ibu mungkin familier dengan istilah ini. Namun, apakah Ibu yakin sudah menerapkannya kepada putra-putri Ibu? Cinta dan kasih sayang disebut juga dengan asih; berbagai stimulasi yang ibu berikan dikategorikan sebagai asah; sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang, papan, dan kesehatan merupakan bagian dari asuh.

Setiap anak membutuhkan cinta, perhatian dan kasih sayang yang akan berdampak terhadap perkembangan fisik, mental, dan emosionalnya. ”Kasih sayang dari kedua orangtuanya ini merupakan fondasi kehidupan bagi si anak dan menjadi modal utama rasa aman,terlebih ketika dia mengeksplor dunianya,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli dr Purnamawati S Pujiarto Sp A(K).

Orangtua bisa mengungkapkan rasa cinta kasih melalui pelukan, sentuhan, belaian, senyuman, dukungan,mendengar keluh kesah dan celotehnya, serta meluangkan waktu bermain dengan si kecil. ”Bahkan, selama 6 bulan pertama, respons segera ketika bayi menangis, sangat besar artinya bagi perkembangan kepribadian dan emosionalnya,”ungkapnya.

Untuk menunjang tumbuh kembang dan proses belajar, anak harus terpenuhi kebutuhan dasarnya (asuh). Bawa bayi ke posyandu secara teratur untuk diperiksa kesehatannya dan dipantau tumbuh kembangnya. Lindungi mereka dengan imunisasi tepat waktu dan berikan ASI selama enam bulan. Pemberian stimulasi seperti berbicara, berkomunikasi, dan membaca juga tak kalah penting.

Beri stimulasi pada semua indra anak dan ajaklah bayi berbicara sesering mungkin,seperti ketika mengganti popok, menyusui dan memandikan sehingga otaknya senantiasa aktif. Penelitian membuktikan, anak yang kerap diajak bicara dan berkomunikasi secara intensif akan memiliki IQ lebih tinggi dan perbendaharaan kata yang lebih kaya. ”Stimulasi tidak harus mahal atau dalam bentuk sekolah. Daily life adalah sekolah yang ”sesungguhnya” di rumah. Misalkan saat ada kucing berkejaran,ibu berseru di depan anak: ’Lihat, ada kucing kejar-kejaran! Kenapa ya? Oh ternyata sedang rebutan makanan’,” sebut Purnamawati, mencontohkan.

Ketika anak ingin bermain, berikan mainan atau objek dari berbagai jenis, bentuk, warna, bunyi, tekstur, dan berat. Kegiatan interaktif seperti bermain ciluk ba, jalan-jalan keliling kompleks, bernyanyi, belanja, dan menyiram bunga bersama merupakan upaya stimulasi yang sangat baik. Selain itu, membaca juga penting untuk membentuk perbendaharaan kata, menstimulasi imajinasi, dan meningkatkan kemampuan bahasa si anak.

”Stimulasi hendaknya disesuaikan perkembangan usia. Ketika anak mulai belajar merangkak misalnya, jangan terlalu banyak dilarang sebab mereka juga butuh ruang untuk mengembangkan kekuatan ototnya, merangkak, merambat, dan berjalan. Kalau serbadilarang akibatnya dia menjadi anak yang tidak berani mencoba,” tuturnya. Contoh lainnya adalah ketika anak ingin membuka suatu kotak, tapi tampak kesulitan sering kali ibu tergerak ingin membantu.Jangan lakukan dan biarkan anak mencoba sendiri.

Kalau masih kesulitan,perlihatkan bagaimana cara membuka kotak itu lalu kembalikan kotak dalam keadaan tertutup agar anak bisa membukanya sendiri. Hal ini dapat melatih kemampuannya dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Ketiga unsur (asah, asih, dan asuh) yang dipaparkan di atas mungkin memiliki definisi dan kategori berbeda. Namun, dalam praktiknya ketiga unsur tersebut tidak berjalan sendirisendiri tapi saling berhubungan.

”Dalam pola pengasuhan, asah, asih, dan asuh itu saling terkait. Ketika menstimulasi, kita juga memberikan kasih sayang. Jadi, ketiganya ada dalam satu paket,” tandas Purnamawati. Sementara itu, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI Erfianne Cicilia Psi mengungkapkan, pola asuh orangtua juga tidak lepas dari pola asuh lingkungan, seperti pengasuh, kakek-nenek, dan saudara terdekat. Hal ini juga akan memengaruhi pembentukan karakter si anak.

Karakter setiap anak sebetulnya terbentuk sesuai genetik orangtuanya dan bersifat menetap sehingga harus diterima apa adanya. ”Perubahan karakter anak pada dasarnya bukan ’berubah’,melainkan ’melemah’ atau ’menguat’. Dalam hal ini lingkungan dan pola asuh orangtua memegang peranan penting. Karenanya, terapkan pola asuh sesuai karakter anak, berikan stimulasi, dan jadilah sahabat bagi anak,”ujarnya.

Kebiasaan yang Diturunkan

KULTUR dan latar belakang orangtua turut berpengaruh pada pola asuh yang diterapkan dalam keluarga. Orangtua juga perlu berhati-hati, sebab segala tindak tanduk dan perilakunya bisa dicontoh oleh si anak. Artinya, pola asuh sifatnya bisa menurun (intergenerational transmission).

”Kalau kita biasa diasuh dengan kehalusan, diajak ngomong dan diberi pemahaman secara baik-baik pasti akan menurun pada anak kita. Sebaliknya, kalau orangtua sudah terbiasa dengan kekerasan seperti main tampar, cubit dan pecut tanpa sadar anak juga akan berbuat seperti itu,” kata psikiater dari Klinik Mutiara Hatiku Ika Widyawati MD. Dia mencontohkan,ada anak yang bercerita pada neneknya bahwa ayahnya suka memukul, lalu si anak berkata, ’Kapankapan aku ingin memukul ayah kalau dia lagi tidur’.”Itu adalah suatu bentuk dendam dan seharusnya tidak terjadi, apalagi kalau dendamnya terbawa sampai besar,”ujarnya.

Dia menambahkan bahwa pola asuh itu sifatnya prinsipiil. Jadi sebenarnya tidak ada pola asuh yang salah, sebab pada dasarnya tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya, cara mengasuhnya itu yang terkadang salah,misalkan dengan kekerasan.

”Dalam mendidik anak, orangtua harus tegas dan konsisten.Pastikan tidak melakukan abusive atau kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, apalagi kekerasan seksual,” tegas wanita yang juga mengepalai Infant Mental Health di FKUI/RSCM ini. Sebagai orangtua harus sadar dalam mengajar anak karena sering kali terlalu emosi.Ada yang mengatakan bahwa orangtua itu bukan guru yang baik bagi anaknya sendiri.

Artinya, kalau mengajar anak orang lain sampai ratusan pun masih bisa diasuhnya, tapi saat mengajar anak sendiri kadang bisa sampai naik darah. Kenapa demikian? Sebab,orangtua penuh harapan terhadap si anak dan terkadang berlebihan. ”Sejak dalam kandungan, orangtua sudah punya bayangan tentang ’the fantastic child’ dan kenyataannya sering kali tidak sama dengan ’the real child’- nya.

Karena itu ketika anak jadi ’biang kerok’ belum apa-apa orangtua sudah mengamuk duluan. Anak pulang membawa hasil ulangan yang jeblok, orangtua sudah nyolot saja. Padahal, seharusnya ditanya dan diteliti dulu kenapa si anak mendapat nilai jelek,siapa tahu dia sedang sakit,”saran Ika. Reward positif dan konsistensi dalam mendidik juga diperlukan, antara lain untuk mendisiplinkan dan memacu anak berbuat lebih baik lagi.

Jadi, bukan hukuman (punishment) yang ditonjolkan,melainkan rewardatau hadiahnya,baik berupa pujian, makanan kecil atau kue. ”Yang penting anak dibiasakan bahwa kalau dia berusaha, maka dia akan mendapatkan sesuatu,tapi bukan berarti kalau dia tidak bisa, dia akan dihukum,”tandasnya.

Adu Pendapat Bukan Berantem

ARTIS Soraya Haque berpendapat bahwa pola asah asih asuh itu sifatnya sangat psikologis dan ini diterapkan antara lain dengan mengasah potensi anak melalui orangtua sebagai role model.

”Modelling atau percontohan itu dasar bentukannya dari rumah dan itu adalah tugas orangtua yang paling penting, yaitu memberi contoh yang baik,” ungkap wanita yang biasa disapa Aya ini. Dalam mengasuh ketiga putra-putrinya, kakak kandung artis Marissa Haque ini mengatakan bahwa prinsipnya adalah kasih sayang yang menjembatani pola pengasuhan itu.

Contoh sederhananya adalah mengajarkan anak bersahabat dengan alam dengan tidak merusak alam dan tidak menyakiti binatang. Cara orangtua melihat dan memandang masalah serta bagaimana mengambil keputusan juga kerap dicontoh anak. Aya tidak mempermasalahkan ketika dirinya dan sang suami (musisi Eki Soekarno) beradu pendapat atau berargumen di depan anakanaknya.

”Beradu pendapat tidak berarti berantem. Ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi anakanak bahwa berbeda pendapat itu adalah hal wajar. Kadang kami juga minta pendapat mereka apa sekiranya ada yang salah? Dan mereka pun mengemukakan pandangannya, misalkan ’mama kurang ini’ atau ’papa seharusnya gini’,” ungkap ibunda dari Valerie, Nadia dan Dalmiro ini.

Sebagai pasangan seniman, Aya dan Eki menginginkan anak-anaknya bisa berkecimpung atau setidaknya memiliki keterampilan di bidang seni, antara lain bermain piano. ”Hingga mereka berusia 12 tahun peraturan ditentukan oleh kami orangtuanya, antara lain mereka harus bisa bermain piano. Setelah itu di atas usia 12 tahun mereka sudah bisa berpikir dan menentukan sendiri apakah akan terus bermusik,” tutur Aya seraya menambahkan bahwa anakanaknya juga mempelajari bela diri dengan tujuan untuk menjaga diri m a u p u n berkompetisi. (inda susanti)

Sumber : Seputar Indonesia

Comments (1) »

Minum Antibiotik Harus Tepat

BANDUNG, (PR).-
Antibiotik sejak lama dianggap sebagai obat ajaib yang dapat membantu memerangi infeksi bakteri. Banyak orang beranggapan, semua gangguan kesehatan harus diatasi dengan antibiotik. Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak rasional justru dapat merugikan dan menyebabkan resistensi bakteri.

Keterangan itu disampaikan Prof. Amin Soebandrio, dalam Seminar Kesehatan Anak Paket Edukasi Orang Tua Sehat (Pesat) di Aula BAIS Jln. Gunung Agung No. 14 Bandung, Sabtu (11/3).

”Antibiotik hanya digunakan bila benar-benar diperlukan untuk mengobati infeksi bakteri. Jika gejala penyakit lebih ke arah infeksi virus, maka antibiotik tidak akan menolong,” ujar Amin.

Dia menjelaskan, infeksi akibat bakteri yang memerlukan antibiotik, antara lain memiliki gejala suhu tubuh tinggi berkepanjangan, cairan hidung kental dan berwarna, serta batuk yang cukup lama. Sementara, untuk flu akibat infeksi virus tidak memerlukan pengobatan antibiotik.

Sementara itu, dr. Purnamawati Sujud Pujiarto, Sp.A.K, mengatakan, pasien atau konsumen harus mengetahui kapan mereka memerlukan antibiotik dan kapan tidak perlu mengonsumsinya. Kesadaran semacam itu, sangat membantu dokter karena tidak jarang justru pasien yang minta diberikan antibiotik.

”Semakin sering kita mengonsumsi antibiotik untuk penyakit akibat virus, semakin sering kita sakit. Penggunaan antibiotik yang berlebihan tidak akan menguntungkan, bahkan merugikan dan membahayakan,” katanya.

Ia menyesalkan, masih banyak pola pikir yang salah di masyarakat bahwa penggunaan antibiotik dapat mempercepat kesembuhan termasuk pada penyakit infeksi virus. Padahal, hasil penelitian membuktikan, tidak ada perbedaan lama sakit antara kelompok yang memperoleh antibiotik dan yang tidak.

Resistensi bakteri

Prof. Amin menjelaskan, penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat, dapat menimbulkan resistensi bakteri. Artinya, bakteri dapat bertahan terhadap pengaruh suatu antibiotik.

Ia juga menjelaskan, untuk mengembangkan antibiotik, memerlukan waktu 10-15 tahun, tetapi untuk bakteri agar resisten terhadap antibiotik, hanya perlu waktu 2-3 tahun.

Keberadaan bakteri yang sudah resisten dalam tubuh individu, kata Amin, juga dapat menimbulkan infeksi pada orang lain. Infeksi dapat terjadi di rumah sakit, masyarakat, dan melalui makanan.

”Jika sampai terjadi resistensi bakteri, maka penyakit yang kita alami biasanya bisa disembuhkan dengan antibiotik sederhana dan harga murah. Maka, selanjutnya memerlukan antibiotik yang lebih kompleks dengan harga ratusan ribu rupiah,” katanya.

Sementara itu, Purnamawati juga memaparkan, bakteri resisten selanjutnya dapat menginfeksi seluruh populasi. Sedangkan tidak ada antibiotik yang mempan membunuh bakteri resisten yang menginfeksi populasi, sekalipun orang di populasi tersebut baru pertama kali memakai antibiotik.

”Kenyataannya, kita terlalu boros dalam menggunakan antibiotik, sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama. Hal itu membuat kita dapat menularkan kuman resisten kepada komunitas,” ujar Purnamawati.

Karena itu, menurut Purnamawati, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, batuk, atau radang tenggorokan. (A-131)***

Sumber : Pikiran Rakyat

Leave a comment »

%d bloggers like this: