Giliran Pasien Menjadi Dokter …

Pada mulanya adalah cinta, lalu berkembang menjadi sebuah keluarga. Mungkin itulah kalimat yang bisa meringkas sejarah komunitas Grup Sehat, sebuah komunitas pendidikan kesehatan.

Awalnya hanya ajang kekeluargaan 21 orang. Dua tahun kemudian anggotanya membengkak menjadi hampir 3.000 orang. Bukan dokter, tapi mereka piawai berceramah soal kesehatan!

Siapa sangka jika semua itu berawal dari mimpi. Mimpi tentang anak-anak Indonesia yang sehat dan cerdas. Si empunya mimpi itu dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPaed., dokter anak, dan beberapa orangtua anak yang menjadi kliennya. Sebagai dokter, Wati, panggilan akrabnya, prihatin dengan pola pengobatan tak rasional, terutama pada anak-anak.

Umumnya, orangtua gampang panik jika anaknya sakit. Sedikit-sedikit pergi ke dokter spesilalis anak. Apalagi orangtua berduit yang, dalam ungkapan Wati, “bisa pergi ke dokter tiga kali sehari”. Begitu pulang dari dokter, anak-anak itu harus menenggak bermacam-macam obat, jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan.

Ini mendorongnya bermimpi tentang pola pengobatan rasional dan pola kemitraan dokter-pasien yang setara (ia lebih suka menyebut klien atau konsumen kesehatan, sebab kata pasien punya konotasi pasif dan pasrah). Menurut Wati, banyak gangguan kesehatan anak yang sebetulnya tidak perlu dibawa ke dokter. Orangtua bisa menanganinya sendiri asalkan punya pengetahuan yang cukup. “Untuk menjadi dokter spesialis anak itu perlu sekolah enam tahun, ditambah enam tahun lagi. Masa, cuma disuruh menangani batuk pilek,” kelakar pengisi tetap obrolan kesehatan di radio Delta FM ini.

Wati mengaku iri dengan konsumen kesehatan di negara-negara maju. Mereka bisa berdiskusi dengan dokter sebagai dua pihak yang sederajat. Sementara di Indonesia, pasien cenderung pasrah bongkokan kepada dokter. Seolah-olah dokter itu sosok mahatahu yang tak mungkin keliru.

Be smarter, be healthier!

Cikal bakal Grup Sehat mulai terbentuk awal 2003. Saat itu kegiatannya hanya berupa ceramah kecil-kecilan. Penceramahnya Wati sendiri. Semua gratis. Tempat ceramah pun seadanya. Di rumah, sekolah, galeri, studio foto, rumah makan, dan tempat-tempat lain yang untuk menggunakannya tidak perlu membayar.

Berawal dari obrolan santai, mereka sepakat membuat sebuah mailing list (milis) pada Jumat Wage, 19 Desember 2003, memanfaatkan fasilitas Yahoo! Alasannya pun masih sama, karena gratis! Lewat milis sehat@yahoogroups.com, 21 orang secara aktif berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari masalah anak sulit makan, batuk tak sembuh-sembuh, demam, pilek, hingga curhat ala ibu-ibu.

Isi diskusi selalu berbobot. Bukan hanya berisi berbagai tips praktis dari dokter, tapi juga pengalaman menarik dari anggota milis. Di luar dugaan, anggota milis terus bertambah. Informasinya tutur-tinular dari mulut ke mulut, juga dari e-mail ke e-mail. Yang awalnya hanya segelintir orang, menjadi bergelintir-gelintir hingga puluhan, ratusan, dan sekarang mendekati 3.000 orang. Kebanyakan mereka adalah ibu atau bapak yang punya anak balita.

Mulanya, anggota Grup Sehat hanya berasal dari Jabodetabek. Kini telah menjangkau hampir semua provinsi dan kota besar di Indonesia. Tak hanya itu, lima benua di bola Bumi pun telah dirambah. Kebanyakan mereka belum pernah kenal apalagi bertemu muka.

Sebagian anggota mengadakan “kopi darat” secara berkala lewat seminar rutin yang mereka beri nama Program Edukasi Sehat bagi Orang Tua (PESAT). Acara PESAT ini pun berkembang pesat. Yang awalnya hanya di Jakarta, belakangan menjangkau Batam dan Surabaya. Jumlah pendaftar berjibun sampai panitia kewalahan.

Pada PESAT pertama, penceramahnya Wati sendiri dan dokter-dokter koleganya. “Be smarter, be healthier!” ajaknya tiap kali ceramah, “Menjadi orangtua cerdas adalah wujud cinta kasih kita kepada anak.” Kata-kata ini seperti mantra yang membuat para peserta PESAT bersemangat. Meski umumnya awam dalam urusan medis, mereka secara telaten belajar dari artikel-artikel populer hingga situs-situs serius macam Mayo Clinic.

Hasilnya sungguh hebat. Pada PESAT berikutnya, sebagian dari mereka bisa menjadi penceramah yang tak kalah bersemangat dari Wati. Meski bukan dokter, mereka bisa bicara secara ilmiah tentang pentingnya ASI, imunisasi, atau makanan sehat buat bayi. Yang pertama kali ikut ceramah bisa berdecak, “Gile, pinter banget!”

Tanpa berlagak sok pintar, mereka bicara tentang kesehatan anak layaknya seorang pembicara seminar profesional. “Kalau yang ngomong sama-sama ortu, efeknya lebih kuat,” kata Gendi Jatikusumah, seorang sarjana ekonomi yang juga menjadi salah satu penceramah.

Dokter juga menangis

Di milis mereka berdiskusi tentang hampir semua jenis penyakit umum anak-anak, mulai dari pilek, batuk, demam, diare, radang tenggorokan, sembelit, tifus, sakit kuning, flek paru-paru, resistensi antibiotik, dan sejenisnya. Tak hanya tentang pencegahan, tapi juga tatalaksana perawatan di rumah. Selain itu, mereka juga berbagi info penting lainnya. Belakangan diskusinya bukan hanya masalah kesehatan anak, tapi juga masalah kesehatan secara umum.

Milis ini tergolong sangat aktif. Dalam sehari ada sekitar seratus kiriman e-mail. Komunikasinya bukan melulu “pasien bertanya, dokter menjawab”, tetapi juga “pasien bertanya, pasien lain menjawab”. Tidak semua pertanyaan dijawab oleh Wati. Jika para smart parent (sebutan untuk mereka) sudah menjawab dengan te-o-pe be-ge-te, Wati hanya perlu bilang bravo! kepada si penjawab.

Diskusi berlangsung seru, kadang lucu, kadang haru ala ibu-ibu. “Sekarang saya tidak gampang panik kalau anak saya sakit. Suami juga jadi lebih sayang sama saya, he-he-he …,” tulis seorang anggota milis. “Sekarang anak saya enggak gampang sakit. Nuhun, dr. Wati,” timpal lainnya.

Tak bisa diingkari, salah satu kekuatan Grup Sehat adalah pendekatan cinta yang dilakukan Wati. Ia menggabungkan kecermatan seorang dokter dan kasih sayang seorang ibu. Ini terlihat dari caranya menempatkan diri sebagai teman ngobrol dan tempat curhat bagi para anggota.

Sambil membaca e-mail cinta Wati, anggota milis bisa membayangkan senyumannya yang kadang tipis (melalui tulisan “he-he-he”), kadang lebar (“ha-ha-ha”). Saat menuntaskan jawaban, ia biasa mengakhirinya dengan salam khas: love dan salam peluk cium buat buah hati si penanya. Seolah ada ungkapan cinta di setiap kata-katanya.

Berkat pendekatan cinta itu, Grup Sehat berkembang menjadi komunitas yang guyub. Jika ada acara, mereka secara bergantian dan sukarela menjadi panitia. Tanpa bayaran, tanpa imbalan. Sebagian mengusahakan tempat, sebagian mengurusi konsumsi, sebagian membawa perlengkapan seminar.

Organisasi tanpa bentuk

Kegiatan mereka tak cuma ceramah. Tahun lalu misalnya, mereka secara bergotong royong melakukan penggalangan dana pada acara “Donate for Kevin”, seorang penderita sindrom Alagille (kelainan liver) yang membutuhkan biaya untuk transplantasi liver di Jepang.

Para anggota milis telah menganggap Wati seperti ibundanya sendiri. Begitu pula sebaliknya, dokter penyabar ini pun menganggap mereka seperti anak sendiri. “Mereka adalah sumber inspirasi dan kekuatan saya,” kata penulis buku Bayiku Anakku, Panduan Praktis Kesehatan Anak (terbitan Intisari) ini.

Menirukan judul sebuah buku, ia jujur mengaku, “Doctors cry too. But this cry out of happiness. Saya adalah ibu dan dokter anak yang paling bahagia di dunia.” Ia bangga melihat para anggota milis menjadi lebih kritis dan cerdas. Tidak menyerahkan semua urusan kepada dokter. Ini adalah sesuatu yang telah lama ia impikan. “It takes two to tango,” katanya menirukan sebuah pepatah. Tarian tango tak mungkin dilakukan sendiri, tapi oleh dua orang.

Yang ia maksud, hubungan setara antara dokter-pasien hanya bisa diciptakan jika pasien pun dibuat cerdas. Bukan cuma dokternya. “Pasien yang tidak rasional cenderung membuat dokter juga tidak rasional,” katanya. Memberi obat secara berlebihan adalah salah satu bentuk irasionalitas pengobatan.

Beruntung, program pendidikannya ini mendapat banyak dukungan, bukan hanya dari keluarga besar milis. Sejak 2004, secara resmi Badan Kesehatan dunia (WHO) ikut mendukung.

Yang unik, meski telah menjangkau banyak kota, Grup Sehat hingga saat ini masih berupa OTB (organisasi tanpa bentuk). Tak ada ketua, tak ada pengurus. Yang ada hanya kepedulian untuk berbagi.

Secara swadaya dan swakelola, sejak 19 Agustus 2005 mereka akhirnya punya situs web sendiri di www.sehatgroup.web.id atas bantuan penyedia layanan internet CBN. Lagi-lagi gratisan! Tahun 2006 mendatang, mereka sudah menetapkan target yaitu menciptakan lebih banyak penyuluh baru untuk kelas PESAT paralel, membawa PESAT ke Bandung dan Makassar, dan menjadikan Grup Sehat sebagai proyek percontohan pendidikan kesehatan masyarakat.

“Satu saja orangtua berhasil kita ajak, berarti kita telah menyelamatkan paling tidak satu orang anak,” kata Wati.

Ya, begitulah. Pada akhirnya tetap cinta juga.

Tambah Ilmu, Tambah Kenalan

Internet membuat jarak geografis menjadi tak bermakna. Lewat e-mail, kita bisa bicara dengan seorang kenalan di benua lain, seperti bicara dengan kawan di ruang sebelah. Selain tempat mencari kawan, milis juga bisa menjadi ajang tukar pikiran dan sumber ilmu yang tak pernah kering.

Milis sehat hanya salah satu buktinya. Di luar milis ini, masih ada ribuan milis lain yang bisa Anda manfaatkan sebagai sumber pengetahuan dan kenalan. Sekadar menyebut contoh, Anda yang gemar utak-atik komputer bisa bergabung dengan milis ilmukomputer@yahoogroups.com. Di sini anggota milis bisa berdiskusi apa saja, mulai dari cara menghalau virus, teknik mengolah data, aplikasi program yang ruwet, sampai cara merakit komputer. Tak cuma praktisi ahli yang berkumpul di sini, para pemula pun banyak yang nimbrung untuk menimba ilmu.

Milis ini dibagi-bagi lagi lebih spesifik: ilmukomputer-aplikasi, ilmukomputer-networking, ilmukomputer-programming, dan sebangsanya. “Hanya seminggu sejak ikut milis, saya bisa menyelesaikan masalah yang saya hadapi selama enam bulan terakhir,” komentar seorang anggota milis.

Selain belajar lewat milis, anggota juga bisa belajar ilmu komputer secara gratis lewat situs mereka, ilmukomputer.com. Menurut Choirul Amri, koordinator harian komunitas ilmukomputer.com , mereka juga secara berkala mengadakan seminar atau lokalatih dengan biaya murah dan bahkan gratis di berbagai kota.

Tertarik? Gabung saja. (M. Sholekhudin)

Sumber : Kompas

1 Response so far »

  1. 1

    Bunda dhiyaa' said,

    Saya sangat senang sekali bisa mendapatkan informasi yg benar dan seharusnya dalam proses tumbuh kembang anak ini..banyak hal yang sudah dan terus berlangsung manfaat apa yg saya dapatkan dr blog ini.tks.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: