Gunakan Obat Dengan Bijak

Dr. Purnamawati, Sp.AK., MM.Paed. –

Bersama tamu Perspektif Baru kali ini, kita akan mendiskusikan suatu pandangan yang mungkin kurang lazim, tetapi sangat perlu, dalam cara kita memandang obat-obatan serta cara mencari jasa-jasa kedokteran. Yang jadi masalah saat ini dalam dunia kedokteran dan obat-obatan, walaupun semua tersedia dalam berbagai bentuk, tetapi obat tidak selalu digunakan secara rasional. Jadi layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang cost effective. Artinya, layanan, yang mengedepankan unsur safety (keselamatan-red) bukan hanya semata keampuhannya saja. Selain itu, layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang profesional, etis, kompeten, transparan, dan dapat diukur. Tamu kita kali ini adalah dr. Purnamawati, Sp.AK. MM.Paed. Ia adalah dokter spesialis anak, master dalam paediatrics. Dr. Purnamawati sekarang aktif melakukan kegiatan advokasi mengenai penggunaan obat-obatan, mengelola mailing list kesehatan, dan membentuk suatu grup yaitu ”Grup Sehat”. Ia juga mendapat tugas kehormatan dari WHO (World Health Organization) di dalam bidang yang akan diceritakan pada kita dalam wawancara ini bersama Wimar Witoelar.

 

——————————————————–

 

Anda berkeyakinan bahwa obat dan dokter memang harus dipakai, namun menurut takanan semestinya. Pasien atau konsumen pengguna obat-obat dan jasa dokter, harus tahu secara rasional apa yang bisa diharapkan dari dunia kedokteran dan obat-obat. Apa betul begitu pendapat Anda?

Betul sekali. Jadi layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang cost effective. Artinya, layanan yang mengedepankan unsur safety (keselamatan -red) bukan hanya semata keampuhannya saja. Selain itu, layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang profesional, etis, kompeten, transparan, dan dapat diukur.

Ada tiga aktor utama yang berperan dalam dunia layanan kesehatan. Ada pemberi jasa layanan kesehatan, yaitu dokter, phamacist, paramedis. Aktor kedua unit layanan kesehatan, yaitu klinik, rumah sakit, dan sebagainya. Aktor ketiga adalah konsumen, pengguna jasa layanan kesehatan. Ketiga aktor utama ini harus bekerja sama, harus bermitra, serta harus menyadari hak dan kewajibannya masing-masing. dalam setiap kesempatan, saya selalu mengatakan sebagai konsumen jasa layanan kesehatan jangan menyerahkan 100% masalah kesehatan kita di pundak tenga medis. Sebab, bebannya terlalu berat. Kita sebagai konsumen harus punya tanggung jawab untuk memelihara kesehatan dan melakukan kegiatan mencegah. Itu jauh lebih baik. Ketika kesehatan terganggu dan menyadari harus ke dokter, jangan tejemahkan kunjungan ke doktor. Jadi, upaya ke dokter itu adalah upaya konsultasi. Menurut kamus, makna konsultasi medis adalah upaya perundingan antara pemberi dan penerima jasa layanan kesehatan untuk mencari penyebab gangguan kesehatan dan menentukan bersama-sama penanganannya. Jadi penanganan ini belum tentu harus diselesaikan dengan obat. Ketika memang memerlukan obat, hal utama yang perlu kita tanyakan adalah penyebab gangguan kesehatan tersebut. Sebab, pola pengobatan yang rasional itu harus berangkat dari masalah. Secara tidak langsung, saya ingin mengajak para konsumen jasa layanan kesehatan untuk berpikir lebih bijak, jangan bergopoh-gopoh, dan jangan terpaku pada gejala.

 

Istilah bijak ini menjadi kunci. Konsumen jasa layanan kesehatan mungkin belum tahu bagaimana yang disebut bijak itu. Tadi Dokter juga menggunakan istilah penggunaan obat-obatan yang rasional. Bagaimana contoh penggunaan obat tidak rasional itu?

Ada lima bentuk pengguna obat tidak rasional. Pertama, polyphamacy, pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan. Kedua, penggunaan antibiotika yang berlebihan. Ketiga, pemberian resep obat nongenerik yang tinggi. Keempat, pemberian obat injeksi yang sebetulnya tidak perlu dengan injeksi. Kelima, pemberian obat-obat yang sebetulnya tidak perlu seperti vitamin dan suplemen.

Kasus paling mencuat adalah polypharmacy dan antibiotika yang berlebihan. Misalnya, ketika anak demam, batuk, pilek, langsung diberi obat. Padahal itu semua gejala. Yang kita perlu lakukan adalah mencari tahu penyebabnya. Penyebabnya adalah infeksi virus dan itu tidak ada obatnya. Yang bisa memerangi virus tersebut hanya sistem imunitas (kekebalan-red) di tubuh kita. Jadi yang dibutuhkan anak adalah berikan waktu, kemudian observasi perilakunya, dan beri minum lebih banyak dari biasanya. Nah, kebijakan-kebijakan seperti itu akan muncul setelah para orangtua atau konsumen kesehatan menyadari mereka harus menguasai pengetahuan dasar kesehatan.

 

Sebaiknya memang pasien atau konsumen layanan kesehatan mengerti dalam menghadapi obat-obatan dan dokter. Tetapi sebagian besar orang memang merasa dirinya bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Walaupun almarhumah istri saya dokter, tetapi saya tidak merasa pandai dalam bidang kesehatan. Jadi jangan sampai pasien atau konsumen kesehatan memberikan dirinya kepada dokter atau memuja obat-obatan. Dokter, apa orang awam harus lakukan supaya sidak terlalu tergantung pada dokter dan obat-obatan?

Sebetulnya bukan masalah tergantung atau tidak. Seperti saya katakan tadi, dalam layanan kesehatan itu sedikitnya ada tiga aktor. Kalau kita menginginkan layanan kesehatan profesional, layanan kesehatan yang terbaik, ketiga aktor tersebut harus rasional dan prefesional.

Saya selalu katakan dalam setiap kesempatan kepada konsumen jasa layanan kesehatan, jangan perlakukan diri kalian sebagai pasien. Pasien itu konotasinya pasti, pasrah. Kita sebaiknya memposisikan diri sebagai klien, sebegai konsumen. Sebab, hubungannya akan lebih dinamis, ada saling bertukar informasi, ada kemitraan, dan ada proses pengambilan keputusan bersama-sama. Sebetulnya semua itu sudah dituangkan dalam hak dan kewajiban pasien, dokter, rumah sakit, dan bisa dipelajari. Kalau kita ingin menjadi mitra dokter yang baik, tentu saja masalah-masalah kesehatan dasar dan pengetahuan mengenai penyakit-penyakit ringan harian, sebaiknya sudah dikuasai oleh konsumen kesehatan. Jadi kita tahu persis bagaimana save care-nya di rumah karena tidak berarti kalau kita batuk, kita harus ke dokter. Anak demam dalam waktu 1-2 jam, kita harus segera ke dokter. Tetapi kita harus punya kemampuan menganalisis mengapa anak demam, apa yang harus dilakukan, kapan saya harus ke dokter.

 

Dokter, saya sangat concern dengan pernyataan Anda mengenai mengatasi penyakit-penyakit ringan. Menurut saya, itu penting sekali karena saya sebagai orang awam tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau misalnya terkena bisul atau atau ada gatal di sela-sela kaki. Di mana sumber informasi terbaik bagi orang awam untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai penyakit ringan harian?

Sebetulnya sekarang ini era yang sangat memudahkan untuk konsumen mendapatkan informasi kesehatan. Sekarang ini era informasi di mana kita dengan mudah bisa mengakses informasi tanpa keluar uang. Kalaupun harus keluar uang mungkin untuk biaya internet yang harganya mungkin jauh lebih rendah dari biaya berobat. Sekarang kantor-kantor sudah banyak mempunyai akses internet. Berdasarkan pengalaman mengasuh mailing list kesehatan, rata-rata anggota mailing list tersebut menggunakan fasilitas internet kantor mereka karena mayoritas tidak punya komputer di rumah. pada saat makan siang, sebelum mulai kerja pagi, dan sebelum pulang biasanya mereka bisa menggunakan jasa internet kantornya. Karena itu, bagi para konsumen kesehatan yang bisa mengakses internet, akseslah situs-situs yang terpercaya seperti WHO. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia-red).

 

Bukankah sebagian besar situs itu menggunakan bahasa Inggris?

Sayangnya memang sebagian besar berbahasa Inggris. Doakan saja, kami grup sehat sebentar lagi akan meluncurkan satu website mengenai kesehatan yang dapat diakses dalam bahasa Indonesia.

Saya juga mendoakan agar masyarakat Indonesia tambah pintar bahasa Inggrisnya. Ya… anggap saja ini sebagai suatu ”pemaksaan alamiah”. Untuk menguasai bahasa asing kan tidak ada jeleknya. Apalagi di situs-situs itu. Panduan untuk konsumen memakai bahasa sangat awam dan mudah dicerna. Dan kalaupun tidak, kita bisa saling bertanya. Sekarang ini banyak sekali situs yang bisa dibaca untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan.

 

Dokter, apa obat yang perlu diwaspadai secara khusus oleh masyarakat?

Kita tidak bisa memberikan jawaban yang pasti mengenai itu. Sebab, ketika dipergunakan dengan benar sekalipun, setiap obat potensial menimbulkan efek samping. Tetapi dunia kedokteran bergerak dalam koridor risk and benefit. Misalnya, penderita TBC (Tuberculosis-red) harus diterapi dengan obat-obatan anti kuman TBC. Obat-obatannya keras tetapi tetap harus dikonsumsi karena manfaatnya lebih besar daripada risiko atau efek samping obat tersebut terhadap fungsi hati.

Dalam proses penggunaan obat-obatan, harus dipergunakan dengan benar dan ada proses pemberian informasi. Jadi ketika pasien datang ke seorang tenaga mendapat penjelasan mengenai penyakitnya dan perlu obat atau tidak. Kalau perlu obat, bagaimana kerja obat itu dan efek samping yang mungkin timbul. Jadi pasien mengetahui obat ini harus dikonsumsi tapi ada kemungkinan efek samping.

Walaupun belum tentu muncul, tenaga medis harus menjelaskan efek samping itu ada dan menjelaskan juga gejala-gejala yang harus dicermati pasien. Risiko efek samping itu akan meningkat pada kasus polypharmacy, pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan. Contoh paling gampang adalah pemberian puyer kepada anak. Ketika demam dan flu, saya mungkin minum parasetamol, minum air yang banyak, tidur, selimutan. Tetapi ketika seorang bayi kena flu, kemudian diberi puyer yang isinya minimum terkandung empat macam obat antara lain antibiotika. Apakah itu rasional? Karena itu risiko efek samping akan meningkat pada polypharmacy. Risiko efek samping juga akan meningkat pada mereka yang sangat muda dan berusia lanjut. Pada bayi atau anak kecil, organ-organ untuk memetabolisme obat masih belum matang. Sedangkan pada orang tua kapasitasnya sudah menurun.

 

Bagaimana kalau obesitas?

Ada, justru di mailing list ini saya sangat concern dengan obesitas. Dan, saya selalu menekankan mulailah sedini mungkin dan mulailah dengan seluruh anggota keluarga untuk menghindari obesitas. Sebab, tadinya ada konsep kalau anak yang sehat itu harus gemuk. Bahkan, ada orang yang sedih karena anaknya kurus. Padahal tidak perlu sedih ya, karena ada hal-hal yang merupakan mitos dan itu perlu diklarifikasi.

 

Ya betul Dokter, obat-obat seperti vitamin, suplemen, apakah memang diperlukan atau ada penjelasan lain?

Bulan Januari lalu, saya mengikuti workshop WHO di India mengenai bagaimana mempromosikan pola pengobatan rasional kepada komunitas. Setiap negara berkembang memberikan presentasi dan WHO regional juga memberikan presentasinya. Saya memperoleh banyak pelajaran. Misalnya, di Swedia tidak ada apotik swasta, tidak ada farmasi swasta, semua diatur pemerintah. Di Australia, harga obat diatur pemerintah. Jadi mau beli parasetamol di Melbourne, di Sidney, di Brisbane harganya sama. Kalau di negata kita, harga di tiap wilayah bisa beda-beda.

Di kebanyakan negara, obat diatur dalam satu kelompok yang namanya daftar obat essential. Daftar obat essential disusun berdasarkan prioritas penyakit. Nah, menyimak daftar obat tersebut, tidak ada yang namanya vitamin dan suplemen. Salah satu contoh lagi menarik buat saya adalah Bangladesh. Di sana, dokter tidak bisa memberikan obat di luar daftar obat essential. Jadi kalau kasih resep Amoxcillin ya Amoxillin yang ada di daftar obat essential itu.

Kedua, di Banglades untuk vitamin dan suplemen dilarang oleh pemerintah. Mengapa demikian? Karena dari sisi kedoktkeran, kalau kita buka text book atau penelitian-penelitian, dikemukakan bahwa vitamin itu suatu substansi yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan dapat terpenuhi dari pola makan sehat. Umumnya suplementasi vitamin dari luar tidak dibutuhkan. Kecuali kita sangat tua atau menderita penyakit-penyakit bawaan tertentu yang sangat jarang atau menderita penyakit yang tidak bisa mengabsorsi (menyerap) makanan dengan benar. Tetapi bukan berarti anak diare atau anak kurus di bilang mengalami gangguan pecernaan. Di negara kita masih banyak sekali salah kaprah seperti itu. Misalnya, ada penyakit namanya cystic fibrosis yang merupakan gangguan pankreas. Pankreas itu adalah pabrik yang memproduksi enzim pencernaan. Tetapi kalau anak kena cystic fibrosis, gejalanya banyak sekali dan hebat sekali. Nah, kasus yang seperti itu mungkin perlu suplementasi vitamin. Contoh lain misalnya ketika kita dalam diet khusus. Misalnya ada orang yang benar-benar vegetarian ketat, mngkin perlu suplementasi zat besi.

Sumber : Balipost.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: