Membuat MPASI Sendiri

DENGAN alasan praktis para ibu memilih produk bubur susu kemasan yang dijual di pasaran. Kandungan gizi dan nutrisi lengkap yang tercantum di kemasan membuat para ibu pun semakin mantap memilihnya.Praktis dan memenuhi standar gizi. Namun,bila harga produk ini kian melambung, sebagian ibu menjadi tak mampu membelinya. Jangan sampai bubur kemasan itu diencerkan. Bagaimana caranya? ”Hal terpenting adalah bagaimana memberikan makanan lumat pada bayi. Lebih baik mengajarkan ibu bagaimana membuat sendiri bubur susu dari bahan kacang hijau daripada memaksakan diri membeli bubur susu instan rasa kacang hijau,” kata dokter spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli Dr Purnamawati S Pujiarto SpA(K) MMPed.

Konkretnya, membuat makanan untuk bayi adalah dengan menggunakan bahan lokal yang sehat dengan harga terjangkau. Misal, membuat kudapan atau camilan sehat dari labu siam kukus, timun, dan jagung. Atau bisa juga membuat orak-arik telur dicampur tomat dan jeruk nipis.Penambahan sayuran hijau dalam makanan bisa lebih memudahkan proses penyerapan zat besi oleh tubuh. ”Dunia kuliner itu tanpa batas. Bubur susu bisa diterjemahkan banyak sekali.

Misalkan membuat labu kuning kukus yang dihancurkan dan diberi ASI, atau membuat jambu merah milkshake dicampur es krim,” sarannya. Selain menu yang variatif, tak kalah penting adalah segi keamanan, yang meliputi konsistensi, tekstur,dan ukuran.Saat permulaan, berikan makanan semi-cair, kemudian bertahap semakin mengental sehingga dapat disendok dengan mudah. Mula-mula sangat lembut (di-puree,dihancurkan, digiling kemudian disaring), lalu bertahap semakin kasar. Penelitian menemukan adanya ”critical window”untuk memperkenalkan makanan padat yang agak kasar (lumpy), yaitu pada usia 10 bulan. Pengenalan makanan kasar pada usia lebih dari 10 bulan bisa meningkatkan risiko kesulitan makan.

Dari segi tekstur, buatlah makanan lembut dan meningkat menjadi semi-kasar, kasar, hingga ke table food (untuk usia satu tahun ke atas).Makanan pertama untuk bayi adalah dari kelompok serealia seperti berasberasan. Kemudian secara berangsur perkenalkan tepung jagung.Pda 4–6 minggu kemudian tepung gandum atau roti, kentang, ubi,dan jagung. Setelah bayi dapat mengonsumsi asupan berbahan tepung beras secara baik, ibu bisa memberikan daging cincang kukus.

Tahap berikutnya dapat dimulai pemberian sayuran dan buah yang dihaluskan. Sampai usia 7 bulan, sebaiknya buah dikukus terlebih dahulu kecuali alpukat. Pada usia 8–9 bulan,mulai berikan finger food, yaitu makanan yang bisa digenggam bayi, seperti potongan buah, potongan kukusan sayur, roti, keju, dan cookies buatan sendiri. ”Hati-hati memilihkan finger food, perhatikan ukuran dan teksturnya, jangan sampai membuat bayi tersedak,” ujar Purnamawati.

Menginjak usia sembilan bulan, bayi bisa mulai diberikan makanan yang agak kasar dan tanpa garam serta gula. Kemudian, setelah berusia satu tahun, bayi sudah bisa makan makanan yang dihidangkan di meja makan keluarga,tapi tetap pilihkan yang rendah garam, tinggi serat,dan rendah gula. ”Bayi biasanya tidak begitu peduli soal rasa. Dalam makanan sudah terkandung garam. Daging direbus saja sudah cukup asin, tidak perlu ditambahkan garam.Kalau masih ditambah garam lagi akibatnya berlebihan dan anak jadi suka makanan asin.

Selain itu bisa menimbulkan hipertensi,” kata Spesialis Gizi Klinik di Melinda Hospital Bandung Dr Johanes C MND SpGK. Dia menyarankan, MPASI untuk permulaan sebaiknya tidak terlalu banyak mengandung protein hewani supaya tidak memacu alergi. Daging sapi bisa dijadikan pilihan karena sifatnya yang tidak terlalu menimbulkan efek alergi. ”Kalau permulaan jangan diberi ayam atau telur. Hati-hati juga dengan tahu-tempe karena kalau terlalu sering anak bisa kembung. Makanan yang manis juga jangan sering diberikan karena bisa membuat cepat kenyang. Jadi berikan yang tawar saja,” tandasnya. (inda)

Sumber : Seputar Indonesia

1 Response so far »

  1. 1

    DENGAN alasan praktis para ibu memilih produk bubur susu kemasan yang dijual di pasaran. Kandungan gizi dan nutrisi lengkap yang tercantum di kemasan membuat para ibu pun semakin mantap memilihnya.Praktis dan memenuhi standar gizi. Namun,bila harga produk ini kian melambung, sebagian ibu menjadi tak mampu membelinya.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: