PELANGI 6 : PRUDC

Dear all

Karena isi surat ini campuran dari hati dan otak,
heart and brain, love and science, maka saya putuskan
utk disampaikan dalam bentuk Pelangi.
Lagi2 minta maaf soal numeriknya … mungkin moderator
bisa mengoreksinya

Workshop yang disponsori WHO ini adalah Promoting RUD
in the community dan diselenggarakan pertama kali
tahun yl di India juga (semua kegiatan WHO perihal RUD
untuk wilayah Asia diselenggarakan kalau tdk di
Thailand ya di India).

Saya merasa sangat berbahagia bisa menghadiri workshop
ini meski tadinya nyaris tdk berangkat karena anak2
protes keras. Anxious .. tapi saya ,emgucapkan beribu
janji .. dan ketika hari ke3 “sakit” … saya putuskan
tdk mengikuti kegiatan kultural di luar acara workshop
(jalannya kecil, berlubang, kadang supirnya ngebut,
bisnya kecil, shockbreaker gak bagus, so very bad for
my spinal problem).

Ada beberapa hal penting dan menarik yg ingin saya
share dengan kalian.

Pertama, GERAKAN RUD AKAN JAUH LEBIH EFEKTIF MELALUI
PROGRAM EDUKASI KONSUMEN.
Konsep RUD pertamakali dicanangkan th 1985 di Nairobi
(in fact, RUD is the biggest contribution of WHO in
public health)
Namun demikian, para pakar sangat prihatin akan masa
depan implementasinya. Selama ini gerakan RUD
ditujukan bagi provider (pemberi jasa layanan
kesehatan) dan dianggap hasilnya hampir nihil.
Public education merupakan salah satu indikator (dari
12 indikator implementasi RUD) … dan dianggap justru
amat sangat penting sejak beberapa tahun terakhir.
Oleh karena itu salah satu outcome dari workshop ini
adalah munculnya berbagai proyek edukasi konsumen
perihal RUD.

Kedua … KONDISI RUD DI NEGARA KE3 ASIA …
Prof Krisantha .. dari WHO regional … dalam
presentasinya perihal WHO perspective on RUD
mengungkapkan kondisi RUD yg memperihatinkan.
Di jentreng lah kondisi RUD based on those 12
indicators. Saat mengjentreng Indonesia … dia bilang
di Indonesia selain payah ke 12 indikator tsb, juga
tdk ada regulasi harga obat. Pas perihal Indo… dia
singkat aja… INDONESIA IS … DISASTER. Sedih, tapi
mau apalagi, kan begitu ya kenyataannya.

Bangladesh. Bagus banget. Mereka punya NDP (National
Drug Policy yg ketat). Semua obat yg ada di Bangladesh
hanya yg sesuai daftar obat esensial. Providers gak
bisa meresepkan obat lain (artinya … menutup
kemungkinan kolusi dg industri obat). Di Indonesia?
Amoksisilin aja lebih dari 150 macam!!
Makin banyak oabt, makin sulit pengendalian dan
monitoringnya!!
Kedua, Di Bangladesh, semua bentuk vitamin .. BANNED!!
Gak ada cerita stimuno, imboost, elkana, dll dll dll
Ketiga, Tidak ada OTC alias obat bebas!!

India. NDP nya bagus. EDLnya mulai jalan (Indonesia
punya daftar obat esensial tetapi implementasinya?
Pemakaian generik amat sangat rendah dan peresepan
umumnya obat bermerek yg mahal)
Institusi pendidikan nya sangat memperhatikan etika.
Misalnya, mereka terus mendengungkan bahw pemberian
antibiotika pada kondisi yg tidak membutuhkannya
merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika.
Indonesia? Institusi pendidikan nya teoritis bisa dan
tahu ngomong soal RUD tapi pada prakteknya??? Kita
tidak punya journal untuk para dokter perihal good
prescribing, perihal RUD. India punya journal yg
terbit regular utk para dokter. Di Bengal, mereka
bahkan sudah menerbitkan journal untuk masyarakat awam
perihal RUD.

Saya sangat tertarik ketika saya menyempatkan
menghadiri kongres nasional IDI nya sana.
Venue? Bukan hotel bintang 5 seperti di Indo melainkan
di ruang pertemuan kampus FKUI nya sana hehehe. Tidak
ada satupun banner pabrik obat. Tidak ada stand
pameran (di Indo biasanya bejubel sampai peserta
umumnya sibuk mengumpulkan cindera mata dari berbagai
stand instead of duduk mendengarkan ceramah)
makanan? Bukan catering hotel bintang lima yg per
orang at least 200 ribuan.
Kami makan di kebun di tengah api unggun (saya gak mau
bergeming dari api unggun sampai bercucuran air mata
hehehe yapi suasanaya cozy banget). Makanan ya
sederhana
Di Indo, kegiatan ilmiah apalagi skala nasional,
sponsor abis pabrik obat…. Saya pernah usul ketika
masih jadi pengurus …tapi kayaknya saya “ada
kelainan” hehehe
Kegiatan sponsor mensponsor ini berakibat ekonomi
biaya tinggi… gak heran kalau harga obat di Indo
selangiiitt. Tidak sedikit orang kita beli obat di
malaysia atau singapur kan

Implementasi di masyarakat? Di India, Puskesmasnya 2
rupee sudah mencakup pemeriksaan dokter, obat sesuai
EDL. kalau perlu lab atau ronsen, 5 rupee.
Memang suasana masih kayak di Indo alias saking
banyaknya pasien di puskesmas, periksanya sambil
duduk, kecuali ada suatu kecurigaan baru dibaringkan
dan diperiksa. Dokternya masih kuat aroma
“arogansi”nya alias kedudukannya amat sangat tinggi
sehingga pasien juga takut banyak bertanya. Pemberian
multivitamin tonik suplemen masih marak.
Praktek swasta juga masih marak ketimbang public
servicenya tapi untungnya puskesmas buka 2 kali. Jam 9
– 11 dan jam 16 – 18.
Apotik swasta masih banyak.
TAPI…. DI INDIA GAK ADA PUYER!!! DI SEMUA NEGARA
PESERTA WORKSHOP GAK ADA PUYER… nanti saya kembali
ke topik yang satu ini
Kesimpulannya… penyelewengan masih banyak di India
tetapi proses menuju perbaikan terasa dan memang ada.
Indo? Bisakah kita mengandalkan pada pemerintah dan
institusi pendidikan?
Prof Krisantha memanggil saya secara pribadi. katanya
beliau banyak mendengar kegiatan saya … saya diberi
buku …
Lalu kami bicara lama. salah kesimpulannya (lainnya
off the record) … bagus sekali kalau Indonesia tdk
mengandalkan ke2 institusi di atas melainkan
menggalakkan kegiatan edukasi konsumen!! hehehe muter
ya bahasanya

Ketiga … Saya diminta presentasi kegiatan saya di
Indo. By the end of the session, applause and bows.
Prof Goran Tomson (Swedia) staf ahli WHO utk RUD …
ini pengejawantahan agar Wati tidak NATO katanya
hehehe (No action talk only)
Kedua, amazing kata mereka … ini movement
revolutionary – drug information services yang
mempergunakan modern IT

Keempat … saya mesti menjalin network dengan LB
diberi beberapa badan yg perlu dihubungi. dst dst
tetapi intinya… jangan sendirian. Aduuhhh saya
keopinginn banget gak sendirian tetapi Prof Roy
bilang..
This field (RUD)… is a very lonely path… the only
friends you have are the customers themselves… nah
lho!! padahal beberapa pihak suggest .. mesti cari
support dari sesama dokter (terutama DSA) dan dari
pemerintah hehehe .. lagi sibuk Tsunami saya bilang.

Kelima… saya diminta memberikan demo praktek
dispensing obat di Indo. Lalu saya memberikan contoh
resep untuk anak batuk pilek
Mereka bingung … kok obatnya banyak banget!! Gimana
cari kasihnya?
Saya ambil cawan obat, masukkan semua obat …
gerus!!! Heeehhhh!! Ternyata dari semua negara
participants … Indo satu2nya yg punya puyer
hehehehe. Peserta yg pharmacist pada protes… aduh
kan pabrik obat bikin penelitiab susah2 untuk
menemukan bentuk obat yg terbaik kayak apa kok malah
digerus, dijadikan satu lagi, interaksinya gimana,
pharmakokineticnya gimana? Kok ahli farmasinya mau
sihhhh
Saya bilang kan instruksi di resep, farmasi gak bisa
ubah selain mereka sendiri juga pola pikirnya memang
puyer yg terbaik!!
Lalu mereka komentar lagi .. The way you write the
prescription is so ancient!!
Seorang teman berkomentar di jakarta kemarin … tapi
puyer tuh yg terbaik buat anak, bisa di desain
individual. Bulshit (maappp) saya bilang. kalau ini
yng terbaik, yg teraman, yang termurah … pasti sudah
diadopt negara lain. WHO dan Unicef pasti gak tinggal
diam. pasti disosialisasikan agar dimanfaatkan negara
lain seperti ketika mensosialisasikan pemberian ORS
untuk anak diare karena itu yg paling tepat selain
murah.

Kesimpulannya
Apa yg kita kerjakan sudah benar… konsumen punya
daya untuk melakukan perubahan
In fact .. it is individuals that make changes
Apalagi
kata M Gandhi .. knowledge without devotion is like a
misfire… so please spread your knowledge
Tempo hari saya ngobrol sama Widowati (alhamdulillah
gak jadi operasi appendix) … tahap berikuitnya
selain menyebarkan ilmu pada keluarga dan teman dekat
adalah nicely inform you DSA bahwa selama ini obat nya
gak ditebus… beritahu juga bahwa SAYA MENOLAK PUYER
(pakai seribu strategi tapi jangan ketus dan jangan
mengghurui … saya yakin kalian very2 smart and wise)

Ok sekian dulu
Mudahan nanti bisa nyicil lagi tapi mau meeting dulu
dan selasa mesti meeting report.

Love u all
wati

4 Responses so far »

  1. 1

    SaRi said,

    Bunda… aq suka banget sama posting yang ini, bole ya aq taro di blog aq hehehe…
    Bunda yang sehat ya!
    Luv u Bunda

  2. 2

    Ria - Solo said,

    Nda Wati…boleh Copas untuk note di FB Ria ya…..bagus sekali postingannya….BRAVO BUNDA…!!!

  3. 3

    riri said,

    tante wati, you really inspire banyak orang dengan tulisan2 tante lho…

    salam dari kayla di india, semoga bisa cepet main lagi di PWR🙂

  4. 4

    ibunya imam said,

    saya ijin copas ke temenku yang ada di depkes daerah, mudah-mudahan bisa membawa pencerahan, mudah-mudahan dia juga sudah RUM🙂 semoga Allah ridho dan memberikan kemudahan atas niat baik Ibu…. amin


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: