Sebagai Pasien, Anda Punya Hak!

Pasien memiliki hak yang dijamin undang-undang. Jadi, bukan jamannya lagi pasien bersikap pasif.

Amy Lusaka (30 tahun), seorang sekretaris, baru mengetahui adanya benjolan akibat darah membeku di kepala bayinya, Kanaya (kini 1 tahun), beberapa hari setelah persalinan. Ia kaget bukan main, karena saat persalinan, dokter kandungan tidak mengatakan apa-apa dan menyatakan bahwa bayinya normal dan sehat. “Yang membuat saya kecewa adalah, tidak ada jawaban yang pasti dari pihak dokter dan rumah sakit mengapa kondisi ini terjadi. Saya, sebagai pasien, tentu ingin mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya,” tuturnya.

Kasus yang dialami Amy merupakan salah satu contoh kejadian yang menggambarkan betapa buruknya pelayanan kesehatan yang diterima pasien saat berobat. Sayang sekali, kondisi ini masih saja terjadi pada saat pasien telah menaruh kepercayaan yang besar pada personel medis dan institusi kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Pasien punya hak

Walau belum ada data resmi berapa kasus pelanggaran hak pasien di Indonesia, namun fenomena ini kerap terjadi. Coba saja Anda simak surat pembaca di media massa, tak terhitung sudah mereka yang mengeluh soal pelayanan rumah sakit dan paramedisnya yang jauh dari harapan ideal.

Entah kenapa, pasien di Indonesia merasa bahwa ia adalah pihak yang berada di bawah, alias tak berdaya menghadapi dokter. Mungkin itu sebabnya, timbul perasaan “takut” pada si pasien untuk bersikap kritis dan bertanya segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakitnya.

Padahal, sebagai pasien, kita memiliki hak-hak yang dijamin undang-undang. Sayangnya, undang-undang ini belum begitu disosialisasikan kepada masyarakat. Dr. Robert Imam Soetedja, dari IDI Jakarta Barat sebagai ketua Paguyuban Humas Rumah Sakit se-Jakarta dan anggota Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Persi) mengatakan, hak-hak pasien tercantum dalam Hak dan Kewajiban Pasien Undang-undang No.23/1992 (lihat boks: Hak & Kewajiban Pasien).

“Mungkin, pasien tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada dokter. Padahal, itu adalah salah satu haknya. Masyarakat harus tahu bahwa mereka punya hak yang diatur dalam undang-undang. Sebagai dokter pun, kami punya kewajiban mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat. Artinya, sekarang memang sedang gencar-gencarnya diinformasikan kepada dokter-dokter bahwa pasien punya hak yang diatur undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah,“ jelas dr. Robert.

Ia melanjutkan, “Secara umum, pasien mempunyai beberapa hak. Yang paling mendasar adalah hak untuk mendapatkan informasi yang jelas, mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakitnya. Misalnya, sakit apa, tindakan medis apa, diberi obat apa, efek samping obat apa, dan sebagainya. Jadi, pasien jangan diam saja. Sebaliknya, dokter berkewajiban melaksanakan apa yang menjadi hak si pasien tersebut.”

Harus kritis

Sikap pasien yang pasif, enggan bertanya kepada dokter atau personel non-medis di tempatnya berobat, sangat disayangkan oleh dr. Robert. ”Kita harus rajin bertanya, dan bersikap kritis kepada dokter. Itu ‘kan untuk diri Anda sendiri. Misalnya, katakan terus terang kita minta obat generik atau yang lebih murah. Mintalah sebelum dokter menulis resep!”

Ia lalu memberi contoh, “Di negara lain, dimana pasien sudah lebih sadar akan hak-haknya, mereka lebih ’cerewet’ soal pelayanan medis yang diberikan kepadanya. Misalnya, ‘Ini obat apa?’ Atau, ‘Saya diambil darah untuk apa?’”

Apa yang dikatakan dr. Robert diamini dr. Purnamawati Sp. Pujiarto, SpA(K), MMPed. “Benar. Pasien-pasien di negara maju sudah semakin menyadari hak mereka akan informasi yang objektif dan berimbang. Di sana, sistem (regulasi dan aplikasinya –red.) sudah lebih tertata, sehingga semua pihak bekerja sesuai hak dan kewajibannya,“ tutur dokter yang biasa dipanggil dr. Wati, dan aktif di Yayasan Orang Tua Peduli, sebuah organisasi sosial yang bergerak di bidang health promotion dan edukasi kesehatan anak bagi para orang tua.

Lewat edukasinya di berbagai media, dr. Wati mengajak para orang tua menyadari bahwa yang paling berkepentingan terhadap kesehatan mereka dan anggota keluarga, adalah diri mereka sendiri. “Saya berharap, para orang tua menyadari bahwa urusan kesehatan tak akan mereka limpahkan 100% ke pundak tenaga kesehatan, tetapi juga merupakan tugas dan kewajiban mereka. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah proaktif mempelajari pengetahuan dasar kesehatan dan bertanya. Singkat kata, saya mengajak mereka untuk aktif meningkatkan pengetahuan dasar kesehatan, sehingga bisa berlaku sebagai smart patient,” tandas dr. Wati bersemangat.

Abbas SH, MH., (32 tahun), seorang auditor, adalah salah satu contoh smart patient, ”Saya cenderung kritis dan proaktif bertanya kepada dokter yang bersangkutan. Menurut saya, untuk mencapai penanganan medis yang optimal dan menyeluruh, harus tercipta komunikasi dua arah yang lancar. Misalnya, tentang manfaat, komposisi dan efek samping obat yang diresepkan dokter.”

Ubah mindset

Kabar baiknya berdasarkan pengamatan dr. Wati, adalah adanya internet yang mempermudah mengakses informasi dari berbagai situs yang bisa dipercaya. Apalagi, para pasangan muda Indonesia pun kini sudah mulai terbuka. Mereka mulai bertanya kepada dokter saat berkonsultasi dan sudah semakin cerdas serta rajin mencari informasi.

Farhan (36 tahun), presenter kondang, adalah salah satu ayah yang rajin mengakses internet untuk mencari pengetahuan tentang penyakit anak-anaknya. Terutama yang menyangkut gangguan kesehatan yang dialami putra tertuanya. “Tahun 1999, saya mendapat vonis adanya kelainan kesehatan pada Ridzky (6 tahun). Sejak saat itu saya langsung melakukan pemantauan dan rajin mencari informasi sana-sini termasuk melalui internet. Kemudian, saya catat gejala-gejala penyakit anak saya sehingga ketika saya dan istri berkonsultasi dengan dokter, kami sudah memiliki data yang cukup akurat untuk kami komunikasikan kepada dokter. Hal ini juga saya lakukan terhadap putra kedua kami,” ujarnya

Lalu, bagaimana bila mereka menemukan atau mengalami pelanggaran terhadap hak-haknya sebagai pasien? “Mereka dapat mengadu kepada Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, atau ke pengadilan sekalipun. Dengan catatan, harus diteliti betul, siapa yang salah. Bisa saja ‘kan justru si pasien itu yang salah. Jika memang dokter yang salah, tentu ada sanksinya,“ jawab dr. Robert.

Dokter Wati menambahkan, “Sebagai pasien, kita pun harus membenahi perilaku kita. Banyak faktor dalam mindset kita yang harus diubah untuk menjadi pasien yang cerdas (lihat boks: Perilaku Pasien yang Benar). Jadi, jangan semata-mata jika ada kasus pelanggaran hak pasien pasti dokter atau rumah sakit yang salah.“

Pada dasarnya, baik pihak pasien maupun dokter tak bisa berdiri sendiri. Kedua pihak saling membutuhkan. Hak pasien adalah kewajiban bagi dokter, dan sebaliknya, kewajiban pasien berhubungan dengan hak dokter. Masing-masing pihak juga memiliki hak untuk mengajukan tuntutan hukum apabila salah satu pihak mengingkari kewajibannya.

Laila Andaryani Hadis

Kontributor: Cherry R.Lukman, LAH

Hak & Kewajiban Pasien

Hak-hak pasien telah dijamin dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor: 23 Tahun 1992 tanggal 17 September 1992 Tentang Kesehatan, yang isinya: “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.”

Hak pasien:
* Hak mendapat pelayanan yang manusiawi sesuai dengan standar profesi kedokteran.
* Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya dan tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya.
* Hak memilih dokter yang merawat dirinya.
* Hak memilih sarana kesehatan.
* Hak atas rahasia yang berkaitan dengan penyakit yang diderita.
* Hak menolak tindakan medis tertentu atas dirinya.
* Hak untuk mengentikan pengobatan.
* Hak untuk mencari second opinion (pendapat lain).
* Hak atas rekam medis.
* Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan kritis.
* Memeriksa dan menerima penjelasan pembayaran.

Kewajiban pasien:
* Memberi keterangan yang jujur tentang penyakitnya kepada petugas kesehatan.
* Mematuhi nasihat dokter.
* Menjaga kesehatan dirinya.
* Memenuhi jasa pelayanan.

Sumber : Ayah-Bunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: