Si Kecil Demam? Jangan Buru-buru Panik

Demam merupakan mekanisme pertahanan yang membantu tubuh memerangi infeksi. Kapan Anda perlu memberi si kecil obat penurun panas? Demam merupakan salah satu masalah yang kerap dijumpai dalam mengasuh dan membesarkan anak. Mengapa? Anak memang rentan terhadap infeksi virus seperti pilek atau flu. Karena itu, dapat dimengerti mengapa anak kerap mengalami demam. Tapi tahukah Anda, apa sebenarnya demam, dan berbahayakah demam itu? Menurut spesialis anak, dr Purnamawati Sujud Pujiarto SpAK MMPed, demam merupakan kondisi di mana otak ‘memasang’ suhu di atas normal yaitu di atas 38 derajat Celcius. Dalam tubuh kita, pusat pengaturan suhu terdapat pada bagian kecil di otak yang disebut hipotalamus. Akibat tuntutan peningkatan seting tersebut, maka tubuh akan memproduksi panas. Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu molekul kecil di dalam tubuh kita yang disebut dengan pirogen (zat pencetus panas). Dalam hal ini banyak faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan pembentukan pirogen, antara lain infeksi, radang, keganasan, alergi, pertumbuhan gigi, dan lain-lain. ”Pada bayi dan anak-anak, demam biasanya disebabkan oleh infeksi virus,” kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Purnamawati menegaskan, demam umumnya bukan merupakan kondisi yang membahayakan jiwa. Demam justru merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang membantu memerangi infeksi. ”Demam berfungsi sebagai alarm atau peringatan, telah terjadi sesuatu dalam tubuh kita,” katanya. Pada saat terserang infeksi, tubuh mengerahkan sistem imun dengan membentuk sel darah putih (leukosit). Selain itu, tubuh juga membentuk pirogen lebih banyak untuk membunuh penyebab infeksi seperti virus atau kuman, dan mengarahkan leukosit ke daerah infeksi. Jadi, demam bukanlah penyakit, melainkan gejala yang menjadi bagian dari sistem pertahanan tubuh kita.

Jika demikian halnya, maka orang tua tak perlu buru-buru panik ketika si kecil mengalami demam. ”Yang paling penting adalah mencari tahu penyebab demam dan memahami saat kapan orang tua harus membawa ke dokter,” kata dokter kelahiran Jakarta ini. Walau dibutuhkan oleh tubuh, demam bisa menyebabkan dehidrasi karena meningkatnya pengeluaran cairan tubuh. Pada anak usia enam bulan sampai tiga tahun, terkadang demam disertai kejang-kejang. Jika ini terjadi, Anda jangan terlampau cemas, sebab biasanya kejang demam tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kerusakan otak. Tapi sebaiknya Anda dapat membedakan antara kejang demam dengan kejang akibat infeksi otak.

Kejang akibat demam biasanya membuat seluruh tubuh anak bergerak, dan tidak berlangsung lama. Setelah kejang, anak segera sadar. Lain halnya dengan kejang akibat infeksi otak, yang biasanya berlangsung lama dan berulang-ulang. Walau kejang sudah berhenti, anak tetap dalam kondisi tidak sadar. Ketika anak mengalami kejang demam, orang tua disarankan tetap tenang dan mengamati kondisi anak. Saat anak kejang, baringkan tubuhnya di tempat yang aman dengan posisi tengkurap atau miring agar tidak tersedak. Jangan taruh benda apa pun ke dalam mulut anak, misalnya sendok. ”Apabila kejang reda atau berlangsung lebih dari 10 menit, segera bawa ke dokter terdekat”.

Pertolongan pertama
Ketika si kecil menderita demam, Anda bisa memberi pertolongan pertama. Apa saja yang bisa dilakukan? Pertama, kompres anak dengan air hangat bila suhu anak sangat tinggi, atau anak muntah-muntah sehingga tidak bisa meminum obat. Kompres hangat akan menurunkan suhu tubuh anak dalam waktu 30-45 menit. Selain itu, kompres hangat juga membuat anak merasa lebih nyaman. ”Tidak jarang orang tua terperangah bila saya tidak memberikan obat dan menyatakan cukup kompres saja,” aku Purnamawati.

Untuk mengompres si kecil yang demam, Anda bisa melakukannya dengan mengajak anak berendam di ember mandi (bath tub) yang diisi air hangat bersuhu 30-32 derajat Celcius. Bisa juga, Anda usapkan air hangat ke seluruh tubuh anak. Bila dia menolak, dudukkan di ember berisi air hangat sambil diajak bermain. Untuk mencegah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), beri anak Anda yang tengah demam itu dengan banyak cairan seperti air, sup, dan jus buah segar. Jika dia sering muntah atau diare, berikan minuman elektrolit seperti pedialyte atau oralit. Biarkan anak makan apa yang diinginkannya, tapi hindari makanan berlemak dan makanan yang sulit dicerna. ”Makanan itu akan mengundang rasa mual, akibatnya anak akan sulit makan,” terang Purnamawati.

Selain itu, jaga suhu ruangan agar tidak panas dan pilih baju yang tidak terlalu tebal. Tapi jika demam tidak tinggi, anak tidak perlu dikompres. Beri saja dia minum yang lebih banyak. Bagaimana dengan pemberian obat penurun panas? Obat penurun panas bekerja dengan menghambat enzim Cox (cyclo-oxygenase) sehingga pembentukan prostaglandin terganggu. Kondisi ini akan menyebabkan terganggunya peningkatan suhu tubuh. Artinya, obat penurun panas sama sekali tidak mengobati penyebab demam itu sendiri, seperti kuman atau virus. ”Obat demam bertujuan untuk sedikit menurunkan suhu tubuh dan mencegah kenaikan suhu lebih lanjut”.

Sumber : Republika

1 Response so far »

  1. 1

    vidensia said,

    makasih infonya,langganan dong from batam with love.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: