Hadiah Berharga Pertama Bagi Kehidupan

Konsep pemberian makan bayi usia 0-6 bulan adalah ASI, ASI, dan ASI.

Sebentuk bayi mungil yang masih merah, rambut basah, dan mata merem tampak tengkurang di atas dada ibunya. Cukup lama dia di sana tanpa aktivitas yang berarti. Pemandangan seperti itu yang terkadang membuat dokter dan suster atau bidan tidak tahan sehingga cepat-cepat mengambilnya, dan menyerahkan pada ibunya agar disusui pertama kali.

Namun, setelah 20 menit, tampak bayi yang baru beberapa menit itu lahir mulai menggerakkan kepalanya, lalu hidung dan mulutnya mulai mengendus-endus dada ibunya ke arah kanan. Dia mencoba mencari-cari sumber air susu ibu (ASI). Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) memindahkannya menjauhi arah kanan. Tak lama kemudian sang bayi ‘merangkak’ kembali ke arah kanan mencari puting ibunya.

Pemandangan itu bukan rekayasa. Melainkan salah satu video rekaman yang menggambarkan bagaimana bayi yang baru lahir bila diletakkan di dada ibunya akan mencari sumber ASI. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu di pedalaman di sebuah desa di Bantul, DIY.

Dan benar. Tak sampai satu jam, sang bayi bisa menyusu ASI dengan lahap. Pemandangan tersebut membuat trenyuh siapa pun yang menyaksikan. ”Jadi, beri waktu bayi yang baru lahir satu jam pertama kehidupannya untuk mengenal dan mendapatkan ASI,” tutur Utami.

Itulah yang disebut inisiasi dini, yaitu menyusui langsung setelah bayi lahir. Sayang, tidak jarang bayi yang lahir langsung ditimbang lalu dimandikan dan baru kemudian diserahkan ke ibunya. Lalu sang bayi coba diberi ASI.

Pengenalan ASI awal yang benar adalah bayi yang baru lahir dibersihkan dengan cukup dilap badannya. ”Jangan hilangkan selaput putih yang ada di kepalanya,” kata Utami. Kalau ibu khawatir sang bayi akan masuk angin, kepala mungil tersebut ditutupi topi dan punggungnya ditutup selimut.

Reaksi bayi atas inisiasi dini berlainan. Ada yang tidak lama sudah bisa mulai menghisap puting ibunya. Tapi ada juga yang sudah dipaksa-paksa tetap tidak mau. Ada bayi yang akhirnya tidak bisa atau bahkan tidak mau mengonsumsi ASI.

Pemadangan berikut yang bisa disaksikan usai acara Media Gathering ‘ASI adalah Solusi: respons lembaga peduli ASI terhadap kenaikan Harga Susu’ yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia, Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), pekan lalu, di Jakarta, adalah bayi yang baru lahir dimandikan dulu dan ditimbang, baru kemudian ditaruh di dada ibunya.

Reaksinya lamban sekali. Bahkan, ada yang hampir satu jam baru sang bayi mulai mencari-cari puting ibunya. Itu yang berhasil. Tidak jarang ibu dan orang-orang di sekitarnya sampai putus asa, sang bayi tidak bereaksi. Ini termasuk kelompok bayi yang gagal mengenal ASI pertamanya.

Padahal, ASI pertama yang keluar dari ibu adalah kolostrum, yang sangat kaya nutrisi dan dibutuhkan bayi untuk tahan dari infeksi.

Kalori ASI
Menurut rekomendasi WHO, ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga enam bulan pertama kehidupannya.  Selama itu, tak perlu makanan dan minuman tambahan sebab ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan secara lengkap. Setelah itu ASI tetap diberikan dengan tambahan makanan tambahan yang tepat hingga usia 2 tahun.

”Setelah usia dua tahun, kebutuhan gizi anak dapat dicukupi dengan variasi makanan lokal tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ujar Dr Fransiska E Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps Indonesia.

Utami menganggap kenaikan harga susu dan langkanya susu formula di sejumlah kota beberapa waktu lalu ada blessing in disguise (hikmah) tersendiri, yaitu relaktasi (kembalilah menyusui).

Lulusan FK Unpad itu mengungkapkan, dari 500 ml ASI yang diberikan seorang ibu ke anaknya yang berumur 2 tahun masih dapat memenuhi energi anak sebanyak 31 persen, protein 38 persen, vitamin A 45 persen, dan vitamin C 95 persen.

”Bayangkan bagaimana kalau bayi berusia satu tahun, atau malah enam bulan. Kita bicara masalah gizi,” ujar Sekretaris Selasi itu.

Utami menambahkan, kebutuhan kalori per hari yang dipenuhi dari 500 ml ASI untuk bayi usia 6-8 bulan sebanyak 70 persen, usia 9-11 bulan sebesar 55 persen, dan usia 12-23 bulan sebanyak 40 persen. Di Indonesia, lanjutnya, susu formula lebih sering menyebabkan bayi mencret.

Utami lalu mengutip sejumlah penelitian ilmiah yang menyebutkan, ASI mengurangi 6-8 kali risiko kanker pada anak (limphoma maligna, leukimia, hodgkin, dan neuroblastoma), dan mengurangi 2-5 kali kematian akibat penyakit pernapasan. ASI juga mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema, alergi makanan dan alergi pernapasan selama masa anak-anak. ”Dan, anak ASI 16x lebih jarang dirawat di rumah sakit,” ujarnya. Ia menceritakan, Rafa, cucunya, kini berusia 15 bulan, yang mendapatkan inisiasi dini dan ASI eksklusif selama enam bulan penuh belum pernah sakit apa pun.

”Jadi, kalau mau donasi, hangan belikan susu formula, tapi makanan untuk ibunya,” tegas Utami.

Pendiri YOP dan dokter anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPaed, Purnamawati mengemukakan, terjadi kelirumologi dalam pemberian makan pada batita. Paham yang selama ini dianut ibu-ibu tapi keliru di antaranya adalah:

* bila batita susah makan maka perlu diberi vitamin dan penambah nafsu, serta perbanyak minum susu
* beri formula sesuai usia untuk anak lebih dari setahun
* semakin komplit dan mahal susu formula, semakin baik untuk anak
* tidak tega memberikan susu yang tidak mahal.

”Susu bukan lagi makanan utama bagi anak di atas usia 1 tahun melainkan hanya salah satu asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, dan brokoli,”  kata Purnamawati lulusan FK UI ini menegaskan.

”Menurut saya, kalau mengacu pada gizi seimbang, tidak perlu panik tanpa susu,” kata Ir Kresnawan MSc dari Depkes.

Di akhir presentasinya Utami menunjukkan gambar seorang ibu dari Dhaka, Srilanka, yang memegang dua anak kembarnya, laki-laki-dan perempuan. Dia hanya mampu memberikan susu formula pada satu anak, dan dia pilih anak perempuannya karena dia menganggap anak laki-laki lebih kuat. Sedangkan bayi laki-laki cukup diberi ASI.

Pada gambar tampak di tangan kanan dia memegang anak laki-laki (yang badannya subur dan sehat) sementara di tangan kiri seorang bayi berbadan kecil dan kering (yang perempuan). Satu jam setelah pengambilan foto tersebut oleh WHO, bayi yang di tangan kiri meninggal dunia.

(cis)

Sumber : Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: