Sehat Itu Mudah dan Murah

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga tapi tanya dulu, apa betul butuh obat, berapa obat yang diberikan, karena tidak semua gangguan kesehatan membutuhkan obat termasuk antibiotik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Purnamawati Sujud Pujiarto

Anda mengatakan di media, “Please say no to puyer” (katakan tidak pada obat puyer). Namun kita semua mengetahui bahwa hampir setiap orang saat kesehatannya terganggu selalu berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah obat. Menurut Anda selaku dokter, apakah cara pandang ini sudah benar?

Memang tidak sedikit terjadi kekeliruan di benak kita semua, baik konsumen maupun pemberi jasa layanan kesehatan. Pandangan terhadap obat tadi hanya salah satu bentuk kekeliruan, tetapi masih banyak yang lainnya. Misalnya, kita menganggap kesehatan itu penting setelah jatuh sakit. Padahal justru yang paling penting itu bagaimana menjaga agar kita tetap sehat. Kedua, ketika jatuh sakit sebenarnya hal pertama yang harus ada di benak kita adalah mengapa kita jatuh sakit, apa penyebabnya? Kalau saat ini tidak. Kita batuk maka pergi ke dokter dan meminta obat batuk. Seolah-olah diagnosa itu menjadi tidak penting, yang penting gejalanya hilang. Celakanya, ketika seseorang mempunyai lima atau enam gejala bisa saja dia berakhir dengan pulih farmasi karena satu gejala, satu obat. Itu kendala kalau kita terpaku pada gejala bukan mencari penyebab permasalahan.

Tapi sebagian besar pasien-pasien yang datang ke dokter memang ingin cepat sembuh. Apakah memang seakan-akan dikondisikan pasien adalah obyek yang pasif?

Ya, padahal sebagai yang mempunyai badan semestinya pasien adalah pihak yang paling berkepentingan akan kesehatan dirinya. Ironisnya, kalau berbelanja alat elektronik kita jauh lebih kritis ketimbang ketika belanja alat kesehatan. Ketika berbelanja alat elektronik, kita meluangkan waktu lebih banyak, mencari tahu dulu, dan selalu membeli lengkap dengan buku manual. Namun ketika berbelanja alat kesehatan, kita tidak kritis.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kesatu, mungkin karena budaya kita paternalistik. Kedua, memang mungkin budaya paternalistik ini sedikit banyak dibiarkan menjadi subur. Di era informasi ini masyarakat seharusnya dengan mudah bisa mengakses informasi yang benar untuk mengetahui ke mana harus pergi, dan situs-situs mana yang harus dikunjungi. Di sisi lain, layanan kesehatan yang profesional adalah selain etis yang artinya mengedepankan kepentingan pasien, juga harus kompeten yaitu sesuai perkembangan keilmuan karena ilmu senantiasa berkembang.

Namun untuk penyakit-penyakit gangguan harian, misalnya selesma, flu, diare akut tanpa darah, sudah ada panduannya dan tidak ada perubahan yang signifikan. Semestinya semua orang bisa mengatakan kepada pasiennya bahwa itu karena infeksi virus. Infeksi virus disebut sebagai self limiting disease artinya akan sembuh sendiri dan sama sekali tidak memerlukan antibiotik.

Namun di Indonesia beda bahwa karena banyak kumannya, sehingga meskipun infeksi virus tetap diberi antibiotik. Karena itu tingkat peresepan (pemberian resep) antibiotik di Indonesia tinggi sekali. Akhirnya timbul kekeliruan bahwa si A sembuh dari flu karena obat yang diberikan oleh dokter. Akhirnya, menjadi kebiasaan setiap kali mengalami gangguan yang sama meminta obat termasuk minta antibiotik karena dianggap cespleng (manjur). Itu karena kita para dokter kurang meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan. Dokter cenderung menukar proses konsultasi dengan penulisan secarik resep karena menulis resep itu cenderung jauh lebih mudah ketimbang menerangkan, mengedukasi dan menenangkan pasien.

Mengapa itu tidak bisa dilakukan, apakah itu memang sudah menjadi ritual bahwa pasien datang ke dokter untuk melihat dokter menuliskan resep ketimbang mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka?

Ya. Karena itu saya dalam setiap kesempatan selalu mengajak, yuk coba kita merenung, apa sih maknanya datang ke dokter? Apakah untuk meminta obat? Datang ke dokter itu untuk konsultasi karena yang sulit itu adalah untuk menegakkan diagnosis. Ok, kalau flu atau diare akut itu mudah. Tapi kalau kita terbiasa atau terpaku hanya mengobati gejala maka ketika berhadapan dengan suatu penyakit yang agak serius akan bisa tersesat. Ritual semacam ini seharusnya perlahan-lahan bisa dikikis. Caranya, kedua belah pihak, baik dokter maupun pasien, mau introspeksi diri, mau belajar.

Tadi Anda mengatakan bahwa persoalan yang mendasar adalah bagaimana mengubah kultur kita bahwa kalau sakit perlu obat. Padahal tidak semua persoalan kesehatan kita terapinya obat. Sebetulnya bagaimana kita mengobati diri sendiri untuk penyakit harian seperti flu, pilek, sakit kepala sebelum ke dokter atau sebelum akut?

Jadi ada beberapa isu dari pertanyaan tersebut. Kesatu terapi, kedua penyakit harian, ketiga peran self medication (mengobati diri sendiri). Mengenai terapi, kalau kita kembali ke definisi World Health Organization (WHO) ada lima bentuk, yaitu kesatu, professional advise artinya nasihat profesional, hal ini juga bisa dikategorikan sebagai obat. Ketika penderita demam berdarah datang ke saya maka akan dijelaskan bahwa demam berdarah itu ada dua jenis, demam dengue dan demam dengue yang berdarah (DBD). Saya akan menerangkan bahwa ini termasuk penyakit infeksi virus, self limiting. Kuncinya satu yaitu cairan. Jika kondisinya baik, keadaan umumnya baik, maka tidak perlu dirawat. Tapi kita memberitahu pasien kapan harus segera kembali kalau ada gejala A, B, C, D. Di masyarakat kita omong-omong atau informasi tersebut dianggap bukan obat.

Bentuk terapi kedua yaitu non-drug treatment. Misalnya anak gemuk, kita memeriksa SGOT & SGPT, apakah fungsi hatinya terganggu? Terapinya bukan obat, terapinya adalah mengatasi kegemukannya, mengubah pola hidup. Terapi yang ketiga barulah obat, seperti untuk hipertensi, kencing manis. Terapi yang keempat yaitu rujukan. Di sini juga ada masalah. Ada persepsi kalau kita meminta second opinion (pendapat alternatif) seolah-olah terdapat ada ketidaksenangan, pasien takut dokternya merasa kurang dipercaya. Padahal rujukan itu menguntungkan buat keduanya. Kesatu itu hak pasien, kedua, dokter juga terhindar dari kemungkinan berbuat salah. Bentuk terapi yang kelima adalah kombinasi.

Jadi di sini kita lihat bahwa WHO saja sudah menyatakan obat hanya salah satu bentuk terapi. Jangan dibalik. Ada gangguan kesehatan langsung meminta obat. “Dok, anak saya pilek, minta obat”. “Anak saya diare, minta obat.” Seharusnya, “Dok, anak saya diare, kenapa?” Karena pertanyaan ‘kenapa’ akan menuntun kita ke arah diagnosis. Kalau sudah dapat diagnosis kita tinggal melihat panduan/guideline-nya. Nah, untungnya di era informasi ini kita bisa mengakses informasi guideline-nya. Misalnya, di situs Ikatan Dokter Anak Amerika dengan mudah kita bisa meminta guideline. Misalnya, anak kita eksim maka kita tinggal menulis dermatitis, eksema, dan meminta guideline-nya. Nanti keluar apa penyebabnya, bagaimana menanganinya, bagaimana mencegahnya. Ada transparansi.

Apakah di Indonesia juga ada semacam hal itu?

Organisasi profesinya sudah mulai tapi belum untuk awam. Tetapi tidak masalah karena eksim di seluruh dunia sama saja menanganinya.

Untuk mengakses kesehatan itu rasanya agak eksklusif?

Memang dibuat seperti eksklusif tapi sebetulnya tidak eksklusif. Ya, di Indonesia kalau bisa dibuat susah kenapa dibuat gampang. Seolah-olah kesehatan itu misterius. Padahal dalam dunia kedokteran, dalam dunia kesehatan itu tidak boleh ada rahasia.

Ini sebetulnya berguna sekali buat masyarakat awam memahami penyakit sehari-hari. Mengapa tidak diberikan pedoman khusus buat kita cara mengatasinya dalam bahasa Indonesia sebagai pengetahuan karena pendidikan pasien itu sangat beragam? Apakah di sini belum ada semacam situs untuk memberikan informasi semacam itu?

Bisa googling, ada beberapa situs. Sekarang kita ada mailing list kesehatan. Kami membuat web sehat http://www.sehatgroup.web.id Kita menerjemahkan beberapa guidelines dari luar negeri, seperti penyakit bawaan anak, batuk, diare, demam, sehingga masyarakat tahu bahwa demam itu sebetulnya justru functional. Ada tujuannya Tuhan menciptakan fenomena demam karena itu bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Demam itu bukan penyakit, itu alarm, cari penyebabnya. Demamnya sendiri tidak berbahaya. Penyebabnya yang kita teliti. Itu yang disebut dengan guideline.

Masyarakat seharusnya menguasai guideline untuk penyakit ringan seperti demam, batuk, pilek, diare, muntah, dan sakit kepala karena itu tinggal browsing di google.com, atau masuk ke situs http://www.americanfamilyphysician.com atau ke situs mayo clinic. Jadi kita bisa mengetahui kalau sakit kepala berkelanjutan harus hati-hati karena mungkin bisa sinus, gigi, mata, bisa tumor otak. Nah itu penyebabnya dan tugas dokter di situ. Jadi jangan mengeliminir tugas dokter menjadi hanya pemberi obat.

Saya sangat setuju sekali bahwa kita harus mengubah kultur mengenai kesehatan agar saat kita sakit mengetahui kapan memerlukan obat karena terapi juga bagian dari obat. Bagaimana cara mengubah kultur kita yang demikian?

Kita harus terus bekerjasama, bahu membahu, yang mempunyai kesempatan, yang mempunyai kemampuan harus belajar. Ibaratnya, mengapa kita bisa teliti dan kritis kalau saat membeli HP, namun kok saat membeli obat buat anak, puyer pula, kita tidak kritis dan tidak mencari tahu apa saja obat yang ada di dalam situ, apakah cocok dengan gangguan kesehatan si anak. Masyarakat seharusnya mengetahui baik dan bahayanya peresepan obat dalam bentuk puyer. Ketika di negara tropis stabilitas obat saja sudah dipertanyakan, ini malah dicampur dan digerus.

Apakah tradisi obat puyer ini hanya di Indonesia saja atau negara lain?

Hanya di Indonesia. Karena itu saya mengatakan apa sih dosa anak Indonesia sehingga dapat puyer. India yang miskin tidak ada puyer. Afrika yang miskin juga tidak ada puyer. Salah satu dalih dokter karena puyer itu murah, kalau menurut saya itu tidak benar. Dalih dokter untuk mempertahankan puyer itu semata-mata karena sulit untuk keluar dari comfort zone. Jadi mari kita bersama-sama yuk kita keluar dari comfort zone itu.

Apa yang dokter maksud dengan comfort zone?

Menulis resep itu tidak sulit, tiga menit selesai. Resepnya template. Coba kumpulkan resep buat 1.000 anak. Isinya kurang lebih sama. Ironisnya, kita menunggu dokter 30 menit tapi di ruang konsultasi hanya lima menit. Ini seharusnya terbalik. Kalau menurut saya bukan salah tenaga medisnya, ini kesalahan kita bersama. Kalau kita lihat hak azasi manusia, salah satu klausulnya adalah hak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik itu hak buat semua orang.

Mengapa guideline kesehatan hanya dimuat situs? Bagaimana cara mereka mengakses situs tersebut?

Untuk mengakses informasi kesehatan yang paling efisien dan efektif adalah dari internet. Saya mengasuh milis sehat, yaitu sehat@yahoogroups.com yang anggotanya hampir 7.000 dan 93% dari anggota tersebut tidak memiliki komputer di rumah.

Mereka mengaksesnya di kantor sewaktu lunch, atau pagi-pagi, atau mau pulang kerja mampir ke warung internet (Warnet). Satu jam di Warnet hanya Rp 10.000, sedangkan berapa biaya ke dokter? Tuhan itu maha adil, dan orang miskin itu disayang Tuhan. Anaknya batuk, pilek, meler tidak dibawa ke dokter anak. Anaknya main bola, main di sungai, hujan-hujanan, viral infection (infeksi karena virus), makannya lalap. Sedangkan anak kota makannya junkfood. Sakit sedikit dibawa ke dokter. Tiga hari masih meler dibawa ke dokter lagi diganti antibiotiknya dan dikasih yang lebih kuat. Padahal jelas ini adalah viral infection. Makin sering anak dikasih antibiotik akan makin sering sakit. Tapi tolong dicatat bahwa ini bukan masalah anti terhadap antibiotik. Antibiotik adalah barang yang sangat berharga dan salah satu penemuan penting dalam dunia kedokteran. Saya malah mengatakan itu karunia Tuhan yang luar biasa, sama seperti vaksin, dengan catatan gunakanlah dengan benar dan bijak.

Bagaimana cara menggunakan antibiotik dengan benar?

Itu musti tesis sendiri. Di makalah itu saya tulis, kalau pilek jelas tidak butuh antibiotik, berapapun suhu si anak. Diare tanpa darah mau 10 – 11 kali sehari tetap tidak butuh antibiotik. Nah, guideline-guideline seperti itu bisa dilihat di Centers for Disease Control (CDC) bisa juga lihat di web sehat. Mudah sekali sebenarnya. Makanya saya tulis di makalah sebetulnya kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu.

Walaupun saya yakin ini ada di situs, kapan sebetulnya kita perlu antibiotik?

Kita membutuhkan antibiotik jika ada infeksi kuman jahat yang tidak dapat diatasi oleh tubuh. Jadi ada dua hal. Kesatu, ada kuman jahat. Kedua, tubuh tidak bisa mengatasi sendiri. 98% kuman itu baik. Badan kita penuh dengan kuman. Jadi kuman jahat itu seperti TBC, infeksi saluran kemih, tifus tapi bukan gejala tifus. Tidak ada diagnosis gejala tifus. Adanya tifus atau bukan, tidak ada diagnosis gejala. Apalagi diagnosis yang ganda seperti, “Ibu, ada gejala DB dan gejala tifus.” Itu biasanya bukan kedua-duanya. Seharusnya kita bertanya, “Dok, ini DB atau bukan? Tifus atau bukan?” Jawabannya harus salah satu. Bukan kedua-duanya. Itu gunanya kita membekali diri sehingga ketika kita jatuh sakit kita sudah mempunyai pemahaman. Sepanik-paniknya pun kita tetap bisa berdiskusi dengan dokternya karena ini badan kita. Jadi infeksi yang perlu antibiotik adalah TBC, tifus, meningitis dan infeksi-infeksi yang berat, pneumonia yang berat.

Jadi kalau pilek dan batuk itu belum perlu?

Tidak. Cuma di Indonesia batuk pilek berobat ke dokter anak. Jadi ketidaktahuan pasien jangan terus dipelihara. . Mohon maaf.

Saya tertarik dengan soal puyer. Ketika kita mempunyai anak kecil dan diberikan puyer, apakah sebagai pasien kita bisa menolak pemberian puyer oleh dokter dan minta diberikan obat lain karena menurut dokter Purnamawati puyer itu tidak selalu kita butuhkan?

Bukan tidak selalu, puyer memang tidak dibutuhkan. Jangan ada abu-abu, kita tegas saja. Jadi begini, ketika membawa anak ke dokter, nomor satu kita harus tahu alasannya kenapa kita ke dokter. Nah, orang Indonesia hobinya ada dua, yaitu ke mall dan ke dokter. Sedikit-sedikit ke dokter. Makanya tadi saya mengatakan Tuhan itu sayang dengan orang miskin. Diare tetap diberi air susu ibu (ASI), membuat air tajin, membuat air daun jambu, maksudnya sih cairan. Ketika orang kota berobat ke dokter dan diketahui bahwa ini diare akut karena virus yang obatnya cuma satu yaitu oralit, mereka marah. “Memangnya saya orang miskin, sudah antri begitu lama ternyata cuma diberikan oralit. Tahu seperti itu saya berobat ke Puskesmas saja.” Padahal oralit itu adalah salah satu penemuan yang sangat berharga dalam dunia kedokteran yang berhasil menyelamatkan ratusan jiwa manusia. Orang kota menganggap oralit bukan obat. Orang kampung kalau sakit sekali baru datang ke Puskesmas dapatnya oralit. Jadi, justru kelas menengah sosial ke atas ini yang paling terpapar pada pola pengobatan yang tidak rasional dan pada perpuyeran itu. Dengan asumsi ingin anaknya cepat sembuh dengan berbagai alasan seperti ibunya sibuk, tidak ada pembantu, tidak ada waktu, panik, tidak tega, dan lain-lain. Saya suka mengembalikan seperti ini mari kita reposisi perasaan tidak tega itu.

Untuk infeksi virus yang tidak butuh obat, apakah kita tega memberikan anak kita begitu banyak obat? Ingat, populasi yang paling rentan mengalami efek obat itu adalah manusia usia lanjut (manula) dan anak kecil. Kalau orang tua sakit, saya stres setengah mati. Kalau cucu sakit, saya stres. Tapi stres ini mari kita arahkan ke energi positif. Kalau untuk penyakit harian bacalah guideline kesehatan. Kurikulum kesehatan bagi para orang tua itu cuma empat, yaitu demam, batuk-pilek, diare, muntah, lalu ditambah pemberian makan dan imunisasi yang benar. Cuma empat, dibandingkan sama kurikulum SMA juga kalah. Masa kita tidak mau belajar agar kita tahu.

Kembali ke soal puyer, puyer itu banyak sekali maslahatnya, tetapi ketika anak ke dokter, nomor satu kita tanya indikasinya. Kalau sudah bergabung di milis sehat dan baca pasti tahu. Batuk-pilek itu tidak usah ke dokter kecuali sesak, biru, tapi jangan disamakan dengan asma. Di Indonesia anak batuk itu memakai obat asma, keliru sekali. Jadi untuk menenangkan orangtuanya kadang-kadang saya nakal. Saya kasih saja terapi agar ibunya tenang. Padahal anaknya tidak butuh obat tapi sebagai dokter anak, saya butuh ibunya puas.

Jadi, kalau ke dokter nomor satu harus bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter, seperti apakah mau tanya diagnosis? Misalnya, “Dok, bagaimana guideline-nya untuk asma. Yang saya baca guideline-nya seperti ini tapi saya kurang paham. Tolong terangkan Dok.” Jadi pasien juga harus berdaya karena yang mempunyai badan adalah pasien itu sendiri. Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga. Nomor satu kita tanya dulu, apa betul anak saya butuh obat, berapa obat yang diberikan. Misalnya, “Mohon maaf Dok, yang pertama ini obat apa?” Biasakan menghitung jumlah obat di kertas resep. Menghitungnya gampang, hitung saja jumlah barisnya. Kalau lebih dari dua baris, jangan ditebus sebab kalau anak kita gawat bukan resep yang diberikan melainkan oksigen, infus, dikirim ke unit gawat darurat (ICU) dihubungi. Kalau interaksi itu masih berakhir dengan secarik kertas resep artinya anak-anak kita masih dalam kondisi baik. Tunggulah sebentar, cari informasi dan tanya dokternya. Misalnya, kalau diberi antibiotik, tanyakan ini antibiotik apa? Antibiotik kelas mana? Apakah ringan, sedang, atau berat?” Kalau diberi yang berat, tanyakan, “Dok, kok dikasih kelas berat memangnya anak saya sakit apa?” Nah, terkadang kita keliru meminta dokter antibiotik yang paling mahal, yang baru, yang paten, dengan pertimbangan buat anak saya mahal tidak masalah. Padahal di Indonesia, mahalnya ongkos tidak identik dengan kualitas yang baik, mohon maaf.

Sumber : http://www.perspektifbaru.com/

5 Responses so far »

  1. 1

    limmy said,

    terima kasih utk dr wati.
    artikel ini saya copy utk dikirim ke temen2 sesama ibu. sangat berguna utk pencerahan buat orang tua.

  2. 2

    heruyaheru said,

    blognya hebat! sangat bermanfaat! hidup dr wati! dr wati for president 2009!

  3. 3

    kurang vareatif………………..

  4. 4

    Ibunya Fathya said,

    artikel yang membuka wawasan baru…..

  5. 5

    leilaniwanda said,

    Reblogged this on Leila's Blog and commented:
    Pentin-penting-penting!


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: