Karena Sekotak Obat, Hati Berontak

“Semua obat, bila penggunaannya tidak tepat, dapat mengganggu fungsi hati”.

Gangguan hati pada anak seperti sebuah keriaan. Awalnya sepi, lama-kelamaan semakin ramai. Kini pasien anak dengan label penderita gangguan hati terkumpul dalam jumlah tinggi. Paling tidak, begitulah data yang terkumpul di meja praktek spesialis anak dari Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed ini. Ahli hati anak ini menjadi sejumlah rujukan dari dokter anak untuk pasien-pasien yang mengalami gangguan hati.

Setelah mencoba merunut pemicu di balik derita tersebut, sang dokter yang biasa dipanggil Wati pun menemukan bahwa penggunaan obat yang berlebihan adalah pemicunya. Ia lalu menunjuk sejumlah resep yang digunakan dengan obat yang tak seharusnya diberikan kepada balita. Seperti pemberian obat TB untuk anak yang didiagnosis bronkitis, padahal baru berusia 6 minggu.

Wati menjelaskan, bayi berusia nol hingga enam bulan, kemampuan hatinya rendah sehingga kepiawaiannya untuk mengikis ataupun membuang racun dari obat pun masih minim. Demikian juga dengan kemampuan ginjal. Kondisinya serupa dengan orang lanjut usia, yang fungsi hati dan ginjalnya sudah menurun. Kedua kelompok usia ini paling terpapar kasus penggunaan obat secara berlebihan.

Pemberian yang berlebihan itu telah membuat hati merana. Wati menjelaskan, kebanyakan obat tidak larut dalam air sehingga perlu diproses dalam hati agar larut dalam air. Proses selanjutnya, obat akan dibuang dari tubuh melalui ginjal menjadi urine atau lewat usus menjadi tinja. Proses metabolisme terbagi dua tahapan.

Pertama, dengan bantuan keluarga enzim P450 atau diolah enzim lain, seperti gluthation yang mengubahnya menjadi produk larut air dan siap dibuang. Zat antara yang dihasilkan tersebut berpotensi merongrong sel hati. Karena itu, ada tahap kedua, yakni langkah menetralisasi zat antara yang beracun itu. “Semua obat, bila penggunaannya tidak tepat, dapat mengganggu fungsi hati,” ujarnya. Maksudnya, tidak tepat indikasinya, tidak tepat dosisnya.

Wati menyebutkan kerusakan sel hati lazimnya terjadi jika suatu obat diberikan bersamaan dengan obat lain yang merangsang enzim P450 atau menghambat enzim gluthation. Contoh, parasetamol, bila diberikan secara berlebihan dan bila dicampur obat lain yang merangsang enzim P450 seperti Rifampisin Fenobarbital atau INH, akan memicu jumlah racun melonjak.

Demikian juga dengan obat TB seperti Pirazinamid, Rifampisin, dan INH. Kumpulan obat ini berisiko tinggi merusak hati, terlebih jika digabung dengan obat lain yang berisiko juga, seperti antikejang dan parasetamol. Lantas, antibiotik yang dianggap dewa obat oleh kebanyakan tak luput dari perannya sebagai pemicu berontaknya sel hati. Terutama yang golongan makrolid dan kloramfenikol karena bisa menghambat enzim P450 sehingga pembuangan obat lain terganggu.

Pemilihan obat dan dosis obat untuk anak memang harus tepat. Menurut Wati, perlu dipertanyakan juga apakah si anak memang memerlukan obat. Sebab, ada beberapa gangguan kesehatan pada anak akan sembuh dengan sendirinya alias tidak memerlukan obat. Hal inilah yang perlu diketahui oleh orang tua. Bayangkan, dari obat demam pun bisa berakhir pada penderitaan hati. Saat ini ada beragam antidemam di pasar, seperti ibuprofen, asetaminofen, asetosal, asam mefenamat, dan metamizole. Yang tergolong paling aman saat ini adalah asetaminofen dengan dosis 10-15 miligram per kilogram. “Asetaminofen aman selama dosis tidak berlebih. Efek yang ada iritasi saluran cerna,” katanya. Adapun ibuprofen berefek lebih panjang. Di samping memicu rasa mual, juga dapat menyebabkan iritasi perdarahan saluran cerna hingga gagal ginjal.

Sementara itu, antidemam yang mengandung asam mefenamat tidak dianjurkan untuk demam pada anak karena memiliki efek samping anemia hemolitik-anemia yang dipicu oleh pecahnya sel darah merah lebih cepat dari usia regenerasi sel darah merah. Hati-hati juga dengan yang memiliki kandungan metazole karena menyebabkan reaksi alergi berat dan agranulositosis-berkurangnya jumlah sel darah putih dalam darah. Asetosal juga tidak dibolehkan diberikan pada anak berusia kurang dari 16 tahun. Selain risiko seperti iritasi perdarahan saluran cerna, efek terberat konsumsi asetosal bisa menyebabkan sindrom Reye.

Menurut Wati, sindrom Reye tak lain adalah suatu kondisi yang mengancam jiwa, yang pada intinya melibatkan kelainan otak dan hati. Ciri-ciri terjadinya gangguan fungsi hati, antara lain muncul rasa mual, muntah, dan sakit pada perut sebelah kanan, serta timbulnya warna kuning pada bagian putih mata, kuku, dan kulit.

Ia memaparkan, aspirin atau asetosal merupakan obat yang memiliki efek samping antiinflamasi, tetapi bukan golongan steroid. Selain berperan sebagai antiradang, aspirin juga memiliki sifat analgesik alias pereda rasa sakit dan antipiretik atau penurun demam. Indikasi pemberian aspirin adalah penghilang rasa sakit, antiinflamasi. Aspirin juga digunakan pada infark jantung dan hiperagresasi trombosit (kekentalan darah) karena bisa mengencerkan darah.

Nah, pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus berpeluang besar menimbulkan sindrom Reye. Gejala biasanya anak mengalami penurunan kesadaran, kejang-kejang, dan gagal hati. Karena itu, dunia kedokteran memutuskan untuk melarang pemberian aspirin pada anak yang usianya kurang dari 16 tahun. Jadi, siapa bilang dengan obat kita selamat? Bukan antiobat, tapi cermat dan teliti lah! RITA

Sumber : Koran Tempo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: