Diare = Reaksi Alami

Hanya diare plus darah yang harus diobati.

Boleh dibilang hampir semua orang pernah merasakan derita akibat buang air besar berkali-kali alias diare. Biasanya, yang terpikir dalam benak setiap orang adalah obat untuk memampatkannya alias yang beraksi stop diare. Solusi seperti itu diperkuat oleh tayangan komersial yang menyarankan untuk menghentikan gejala tersebut dengan cara menelan obat pemampat. Pada orang dewasa, kondisi ini sudah bisa membuat orang menderita, apalagi pada anak-anak. Lazimnya, jalan keluarnya pun sama.

Saat ini, ada sederet obat diare untuk anak yang kerap diberikan kepada para bocah. Sebut saja kaolin, smectite (Smecta), LactoB, atau obat jamur dan antibiotik. Bertolak belakang dengan saran iklan di layer televisi, obat stop diare justru tidak diperlukan. Dr Zakiudin Munasi, SpA(K) menyebutkan diare adalah reaksi alami ketika ada “benda asing” yang masuk ke tubuh. Ia menjelaskan, ketika ada racun menerobos ke dalam tubuh, otomatis ada respons dari tubuh. Nah, aksi yang muncul adalah mengeluarkan racun tersebut dengan cara buang air besar. Sering kali harus berkali-kali.

Spesialis anak dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ini menjelaskan bahwa hal tersebut natural dan tak perlu distop dengan obat-obatan. “Dengan menelan obat pemampat, racunnya berarti tak keluar alias mengendap dalam tubuh,” ia menuturkan beberapa waktu lalu dalam peluncuran sebuah produk susu untuk anak. Hal senada juga dilontarkan oleh spesialis anak lain, dr Purnamawati Sujud Pujiarto, dalam kesempatan terpisah. Dokter Wati, demikian biasa ia disapa, menyatakan bahkan dalam SOP, diare dengan atau tanpa muntah hanyalah gejala, bukan penyakit. Karena itu, yang terpenting adalah mencari penyebabnya.

Wati menyebutkan penyebab utama diare adalah infeksi virus, maka obatnya adalah cairan rehidrasi oral (oralit) dan air susu ibu (ASI) untuk mencegah dehidrasi. Orang, terutama yang tinggal di kota-kota besar, saat ini sudah menganggap remeh peran oralit. Dianggapnya sebagai obat kampung. Padahal, di dunia medis, jelas-jelas bahwa diare akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. “Tidak ada obat yang diperlukan selain cairan dehidrasi oral,” Wati menegaskan.

Walhasil, Wati menyebutkan, ketika terserang diare, konsultasi ke dokter pun tak perlu berakhir dengan secarik kertas resep, apalagi dengan catatan nan panjang. “Pemberian obat-obat tersebut tidak ada SOP tata laksana diare dan muntah, juga tidak ada evidence-nya,” ia menegaskan. Ia pun menjelaskan satu per satu obat yang disebut sebagai “penyembuh” diare itu. Misal, kaolin. Dalam informasi di situs Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak ditemukan soal obat ini. “Obat ini memang tidak dipakai di negeri lain,” ujarnya.

Bahkan, Wati menyebutkan produsen obat ini menyatakan dengan jelas bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan pada infeksi E coli, salmonella, shigella, juga diare plus darah serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai kasus bedah lain. Ia mengingatkan, kaolin dapat menimbulkan efek samping yang disebut toxic megacolon, yakni terkumpul dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga racun-racun yang seharusnya dikeluarkan tubuh akan meracuni tubuh. “Selain itu, ada warning untuk tidak memberikan Kaopectate karena ada kandung aspirin di dalamnya,” ujarnya.

Diare pada orang normal tidak memerlukan antijamur. “Obat antijamur justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan karena obat tersebut membunuh jamur ‘baik’ yang ada dalam usus kita,” kata Wati. Perlukah antibiotik? Ia menyebutkan hanya diare akibat parasit yang umumnya ditandai darah dalam tinja yang perlu antibiotik. Memang hanya jenis diare plus darah ini yang harus dikonsultasikan dengan dokter. Namun, bila disebabkan kuman tidak perlu obat jenis itu karena pemberian antibiotik akan mengganggu flora normal di usus hingga memicu gangguan pencernaan termasuk diare berkepanjangan.

Wati memaparkan bahwa antibiotik juga menyebabkan kolitis pseudomembranosa, yaitu suatu kondisi ketika usus besar dilapisi selaput akibat banyaknya kuman–yang aslinya bukan kuman jahat–sehingga proses penyerapan air di usus besar terganggu dan terjadilah diare berkepanjangan.

Bila balita mengalami diare plus muntah, dokter pun sering meresepkan antimuntah. Wati menjelaskan, muntah ada dua jenis, yakni karena kelainan usus yang memerlukan pembedahan dan muntah karena infeksi. “Sebagian besar muntah pada bayi dan anak disebabkan oleh virus gastroenteritis,” ujarnya. Walhasil pemberian obat muntah sangat melawan proses fisiologis tubuh untuk membuang racun. Pada kasus muntah yang perlu tindakan bedah pun, pemberian antimuntah bisa menyesatkan. “Belum lagi antimuntah juga menimbulkan efek samping,” Wati mewanti-wanti. RITA NARISWARI

Sumber : Koran Tempo

4 Responses so far »

  1. 1

    toso said,

    salam bu Wati🙂
    Saya cukup mudah terkena diare. biasanya kalau saya mengkonsumsi sambal sachet-an atau sirup jeruk, beberapa jam akan langsung diare. apakah cukup diberi oralit saja?

    terimakasih🙂

  2. 2

    erna said,

    dokter..mohon bantuannya..

    anakku Valerian lahir 20 maret 2008,BB 3.50 kg, dan panjang 50 cm

    full asi hanya sampai 3 bulan,karena saya minum pil kb..asi saya berangsur-angsur sedikit.

    karena alergi susu sapi (alerginya batuk pilek dan nafas bunyi grok-grok-an),maka sejak usia 3 bulan saya beri sufor nutrilon soya (maaf nyebut merk)

    dan sekarang saya sedang bingung sekali.

    anakku sudah hampir dua minggu ini sakit.secara kronologis saya uraikan :

    senin (16/2/9) badan anakku valerian (11month) panas tinggi suhunya 38 lebih..saya beri panadol syrup..panas kemudian turun,beberapa jam kemudian panas tinggi kembali…

    selasa (17/2/9) badan masih panas,mulai muncul ruam2 merah dan bintil2 di dengkul kaki kanan kirinya,dan juga sariawan diseluruh mulutnya.anak masih mau makan dan minum susu soya (merk nut..lon)

    rabu (18/2/9) badan panas tinggi 39.7,anak tidak mau makan sama sekali,hanya minum susu saja itupun sedikit,dari mulutnya terus menerus keluar air liur…

    pagi langsung dibawa ke Dsa langganan di sebuah RS Int di jakarta timur.di diagnosa terkena virus kuku mulut dan tangan,oleh Dsa diberi puyer dan obat sirup felosep.

    kamis (19/2/9) dan jumat (20/2/9) keadaan valerian tetap panas,saya mandikan pake air PK,bintil2 di dengkulnya mulai menciut dan sudah tidak ada airnya,tapi muncul keluhan lain yaitu buang2 air besar terus menerus (jadi komplit,sariawan,BAB,bintil2merah,panas)

    sabtu (21/2/9),valerian saya bawa ke UGD di RS yg sama,tapi saya ganti Dsa,kondisinya sudah sangat payah.karena tidak mau makan dan minum,karena takut dehidrasi akhirnya anakku di infus dan dirawat.darah dan feces di cek ke lab, anak diberi obat2an keopectate,bactrim (semacam antibiotik),dan suplement food bio GL,

    selama di rawat walaupun sering BAB tapi feces anak tidak cair,dan mulai berbentuk.keadaan anak mulai membaik,dari hasil uji lab.diketahui bahwa anakku ternyata bukan terkena virus kuku dan mulut seperti yang Dsa langganannya bilang,memang ada virus tapi bukan virus kuku dan mulut. Dsa yang barunya memberitahu bahwa enzim pencernaan anak saya sedang tidak bagus dan di feces juga tidak ada bakteri.serta adanya malabsorpsi lemak,sehingga menyebabkan anak muncul bintil2 didengkul,dan mengenai sariawannya hanya sariawan biasa yang kebetulan parah karena anakku sedang tidak fit,dan diberitahu pula bahwa obat felosep yang diberikan oleh Dsa yang lama memang menyebabkan diare.

    akhirnya anakkku dibawa pulang selasa (24/2/9),selama dibawa pulang,obat yg diberikan hanya bactrim saja,

    rabu (25/2/9) anakku kelihatan sehat sekali…tetapi.. pada malam harinya anakku mulai BAB terus menerus,makan tidak mau minum juga tidak akibatnya kondisinya drop kembali

    kamis (26/2/9) anakku di bawa ke Dsa yang barunya (dsa yg selama dirawat),dan hanya diberi obat kaopectate,bactrim,dan bio GL kembali.karena khawatir dengan pemeriksaan di RS tersebut…apalagi saya sudah browsing bahwa selama diare jangan diberi obat anti diare karena obat tersebut hanya mengentalkan feces saja sehingga menyamarkan diagnosa.maka saya pindah lagi ke Dsa lain,yang tidak memberikan antibiotik.

    kamis sore,akhirnya anak saya dirawat kembali di RS yang berbeda,di beri infus dan di beri obat zinc,karena dia muntah baru sekali diberi obat vometa drops untuk muntahnya,serta pedialyte untuk diarenya.anak saya mulai mau minum dan makan walaupun sedikit.tinja kembali diperiksa. hasilnya saya uraikan :

    karaketrisitik tinja :

    penglihatan makroskopis : cair (+),lendir (+), bau bsk (-), darah (-), warna kuning hijau, lembek (+),

    penglihatan mikroskopis : leukosit (++), bakteri (+), lemak (++), eritorsit (+), parasit (-)

    pemeriksaan terinci : Ph : 6.0, gula negatif,

    pengecatan Gram : Basil Gram negatif (+)

    diagnosis kerja : infeksi usus karena bakteri gram negatif, malabsorpsi lemak

    anjuran pengobatan : antibiotika : Cefixim

    susu formula nut.lon soya dapat dilanjutkan

    akhirnya anakku dikasih antibiotik nucef,dan minggu (1/3/9) dibawa pulang kerumah walaupun kondisi masih muntah 2 dan diare terus menerus.

    dokter yang baik hati,,,,saya sebagai ibu sudah bingung harus diberi pengobatan seperti apa lagi anakku,sementara anak dirawat dirumah saja dengan diberi makan dan obat2an dari RS sebelumnya (nucef,vometa,zinckid),tapi kondisinya terus saja lemah,berat badan awalnya 11.2, sekarang sudah 9.8.karena dia tidak mau makan,Dsa nya memberi masukan ganti susu juga dengan pepti junior atau pregistimil.saat ini anak saya hanya ingin minum air putih,dan saya akalin biar dia makan bubur + biskuit farleys + pisang raja bulu.

    takutnya dia alergi susu soya juga..

    khawatir sekali melihatnya…mohon bantuan info,,,

    regards..

    bunda valerian
    erna@iahc.net

  3. 3

    ummu azzam said,

    bismillah..dokter yang baik, sekitar 2 minggu yang lalu anak saya azzam diopname karena muntaber. ceritanya begini sore hari anak saya mulai muntah, kemudian malam hari tidak bisa tidur dan mutah terus. setiap kali saya kasih minum asi, air putih atau susu formula selalu dimuntahin. dan mulai panas badannya, mungkin karena tidak ada cairan yang masuk dan mulai encer faecesnya. saya ciba kasih oralit juga muntah. paginya saya bertahan mencoba merawat azzam dirumah saja dengan hanya tiduran dan nenen asi terus. tetapi sampai dengan sore hari keadaan azzam tidak membaik tapi malah tambah panas, terus muntah dan BAB. akhirnya saya nyerah dan sangat khawatir dg kondisi anak saya dan melarikan ke RS. sampai di RS langsung dirujuk DSA nya supaya opname, dan kita setuju. di RS di infus,suntik antibiotik dan obat anti mual. setelah tidak muntah boleh pulang. setelah dirumah muntahnya kambuh lagi sedang diarenya masih saja. saya jadi bingung, begitu lepas infus anak saya muntahnya kambuh lagi. bingung dan khawatir sekali saat itu. akhirnya azzam dibawa ke ahli herbal. dan dicekok kunyit dan ramuan lain. qodarulloh dengan seijin Allah anak saya berhenti muntahnya dan sudah berangsur membaik. dokter apa yang harus kita lakukan klo anak terus muntah setiap kali kita masukin makanan atau minuman sedang badannya panas dan diare terus ?..sebagai ibu pasti khawatir dg kondisi seperti itu. dan tidak bisa menganggap hal itu wajar. terimakasih

  4. 4

    puput said,

    Bu dokter, anak saya 6 bulan 3 minggu baru mulai mpasi dengan menu gasol dan buah2an. 10 hari yang lalu, tiba2 badannya panas sampai 39 derajat dan bab sebanyak 8x sehari dengan tekstur hijau dan berlendir. Karena panik akhirnya saya mau saja kasih obat syrup sanprima untuk anak saya. 2 hari kemudian sembuh… Tapi kemarin dia tiba2 panas lagi dan BAB 4 x sehari, warnananya juga kembali hijau dan encer sekali. waktu tanya ke kakak ipar yang dokter katanya suruh kasih obat sanprima lagi… Saya bingung bu… apa yang harus saya lakukan, sementara saya kuarng setuju dengan pemberian obat apalgi setealh baca artikel ibu. mohon pencerahannya.
    Terima kasih


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: