Dampak Penggunaan Antibiotik yang Irasional

Kamis, 17 September 2009 | 11:22 WIB

KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.

Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak rasional.

“Kenyataannya, kita ‘boros’ dalam menggunakan antibiotik sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama,” sesal dr Purnamawati S Pujiarto, SpA (K), MMPed, yang akrab disapa Wati ini.

Selain itu, ada beragam efek yang mengancam bila anak mengonsumsi antibiotik secara irasional, di antaranya kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, ruam kulit, gangguan saluran cerna, pembengkakan bibir maupun kelopak mata, hingga gangguan napas. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini berisiko menimbulkan alergi di kemudian hari.

Dampak lain akibat pemberian antibiotik irasional adalah gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Risiko kelainan hati muncul pada pemakaian antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid.

Golongan amoxycillin dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis (peradangan hati). Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Selain itu, pemberian antibiotik spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu perkembangan flora normal usus karena dapat mematikan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh. Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, seperti bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan serta pembentukan vitamin B dan K.

Nah, anak yang kelebihan antibiotik bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah perdarahan. Selain itu, juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan mengalami iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.

Diare disebabkan terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus sehingga bakteri “jahat” menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan.

Akibat lain dari pemberian antibiotik yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap makhluk memiliki kemampuan untuk bertahan, begitu pun bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus-menerus, akan tercipta suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi atau berubah bentuk sehingga sulit dibunuh oleh antibiotik. “Jadi, semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin resisten pula bakteri, parasit, atau jamur tersebut!” tandas Wati.

Bibit penyakit yang resisten itu dikenal dengan nama superbugs. Superbugs ini dapat menjadi masalah serius bagi kesehatan, baik bagi si penderita maupun masyarakat luas. Bila ada anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Infeksi akibat superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping kesehatan yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya akan kebal kembali terhadap antibiotik yang superkuat tadi.

Itulah sederet akibat buruk dari penggunaan antibiotik secara berlebihan (irasional). “Yang akan dirugikan tentu bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Wati. Lantaran itu, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, atau batuk.

Memang, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat bakteri atau kuman sehingga tak lepas perannya dalam proses penyembuhan. Akan tetapi, penggunaan yang irasional menyebabkan antibiotik lebih banyak merugikannya ketimbang menguntungkan. (Nakita/Hilman Hilmansyah)

Sumber : Kompas

12 Responses so far »

  1. 1

    Ananta said,

    Untuk beberapa hal saya sepakat.. Tp paragraf pertama saya kurang sepakat.. Memang benar antibiotik merusak tubuh.. Tp merusak itu jika penggunaannya tidak tepat.. Obat yg msk ke dalam tubuh ditujukan utk bbrp tujuan. Salah satunya adalah sprt antibiotik.. yaitu mencegah infeksi dalam tubuh… Ya klo dalam tubuh terdapat infeksi, ya antibiotik itu dpt mencegah infeksi itu.. memang betul antibiotik itu dapat merusak tubuh (kalo penggunaannya tdk tepat), tp tentunya infeksi lbh mrusak tubuh, maka tentunya perlu dibasmi infeksi tersebut.. So ksimpulannya mnurut saya.. Antibiotik pada penggunaan yg tepat sangatlah bermanfaat…

  2. 2

    mytemporarykitchen said,

    dok, ijin untuk ngelink blog dokter di blog saya yah…untuk tujuan yang bermanfaat kok…thanks, ya bu dokter…

  3. 3

    rogayah bachmid said,

    sebagai ibu yang tidak mengenyam pendidikan kedokteran . apa yang sebaiknya saya lakukan bila anak sakit??????????

    saya datang kedokter ingin anak saya sembuh , bukan malah tambah sakit. atau hanya sembuh diluar , tapi merusak yang lain didalam.

    makasi udah jawab.

    • 4

      izza said,

      coba belajar dari internet bu. udah join milis sehat belum?coba deh gabung, insya allah akan dapet pencerahan disana

    • 5

      R10 said,

      Di Indonesia ini jadi ortu musti extra smart Bu. Banyak belajar sehingga bisa diskusi dengan dokter dan tidak menjadi sasaran iRUM (Irrational Use 0f Medicine)

  4. 6

    Ria - Solo said,

    Boleh share ke FB ya bunda..?..Makasih…

    @Bp.Ananta : Yg dimaksud dokter Wati jg spt itu pakk…maksudnya kalo seandainya sakitnya cuma krn infeksi VIRUS -mis.common cold- kan kita gak perlu asupan AB..gitu loohhh…dan memang betul kalo penggunaannya gak rasional, bisa kambuh lg penyakitnya..malah kebal tuh virus…

  5. 7

    dr.yusuf said,

    saya juga sangat setuju dengan artikel dokter ini. memang di indonesia ini sepertinya antibiotik malah dikira masyarakat sebagai obat wajib yang harus diberikan pada semua penyakit.

    terkadang saya kesal bila orang tua pasien malah meminta diresepkan saya untuk memberi antibiotik pada anaknya yang sakit flu, jarang skali saya menemukan orang tua yang berkata “ga perlu di kasih antibiotik kan dok”, malah lebih sering yang bertanya “ga dikasih antibiotik dok?” untuk anaknya yang sedang flu.

    Semoga semakin banyak dokter yang sadar untuk memberikan antibiotik seperlunya saja, dan kepada masyarakat di harapkan untuk tidak membiasakan diri meminum antibiotik secara sembarangan.

    • 8

      R10 said,

      dr.yusuf praktek dimana dok? Saya sudah 2 tahunan cari-cari dokter seperti dr.yusuf belum ketemu-ketemu juga sampai saat ini.

  6. 9

    yoesoef olla said,

    terima kasih atas semua info nya bunda sangat bermanfaat buat kami orang tua muda terima kasih terima kasih

  7. 10

    novi said,

    bunda, izin repost yaa..makasih🙂

  8. 11

    ajeng said,

    Bunda,,ijin copas y🙂 tq

  9. 12

    ira said,

    dok.. izin copas yaaa? ^_^


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: