Salah Guna Petaka pun Tiba

 

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat memicu kuman jadi kebal.

Penyakit pun lebih sulit disembuhkan.

BEBERAPA studi menunjukkan peng gunaan antibiotik cenderung berlebihan dan umumnya justru diberikan kepada penyakit atau kondisi yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Hal itu merupakan permasalahan kesehatan yang serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Penelitian WHO di Indonesia pada 2005 menemukan 50% resep di puskesmas dan rumah sakit di Indonesia mengandung antibiotik. Survei nasional 2009 menemukan antibiotik diresep kan untuk penyakitpenyakit yang disebabkan virus seperti diare akut dan selesma (flu). Padahal, antibiotik hanya mempan bagi bakteri, bukan virus.

Studi yang dilakukan Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM pada 1998 juga menemukan berbagai penggunaan antibiotik yang jauh dari ideal. Hampir semua penderita infeksi saluran pernapasan atas nonpneumonia (92-98%), baik dewasa maupun balita, mendapatkan paling tidak satu jenis antibiotik jika mereka berobat ke puskesmas. Di praktik swasta, fenomena itu ternyata juga tidak berbeda. Penggunaan antibiotik yang tidak patut mencapai 82%-89%.

Hasil serupa ditemukan juga pada studi oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang menunjukkan untuk anak-anak penderita infeksi virus, seperti demam yang sesungguhnya bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat-obatan, diberi antibiotik (86,4%). Demikian juga dengan diare (74,1%).

Di masyarakat, kebiasaan membeli antibiotik tanpa resep kerap dilakukan. Masyarakat kerap membeli antibiotik dengan resep yang pernah didapat sebelumnya.

Hal-hal tersebut tergolong sebagai penggunaan antibiotik yang irasional atau tidak tepat sasaran.

Penggunaan antibiotik yang irasional jelas merugikan pasien. Selain rugi uang karena harus membeli obat yang tidak perlu, pasien juga berisiko tidak sembuh dan mengalami efek samping.

Lebih dari itu, penggunaan antibiotik yang irasional berpotensi membuat kuman menjadi kebal obat. Pengobatan penyakit pun jadi lebih sulit.

“Jika penggunaan antibiotik irasional tidak dibenahi, kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan,” ujar perwakilan WHO dr Sharad Adhikary dalam lokakarya kesehatan di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/3) lalu.

Menurut Sharad kekebalan terhadap antibiotik bukan hal baru. Namun, itu makin lama makin mengkhawatirkan dan membahayakan. Karenanya pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia 7 April mendatang WHO mengambil tema Antimicrobial resistance: no action today no cure tomorrow.

Pada kesempatan sama, Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada Iwan Dwi Prahasto menjelaskan bentuk ketidakrasionalan penggunaan antibiotik cukup beragam, mulai ketidaktepatan dalam pemilihan jenis antibiotik hingga cara dan lama pemberiannya.
Harus cerdas Menurut Iwan, peresepan antibiotik yang tidak perlu merupakan salah satu fenomena buruk di dalam dunia ke dokteran.
d Terlebih, selain kerap meresepkan m antibiotik yang tidak t perlu, banyak dokter gemar g meresepkan antibiotik nongenerik n yang mahal.

Lebih lanjut Iwan menggambarkan rentang harga antibiotik yang begitu bervariasi.
Contohnya untuk antibiotik jenis siprofloksasin merek dagang (branded generic) yang patennya p sudah habis pada 2003, 2 harga bervariasi mulai Rp1.200 hingga lebih dari Rp29 R ribu.

“Artinya, untuk jenis obat yang sama, perbedaan harga antarmerek dagang bisa mencapai 23 kali lipat. Perbedaan itu akan terlihat semakin lebar l mencapai 100 kali lipat manakala m dibandingkan dengan siprofloksasin generik yang harganya cuma Rp345,” papar p Ketua Ikatan Ahli Farmakologi m Indonesia itu.

Dalam menghadapi fakta demikian, masyarakat dituntut cerdas dalam berobat. Ia menegaskan pasien berhak bertanya dan berdiskusi dengan dokter saat s konsultasi. “Dokter bertug menolong, tapi Anda yang gas menentukan. Toh, tidak ada yang bisa memberi garansi jika harga obat 50 kali lebih mahal, Anda A akan 50 kali lebih cepat sembuh.”

Hal senada juga diungkapkan salah satu penasihat Yayasan Orang Tua Peduli, konsultan anak dr Purnamawati S Pujiarto SpA(K).
Menurutnya, saat ini di ruang periksa dokter pasien sering kali berakhir sebagai pihak yang cenderung `terima jadi’ dan kurang memiliki daya tawar (bargaining power).

“Penting bagi masyarakat untuk lebih proaktif mencari informasi dan mencerdaskan diri agar dapat menjadi konsumen kesehatan yang lebih berdaya,” ujar dokter yang akrab disapa Wati itu.

Sebenarnya, lanjut Wati, penyakit harian seperti demam, flu, dan batuk jarang sekali membutuhkan obat. Terapi sebuah penyakit pun tidak selalu harus dilakukan dengan konsumsi obat.

“Oleh karena itu, jangan berniat ke dokter sekadar untuk meminta obat. Jangan gantikan konsultasi dengan selembar kertas resep,” pungkas dokter yang aktif mengampanyekan pola penggunaan obat yang rasional dan keselamatan pasien itu. (H-2)
sumber : http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/03/30/ArticleHtmls/30_03_2011_027_023.shtml?Mode=0

1 Response so far »

  1. 1

    fadiel said,

    Saya mahasiswa kedokteran, saya sedang membutuhkan data untuk tugas akhir..
    Kalau boleh tau sumber refrensi tulisan diatas terutama paragraf 2 dan 3 dari mana ya? Link media Indonesia nya gk bisa dibuka..
    Mohon bantuannya..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: