Archive for April, 2011

Agar Bakteri Tak Makin Digdaya

“SAYA tebus dosa itu mulai enam tahun lalu.” Pengakuan blakblakan itu disampaikan Trinovi Riastuti kepada Tempo dua pekan lalu. Ibu dua anak itu benar-benar menyesali perbuatannya: menyetujui pemberian antibiotik buat anak sulungnya-Tristan, kini 9 tahun-yang sakit setiap bulan. Ia merinding membayangkan efeknya: bakteri-bakteri jahat di tubuh anaknya bisa resisten terhadap antibiotik atau malah membunuh bakteri baik di tubuh Tristan.

Daya tahan tubuh Tristan memang lebih lemah ketimbang Nathan, si adik, yang lebih bebas antibiotik. Enam tahun lalu, sejak Nathan masih di kandungan, Ria-sapaan akrabnya-sudah menjauhi penggunaan antibiotik. Bahkan hingga kini Nathan belum pernah bersentuhan dengan antibiotik, meski ia juga berulang kali batuk, pilek, demam, atau diare.

Perubahan “ideologi” itu terjadi setelah Ria bergabung menjadi anggota milis sehat. Ria tak sendirian. Banyak ibu muda, seperti Dyah Christanti dan Vida Parady, bersikap serupa. “Kalau anak sakit, seperti demam, paling dikasih parasetamol,” kata Vida, “kan penyebabnya virus, jadi tak perlu antibiotik.”

Purnamawati, dokter spesialis anak yang mengomandani Yayasan Orangtua Peduli sejak 2003, tempat milis sehat bernaung, berharap makin banyak orang tua atau pasien cerdas seperti Ria, Dyah, serta Vida. “Sebab, penggunaan antibiotik secara berlebihan akan menimbulkan berbagai masalah, termasuk alergi,” katanya.

Kerugian lain, terbuka kemungkinan terjadi gangguan keseimbangan flora (kuman dan mikroorganisme lainnya) di saluran cerna. “Mulai mulut sampai anus penuh kuman dan berbagai mikroorganisme baik,” ujarnya. Penelitian membuktikan, terganggunya bakteri dan flora normal bisa menimbulkan penyakit di usus besar, seperti ulcerative (infeksi kolon) dan kanker kolon.

Menilik banyaknya dampak negatif penggunaan antibiotik yang tidak rasional, kehati-hatian sangat diperlukan agar bakteri-bakteri jahat di dalam tubuh tak makin digdaya. “No action today, no cure tomorrow,” kata Purnamawati.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/KSH/mbm.20110418.KSH136449.id.html

Advertisements

Leave a comment »

Bijaksana Menggunakan Antibiotik

Bijaksana Menggunakan Antibiotik

BOLA mata Dyah Christanti seakan hendak mencolot saat melihat kulit di sekujur tubuh anak semata wayangnya, Banyu Bening, melepuh. Warna kulit bayi sembilan bulan itu kemerahan dengan luka terbuka seperti bekas sabetan senjata tajam. Tak mau ambil risiko, pagi itu, 1 Juli 2008, Banyu segera dilarikan ke Rumah Sakit Bunda, Jakarta. “Dokter mendiagnosis Banyu terkena sindrom Stevens-Johnson,” kata warga Menteng Atas Selatan, Jakarta, itu dua pekan lalu.

Sindrom Stevens-Johnson adalah sindrom gawat yang muncul sebagai reaksi atas pemberian obat-obatan, termasuk antibiotik. Tanda paling kentara adalah munculnya ruam dan lepuh di sekujur tubuh, yang menyebabkan kulit mudah terkelupas.

Perempuan 32 tahun itu ingat betul, dua hari sebelumnya Banyu mendapat lima macam obat lantaran mengalami kejang demam akibat infeksi saluran pernapasan akut. Obat-obatan yang diberikan dokter di rumah sakit terdekat dengan rumahnya itu, sebelum ke RS Bunda, adalah Luminal, CTM, Oradexon, Stesolid Rectal, dan Amoxicillin.

Seperti tertulis dalam rekam medis Banyu, sindrom Stevens-Johnson terjadi akibat Amoxicillin. Dokter Widodo, yang merawat Banyu di RS Bunda, juga menyatakan demikian. Berbagai situs tentang ihwal sindrom tersebut menguatkan dugaan itu, meski ada juga serentetan obat lain yang bisa menimbulkan gejala serupa.

Tristan adalah contoh lain korban antibiotik. Anak lelaki yang kini berusia sembilan tahun itu selalu mendapat antibiotik setiap kali batuk, pilek, atau demam. “Paling tidak sebulan sekali,” kata Trinovi Riastuti, sang ibu. Ketika itu, Ria-demikian ia biasa dipanggil-dan suaminya senang karena menganggap obat tersebut paling manjur.

Kini kebiasaan memberi antibiotik berbuntut tak sedap. Meski tak bisa menyebut sebagai efek langsung penggunaan sering antibiotik, kata dia, “Saat sakit, masa pemulihan Tristan lebih lama dibanding adiknya, Nathan.”

Model pemberian antibiotik tanpa diagnosis jelas, seperti dialami Banyu dan Tristan, jamak terjadi. Hal itulah yang membuat banyak kalangan risau, termasuk Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sebab, penggunaan seperti itu terbukti membuat bakteri menjadi resisten alias kebal terhadap antibiotik (superbug). Jika itu terjadi, untuk mengalahkan bakteri tersebut, pasien membutuhkan antibiotik yang lebih kuat, dengan harga lebih mahal.

“Use Antibiotics Rationally”, itulah topik yang diteriakkan WHO dalam Hari Kesehatan Dunia pada 7 April lalu. Tanpa usaha serius, resistensi terhadap bakteri terus meruyak, kata dokter Samlee Plianbangchang, Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara, “Kita akan kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan.”

Penggunaan antibiotik secara tidak tepat di Indonesia bisa dilihat dari hasil penelitian “Antimicrobial Resistance in Indonesia”. Profil penggunaan antibiotik di Rumah Sakit Kariadi, Semarang, dan RS Soetomo, Surabaya, dijadikan subyek penelitian.

Tim dari tiga universitas di Belanda digandeng menjadi auditor dalam penelitian yang berlangsung pada 2005 itu. Hasil audit tim Belanda di Soetomo menunjukkan 80 persen dokter meresepkan antibiotik, padahal tak ada indikasi pasien memerlukan obat itu. Sedangkan di Semarang, angkanya lebih kecil, yakni 53 persen. “Tampak sekali adanya penggunaan antibiotik yang tidak rasional,” kata dokter Hari Paraton, pemimpin proyek penelitian, dalam seminar Hari Kesehatan Dunia di Jakarta dua pekan lalu.

Ada bejibun bakteri yang kini resisten gara-gara penggunaan secara sembarangan antibiotik. Di Jakarta, misalnya, penisilin sudah mengalami resistensi 78,5 persen sehingga dinilai tak layak lagi digunakan untuk pengobatan. Padahal antibiotik ini sempat cespleng untuk mengobati penyakit kelamin gonore atawa kencing nanah, yang disebabkan bakteri Neisseria gonorrhoeae.

Yang lebih dahsyat, Acinetobacter baumannii, bakteri gram negatif yang menyebabkan infeksi nosokomial alias infeksi yang timbul saat pasien dirawat di rumah sakit, kini sudah tak mempan lagi dihajar dengan antibiotik apa pun. Para dokter berpendapat pengobatan pasien yang terpapar bakteri ini tinggal dengan doa.

Ahli mikrobiologi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Agus Syahrurachman, mengingatkan akan bahaya bakteri yang sudah resisten. Dari seorang pasien yang terjangkit, bakteri ini bisa menclok dan menular ke orang lain dengan kualitas yang sama sehingga pengobatannya makin sulit. “Ini harus menjadi perhatian semua pihak,” katanya. Terutama dokter.

Rianto Setiabudy dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia punya sederet jawaban kenapa peresepan antibiotik sering kali tidak rasional. Salah satunya adalah kolusi dokter dengan industri farmasi. “Ini sangat mengganggu dan membuat malu, tapi ini adalah fakta,” katanya.

Menurut dia, ada dokter yang mengejar target meresepkan jenis antibiotik tertentu demi memperoleh bonus, misalnya rumah atau mobil baru. Agar kondisi ini tak makin parah, Rianto meminta berbagai lembaga yang berwenang, seperti Ikatan Dokter Indonesia dan Gabungan Pengusaha Farmasi, mencari cara jitu agar praktek kolusi tersebut bisa dihentikan.

Cara lain agar peresepan antibiotik lebih rasional diusulkan Purnamawati S. Pujiarto, dokter spesialis anak yang bergiat di Yayasan Orangtua Peduli, Jakarta. “Masyarakat harus tahu makna kunjungan ke dokter,” katanya, “Jangan diartikan sebagai upaya meminta obat atau antibiotik, tapi sebagai upaya diskusi mencari penyebab penyakit dan untuk mengetahui diagnosisnya.”

Kredo yang ditanamkan Purnamawati itulah yang kini mengalir dalam darah Dyah dan Ria setelah bergabung dalam milis sehat yang dikelola Purnamawati. Mereka akan cerewet saat menghadapi dokter, termasuk dalam urusan obat dan antibiotik.

Derita Banyu sudah berselang tiga tahun, tapi Dyah tak akan pernah lupa. Beruntung, setelah sembilan hari dirawat, kondisi Banyu berangsur-angsur sehat dan kulitnya kembali normal. Saat ditemui Tempo di rumahnya dua pekan lalu, Banyu, kini tiga setengah tahun, menemani ibunya sambil asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah. “Sebelumnya, saya sudah pasrah. Sebab, dari hasil browsing, banyak kasus pengidap sindrom Stevens-Johnson nyawanya tak tertolong,” kata Dyah dengan mata berbinar-binar.

Dwi Wiyana

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/KSH/mbm.20110418.KSH136448.id.html

Leave a comment »

Indonesian Doctors Criticized for ‘Alarming’ Use of Antibiotics

April 16, 2011

The use of antibiotics has reached an alarming level in Indonesia, fueled by poor diagnosis, ignorance and poor regulation of drugs, experts say.

“Irrational use of drugs, including antibiotics, is a global problem, but sporadic surveys show that the use of antibiotics in Indonesia has reached an excessive level,” said Purnamawati, a pediatrician and founder of the Foundation for Concerned Parents.

The most recent survey, conducted by Purnamawati’s foundation in 17 Indonesian cities, revealed that antibiotics were prescribed in 78.4 percent of cases of respiratory and stomach illnesses in children in 2008 — against 54.5 percent in 2006.

Such conditions are generally caused by viruses that are not treated by antibiotics, Purnamawati said.

The survey also showed that on average five different brands of drugs, including antibiotics and antihistamines, were prescribed for every case of respiratory infection, with generic drugs accounting for less than a quarter of drugs prescribed.

“Polypharmacy [the use of more drugs than necessary] is rampant not only in Jakarta, but also in other cities,” Purnamawati told IRIN. “Apart from the financial cost, there’s an intangible cost when we are prescribed antibiotics when we don’t need them. It’s a very high price to pay.”

Misuse of medicines, particularly antibiotics, leaves patients with fewer options for treatment when bacteria become resistant, said the World Health Organization’s representative in Indonesia, Khanchit Limpakarnjanarat, at a recent seminar.

In Southeast Asia, misuse and poor access to other drugs continue to be major components of the widespread inappropriate use of antibiotics, according to WHO. A comprehensive study led by the WHO and government is under way.

Patients too often demand that doctors prescribe antibiotics because they believe the drugs will speed up recovery, said Hari Paraton, chairman of the Antimicrobial Resistance Control Programme at Dr Soetomo Hospital in Surabaya.

“The situation is the same across Indonesia,” he said. “Doctors, pharmacists and the public contribute to the problems.”

IRIN

http://www.thejakartaglobe.com/news/indonesian-doctors-criticized-for-alarming-use-of-antibiotics/435815

Leave a comment »

Foto Kegiatan WHD 10 April 2011

Leave a comment »

Bijak Gunakan Antibiotik

Indira Permanasari

Saat anak pertamanya yang berusia tujuh bulan mengalami batuk, demam, dan muntah, Ayu (34) segera membawanya ke dokter. Dokter mendiagnosis putri Ayu terkena infeksi saluran pernapasan akut. Dokter lantas meresepkan sirup penurun panas dan antibiotik amoksisilin.

Begitu pula saat berusia satu tahun, putri Ayu kena diare selama empat hari. Lagi-lagi dokter meresepkan antibiotik. Resep antibiotik kembali diberikan setiap anak batuk pilek, demikian Ayu yang menyimpan rapi catatan kesehatan putrinya menuturkan.

Tetapi, lama-kelamaan Ayu melihat putrinya kian mudah sakit. ”Hampir tiap bulan ke dokter,” ujarnya. Ayu lalu mencari tahu tentang masalah kesehatan anak lewat internet dan mendapat banyak informasi terkait penggunaan antibiotik. ”Saya baru tahu, ternyata common cold pada anak umumnya disebabkan virus. Pemberian antibiotik malah sia-sia dan anak menjadi rentan sakit,” katanya.

Mita (bukan nama sebenarnya) mengalami hal serupa. ”Dulu, saya sering panik kalau anak sakit. Kadang saya sendiri yang minta dokter meresepkan antibiotik,” katanya.

Suatu kali anaknya mengalami bisul di kemaluan. Setelah pemeriksaan laboratorium, dipastikan anaknya perlu antibiotik. Namun, Mita terkejut saat dokter menyatakan, kuman yang menyerang anaknya sudah resisten terhadap banyak antibiotik. ”Dokter bilang tidak mudah mencari antibiotik untuk kuman itu dan harga obat sangat mahal,” kata Mita.

Tak rasional

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional makin meresahkan. Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema ”Use Antibiotics Rationally” dalam peringatan Hari Kesehatan Dunia ke-60 pada 7 April.

Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh bakteri yang dapat menghambat atau membunuh bakteri jenis lain.

Dokter spesialis anak sekaligus pendiri dan pembina Milis Sehat yang aktif mengedukasi masyarakat tentang penggunaan obat rasional,

Purnamawati S Pujiarto, mengatakan, antibiotik tidak berguna untuk penyakit yang disebabkan virus. Antibiotik spektrum luas, contohnya tetrasiklin, efektif terhadap berbagai jenis bakteri, baik bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif. Adapun antibiotik spektrum sempit, misalnya penisilin dan isoniazid, efektif hanya pada bakteri tertentu.

Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada Iwan Dwi Prahasto, dalam sebuah lokakarya pekan lalu, mengkhawatirkan ketidakrasionalan penggunaan antibiotik. Ketidakrasionalan itu beragam, mulai dari menggunakan antibiotik dengan jenis tidak tepat, dosis tidak tepat, frekuensi keliru, hingga waktu konsumsi terlalu lama atau cepat, mengurangi efikasi antibiotik sebagai pembunuh bakteri.

Purnamawati menyatakan, anak merupakan populasi yang paling sering terpapar antibiotik tidak rasional, misalnya saat demam, radang tenggorokan, dan diare akut. Padahal, ketiga kondisi itu umumnya ringan, bisa sembuh sendiri, dan tidak membutuhkan antibiotik jika akibat virus.

Antibiotik dapat digunakan pada infeksi bakteri, seperti radang telinga, radang paru, infeksi saluran kemih, dan meningitis.

Resistensi

Iwan serta Guru Besar Ilmu Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ascobat Gani menyatakan, terapi antibiotik yang tidak efektif menimbulkan masalah resistensi (kekebalan) kuman serius. Bakteri mampu bermutasi sehingga tahan terhadap antibiotik. Resistensi memunculkan superbug, yaitu bakteri yang tidak dapat dibunuh oleh antibiotik paling mutakhir.

Pada gilirannya, banyak penyakit infeksi yang tidak dapat disembuhkan sehingga membahayakan kesehatan masyarakat. Kuman yang sudah resisten dapat menginfeksi siapa pun dan menyebabkan sakit lebih berat, lebih lama, serta memperbesar risiko kematian. Untuk membasmi kuman ini, perlu antibiotik lebih kuat dan harganya tentu jauh lebih mahal.

Di sisi lain, pengembangan antibiotik baru tidak selalu cepat. ”Pengembangan antibiotik terakhir tahun 2007. Kita berlomba dengan kuman resisten,” kata Iwan.

Perwakilan dari WHO, Dr Sharad Adhikary, mencontohkan, Carbapenem (antibiotik paling mutakhir) tidak dapat lagi membunuh bakteri NDM-1 (New Delhi metallo-beta-laktamase-1) yang dapat menyebabkan infeksi berat dan kematian.

Beberapa kuman lain yang kebal terhadap antibiotik adalah methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), vancomycin-resistant enterococci (VRE), dan Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan extended-spectrum beta-lactamase (ESBL).

Purnamawati berpendapat, masyarakat perlu menyadari bahwa yang paling bertanggung jawab atas kesehatannya adalah diri mereka sendiri dan jangan menyerahkan semua kepada tenaga kesehatan. ”Untuk setiap obat, tanyakan kandungan aktif obat, cara kerjanya, kondisi yang mengindikasikan harus mengonsumsi obat itu, cara pakai, dan risiko efek samping serta kondisi yang merupakan kontraindikasi obat itu, termasuk saat diresepkan antibiotik,” katanya.

http://cetak.kompas.com/read/2011/04/05/03515649/bijak.gunakan.antibiotik

Comments (1) »

%d bloggers like this: