Agar Bakteri Tak Makin Digdaya

“SAYA tebus dosa itu mulai enam tahun lalu.” Pengakuan blakblakan itu disampaikan Trinovi Riastuti kepada Tempo dua pekan lalu. Ibu dua anak itu benar-benar menyesali perbuatannya: menyetujui pemberian antibiotik buat anak sulungnya-Tristan, kini 9 tahun-yang sakit setiap bulan. Ia merinding membayangkan efeknya: bakteri-bakteri jahat di tubuh anaknya bisa resisten terhadap antibiotik atau malah membunuh bakteri baik di tubuh Tristan.

Daya tahan tubuh Tristan memang lebih lemah ketimbang Nathan, si adik, yang lebih bebas antibiotik. Enam tahun lalu, sejak Nathan masih di kandungan, Ria-sapaan akrabnya-sudah menjauhi penggunaan antibiotik. Bahkan hingga kini Nathan belum pernah bersentuhan dengan antibiotik, meski ia juga berulang kali batuk, pilek, demam, atau diare.

Perubahan “ideologi” itu terjadi setelah Ria bergabung menjadi anggota milis sehat. Ria tak sendirian. Banyak ibu muda, seperti Dyah Christanti dan Vida Parady, bersikap serupa. “Kalau anak sakit, seperti demam, paling dikasih parasetamol,” kata Vida, “kan penyebabnya virus, jadi tak perlu antibiotik.”

Purnamawati, dokter spesialis anak yang mengomandani Yayasan Orangtua Peduli sejak 2003, tempat milis sehat bernaung, berharap makin banyak orang tua atau pasien cerdas seperti Ria, Dyah, serta Vida. “Sebab, penggunaan antibiotik secara berlebihan akan menimbulkan berbagai masalah, termasuk alergi,” katanya.

Kerugian lain, terbuka kemungkinan terjadi gangguan keseimbangan flora (kuman dan mikroorganisme lainnya) di saluran cerna. “Mulai mulut sampai anus penuh kuman dan berbagai mikroorganisme baik,” ujarnya. Penelitian membuktikan, terganggunya bakteri dan flora normal bisa menimbulkan penyakit di usus besar, seperti ulcerative (infeksi kolon) dan kanker kolon.

Menilik banyaknya dampak negatif penggunaan antibiotik yang tidak rasional, kehati-hatian sangat diperlukan agar bakteri-bakteri jahat di dalam tubuh tak makin digdaya. “No action today, no cure tomorrow,” kata Purnamawati.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/KSH/mbm.20110418.KSH136449.id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: