Bijaksana Menggunakan Antibiotik

Bijaksana Menggunakan Antibiotik

BOLA mata Dyah Christanti seakan hendak mencolot saat melihat kulit di sekujur tubuh anak semata wayangnya, Banyu Bening, melepuh. Warna kulit bayi sembilan bulan itu kemerahan dengan luka terbuka seperti bekas sabetan senjata tajam. Tak mau ambil risiko, pagi itu, 1 Juli 2008, Banyu segera dilarikan ke Rumah Sakit Bunda, Jakarta. “Dokter mendiagnosis Banyu terkena sindrom Stevens-Johnson,” kata warga Menteng Atas Selatan, Jakarta, itu dua pekan lalu.

Sindrom Stevens-Johnson adalah sindrom gawat yang muncul sebagai reaksi atas pemberian obat-obatan, termasuk antibiotik. Tanda paling kentara adalah munculnya ruam dan lepuh di sekujur tubuh, yang menyebabkan kulit mudah terkelupas.

Perempuan 32 tahun itu ingat betul, dua hari sebelumnya Banyu mendapat lima macam obat lantaran mengalami kejang demam akibat infeksi saluran pernapasan akut. Obat-obatan yang diberikan dokter di rumah sakit terdekat dengan rumahnya itu, sebelum ke RS Bunda, adalah Luminal, CTM, Oradexon, Stesolid Rectal, dan Amoxicillin.

Seperti tertulis dalam rekam medis Banyu, sindrom Stevens-Johnson terjadi akibat Amoxicillin. Dokter Widodo, yang merawat Banyu di RS Bunda, juga menyatakan demikian. Berbagai situs tentang ihwal sindrom tersebut menguatkan dugaan itu, meski ada juga serentetan obat lain yang bisa menimbulkan gejala serupa.

Tristan adalah contoh lain korban antibiotik. Anak lelaki yang kini berusia sembilan tahun itu selalu mendapat antibiotik setiap kali batuk, pilek, atau demam. “Paling tidak sebulan sekali,” kata Trinovi Riastuti, sang ibu. Ketika itu, Ria-demikian ia biasa dipanggil-dan suaminya senang karena menganggap obat tersebut paling manjur.

Kini kebiasaan memberi antibiotik berbuntut tak sedap. Meski tak bisa menyebut sebagai efek langsung penggunaan sering antibiotik, kata dia, “Saat sakit, masa pemulihan Tristan lebih lama dibanding adiknya, Nathan.”

Model pemberian antibiotik tanpa diagnosis jelas, seperti dialami Banyu dan Tristan, jamak terjadi. Hal itulah yang membuat banyak kalangan risau, termasuk Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sebab, penggunaan seperti itu terbukti membuat bakteri menjadi resisten alias kebal terhadap antibiotik (superbug). Jika itu terjadi, untuk mengalahkan bakteri tersebut, pasien membutuhkan antibiotik yang lebih kuat, dengan harga lebih mahal.

“Use Antibiotics Rationally”, itulah topik yang diteriakkan WHO dalam Hari Kesehatan Dunia pada 7 April lalu. Tanpa usaha serius, resistensi terhadap bakteri terus meruyak, kata dokter Samlee Plianbangchang, Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara, “Kita akan kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan.”

Penggunaan antibiotik secara tidak tepat di Indonesia bisa dilihat dari hasil penelitian “Antimicrobial Resistance in Indonesia”. Profil penggunaan antibiotik di Rumah Sakit Kariadi, Semarang, dan RS Soetomo, Surabaya, dijadikan subyek penelitian.

Tim dari tiga universitas di Belanda digandeng menjadi auditor dalam penelitian yang berlangsung pada 2005 itu. Hasil audit tim Belanda di Soetomo menunjukkan 80 persen dokter meresepkan antibiotik, padahal tak ada indikasi pasien memerlukan obat itu. Sedangkan di Semarang, angkanya lebih kecil, yakni 53 persen. “Tampak sekali adanya penggunaan antibiotik yang tidak rasional,” kata dokter Hari Paraton, pemimpin proyek penelitian, dalam seminar Hari Kesehatan Dunia di Jakarta dua pekan lalu.

Ada bejibun bakteri yang kini resisten gara-gara penggunaan secara sembarangan antibiotik. Di Jakarta, misalnya, penisilin sudah mengalami resistensi 78,5 persen sehingga dinilai tak layak lagi digunakan untuk pengobatan. Padahal antibiotik ini sempat cespleng untuk mengobati penyakit kelamin gonore atawa kencing nanah, yang disebabkan bakteri Neisseria gonorrhoeae.

Yang lebih dahsyat, Acinetobacter baumannii, bakteri gram negatif yang menyebabkan infeksi nosokomial alias infeksi yang timbul saat pasien dirawat di rumah sakit, kini sudah tak mempan lagi dihajar dengan antibiotik apa pun. Para dokter berpendapat pengobatan pasien yang terpapar bakteri ini tinggal dengan doa.

Ahli mikrobiologi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Agus Syahrurachman, mengingatkan akan bahaya bakteri yang sudah resisten. Dari seorang pasien yang terjangkit, bakteri ini bisa menclok dan menular ke orang lain dengan kualitas yang sama sehingga pengobatannya makin sulit. “Ini harus menjadi perhatian semua pihak,” katanya. Terutama dokter.

Rianto Setiabudy dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia punya sederet jawaban kenapa peresepan antibiotik sering kali tidak rasional. Salah satunya adalah kolusi dokter dengan industri farmasi. “Ini sangat mengganggu dan membuat malu, tapi ini adalah fakta,” katanya.

Menurut dia, ada dokter yang mengejar target meresepkan jenis antibiotik tertentu demi memperoleh bonus, misalnya rumah atau mobil baru. Agar kondisi ini tak makin parah, Rianto meminta berbagai lembaga yang berwenang, seperti Ikatan Dokter Indonesia dan Gabungan Pengusaha Farmasi, mencari cara jitu agar praktek kolusi tersebut bisa dihentikan.

Cara lain agar peresepan antibiotik lebih rasional diusulkan Purnamawati S. Pujiarto, dokter spesialis anak yang bergiat di Yayasan Orangtua Peduli, Jakarta. “Masyarakat harus tahu makna kunjungan ke dokter,” katanya, “Jangan diartikan sebagai upaya meminta obat atau antibiotik, tapi sebagai upaya diskusi mencari penyebab penyakit dan untuk mengetahui diagnosisnya.”

Kredo yang ditanamkan Purnamawati itulah yang kini mengalir dalam darah Dyah dan Ria setelah bergabung dalam milis sehat yang dikelola Purnamawati. Mereka akan cerewet saat menghadapi dokter, termasuk dalam urusan obat dan antibiotik.

Derita Banyu sudah berselang tiga tahun, tapi Dyah tak akan pernah lupa. Beruntung, setelah sembilan hari dirawat, kondisi Banyu berangsur-angsur sehat dan kulitnya kembali normal. Saat ditemui Tempo di rumahnya dua pekan lalu, Banyu, kini tiga setengah tahun, menemani ibunya sambil asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah. “Sebelumnya, saya sudah pasrah. Sebab, dari hasil browsing, banyak kasus pengidap sindrom Stevens-Johnson nyawanya tak tertolong,” kata Dyah dengan mata berbinar-binar.

Dwi Wiyana

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/KSH/mbm.20110418.KSH136448.id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: