YOP, ReAct, Thai visit…

Jakarta, 11 Mei 2011 jam 19.25

Dear all
Mumpung badan lagi not very delicious hehehe, mau buat “laporan” selayang pandang. Siapa tahu bisa menambah wawasan buat merenung

PRA THAI VISIT
April ternyataaaa …. Hectic juga
Ditambah deg2an Famgath
Alhamdulillaah satu persatu terlalui dg baik. Big big thx for the great tim of YOP n sehatgroup as well as the marvellous famgath team.

Kamis tg 28 packing. Persiapan semua materi buat di Thai. Beres jam 2 an pagi, tenaaaang

Jumat, pagi hari cucu, coba excercise sedikit, belanja snacks buat di thai. Malam sama windhi jemput dr firman (pake salah jemput; nangkring di blok M padahal dr firman di depan SMA 6). Otw ke markas lewat kemang, muacett hehehe untung W baik, mau turun beliin avocadocoffee nya excelso hehehe.

Sampai markas diskusi 1 jam an lah re materi bangkok sama anto dan W dan F. Anto pulang after midnite, yg lain nginep di markas

Tg 30 april jam 6.30 saya dan dr firman jalan kaki dari markas ke cikal. Maaf ya dr firman dikerjain hehehe. Banjir keringat deh untung bisa ganti pakai kaos famgath hehehe
Senangnya di famgath ketemu banyak wajah lama dan wajah baru. Amazing experience!
Seneng banyak merchandise buat dibawa ke thai. Asiiiik mugs, T shirt, pin dll. Rugi yang gak beli hehehe

Pulang ke rumah terkapar pulesss (dr firman colds jadi gak bisa tidur hehehe kasian). Malam packing lagi masukin merchandise, final presentation prep lagi.

Tg 1 mei, jam 7 off to the airport. Remuk? Iyalah hehehe tulang tua nih
Excited juga. Di pesawat, ada beberapa rows di belakang yg kosong jadi bisa tiduran bentar, lumayan
Landing di Svarnabhumi jam 17an, ikut petunjuk Michael Chai (ReAct Searo), cari taksi (semua mudah dan cepat), 400 baht (incl tol, tip) sampai hotel jam 18 lebih. Masuk kamar, cek HP (xl mnya kok gak bisa hiks untung mentari bisa)
Capek – mandi anget, lapar. Pesen makan soalnya gak kuat mau jalan keluar. Utak atik slides dan otak atik data buat presentasi di chevron 19 mei nanti.
Mau tidur cepet tapi tetep aja di atas jam 1 am

THAI VISIT
Tg 2 mei, kunjungan ke project ASU nya thai (antibiotic smart use).
Sebelum jam 8 pagi ke lobi, clingak clinguk (kan blm ada yg kenal) ternyata lihat wajah familiar Dr Nithima (jumpa di delhi juli 2010).
Beliau bersama bbp orang yang ternyata bener … Semua rombongan trip ke ASU project.
Kami ber8: prof Isidharo (philipines), dr Jaya (ber4) dari malaysia, Marry Murray dari ausie (ReAct), saya (Ina), Nithima dan 2 tim nya (ASU), Marwan (jounalist yang ditunjuk ReAct utk meliput semua kegiatan regional conference ini)

Kami berangkat dg van. Expecting jamm! Turned out … Very smooth! No jamm at all. Mungkin karena sebagian besar melalui highway? Entahlah!
Tol dan highway nya lancar (gak kayak tol di jak hiks). Monorail juga paralel dg highway
selepas highway, jalan tetep mulus, lebar, lancar.
Kami menuju Saraburi, sekitar 4 or 3.5 jam dari bangkok. Terpencil, sepii tetapi gak ada jalan yg rusAk atau macet. Pemandangan sepanjang jalan membuat iri!
Sawah membentang! Kadang diselingi ladang. Sedih memikirkan sawah dan petani di Indo. Waktu kecil, kalau naik kereta api ke bdg, sejauh mata memandang di pantura, sawah. Sekarang?
No wonder indo yg stapple food nya beras dan overpopulated, justru impor beras (kalau harga beras terus membumbung dan devisa menipis, celaka!). Thailand bukan sekedar swa sembada pangan, mereka juga ekspotir pangan yang acknowledged. Di ausie dulu, saya makan beras Thai (uenaakk, haruuum, murah).

Selain sawah, ladangnya, perkebunan nya (termasuk buah buahan).

Sarabury daerah yang berbukit-bukit. Lumayan pemandangannya meski tdk se eksotik puncak jaman dulu. Di sini ada wineyard! Hiks serasa di perancis (waktu naik kereta api dari geneve jan 2010).

Sampailah kami di kecamatan lung khao. Parkir di puskesmas (foto nanti saya taruh di blog). Agak bingung bingung saya. Kecil ya puskesmasnya. Tapiiiii kok cantik? Artistik, rapiii dan bersiiih.

Halaman depan asri. Di sudut kanan ada rumah joglo lah dengan bangku2 kayu, buat yang nunggu antrian dg pemandangan ke bawah ke bukit dan lembah.
Di depan ada poster besar bertuliskan Antibiotic Smart Use

Saya tergopoh gopoh cari toilet (setelah duduk di van lebih dari 3 jam). Diantar staf puskesmas ke toilet. Mbatin: “this can’t be true”. Bukan hanya bersih, tetapi juga cantik dan harum.
Mbatin: “oh pasti ini buat dokternya”
Ternyata gak tuh wong satu2nya wc di situ. Ada bowl dg air diisi bunga kemboja pink dan kuning. Ada lilin air 2. Bingung euuy (soalnya di van sempat ytertidur sebentar, jangan2 mimpiii)

Di depan toilet, ada poster washing hands save lives.
Hmmm
Oh ya lokasi toilet di samping kamar kebidanan yang lagi2 apik tetapi amat sederhana.

Lalu saya jalan2 di dalam puskesmas. Ada ruang periksa dan ruang tindakan yang sederhana tapi sangat bersih!

Lalu ke pojok asi dengan kasur di lantai buat latihan menyusui. Poster2 asi sederhana digantung di dinding
Terakhir, saya ke apotek. Bener2 obatnya ramping, sesuai daftar obat esensial. Pilihan ab juga gak banyak
Dannnnn …. Guess what?!
Gak ADA puyer booooo
Hehehehe

Lalu kami digIiring ke ruang pertemuan di samping puskesmas.

Pegel
Sekian duluuu ya
Nanti disambung

Wati
(Ternyata di bangkok pun, wC umumnya bersiiiih)
Patient Safety, first

Jam 22.10

ASU adalah singkatan dari Antibiotic Smart Use
Program ini diselenggarakan bertahap

Pelaksananya: pem Thai, dept of public health, FDA nya thai, Chulalongkorn Univ, …. Lengkapnya bisa dilihat di webnya ReAct.

Di ruang pertemuan telah berkumpul dr Nithima (project officer nya) dg tim, kepala dinas kesehatan Saraburi, farmasis dinkes Saraburi, staf puskesmas (sebagian, krn yang lain kerja), dan bbp health volunteers dari kalangan masyarakat setempat (salah satunya seorang monk).

Kami pun diperkenalkan pada program ASU ini

Intinya adalah menangkar resistensi kuman terhadap AB.
Bahaya antibiotic resistance semakin hebat. Thai memutuskan untuk membuat masyarakat sadar sesadar sadarnya akan bahaya penggunaan AB yang bombastis tdk rasional.
(Selain program di tataran regulasi, akademis, institusi, RS

Memangnya pola peresepan di thai sudah bagus? EBM?
Ya belum
Masih polifarmasi, masih overuse AB nya, tapi kayaknya kita masih “menang” deh hehehe.

Nah sejak bbp tahun yl (2005) pemerintah dan akademisi juga sadar bahwa sosialisasi ke komunitas terkait penggunaan AB yang benar, harus dilakukan dengan agresif.

Dirancanglah ASU
Intinya:
1. Overuse AB masalah bersama

2. Bahayanya mengenai semua orang. Painful n extremely expensive

3. Semua orang bertanggung jawab memperbaiki penggunaan AB agar lbh rasional.

4. Sedikitnya 3 kondisi ini TIDAK butuh AB (catat! Penting!):

– common cold

– acute GE

– simple wound

Saat ini sudah fase 3 or 4 (maaf lupa)

Pertama, sosialisasi ke nakes.
Tujuan:
1. Accepted by nakes nya
2. Supported by nakes nya
3. Reduced prescription of AB by nakesnya

Tahap berikutnya, uji coba di satu
propinsi
Mereka mendidik nakes
Mendidik anggota masyarakat yang bersedia jadi health volunteers

Mereka berikan modul tetapi masing2 puskesmas “bebas” berkreasi dan berinovasi selama core message nya tetap dijaga: 3 (3 jari diangkat ke atas).

Lung Khao inilah pilot projectnya
Mereka diperkenalkan pada proyek
Lalu diberi waktu untuk berundibg bbp mg. Petinggi desa dan agama duduk dg masyarakat. Ketika sepakat bahwa proyek ini bermanfaat, mereka pun menyatakan ingin terlibat dan dilibatkan (proses yg sama selanjutnya diberlakukan di semua kecamatan, kabupaten ketika propinsi nya sudah menyatakan tertarik)

Demokratis banget ya
Dannnn … Bottom up!
Makanya sukses nih program ASU nya

Nah karena mereka bersedia, maka mulai lah tahapan2 ASU di atas

Sebenarnya konsep dsarnya mirip dg pesat. Fasilitator dari SP diberi kebebasan untuk menyampaikan message presentasinya meski ada modul baku dari YOP.

Health volunteer inilah yang berkala, di balai desa, kasih penyuluhan AB. “No AB pls for these 3 conditions”

Diulang ulang dan diulang2
Setiap desa punya bbp health volunteers

Masing2 health volunteers diserahi untuk “mengawal 10 keluarga, didampingi seorang perawat)

Keluarga2 ini kalau sakit dikawal, disupport. Lalu dicatat

Apakah mereka makan obat?
Obatnya apa? Beli sendiri AB? (Karena nakesnya gak akan kasih AB kalau 3 kondisi di atas)

Nah saat ini, sudah semua propinsi di Thai melaksanakan program ASU
Lalu?

Interestingly, mereka punya survey impact dari asu.
Si nakes2 itu berkala merekap catatannya. Lalu mereka bikin survey sederhana di masyarakat
Hasilnya?

Mereka punya data penggunaan AB di kecamatan dan kabupaten khususnya utk ke 3 kondisi di atas, itu data nya punya masyarakat, punya health volunteer
Kereeen

Di balai desa
Ditempel lah hasil survey dari setiap desa (aduh kok bisa yaaa)
LuarrR biasa
Terjadi penurunan konsumsi AB yang drastis utk ke3 kondisi di atas!

Mereka juga insiatif sendiri secara inovatif bikin poster2 foto … Ada yg “foto model”nya anak (sampai2 dia jadi ngetop di thai) mengacungkan 3 jari)

Lalu di ruang pertemuan puskesmas, kami minta monk nya cerita soal ASU
Marwan … Nyecer dari sisi humanism nya
“Kenapa kamu tertarik melibatkan diri secara aktif dalam program ini?” (Kebanyakan monk di Thai justru aktif di sektor HIV AIDS)

Dengan senyum (monk ini selalu tersenyum) menjawab:

“Saya berpendapat, program ini sangat bermanfaat buat komunitas saya. Masyarakat jadi pinter dan terlindungi dari dampak penggunaan AB yang tidak benar. Saya pikir, program ini sangat baik. Oleh karena itu saya menyediakan diri. Saya belajar dan saya berkeliling ke desa2 bicara dengan rakyat pentingnya AB, pentingnya pinter pakai AB, pentingnya utk tdk pakai AB di ke3 kondisi tsb”

As simple as that
As humble as that
Pemuka agama kita mestinya tersentuh

Oh ya
Politisinya juga melibatkan diri lho
Kapan ya politisi kita bisa begitu?

Ok, minum segelas sirup lokal dg es batu. Biar kepala hati si wati ini ademmm hehhe
Selesai sudah lewat tengah hari
Kami digiring ke van
Dijamu di restoran lokal
Kecil tapi hebat
Punya water system sendiri
Menghadap ke wineyards
Ahhhh

Makan siang kami penuh canda
Menu akrab lidah indo
Lalu kami berangkat Ke dua desa terpencil
Waaah masih panjang niiih perjalanan

Anehnya …. Jalan kecil mulus sampai ke desa paling terpencil
(Kok bisaaaa????)
Di dua desa itu kami berkumpul di balai desa

Para Health volunteers membungkuk mengatupkan tangana menyambut: “Swadeeka”

Lalu mereka diperkenalkan

Bangga sekali desa itu dikunjungi kami padahal justru kami lah yang merasa bebruntung mengenal mereka dan ASU
Monk bicara soal AB, soal 3 kondisi
Soal bahaya overuse AB

Lalu salah satu health volunteer bicara soal hasil survey.
Semua bangga karena mereka sukses menurunkan penggunaan AB yg irasional

Hiks hiks (Menangislah kau wati! Hehehe)

Nah selesai sudah jam 17.30
Otw ke bangkok, kami mampir di RS distrik Donpud
Ehhhh …. Rs kabupatennya keciiiil dibanding indo (berarti lbh efisien yaaa).
Bersiiih. Apiiik

Kami duduk di ruang pertemuan bersama kepala RS yang lantas presntasi. Singkat aja deh
Luarr biasa
Sampai2 peninjau senior dari malaysia menyatakan: “you are a champion”!

Hmmmm bener bagus banget perjuangan rum dan ab use nya dia dan tim. Dokternya cuma 2 incl dia.
FarmasiSnya 4

Saya tanya, kenapa banyak amat farmasis mu utk RS sekecil ini?
Dia bilang:
1 utk riset
1 utk daily op RS
2 untuk lapangan (Public health pharmacists)

Besok2 nya saya terperangah
Ternyata pharmacist Thai kuat banget
They play big n important role in RUM and AB use

Jam 19.30 kami meninggalkan donpud (overwhelmed)

Di perjalanan, tambah bengong lah manusia kota jakarta ini
Sampai hotel di atas jam 21
Exhausted, Enriched

Wati, what will be your next plan back home?
Gak tau gak tau, belum tau
Harap dicatat
ASU bisa besar karena disupport pemerintah, institusi pendidikan, akademisi, dan masyarakat.
Cantik ya!

Mandi anget. Habis makan, back to my old beloved laptop

Preparing data for Chevron, preparing for my presentation tmroww
Ampe jam 1 pagiii.
Night night

Sweet dreams (n sweet reality please)

Wati

(Part III semoga gak lupa, tagih yaa

Jak 12 Mei jam 00. 50

Bangkok 2 Mei
Bangun jam 04.20. Duh masih kepingin peluk bantal, masuk dalam selimut tapi nervous baca agenda di bawah ini.
Bengong bentar, ingat waktu saya congrats dr Nithima, beliau bilang: “ASU kan project nya rakuat, bukan saya”.
Semoga kelak, PROM (promoting rational use of meds) juga dg bangga saya bisa bilang, itu kan projectnya SP. Amiin

Habis subuh, mandi, dandan, baca lagi agenda. Stress juga tapi saya pikir asik nih kelar cepet hari ini hehehe

ReAct-DMDC-SPC Southeast Asia (SEA) Regional Conference:
Dealing with Antimicrobial Resistance and Strategic Plan for Drug System Monitoring & Development
2-4 May 2011
Twin Towers Hotel, Bangkok, Thailand

Day 1(3 May 2011)
8.00am  Registration

8.30am  Introduction of conference and participants
Moderator: ReAct and DMDC-SPC-Chula

[The introductory session will introduce the themes of the regional conference as well as the DMDC Strategic plan meeting, and the participants].

NOTES: baca serba serbi ReAct di link yg dikirim ayah Ghozan ya. Pembukaan singkat, padat. Nah ini dia sesi yg bikin deg2an

9.15am  Panel on ABR-RUD initiatives
Moderator: Dr. Nithima Soompradith
Panelists: Dr. Purnamawati S. Pujiarto, Dr. Jaya Balan and Prof. Dr. Isidro Sia, Prof. Dr. Kunyada Anuwong

[This panel will present and discuss the RUD initiatives at the community level such as the Antibiotic Smart Use (ASU) project in Thailand and the Health Education Program for Parents (HEPP), RUD and patient safety campaigns in Indonesia; as well as the learnings from the study trip of participants to the ASU project site in Saraburi, Thailand)

NOTES: saya presentasi 15 menit. Diawali dg permasalahan overuse of AB baik di sektor publik maupun swasta. Lalu masuk ke core program YOP (health education baik preventive maupun curative measures nya, multistrategy approachnya yg IT based plus kursus kesehatannya. Target sasaran: PRIVATE sector consumers.
Dikemukakan juga impact HEPP terkait knowledge n behavior changes toward better use of AB and medicines

Satu hal penting yang harus dicatat:
Semua pihak setuju bahwa kita tidak bisa menangani masalah antibiotic resistance hanya dg mengopeni sektor publik. Sektor swasta ini  untouchables!! Padahal, masalahnya lebih menyeramkan ketimbang di sektor publik (puskesmas, RSU).

Semua sepakat bahwa ketika ASU bisa diadopt negara lain utk sektor swasta, maka HEPP bisa dicontoh utk sektor swasta.
Core messagesnya hampir sama kok
Kondisi yang kita sosialisasi kan juga 3: demam, ispa, GE akut, tidak butuh AB. Nah kita bisa tamahkan jadi 4 (plus simple wound): TIDAK butuh AB (kecuali sebagian kecil demam yg akb bakteri).
Nah loncat sedikit, saat jumpa pers sblm makan siang, ReAct (diwakili Marry Murray, ausie, pharmacist) menyatakan penghargaan tinggi buat ASU, tetapi ada 2 champions yang highly appreciated yaitu dir RS donpud dan saya dari HEPP.

10.15am Panel on Antimicrobial Stewardship Program (ASP)
Moderator:
Panelists: Dr.Kumthorn Malathum, Dr. Roungtiva Muenpa, Yaowapha Shaijarernwana, Dr. Sripetcharat Mekviwattanawong, Dr.Niyada Kiatying-Angsulee

[This panel will consist of the participants from Thailand involved in the ASP activities in Thailand as well as learnings from the ASP Study visit to Singapore].

NOTE: kerEeen. Sangat teknis
Semoga RS swasta di Indo mau legowo dan mengadopt program ini sehingga indonesia bisa mereduksi permasalahan antibiotic resistance ini

11.30am Competition awards on Thai ABR Campaign and press conference

NOTE:
Para heaLth volunteers diberi penghargaan dari pem Thai
Luar biasa!
Semoga nanti SP fasilitator Pesat dan SP aktivis milis sehat juga dapat penghargaan dari pem Indo (heehe sweet dreams?)

Selain itu diberi penghargaan kepada
1. Juara lomba pidato AB resistance tingkat SD, SMP, SMA
2. Juara lomba melukis di ke3 tingkat
3. Juara pembuatan video ABR oleh masyarakat
4. Juara lomba poster ABR

Nah diliput media dan gaungnya gedeee banget
Gimana gak makin sadar tuh rakyat Thai dlm mempergunakan AB

SAMBUNGAN: 13 Mei jam 12.00

12.30pm Lunch & Thai Poster Exhibition

2.00pm  Panel on Indonesia
Moderator:
Panelists: Dr. Hidayati Mas’ud, Apt., Ms. Zorni Fadia, Ms. Erie Gusnellyanti
Dr Hadi Pratono (Unair)

[This panel will present the ABR situation in Indonesia and current and planned policy measures to address the issues]

NOTES:
PPRA yang diawali di RS soetomo dan Karyadi dan sekarang sudah dilaksanakan di bbp RS.
Mestinya sih konsisten meluas mencakup semua RS termasuk swasta
Kedua, diperbaiki dan diperkuat metodologi dan teknisnya
Amiin

2.30pm  Panel on Research and Studies

NOTES:
Terdiri dari dua sesi yaitu:
A. Laporan penelitian di Vietnam
B. Penyusunan rencana penelitian regional

Laporan penelitian di Vietnam:
Menarik! Hebat!
Ada 3 penelitian di RS dan 1 penelitian lapangan oleh farmasis
Farmasis tsb meneliti jumlah AB yg “keluar” dari beberapa apotek dan rumah obat, di urban maupun rural, dg atau tanpa resep

Bagus banget nnnih
YOP pernah berniat melakukan penelitian serupa tapi banyak kendala tmsk SDm
Di milis ini kan banyak farmasis. Yuk kita email2an between the small group of us and let’s see whether we do have a big space left inside each of us to do a bit more for others incl in term of small research. Ditunggu yaa

Balik ke usulan penelitian hasil panel sore itu.

Secara garis besar ada 2:
A. Penelitian ABR di RS yang diharapkan bisa serempak secara regional (amiin)

Tujuannya: memperoleh data pola kuman, data penggunaan AB, dan data kuman yg resisten
Termasuk pada bayi baru lahir.
Kereeen abiiis
Neonates di kita juga salah satu populasi yang paling terpapar ke irrational use of AB
Incl pilihan AB nya yang suka gimana gituu

B. Penelitian di tataran komunitas.
Alias, exit pharmacy survey
Tim peneliti mendatangi orang yang keluar dari apotek atau toko obat. Mengajukan kuesioner singkat sederhana
Tujuan: mengetahui tingkat dispensing AB baik dg maupun tanpa prescription

Hmmmm
Di panel tsb memang saya agak “ngotot” bahwa penelitian AB jangan cuma di tataran RS.
Memang bagus banget penelitian ini karena bisa jadi landasan kuat menyampaikan rekomendasi ke pemerintah di region ini.

However …..
Let say the recommendation is accepted by our government.
Then?
As long as no monitoring and enforcement, things will not much changed (maybe I am wrong)

Jadi saya meminta teman2 dan ReAct memikirkan penelitian di komunitas.
Tetapi, setelah duduk brainstorming, saya sedih lagiii deeeh
Bisakah kita (bukan sekedar YOP) bersama-sama bergandengan tangan, melakukan survey AB dispensing di atas.

Melamun lah saya sore itu (muleessss sampai bolak balik ke kamar hehehe):

seandainya dari beberapa kota ada min 3-5 volunteers;

Ternyata misalnya ada min 20 kota yang ikut … Bagus bangeeet
(banda Aceh, Medan, lampung, batam, pakan baru, palembang, kal teng, kaltim, kalsel, jakarta, bogor, depok, tangerang, bekasi, bandung, cirebon, tegal, jogja, solo, semarang, surabaya, sidorajo, madiun, malang, bali, lombok, makasar, dll)

Lalu … Tiap volunteer targetnya min 20 responden

Waaa dah gede bangeeet sample nya ya
Ayooo yang berminat ngacuuung (mimpiii kaah? Hehehe. Kenapa tidak?! Siapa takut?!! Hehehe)

Oh ya sore itu kami dibagi 3 grup kecil
1. Riset
2. Kurikulum kedokteran terkait ABR
3. Komunitas dan twinning city

Malaysia buat penelitian terkait pengetahuan nakes perihal ABR. Singkatnya, harus dibuat modul ABR dan direkomendasikan ke pemerintah terkait.
Ok sudah dulu ya
Semoga gak boring bacanya
Semoga kita bisa bikin mass movement re AB dispensing in the community
Masak kalah kitaaaa hehehe

Love
Wati
(Terkapar flu berat)
Patient Safety, first

2 Responses so far »

  1. 1

    Nika said,

    Sy alumni pesat tahun 2008 di jogja bunda wati. Tunjuk tangan buat jd volunteer health.

  2. 2

    mia said,

    dokter wati,

    thank you for stopping by di kantor Chevron yah and did a presentation yg sangat bermanfaat🙂 … saya sudah punya dan pake pegangan buku Smart Parent for Healthy Children buat taking care my 2 lovely kids masih sejak thn 2007. really a huge help n good info especially untuk anak ke2 yg cukup sering terserang sakit bukan cuma commond flu tp juga cacar monyet *yg salah diagnosa oleh dr di rs swasta international, thanks to your book, your milist juga to mayo clinic, so cukup antiseptik saja ternyata*. semoga sehat selalu ibu dokter ^_^


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: