Dokter Beri Antibiotik, Pasien Berhak Tanya

Health News Fri, 10 Jun 2011 10:18:00 WIB

Fitri Yulianti – Okezone

PASIEN datang ke tenaga kesehatan dengan beragam keluhan. Usai menjelaskan sakit yang dirasa, pasien mendapatkan resep obat. Selesaikah prosedur berobat sampai di sini?

Jawabannya, tidak. Sebagai pasien, Anda punya hak untuk dilayani dengan baik oleh dokter, termasuk dalam peresepan obat antibiotik.

“Pasien punya hak untuk didengar, mengekspresikan ketakutan, dan punya hak untuk memilih. Tapi, pasien juga harus tahu bagaimana membuat pilihan yang cerdas,” kata dr Purnamawati, Sp.A (K), MMPaed dari Yayasan Orangtua Tua Peduli pada Seminar dan Diskusi Panel “Resistensi Mikroba: Mengapa dan Apa yang Harus Kita Lakukan?” di Aula FKUI, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2011).

“Terapi tidak harus dengan antibiotik. Obat hanya salah satu bagian dari terapi. Ketika pasien mendapatkan resep antibiotik, ajukan pertanyaan kepada dokter. Pertama, apakah memang diperlukan? Kalau memang iya, tanyakan lagi infeksi kumannya di mana? Karena beda infeksi, beda antibiotik,” tukas Zunilda Dj. Sadikin dari Department Clinical Pharmacology FMUI/CMH kepada okezone usai acara.

Zunilda menjelaskan bahwa kebanyakan penyakit bisa ditangani sendiri oleh masyarakat, tanpa perlu ke dokter.

“Pasien harus memastikan tentang penyakitnya. Sebenarnya, kebanyakan masalah masih bisa diatasi sendiri oleh pasien. Masyarakat makin peduli kesehatan, tapi sering salah kaprah. Cari informasi sebanyak mungkin,” tegasnya.

Zunilda mencontohkan demam yang sering diderita kebanyakan orang.

“Kalau baru tiga hari, sebenarnya enggak perlu dibawa ke rumah sakit, asalkan kita tahu bahwa demam bisa menyebabkan kejang, jadi kita bisa mengambil tindakan pencegahan,” tandas dokter keluarga ini.

Bila dokter Anda ngotot memberi antibiotic, Zunilda menandaskan, “Dokter ngeyel, pasien juga harus ngeyel. Karena enggak mungkin kita dikasih antibiotik yang sifatnya tembak semua (kuman), tanpa yakin kumannya berada di mana.”

Sikap kritis pasien tidak hanya pada peresepan obat oleh dokter, meliputi juga bagaimana memilih tenaga kesehatan berkompeten.

“Dokter yang ramai pasiennnya belum bentu bagus. Sekarang logikanya, bagaimana dia punya waktu untuk menjawab pertanyaan Anda? Cari tahu penanganannya kayak apa? Obatnya benar atau tidak? Misal Anda berobat dan dikasih resep, tapi tidak juga sembuh. Lalu Anda kembali ke sana. Dokter yang baik akan mengevaluasi obat, diagnosis lagi si pasien, kalau perlu ganti obat, bukan enggak mau tahu. Sebagai pasien, Anda harus cerewet,” tutupnya.
(ftr)

Sumber : Cybermed

1 Response so far »

  1. 1

    Yuki said,

    Pasien mempunyai hak-hak perlindungan konsumen karena pada hakikatnya, pelayanan yang diberikan oleh dokter, dan dokter gigi lainnya adalah kategori jasa (meski diikat oleh sumpah kedokteran).

    Masalahnya adalah, sebagian besar masyarakat Indonesia merasa belum ke dokter atau dokter gigi kalau belum diberi obat/ resep, padahal konsultasi (edukasi) dan pemeriksaan sudah termasuk dalah ranah perawatan promotif dan preventif. Mungkin selama ini pasien kurang mendapatkan informasi apa saja hak-hak mereka.

    Pasien boleh kok meminta obatnya diganti dengan yang lebih murah, generik misalnya. Toh isinya benar-benar sama. Antibiotika sebaiknya diresepkan kalau memang ada dugaan kuat ada atau akan ada infeksi. Kalau nggak, ngapain dikasih antibiotika? Mau nyaingin Amerika dalam kasus resistensi (MRSA misalnya, kasus ini di Indonesia udah banyak ding).

    Kata salah satu dosen ilmu penyakit dalam saya, dokter yang baik (masih objektif) itu dalam sehari pasiennya sekitar 20 orang saja, lebih dari itu, dia sudah tidak mempu memberikan penilaian objektif terhadap pasien. Bayangkan saja, di pagi hari seorang dokter sudah mengabdi di rumah sakit umum daerah di kotanya, siangnya di rumah sakit swasta, sore sampai malam suntuk buka praktik di rumah, wow! Laris! Tapi apa ya masih bisa konsentrasi dengan baik? Coba kita renungkan deh. Belum lagi waktu buat keluarganya…


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: