Archive for October, 2011

Announcement : Statement from WHO (Expert Commitee) about “Puyer” is Irrational !

Page 21 of our report:

The Committee also considered extemporaneous preparations involving polypharmacy. The Committee noted that in 1985, WHO defined rational use of medicines as requiring that “patients receive medications appropriate to their needs”. The custom in some places is to treat sick children with a mixture of several medicines (“puyer”), not necessarily all appropriate to their needs. Commonly, adult solid dosage forms are mixed together, ground to a powder, and the powder divided into assumed paediatric doses and then dispensed for administration to the child. Often, some medicines in the mixture are not indicated for the condition being treated. These medicines add to the risk of adverse
events without any possibility of conferring additional benefit. The Committee recommended that as this practice is irrational it should not be used.

Source : http://www.who.int/selection_medicines/committees/expert/17/en/index.html

Advertisements

Leave a comment »

Menjadi Pasien Cerdas, Pahami Pengobatan Rasional, Yuk! (2)

Rabu, 12 Oktober 2011

Foto: Getty Images

Tak Perlu Puyer

Bagaimana dengan puyer? Menurut Dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp. A (K), MMPed., masyarakat bisa semakin cerdas dan bijak karena di era informasi ini mereka bisa memperoleh informasi berkualitas (obyektif dan ilmiah) dengan mudah dan murah. Masyarakat juga sudah paham kenapa anak umumnya tidak butuh puyer.

Dari sekian banyak alasan untuk tidak mengonsumsi puyer, empat di antaranya adalah:

1. Puyer membuka pintu lebar ke arah polifarmasi yang tidak rasional. Contohnya, banyak anggota masyarakat yang paham bahwa penyakit harian batuk pilek tidak ada obatnya. Batuk bukan penyakit, batuk tidak jahat, dan tidak mematikan. Batuk justru merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk membersihkan saluran napas dari segala sesuatu yang menganggunya (debu, dahak, makanan/minuman yang tesedak). Refleks batuk justru tidak boleh ditekan.

Masyarakat juga mulai paham bahwa muntah dan diare bukan penyakit, melainkan suatu refleks protektif untuk membuang segala sesuatu yang tidak berkenan di saluran cerna kita. Dengan demikian, muntah dan diare justru tidak boleh dimampatkan, tidak boleh dipaksa dihentikan, dan yang justru harus dilakukan adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang dengan memberikan oralit, selain terus memberikan asi dan cairan lainnya. Ketika kondisinya tidak membutuhkan banyak obat (hanya butuh 1 bahkan maksimal 2 obat), kenapa harus mengonsumsi racikan yang isinya banyak obat?

2. Masyarakat sudah semakin paham pentingnya mencari informasi terkini yang sahih (obyektif),  sehingga tatalaksana gangguan kesehatan diupayakan berbasis bukti (kedokteran berbasis bukti alias evidence  based  medicine atau EBM), bukan sekedar berbasis pengalaman atau berbasis testimoni.

Sebagian besar penyakit ada panduan tatalaksananya dan panduan tersebut senantiasa di-update sesuai perkembangan ilmu, sehingga senantiasa berbasis bukti yang kuat dan sahih. Seyogianya, semua pihak (dokter dan pasien) mematuhi tatalaksana penyakit terkait. Misalnya, ISPA virus tidak butuh banyak obat, kenapa pula harus diberi banyak obat?

3. Pasien berhak mendapat informasi terkait resep/obat yang mereka terima. Ada lima komponen informasi terkait obat yang wajib diketahui pasien, yaitu kandungan aktif, indikasi, kontraindikasi, risiko efek samping, serta dosis dan cara pakai. Satu obat sekalipun, ketika dipergunakan dengan tidak benar, bisa menimbulkan efek samping, apalagi ketika bayi-anak (mereka lebih rentan mengalami efek samping obat) diberi banyak obat sekaligus.

4. Setiap obat diproduksi di pabrik dengan memperhatikan kaidah proses pembuatan obat yang baik (good manufacturing practices). Sedihnya, obat yang diproduksi dan dikemas sesuai aturan (tentunya dengan biaya yang tidak sedikit), sesampainya di apotek/klinik, dibuka dari kemasan, kapsulnya dicopot, lalu berbagai obat dicampur atau diblender menjadi satu. Kita seharusnya dengan kritis mempertanyakan stabilitas obat-obat tersebut setelah digerus campur baur, apalagi negara kita negara tropis yang lembap.

Ajukan Pertanyaan

Pada saat Anda pergi berkonsultasi ke dokter dan mendapat resep obat, jangan lupa untuk mengajukan beberapa pertanyaan wajib di bawah ini:
1. Apakah saya (anak saya) benar-benar membutuhkan obat-obatan ini? Kenapa?
2. Apa kandungan aktifnya? Apa indikasinya?
3. Bagaimana kerjanya? Apa kontraindikasi pemberian obat ini? Apa risiko efek sampingnya?
4. Apakah ada generiknya?
5. Apabila pasien tengah mengonsumsi suatu obat-obatan, tanyakan apakah akan timbul interaksi antara obat-obat tersebut. Setelah itu, pencarian informasi bisa dilanjutkan di web yang terpercaya, misalnya http://www.drugs.com.

Hasto Prianggoro

Sumber : Tabloidnova

Comments (1) »

Menjadi Pasien Cerdas, Pahami Pengobatan Rasional, Yuk! (1)

Selasa, 11 Oktober 2011

Foto: Getty Images

Ketika anak sakit, apakah antibiotik selalu diperlukan? Lebih baik, pahami dulu pemberian obat yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Menurut Dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp. A (K), MMPed. , pola pemakaian obat yang rasional (rational use of medicine /RUM) intinya adalah pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka. Selain itu, pemberian obat juga disesuaikan dengan dosis yang dibutuhkan dan dalam periode waktu tertentu, pasien memperoleh informasi yang akurat, serta biaya yang termurah.

RUM adalah pemakaian obat yang aman dan efektif, dengan tujuan terapi atau penanganan yang lebih baik, mengurangi efek samping, menghemat uang (pasien, rumah sakit, negara), serta sesuai dengan etika dan persamaan hak. Ada banyak alasan atau penyebab terjadinya pengobatan yang tidak rasional, dari mulai membanjirnya obat dalam jumlah yang sangat besar, aspek penegakan hukum, proses pengambilan keputusan oleh para dokter sampai ke aspek budaya setempat.

Ketika terjadi pola pengobatan yang tidak rasional, maka semua orang akan merugi, khususnya mereka yang sangat rentan terhadap efek samping obat, yaitu mereka yang sangat muda (bayi dan balita) dan mereka yang sudah lanjut usia. Celakanya, kedua kelompok inilah yang sehari-hari terpapar pada polifarmasi yang tidak rasional, khususnya bayi dan balita.

“Balita memang sering sakit, tetapi sakitnya balita adalah sakit ringan yang tidak membutuhkan beragam obat. Bahkan, sakitnya ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk mem-”boost ” sistem imunnya. Kelak di usia sekitar 7 tahunan, anak sudah mulai jarang sakit karena sistem imunnya sudah lebih kuat,” jelas Wati, panggilan dokter yang menulis buku Bayiku Anakku; Panduan Praktis Kesehatan Anak .

Apa yang Harus Dilakukan?

Pola pengobatan yang tidak rasional bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan, di antaranya kualitas terapi menurun, yang akan menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian meningkat, meningkatnya risiko efek samping, biaya meningkat, dan sebagainya. Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua agar anaknya terhindar dari RUM? “Be a smart patient , jadilah pasien yang cerdas,” ujar Wati tegas. Caranya:

1 Prioritas :  Menyadari bahwa yang paling berkepentingan akan kesehatan dan kesejahteraan diri kita dan keluarga kita adalah kita sendiri.

2 Cari Informasi :  Jangan serahkan semua urusan kesehatan ke tenaga kesehatan dan ke pemerintah. Pasien harus proaktif mempelajari kesehatan, sehingga bisa melakukan upaya preventif yang tepat. Dan ketika jatuh sakit sekalipun bisa tetap rasional, karena selalu mencari informasi perihal gangguan kesehatan dan menanganinya sesuai panduan ilmiah terkini.

3 Konsultasi    Jangan artikan kunjungan ke dokter sebagai upaya minta obat, yang harus cespleng  dan segera sembuh. Kunjungan ke dokter adalah upaya konsultasi, upaya diskusi mencari kejelasan penyebab dan upaya meminta diagnosis. Jadi, pasien sebaiknya menguasai kapan harus ke dokter, sehingga terhindar dari kondisi “tamasya” mondar-mandir ke dokter atau RS/klinik.

4 Bertanya Yang tak kalah penting adalah bertanya. Ketika kita berkonsultasi dengan dokter, sedikitnya ada 3 pertanyaan “wajib” yang harus diajukan, yakni:
– Kenapa (apa penyebab gangguan kesehatan yang saya alami?) Pertanyaan ini akan membimbing kita ke arah diagnosis.
– Apa yang harus saya lakukan (sebaiknya menggunakan konsep tatalaksana dan bukan konsep pengobatan, karena tidak semua gangguan kesehatan tatalaksananya harus mencakup obat).
– Kapan saya harus cemas? (konsep RUM melindungi pasien dari overtreatment , mistreatment  dan juga undertreatment . Smart patient  jangan diartikan sebagai antiobat, antiantibiotik, atau antidokter. Justru pasien cerdas dan pintar akan bijak, sehingga bisa membuat keputusan yang tepat.

5 Informasi obat:  Ketika konsultasi berakhir dengan penulisan secarik resep, ada dua hal inti yang harus dilakukan. Pertama, merencanakan untuk mencari informasi gangguan kesehatan dan tatalaksananya, dan kedua, merencanakan mencari informasi obat di web  terpercaya.

Kapan Anak Butuh Antibiotik?

“Anak butuh antibiotik apabila ia mengalami infeksi kuman jahat (bakteri jahat) yang tidak bisa dibasmi oleh daya tahan tubuhnya,” ujar Dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp. A (K), MMPed. Misalnya, ketika anak mengalami pneumonia (meski sebagian pneumonia pada anak juga disebabkan oleh virus), infeksi saluran kemih (ISK), infeksi telinga tengah akut (otitis media akut atau OMA), infeksi tenggorokan karena kuman streptokokus (biasanya mengenai anak berusia > 4 tahun dengan demam tinggi, tanpa batuk pilek, disertai pembesaran kelenjar getah bening di bawah rahang bawah dan ditemukan bercak putih nanah di tonsilnya), anak besar dengan tifus (demam lebih 5 hari tanpa batuk pilek yang semakin hari semakin tinggi, keadaan umum tampak sakit berat), atau diare dengan tinja berdarah.

Hasto Prianggoro / bersambung

Sumber : Tabloidnova

Comments (3) »

%d bloggers like this: