Belajar Tentang Kesehatan, Penting!

Beberapa waktu lalu, saya datang ke sebuah seminar kesehatan. Mommies Daily juga sudah tweet poin-poin pentingnya segera setelah seminar berakhir. Namun sampai hari ini ada yang mengganggu pikiran saya melihat kenyataan respons dan pengetahuan peserta seminar tersebut.

Pembicara dalam seminar ini merupakan orang-orang yang diakui kompetensi di bidangnya masing-masing, seperti dr. Utami Roesli dengan per-ASI-annya; dr. Purnamawati yang biasa dipanggil dr. Wati atau Bunda Wati dengan RUM (Rational Uses of Medicine), milis Sehat, dan YOP-nya (Yayasan Orangtua Peduli); serta dr. Fransisca Handy yang sering meluangkan waktu menjawab tweet dari para orangtua yang menanyakan masalah kesehatan anaknya. Moderatornya pun tidak kalah kompeten, dokter spesialis anak Wiyarni Pambudi yang di dunia Twitter dikenal dengan @drOei dan merupakan salah satu dari @dokteranakkita.

Beberapa saat setelah seminar berlangsung, saya menyadari bahwa selain membidik pasangan muda, seminar yang  diadakan oleh Universitas Tarumanegara bekerja sama dengan RS Royal Taruma ini juga nampaknya bertujuan membuka mata dokter-dokter muda untuk memahami per-ASI-an dan dasar-dasar pemahaman dan penatalaksanaan gangguan kesehatan pada anak (dan keluarga).

Saya cukup heran melihat kenyataan bahwa pengetahuan dokter muda akan ASI sama kurangnya dengan pasangan baru dari latar belakang nonmedis. Memang dalam kurikulum ilmu kedokteran bahasan tentang ASI ini tidak dimasukkan, hanya dibahas sekilas. Namun bagaimanapun pengetahuan ini saya rasa cukup vital untuk dimiliki oleh tenaga medis. Nampaknya penjabaran tentang IMD, bahaya menunda IMD, ASI eksklusif, dan kelangsungan pemberian ASI beserta permasalahannya merupakan pengetahuan baru bagi mereka. Banyak yang menanyakan hal-hal dasar yang berkaitan dengan per-ASI-an.

Alih-alih tertarik dengan pembahasan, yang sebetulnya secara garis besar mungkin mommies juga sudah hapal😀, saya malah kepikiran. Kalau dokter muda yang ilmunya relatif masih segar saja pengetahuan tentang ASI-nya ‘cuma segitu’, apa kabar dokter-dokter yang lebih senior?

Tentang tata laksana pengobatan gangguan kesehatan umum seperti peresepan antibiotik, penggunaan imunomodulator, dan pemberian puyer, nampaknya dokter-dokter ini cukup paham. Mungkin karena masih idealis, ya, jadi masih done by the book.

 

 

Kenyataan itu membuka mata saya juga, bahwa kita sebagai konsumen medis memang tidak bisa lagi bersikap pasif. Idiom-idiom “dokter pasti lebih tahu”, “apa kata dokter saja”, “resep dokter tidak mungkin salah”, harus kita hilangkan dari persepsi kita. Dokter bukan dewa kita saat kita punya masalah kesehatan, tapi lebih tepat sebagai partner mencari solusi kesehatan yang paling pas dengan sikon kita. Misalnya saat anak sakit, kita ke dokter, kitalah yang harus ‘menyuplai’ dokter dengan informasi kronologis penyakit, suhu badan per waktu, gejala yang timbul, sampai ke detil makanan atau aktivitas pasien yang mungkin berhubungan dengan timbulnya penyakit tersebut.

Kita tidak bisa sekedar bawa pasien ke dokter dan menuntut dokter ‘simsalabim’ memberikan diagnosa dan obat atau treatment tanpa informasi dari kita. Misal saat demam baru 24 jam tanpa ada gejala penyerta, kita dan dokter sebetulnya sama tidak tahunya ini kena penyakit apa. Karena patokan dasar diagnosa adalah demam 72 jam tanpa gejala penyerta, kecurigaan utama bisa pada infeksi saluran kencing dan untuk balita bisa ditambahkan kecurigaan infeksi virus roseola. Sebaliknya, walau belum sampai 24 jam demamnya tapi timbul batuk atau pilek, kemungkinan besar si batuk-pileklah penyebab demamnya. Malah bisa jadi tidak perlu ke dokter karena sudah jelas.

Sekarang kita dituntut untuk sedikit mengerti bahasa medis walau jelas tidak mungkin menyamai ilmu dokter hasil dari sekolah bertahun-tahun. Tapi setidaknya kita masih bisa mempelajari gejala dan penanganan gangguan kesehatan yang umum seperti batuk-pilek, demam, muntah-diare, dan P3K beserta tanda-tanda kegawatdaruratan. Dokter pun akan lebih mudah berdiskusi bila berhadapan dengan pasien yang ‘pintar’ dan mengerti proses perjalanan penyakit daripada dengan pasien yang berprinsip “ke dokter harus pulang bawa obat dan besok sembuh”.

Mengerti bahasa medis, juga akan membantu kita  melakukan pengecekan ulang terhadap diagnosa dan tindakan yang diberikan oleh dokter melalui situs kesehatan seperti Mayoclinic.com atau Kidshealth.org. Mengetahui dengan tepat nama internasional (medis) penyakit, seperti misalnya strep-throat ketimbang radang tenggorokan, atau common-cold ketimbang masuk angin akan memudahkan proses search. Radang tenggorokan bila kita search akan menampilkan ulasan yang sangat umum karena radang tenggorokan bukan penyakit melainkan salah satu gejala infeksi saja. Sedangkan masuk angin malah tidak ada istilah medisnya.

Membiasakan pengecekan ulang tindakan dan peresepan akan memperkecil kemungkinan terjadinya malpraktik atau salah obat. Dalam tataran yang lebih ringan juga akan mengurangi polifarmasi atau over-medication, yaitu pemberian terlalu banyak obat untuk satu jenis penyakit.

Pesan dr. Wati, “Mommies, hargai dokter yang berani bilang tidak tahu ketika mendiagnosa dan berjanji mencari tahu. Ini jauh lebih bagus ketimbang menebak sumber penyakit.” Tindakan dan obat tidak bisa ditebak-tebak, harus tepat guna sehingga aman untuk pasien dan ramah biaya.

Mari kita saling belajar bersama dokter kita. Kalau mungkin, tanyakan sumber-sumber bacaan online yang menjadi panduan si dokter untuk kita pelajari juga. Beberapa minggu lalu saat saya berkesempatan konsul dengan dokter Wati tentang tum-bang (tumbuh kembang) si bungsu, beliau menyarankan saya membaca tentang tum-bang dan milestone di web WHO.

Satu hal yang saya pegang dalam memilih dokter adalah kemampuan berkomunikasinya. Saya tidak akan datang kembali ke dokter yang cuma duduk-periksa-tulis resep tanpa menjelaskan apa-apa pada pasien. Dengan membangun komunikasi yang baik dengan dokter, efektivitas pengobatan juga akan lebih baik.

Sumber : momiesdaily.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: