Antibiotik si ‘Obat Dewa’, Sering Diberi pada Anak Meski Cuma Sakit Ringan

Radian Nyi Sukmasari – detikHealth
Selasa, 14/10/2014 19:48 WIB

Jakarta, Wajar jika orang tua khawatir saat si kecil sakit, misalnya demam, batuk, dan pilek. Bahkan terkadang, ada pula yang nekat memberi putra putrinya antibiotik agar cepat sembuh meskipun kenyataannyannya si anak tidak terinfeksi bakteri.

Menanggapi hal ini, dr Purnamawati SpA dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba mengungkapkan berdasarkan penelitian, anak adalah populasi yang paling terpapar penggunaan antibiotik. Sudah pasti, penyebabnya karena mereka sering sakit.

“Dalam setahun balita bisa 8-12 kali sakit. Tapi kan sakit ringan seperti demam, batuk pilek, diare, muntah. Disebut ringan sifatnya self limiting, sembuh sendiri. Penyebabnya juga virus dan antibiotik tidak bisa menyembuhkan,” kata dr Purnamawati.

Pemberian antiboiotik untuk penyakit yang memang tidak disebabkan infeksi bakteri pastinya tidak akan menimbulkan hasil. Oleh karenanya, dr Purnamawati sangat mengajurkan ketimbang ‘meracik’ obat sendiri termasuk dengan membeli antibiotik di apotek, lebih baik bawa anak ke dokter jika kondisinya tak membaik.

“Penyakit sehari-hari di mana anak butuh antibiotik misalnya infeksi saluran kemih. Kalau sudah diketahui sakitnya itu, kita cari penyebabnya apa lalu cari antibiotik yang sesuai untuk bakteri tersebut,” lanjut dr Purnamawati di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Senada dengan dr Purnamawati, selaku Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba dr Anis Karuniawati SpMK, PhD mengatakan saat anak demam 3 hari tidak seyogianya langsung diberi antibotik. Sebab, virus juga bisa menyebabkan demam pada anak.

“Makanya ada pemeriksaan penunjang untuk menemukan ada infeksi virus atau bakteri. Dulu memang saat baru ditemukan Flemming, antibiotik dianggap sebagai ‘obat dewa’ karena dulu memang penyakitnya kebanyakan infeksi bakteri. Kalau sekarang kan mesti kita teliti lagi,” kata dr Anis.

Oleh karena itu, ia menyarankan sebaiknya orang tua tak asal memberi antibiotik pada anak saat sakit. Ketika membawa berobat ke dokter pun diharap orang tua bisa lebih kritis dan aktif. Apalagi, meskipun kecil, bakteri memiliki daya tahan yang besar untuk melindungi diri sehingga tidak bisa dilakukan eradikasi murni, yang dapat dilakukan ketika terjadi infeksi bakteri yakni memperlambat resistensi dan mencegah transmisinya.

Sehubungan dengan pembelian antibiotik, Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian drs Bayu Teja Muliawan, M.Pharm, MM, Apt menegaskan peresepan antibiotik termasuk kategori obat keras. Sehingga, pembeliannya harus dengan resep dokter. Maka dari itu perlu ada pendidikan bagi masyarakay bagaimana penggunaan antibiotik yang benar.

“Kita galakkan juga agar apoteker di RS atau faskes lainnya untuk memberi informasi yang benar tentang obat-obat apa saja yang diberikan, jenis dan penggunaannya, kapan harus berhenti. Masyarakat juga jangan ragu minta info dari apoteker. Pemerintah melalui BPOM juga melakukan monitor dan pengawasan terhadap distirbusi antibiotik,” terang Bayu.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: