Archive for My Articles

Announcement : Statement from WHO (Expert Commitee) about “Puyer” is Irrational !

Page 21 of our report:

The Committee also considered extemporaneous preparations involving polypharmacy. The Committee noted that in 1985, WHO defined rational use of medicines as requiring that “patients receive medications appropriate to their needs”. The custom in some places is to treat sick children with a mixture of several medicines (“puyer”), not necessarily all appropriate to their needs. Commonly, adult solid dosage forms are mixed together, ground to a powder, and the powder divided into assumed paediatric doses and then dispensed for administration to the child. Often, some medicines in the mixture are not indicated for the condition being treated. These medicines add to the risk of adverse
events without any possibility of conferring additional benefit. The Committee recommended that as this practice is irrational it should not be used.

Source : http://www.who.int/selection_medicines/committees/expert/17/en/index.html

Leave a comment »

Lima Tepat Dalam Penggunaan Obat yang Rasional

Sabtu, 6 Desember 2008 | 19:06 WIB

JAKARTA, SABTU — Penggunaan obat yang baik harus memenuhi lima tepat yaitu, tepat sesuai klinis atau diagnosis, tepat dosis, tepat jangkau waktu, tepat informasi, dan tepat harga. Jika tidak memenuhi beberapa unsur itu, pasien sebagai konsumen akan dirugikan karena harus mengonsumsi obat secara tidak rasional dan mengeluarkan biaya pengobatan yang lebih mahal.

Demikian benang merah seminar bertema “Penggunaan Obat yang Rasional di Masyarakat” dalam rangkaian acara Weekend at Kemang Medical Care (KMC), Sabtu (6/12), di Kemang Medical Care, Jalan Ampera Raya, Jakarta.

Dokter spesialis anak Purnamawati S Pujiarto menekankan pentingnya orangtua atau pasien memakai haknya untuk menanyakan penyakit serta pengobatannya kepada dokter. Hubungan dokter dan pasien harus interaktif layaknya hubungan antara konsumen dan konsultan. Konsultasi medis adalah perundingan antara penerima dan pemberi jasa layanan kesehatan untuk mencari penyebab penyakit serta penanganannya, ujarnya menegaskan.

Dengan demikian, prinsip keselamatan pasien yang menempatkan pasien sebagai subyek layanan kesehatan dapat tercapai, kata Purnamawati yang juga merupakan Direktur Medik Kemang Medical Care ini. Atas dasar itu, pasien dianjurkan untuk selalu menanyakan tiga hal kepada dokternya yaitu apa masalah yang saya hadapi dan penyebabnya, apa yang harus dilakukan dan mengapa, serta kapan saya harus menjadi lebih cemas.

Diakui, saat ini sering kali dijumpai praktik penggunaan obat yang tidak rasional di kalangan masyarakat, termasuk di dalamnya polifarmasi atau penggunaan obat secara berlebihan jenisnya. Sebagai contoh, pada sediaan puyer, penggunaan antibiotika yang tidak pada tempatnya, pemakaian obat non-generik, penyuntikan serta pemberian suplemen yang tidak perlu.

Promosi dan pemasaran produk sangat agresif yang pada akhirnya menciptakan konsumen tidak rasional, kata Purnamawati menambahkan. Hal ini mencerminkan keinginan pasien untuk selalu memperoleh obat bagi setiap keluhan. Padahal, bukan keluhan yang harus diatasi, tetapi penyakitnya yang hanya bisa didapatkan dari penegakan diagnosis yang tepat.

Selain itu, banyak konsumen menginginkan obat yang bekerja secara instan atau mengejar obat yang harganya mahal lantaran mengira bahwa semakin mahal suatu obat akan semakin pasti juga khasiatnya. “Penggunaan antibiotik secara berlebihan dan tidak tepat merupakan masalah klasik yang masih terus berlangsung. Jika hal ini terus terjadi, malah akan membuat bakteri jadi kebal atau resisten,” ujarnya.

Sebagai institusi kesehatan dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak, Kemang Medical Care secara aktif menggalakkan program penggunaan obat yang rasional. “Hal ini secara nyata kami terapkan dengan dukungan penuh dari jajaran dokter yang bergabung bersama kami,” kata Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran Kemang Medical Care Chairani Jusuf Kalla menjelaskan.

Sumber : Kompas

Comments (1) »

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)

RATIONAL USE OF MEDICINE (RUM)

Purnamawati S Pujiarto Dr SpAK, MMPed


Yayasan Orang Tua Peduli

Drugs are much too serious a thing
to be left to the medical profession and the pharmaceutical industry G.
Cannon

Semua orang dalam hidupnya suatu saat pasti membutuhkan obat, termasuk tenaga
medis. Semua orang, termasuk pemberi jasa layanan kesehatan (provider) adalah
konsumen. Semua orang butuh dan berhak memperoleh layanan kesehatan yang TERBAIK.
Di lain sisi, apakah semua gangguan kesehatan harus senantiasa dijawab dengan
obat? Apakah ketika anak sakit, solusinya harus peresepan sederet obat dalam
bentuk puyer?
Memang, tidak sedikit konsumen yang beranggapan bahwa konsultasi medis adalah
kunjungan berobat” alias upaya meminta obat. Uniknya, meminta obat ini
sudah seolah terpatri, harus” cespleng dan harus” puyer. Ironisnya
lagi, anak merupakan populasi yang paling terpapar pada pola pengobatan yang
tidak rasional antara lain pemberian antibiotika dan steroid yang berlebihan,
serta polifarmasi. Padahal, gangguan kesehatan harian pada anak umumnya merupakan
penyakit ringan yang sifatnya self limiting”. Demam, diare akut, batuk
pilek, dan radang tenggorokan, merupakan kondisi yang umumnya ditangani dengan
antibiotika. Keempat kondisi tersebut juga peresepannya polifarmasi. Padahal,
ketika orang dewasa mengalami gangguan yang sama, peresepan obatnya lebih ramping”
ketimbang buat anak. Padahal, di dalam kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis
adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari
penyebab terjadinya penyakit & untuk menentukan cara-cara pengobatannya.
Singkatnya, konsultasi medis adalah upaya advocacy, upaya berbagi informasi,
upaya meminta penjelasan dan kejelasan. Namun demikian, siapa yang paling berperan
terhadap terpaterinya pola pikir sakit = obat, obat = puyer (kalau mau murah,
praktis dan cespleng”)? Barangkali, sudah waktunya kita merenungkan kembali
praktek keseharian kita di lapangan. Membuka hati, karena kita ingin senantiasa
memberika yang TERBAIK buat bangsa ini. Waktunya pun terasa cocok karena sudah
semakin banyak konsumen yang memahami bahwa konsultasi medis tidak selalu berarti
obat, keputusan klinis tergantung penyebab gangguan kesehatan yang tengah dialami
si konsumen.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya perenungan dan upaya berbagi terkait
konsep pola pengobatan yang rasional, yag sudah lebih dari 20 tahun di canangkan.
Diawali dengan beberapa cuplikan termasuk dari beberapa guru yang saya hormati
dan kagumi semangat dedikatifnya bagi pasien-pasien kita tercinta.

PENINGKATAN MUTU PENGGUNAAN OBAT DI PUSKESMAS MELALUI PELATIHAN BERJENJANG
PADA DOKTER DAN PERAWAT

Iwan Dwiprahasto; Bag Farmakologi & Toksikologi FK, UGM Yogyakarta

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung berlebih.
Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan mengenai bukti-bukti
ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan obat yang tak diperlukan
(misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua, keyakinan dan perilaku
pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada pasien dengan gejala pada
otot-sendi.
43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata obat yang diresepkan untuk
ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia mendapat rata-rata
3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan antibiotika untuk ISPA
mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan antibiotika
kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas
di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan mutu
penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan penggunaan
obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan injeksi
menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun dari 3.74
+ 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49 menjadi
2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak
dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37% menjadi
42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna
dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71%
(p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien myalgia,
yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56% menjadi
62.91% (p<0.05) (perawat).

Rabu, 22 November 2000: Obat, Komoditas atau Produk Karitas?

OBAT itu unik. Ia adalah komoditas ekonomi komersial tetapi sekaligus produk
yang lekat dengan fungsi sosial, penyelamat nyawa manusia. Obat memag telah
lama menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan. Otoritas meresepkan obat yang
diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan, menimbulkan
pengobatan yang irrasional yang merugikan konsumen, namun memperkaya para dokter
dan industri farmasi.
Ivan Illich (Medical Nemesis: Expropriation to Health, 1975) mengkritik institusi
dan industri medis yang membuat manusia tak lagi memiliki otonomi atas kesehatannya
sendiri. Dunia medis justru menciptakan “kesehatan” menjadi “kesakitan”.
“Industri kesehatan telah menjadi ancaman besar terhadap kesehatan.”
Buku-buku lain yang menggugat kemapanan “kolusi” industri dan para
dokter ditulis Dianna Melrose (Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor,
1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World,
1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines?, 1984), John Braithwaite
(Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984), hingga pengarang novel
Arthur Hailey (Strong Medicine, 1984). ………
Khusus tentang obat-obat generik bermerek, di Indonesia jumlahnya paling banyak.
Obat-obat ini berhasil membangun citra seolah-olah seperti obat paten. Ada nilai
tambah dengan kemasan yang baik, merek yang keren, serta biaya promosi yang
tidak kecil.
Obat, kecil skala ekonominya. Namun, keuntungan yang diraih luar biasa besar.
Di Amerika Serikat, menurut survei majalah Fortune, 12 perusahaan farmasi termasuk
dalam kelompok 50 perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar. Padahal
tidak satu pun yang omsetnya besar. Di Indonesia, ada perusahaan farmasi PMA
mematok harga obat lebih tinggi daripada di Kanada dan banyak negara kaya. Ini
karena praktik transfer pricing ke perusahaan induk. Sementara perusahaan farmasi
swasta nasional juga pesta pora obat generik bermerek yang sebenarnya obat latah
(me-too drugs) yang margin keuntungannya jauh lebih besar ketimbang obat paten
PMA sehingga mereka leluasa mengontrak dokter.
Apakah masih layak menyebut obat dan dokter itu penyelamat? (ij)

Obat Rasional, Kuncinya Dokter

PROFESI kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan
audit kerasionalan preskripsi. Sampurno berharap masalah ketidakrasionalan penggunaan
obat dapat diatasi, sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, antara lain
meningkatnya inefisiensi biaya pengobatan dan terjadinya efek obat yang tidak
diharapkan. Ia mengusulkan 3 agenda aksi untuk meningkatkan penggunaan obat
yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: Konsep obat esensial dan aplikasinya
serta pendidikan preskripsi yang rasional RS pendidikan punya tanggung jawab
etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan preskripsi yang rasional melalui
contoh konkret dari para staf pengajarnya. “Sayangnya, justru di Indonesia
rumah sakit pendidikan adalah tempatnya mengajarkan preskripsi yang tidak rasional”.
Agenda aksi kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. DOEN
yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap
tingkat pelayanan kesehatan. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas
(angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda aksi ketiga,
intervensi regulasi. ………
Jumlah dan merek obat yang terus bertambah (sekitar 10.000 merek atau bentuk
sediaan), bukan soal mudah bagi seorang dokter untuk menjatuhkan pilihan. Menurut
Prof Iwan, dalam proses pemilihan ini dokter mudah dipengaruhi produsen. Sering
pilihan dokter jatuh pada preparat yang kurang efektif atau yang malahan merupakan
plasebo (obat bohong) dan substandar yang seringkali jauh lebih mahal dibanding
obat-obat lama yang telah terbukti keampuhannya. Di tengah rimba belantara ribuan
merek obat, dokter harus mempelajari sifat obat yang lama dan yang baru secara
terus-menerus seumur hidup.

From: http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1116
Pengukuhan Prof Iwan Dwiprahasto: “Tradisi Menulis Resep Obat Perlu
Dikoreksi” (“Farmakoterapi Berbasis Bukti: Antara Teori dan Kenyataan”).

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi
tampaknya tetap menghantui kalangan professional kesehatan di negara-negara
berkembang, seperti Indonesia. Meskipun hampir semua jurnal biomedik dan buku-buku
teks kedokteran telah tersedia dalam bentuk elektronik…. tenaga kesehatan
dikhawatirkan semakin jauh dari konsep-konsep farmakoterapi berbasis bukti yang
mutakhir.
Ironisnya, kelemahan inilah yang dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang
dan secara gencar membanjiri para dokter dengan informasi-informasi tentang
obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya unbalanced, cenderung misleading
atau dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial.
“Penggunaan informasi seperti ini sangat beresiko dalam proses terapi,”
ungkap Prof dr Iwan Dwiprahasto MMedSc PhD, Senin (7/1) …Wakil Dekan Bidang
Akademik & Kemahasiswaan FK UGM saat dikukuhkan sebagai Guru Besar FK UGM.
Ketua Komite Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan RSUP Dr Sardjito. Keterbatasan
informasi ini menjadikan off-label use of drug sangat marak dalam praktek sehari-hari.
Off-label use adalah penggunaan obat di luar indikasi yang direkomendasikan.
Obat yang sering digunakan secara off label antara lain antihistamin, antikonvulsan,
antibiotika, serta obat flu dan batuk. Berbagai obat kardiovaskuler pun sangat
sering digunakan secara off label, antara lain antiangina, antiaritmia, dan
antikoagulan.” Berbagai penggunaan obat di luar dosis yang direkomendasikan,
termasuk pula dalam katagori ini. Banyak praktek-praktek kefarmasian di apotek
tergolong off label use.
“Menggeruskan tablet untuk dijadikan puyer, kapsul, bahkan sirup untuk
sediaan anak, atau menggeruskan tablet atau kaplet untuk dijadikan saleb dan
krim adalah bentuk off label use yang jamak ditemukan. Hal itu terjadi secara
turun menurun, berlangsung puluhan tahun tanpa ada yang sanggup menghentikannya.”

LANJUTAN

Melestarikan penyimpangan, menikmati kekeliruan, dan mengulang-ulang kesalahan
tampaknya sudah menjadi hedonisme peresepan. Yang satu mengajarkan dan yang
lain mengamini sambil menirukan. Itulah cara termudah untuk mendiseminasikan
informasi yang tidak berbasis bukti.”
Menulis resep, seolah telah menjadi tradisi ritual yang tidak bisa dikoreksi.
Tulisan yang sulit dibaca seolah menjadi bagian dari sakralisasi peresepan.
“Padahal bahaya mengintai dimana-mana. Kebiasaan keliru menuliskan aturan
resep 3 kali sehari (signa 3 dd 1) seharusnya mulai ditinggalkan dan diganti
menjadi diminum tiap 8 jam. Pun dengan obat yang diberikan 2 kali sehari, seharusnya
bisa ditulis tiap 12 jam dan seterusnya.
“Menulis resep dalam bentuk campuran (beberapa jenis obat digerus dijadikan
satu sediaan puyer atau sirup) perlu untuk segera dikoreksi, karena termasuk
off label use. Jika praktek-praktek primitive semacam itu tetap dipertahankan,
maka keselamatan pasien (patient safety) tentu akan jadi taruhannya,” tandasnya.

Prof Iwan mengajak para professional kesehatan untuk senantiasa mengacu pada
bukti-bukti ilmiah terkini. “Keeping up to date” bukanlah sekedar
slogan tapi merupakan prasyarat fundamental dalam implementasi Evidence Based
Medicine (EBM).

ERA INFORMASI DAN TRANSPARANSI

Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek kehidupan
termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan dan kesadaran kesehatan.
Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses ke pengetahuan kesehatan; kemudahan
ini seperti mengisi kehausan ilmu kaum muda Indonesia yang sudah semakin menyadari
haknya dan sudah mulai memposisikan dirinya sebagai konsumen. Tercermin dari
semakin meningkatnya upaya masyarakat dalam membekali diri dengan pengetahuan
kesehatan meski mereka tidak memiliki komputer sekalipun. Era informasi ini
merupakan anugerah karena dengan biaya murah kita bisa memilih situs yang reliable”.
Mereka juga mencermati iklim layanan kesehatan baik di luar Indonesia dimana
konsumen terbukti berhasil membantu mewujudkan iklim layanan kesehatan yang
lebih baik dan rasional. Mereka juga gencar mencari dan berbagi informasi perihal
siapa-siapa saja dokter yang RUD. Dan ketika mereka datang membawa print out
artikel dan guideline, ketika pasien sudah memahami tatalaksana harus sesuai
EBM dan guideline nya, lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi
seperti ini? Aplikasi guidelines dalam praktek sehari-hari cepat atau lambat
akan membantu mengangkat citra profesionalisme kita sebagai tenaga medis.
Di lain pihak, tenaga kesehatan asing sudah berdatangan masuk ke Indonesia.
Mmapukah kita bersaing menghadapi serbuan” ini? Apakah para pemberi jasa
layanan kesehatan memahami perubahan pasar” lalu mampu tetap tegak dan
profesional di tengah persaingan global?


EBM, EBP, DAN GUIDELINES

EBM adalah landasan penyusunan guidelines dalam rangka membuahkan praktek
pengobatan yang rasional atau EB practices. Secara filosofis, tujuan EBM adalah
peningkatan mutu layanan kesehatan bagi pasien karena EBM berawal dari pasien
dan berakhir dengan pasien. Banyak sekali alasan mengapa kita butuh EBM. Pertama,
agar ilmu pengetahuan kita senantiasa up to date. Dengan bertambahnya jam terbang,
terbukti bahwa pengetahuan kita mengalami kemerosotan meski mungkin kemampuan
(skill) meningkat. Ilmu kedokteran terus berkembang dengan pesat dan terus berubah
dan kita sering tak bisa mengetahui informasi terkini secara tepat waktu alias
… selalu kedodoran! Perkembangan obat yang pesat bisa membuat kita tanpa sadar
belum memberikan yang terbaik untuk pasien-pasien kita. Oleh karena itu, EBM
merupakan upaya untuk melakukan the right thing in the right way; melakukan
the best for our patients.

Teknis praktisnya (EBP)? Ketika kita dihadapkan pada seorang pasien, langkah
pertama adalah menerjemahkan semua gejala pemeriksaan fisik dan keluhan menjadi
suatu pertanyaan klinis dalam 2 bentuk yaitu
(1) pertanyaan mendasar (4W dan 1H) serta
(2) pertanyaan yang lebih spesifik (terdiri dari 4 komponen yaitu PICO atau

a. Patient,
b. Intervention,
c. Comparison,
d. Outcome
Langkah kedua, Menerjemahkan pertanyaan di atas menjadi suatu upaya pencarian
bukti yang terkuat/terbaik. Ini membutuhkan pengetahuan IT medis serta metodologi
penelitian dan statistik sehingga tahu harus mencari kemana (mengetahui bagaimana
mencari evidence based resources, Medline, dll) untuk diagnosis, terapi, prognosis,
serta harm/casualty nya.
Langkah ketiga, menelaah evidence di atas secara kritis (critical appraisal)
terkait kualitas dan manfaatnya melalui telaah validitas, reliabilitas, relevansi
serta clinical importance nya.
Kuasai kekuatan evidence (level 1 s/d 5, dan kita pun akan senantiasa diingatkan
bahwa ecpert opinion memiliki kekuatan yang sangat lemah apalagi testimoni).

Guidelines.

Clinical practice guidelines are systematically developed statements
that aim to help physicians and patients reach the best health care decisions.
Good guidelines have many attributes, including validity, reliability,
reproducibility, clinical applicability and flexibility, clarity, development
through a multidisciplinary process, scheduled reviews, and documentation.
More than 2000 guidelines are currently represented in the National Guideline
Clearinghouse (www.guideline.gov).
Guidelines disusun berdasarkan evidence dan experience. Guideline merupakan
suatu rekomendasi tatalaksana suatu kondisi klinis. Guideline berhasil
menstandarisasi layanan kesehatan, mengurangi variasi lokal, dan memperbaiki
health outcomes (termasuk prognosis). Contoh guideline yang baik misalnya
dari USA adalah panduan imunisasi ACIP, STD dari CDC; dari UK, guideline
buatan NICE; dan tentunya guideline dari WHO. Untuk anak, AAP, BMJ dengan
clinical evidence nya, dan RCH.

Data WHO tahun 2004 yang dipresentasikan di ICIUM Thailand menunjukkan bahwa
tingkat kepatuhan terhadap standard guideline (STG) penanganan diare akut sangat
rendah di belahan Asia Tenggara. Di sektor publik hanya 39% sedangkan di sektor
swasta jauh lebih rendah lagi yaitu 17%. Studi pendahuluan pola peresepan pada
4 kondisi harian pediatri (n = 160) menunjukkan tidak ada satupun yang ditangani
sesuai guideline”.

POLA PENGOBATAN RASIONAL, KONSULTASI MEDIK.

Mari kita ambil contoh, bayi diare. Penyebab utamanya adalah infeksi virus
dan obatnya adalah cairan rehidrasi oral (oralit) untuk mencegah dehidrasi.
Dokter memberi informasi perihal penyebab, tatalaksana, dan risiko komplikasi.
Dokter menyatakan bahwa diare akan sembuh sendiri, tidak ada obat yang diperlukan
selain cairan rehidrasi oral. Dengan demikian, konsultasi medis tidak senantiasa
harus diakhiri dengan penulisan secarik kertas resep. Nasehat dokter yang profesional
juga suatu bentuk obat”. Pada dasarnya, tidak banyak gangguan kesehatan
yang tatalaksananya harus berupa pemberian obat (di makalah terdahulu sudah
dikemukakan bahwa ada 5 bentuk terapi; pemberian obat hanyalah salah satunya).
Ketika butuh obat, banyak sekali faktor yang berperan dalam peresepan obat.

Selain effectiveness, faktor keamanan merupakan salah satu faktor utama yang
melandasi konsep pola pengobatan rasional (rational use of drugs/RUD). Di lain
pihak, faktor utama yang menentukan pelaksanaan RUD ini adalah kebijakan peresepan
obat yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain regulasi obat, pendidikan
kedokteran, informasi dan pengetahuan pola peresepan yang baik, industri farmasi,
serta kondisi sosio-kultural setempat. Semua saling terkait.

RUD adalah pola pemberian obat yang tepat yaitu pemilihan obat yang sesuai dengan
diagnosis penyakitnya, tepat konsumsinya, tepat dosisnya, tepat jangka waktu
pemberiannya, dan aman, dengan harga semurah mungkin serta dengan pemberian
informasi yang obyektif. Singkatnya, pola pemakaian obat yang aman dan efektif
(cost-effective), efisien dengan good outcome. Pendekatannya sesuai alur di
bawah:

1. Pasien dan permasalahannya. Dokter harus mengumpulkan data perihal perjalanan
penyakit dan pengobatan yang pernah diperoleh pasien.
2. Diagnosis: diagnosis tepat atau akurasi tinggi. Bila tidak memungkinkan,
setidaknya ada diagnosis perkiraan untuk selanjutnya dikonfirmasi dengan pemeriksaan
penunjang (laboratorium, pemeriksaan radiologis, dan sebagainya).
3. Tujuan terapi: dipengaruhi jenis penyakit dan keparahannya. Secara garis
besar tujuan adalah kesembuhan atau berkurangnya/hilangnya gejala/keluhan.
4. Pemilihan obat. Dilakukan dalam dua tahapan berikut:
– Menetapkan obat yang akan dipilih dengan catatan, hanya sebagian gangguan
kesehatan yang memang membutuhkan obat. Nasehat yang profesional juga obat.
Tidak jarang, ketika pasien tidak membutuhkan obat, dokter tetap memberikan
resep misalnya suplemen atau imunomodulator.
– Dari berbagai obat yang tersedia di tahap pertama di atas, dilakukan kajian
dari berbagai aspek yaitu efektivitas, keamanan, suitability, biaya, kemudahan
pemberiannya, serta persyaratan penyimpanannya. Pada anak misalnya, sirup tentunya
lebih suitable ketimbang puyer (belum lagi bicara soal stabilitas obat di udara
tropis). Dari sisi efektivitas versus biaya, obat generik tentunya menjadi pilihan
ketimbang obat bermerek. Ketika membutuhkan antibiotik, tentunya dipilih yang
sesuai target yang dibidik.
5. Terapi dimulai: Dokter meresepkan obat; memberi penjelasan manfaat dan efek
samping obat serta tindakan seandainya terjadi reaksi efek samping obat.
– Hasil terapi: Dokter melakukan penilaian terhadap terapi yang sudah dilakukan
agar dapat menyimpulkan hasilnya.
– Kesimpulan terapi: Dokter menilai tercapai tidaknya tujuan terapi. Bila tujuan
tidak/belum tercapai, dokter meninjau kembali akurasi diagnosis serta mengevaluasi
kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi.

Menentukan permasalahan. Berdasarkan rangkaian langkah yang harus dilakukan
sebelum sampai pada langkah penatalaksanaan adalah menentukan permasalahan dan
penyebabnya. Keduanya ini merupakan fondasi pelaksanaan pola pengobatan yang
rasional. Contoh sederhana adalah ketika seorang anak batuk; kita tahu bahwa
batuk adalah gejala dan langkah pertama adalah mencari penyebabnya sehingga
dokter dapat menentukan diagnosisnya dan atas dasar diagnosis tersebut baru
ditetapkan tatalaksananya.

Institute of Medicine: According to the
committees vision (see box), the FDA must embrace a culture of safety
in which the risks and benefits of medications are examined during their
entire market life. This so called life-cycle approach would entail evaluating
risks in the context of benefits, sustaining attention to both efficacy
and safety after approval, and advancing and protecting the health of
the public. Risk benefit analyses would highlight key areas of uncertainty.
The careful design and conduct of post-marketing studies would help to
resolve uncertainties as drug use expanded.

POLA PENGOBATAN TIDAK RASIONAL (IRUD)

Pola pengobatan yang tidak rasional adalah pola pengobatan yang tidak mengikuti
kaidah pengobatan rasional. Dari berbagai studi, bentuk utama IRUD adalah:
– polifarmasi (pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan pada
kondisi yang tidak memerlukan beberapa obat sekaligus)
– pemberian antibiotika yang berlebihan
– pemberian steroid yang berlebihan
– tingginya tingkat pemakaian obat non generik
– tingginya tingkat pemakaian obat injeksi
– tingginya tingkat pemakaian obat” yang sebenarnya tidak dibutuhkan (off
label use). Termasuk di dalam kategori off label use adalah pemberian antibiotik
untuk infeksi virus seperti diare akut dan ISPA, pemberian steroid untuk batuk
pilek ISPA. Contoh lain misalnya, pemberian suplemen, vitamin, antihistamin
untuk common colds/flu, bronkodilator untuk batuk pada ISPA, dsb nya.

Penelitian pola peresepan pediatri di India menunjukkan bahwa 83,9% peresepan
yang tidak rasional dilakukan oleh sektor swasta. Sebesar 52,7% peresepan terdiri
dari 3 obat atau lebih. Empat puluh persen meresepkan suplemen dan tonikum.
Lebih dari 90% meresepkan obat bermerek (branded generic). Kesimpulan mereka,
Private practitioners prescribed significantly greater number of medicines and
were more likely to prescribe vitamins and antibiotics, and branded medicines.

Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) melakukan 2 penelitian
cross sectional dengan mengumpulkan resep yang di email ke mailing list
kami, penelitian kedua, mengumpulkan resep dan kwitansi yang dikirim ke
markas YOP. Resep yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi
yaitu batuk pilek demam (ISPA), demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah),
dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu. Berikut ini ringkasan penelitian
pertama dengan responden 160 anggota mailing list.
Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang
2 – 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya
paling tinggi yaitu 11 obat. Dengan tingkat peresepan puyer sebesar 55,4%
pada diare akut, 72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.

Antibiotik. Tingkat pemberiannya paling tinggi pada anak demam yaitu 87%
disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa demam sebesar
47%.
Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada kasus demam, 5%
pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk tanpa demam.
Steroid. Pada batuk sebesar 60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5%
pada demam dan bahkan 18,5% anak diare diberi steroid (umumnya triamnisolon).
Tingginya tingkat pemberian steroid juga sangat memprihatinkan yang sebetulnya
tidak akan terjadi apabila bekerja sesuai guideline”.
Tambahan. Peresepan suplemen (multivitamin, ensim, perangsang nafsu makan”,
atau imunomodulator”, cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA, pada demam
34,9%, pada batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yait6u 61,9%.
Biaya. Pada ISPA, Rp 15,000 – Rp 747,000; median 117.500; Pada demam
Rp 20.800 – Rp 137.000, maksimum Rp 326,000; Pada diare akut Rp 56.000
– 161.000, maksimum Rp 349.000. Analisis biaya pada peresepan pediatri
di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai
guideline. Padahal, biaya bukan sekedar rupiah. Harm” atau potential
harm” juga biaya.

ONGKOS. Di Indonesia, pengeluaran terbesar untuk antibiotics (63% dari pengeluaran/ongkos
ISPA), disusul dengan obat batuk-pilek, analgesik. Di sektor publik, biayanya
kurang lebih Rp 512 Rupiahs per kasus (padahal biaya sesungguhnya hanya Rp 153
per kasus apabila ditangani sesuai guideline). Biaya obat untuk diare dan ISPA
adalah 68% dari total biaya layanan kesehatan untuk balita dan 38% pada anak
di atas 5 tahun alias 36% total belanja kesehatan untuk obat.

SEPUTAR OBAT SIMTOMATIK FLU DAN COLDS:

• Chlorpheniramine or doxylaminine reduced runny nose and sneezing
after 2 days compared with placebo, but the clinical benefit was small.
Another review, found no significant difference in overall cold symptoms
at 1–10 days between antihistamines and placebo

• Some non-sedating antihistamines are associated with arrhythmias
and adverse interactions with other drugs.

• Compared with placebo, decongestants (norephedrine, oxymetazoline,
pseudo-ephedrine) reduced nasal congestion over 3–10 hours after
a single dose, but found insufficient evidence to assess the effects of
longer use of decongestants.

• Decongestants provide short-term relief of nasal obstruction
for adults, but may not work in children. Oral or nasal decongestants
are often used, but evidence that they work is scanty. Well-conducted
trials show that single doses are moderately effective. There is insufficient
evidence to show whether repeated doses are effective, or whether single
or repeated doses WORK IN CHILDREN UNDER THE AGE OF 12. Link: http://www.cochrane.org/reviews/english/ab001953.html

• No convincing evidence that anti-histamines, when used alone,
can relieve the cold. In combination with decongestives, antihistamines
might lead to some relief from a blocked and/or runny nose although there
is not enough evidence to be certain. Link: http://www.cochrane.org/reviews/english/ab001267.html

Makers of OTC Cough and Cold Medicines Announce Voluntary Withdrawal
of Oral Infant Medicines www.chpa-info.org
The branded cough and cold medicines that are being voluntarily withdrawn
are:

• Dimetapp® Decongestant Plus Cough Infant Drops
• Dimetapp® Decongestant Infant Drops
• Little Colds® Decongestant Plus Cough; Little Colds® Multi-Symptom
Cold Formula
• PEDIACARE® Infant Drops Decongestant (containing pseudoephedrine)

• PEDIACARE® Infant Drops Decongestant & Cough (containing
pseudoephedrine)
• PEDIACARE® Infant Dropper Decongestant (containing phenylephrine)

• PEDIACARE® Infant Dropper Long-Acting Cough
• PEDIACARE® Infant Dropper Decongestant & Cough (containing
phenylephrine)
• Robitussin® Infant Cough DM Drops
• Triaminic® Infant & Toddler Thin Strips® Decongestant

• Triaminic® Infant & Toddler Thin Strips® Decongestant
Plus Cough
• TYLENOL® Concentrated Infants’ Drops Plus Cold
• TYLENOL® Concentrated Infants’ Drops Plus Cold & Cough

Apabila kita tilik isinya, obat jadi tersebut mengandung bahan aktif dekongestan.
Dengan demikian, pelajaran yang kita tarik dari kondisi di atas antara lain
adalah bahwasanya anak batuk pilek TIDAK usah dan tidak boleh diberi dekongestan.
Apakah itu dalam sediaan puyer ataupun dalam sediaan jadi (bermerek).

http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/121/4/783?maxtoshow=&HITS=10&hits=10&RESULTFORMAT=&fulltext=cold+

medicine&andorexactfulltext=and&searchid=1&FIRSTINDEX=10&sortspec=relevance&resourcetype=HWCIT
BACKGROUND. Adverse drug events in children from cough and cold medications
have been identified as a public health issue with clinical and policy
implications.

Nationally representative morbidity data could be useful
for targeting age-appropriate safety interventions.

OBJECTIVE. To describe emergency department visits for
adverse drug events from cough and cold medications in children.
METHODS. Emergency department visits for adverse drug events attributed
to cough and cold medications among children aged <12 years were identified
from

a nationally representative stratified probability sample
of 63 US emergency departments from January 1, 2004, through December
31, 2005.

RESULTS. Annually, an estimated 7091 patients aged <12
years were treated in emergency departments for adverse drug events from
cough and cold

medications, accounting for 5.7% of emergency department
visits for all medications in this age group. Most visits were for children
aged 2 to 5 years (64%).

Unsupervised ingestions accounted for 66% of estimated
emergency department visits, which was significantly higher than unsupervised
ingestions of other

medications (47%), and most of these ingestions involved
children aged 2 to 5 years (77%). Most children did not require admission
or extended observation (93%).

http://www.mayoclinic.com/health/cold-medicines/CC00083
Avoid cough suppressants and other cold medicines. Coughing helps clear
the mucus from your baby’s airway. For otherwise healthy babies, there’s
usually no reason to suppress it. In fact, the Centers for Disease Control
and Prevention warns against giving cough and cold medicines to children,
especially those younger than age 2 years. Cough and cold medicines haven’t
been proved effective for children — and for young children, an
accidental overdose could be fatal.
Remember, over-the-counter pain relievers and cough and cold medicines
don’t kill the viruses that cause upper respiratory infections. And low-grade
fevers — which do help kill viruses — don’t need treatment.
If you give your baby an over-the-counter pain reliever, follow the directions
printed on the label.
What’s the concern about cough and cold medicines for kids?

Over-the-counter cough and cold medicines won’t cure a common cold or
make it go away any sooner. In fact, cough and cold medicines haven’t
been proved effective for children. And there are serious risks to consider.
For example, the sedating effects of antihistamines can be dangerous for
kids already having trouble breathing. For young children, an accidental
overdose of cough or cold medicine could be fatal.
The Food and Drug Administration (FDA) encourages parents to avoid cough
and cold medicines for children younger than age 2.

What if cough and cold medicines seemed to work for my child
in the past?

Chances are, your child’s signs and symptoms simply improved on their
own — or the sedating effects of the medication made you think that
your child was feeling better. Low-grade fevers don’t need treatment,
and research shows that cough and cold medicines for kids are no more
effective than a placebo.

Are cough and cold medicines a problem for children older than
age 2?

Older children aren’t as likely as younger children to experience side
effects from cough and cold medicines, but side effects are still possible.
Some cough and cold medicines may make kids sleepy, while others may have
the opposite effect. Even then, remember that cough and cold medicines
can’t make a cold go away any sooner.
Experts from the FDA are studying the safety and effectiveness of cough
and cold medicines for children older than age 2. In the meantime, if
you choose to give cough or cold medicines to an older child, carefully
follow the label directions.

CLINICAL EVIDENCE
• The evidence for effectiveness
of over-the-counter (OTC) cough medicines is weak.
• Acute cough
is a common and troublesome symptom in people who suffer from acute upper
respiratory tract infection (URTI). Many people self-prescribe OTC cough
preparations and health practitioners often recommend their use for the
initial treatment of cough
• The results of this review: no good
evidence for or against the effectiveness of OTC medications in acute cough.

• link: http://www.cochrane.org/reviews/english/ab001831.html

Source : http://www.cdc.gov/drugresistance/community/campaign_materials/Color/FactSheet-RunnyNose(color).pdf

Source : http://www.cdc.gov/drugresistance/community/campaign_materials/Black-White/VirusBacteriaChart(BW).pdf

BATUK

TRADE OFF BENEFITS & HARMS – Antibiotics
UNKNOWN EFFECTIVENESS – B2 agonist
– Antihistamines
– Antitussive, Expectorants

Buat anak, WHO menegaskan, pemberian obat penekan refleks batuk, TIDAK dianjurkan.

Radang tenggorokan – Clinical evidence: BMJ

Treating symptoms Likely to be beneficial NSAIDs, Parasetamol
Unlikely to be beneficial Antibiotik, steroid
Unknown effectiveness Probiotik
Preventing complications Trade off – benefits and risks Antibiotik

TONSILITIS

CLINICAL EVIDENCE:
• No clinically relevant
differences in the health related quality of life. The number of episodes
was lower in the surgical group in the first 6 months after operation but
from 6–24 months there was no difference between the groups. Adenotonsillectomy
seemed more beneficial in children with 3–6 throat infections a year
before entry into the trial than those with fewer episodes (difference:
–1.07, 95% CI –1.59 to –0.56 v +0.34, 95% CI –0.08
to +0.77. The authors concluded that adenotonsillectomy for mild symptoms
has little clinical benefit over watchful waiting and no discernable benefit
after 6 months.
• The risks of tonsillectomy include those associated
with general anaesthesia and those specific to the procedure (bleeding,
pain, otalgia, and, rarely, nasopharyngeal stenosis). The subsequent RCT
found that 16/203 [8%] children who had surgery suffered complications.

• In the smaller RCT (91 children), erythematous rashes occurred in
4% of children in the non-surgical group while taking penicillin.[4] Other
adverse effects of antibiotics include allergic reactions and the promotion
of resistant bacteria. One RCT found that, for people with milder episodes
of sore throat, the prescribing of antibiotics compared with no initial
prescription significantly increased the proportion of people who returned
to see their physician in the short term because of sore throat (716 people
with sore throat and an abnormal physical sign; return rate: 38% with initial
antibiotics v 27% without initial antibiotics; adjusted HR for return 1.39,
95% CI 1.03 to 1.89).

DIARE

Kaolin: Obat ini tidak perna masuk guideline tatalaksana diare akut. Bahkan
dari produsen nya sendiri menyatakan bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan
pada infeksi E coli, salmonella, shigella, dan tidak boleh juga diberikan pada
diare yang ada darahnya serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai
kasus bedah lainnya. Kaolin juga dapat menimbulkan efek samping yang disebut
Toxic megacolon yaitu terkumpulnya dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga
racun-racun yang seharusnya dikeluarkan oleh tubuh kita akan meracuni tubuh
kita. Selain itu, baru-baru saja ada warning agar tidak memberikan Kaopectate
karena kandungan aspirin di dalamnya.

Pepto Bismol Warning
====================
Parents generally know that they shouldn’t give aspirin to their kids. There
are other medicines that contain salicylates, which are related to aspirin,
that you should also avoid. Their link to Reye’s syndrome is just theoretical
though. These include: Kaopectate & Pepto-Bismol
Also remember that the AAP, in the practice parameter: The management of
acute gastroenteritis in young children, makes the recommendation that ‘as
a general rule, pharmacologic agents should not be used to treat acute diarrhea’
and that ‘the routine use of bismuth subsalicylate is not recommended in
the treatment of children with acute diarrhea’.

BERBAGAI BENTUK IRUD

Polifarmasi. Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian puyer (racikan)
yang berisikan beberapa obat sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan
ringan harian seperti demam, batuk-pilek atau diare.
Pada suatu lokakarya RUD dikemukakan bahwa rerata jumlah obat di Pakistan adalah
3,6 obat/resep. Di Nigeria, 3,8 obat per pasien. Di Sudan, lebih dari 50% memperoleh
4 atau lebih obat per resep. Rerata obat balita (apapun diagnosisnya) adalah
3,58. Di Indonesia, suatu survey di Denpasar, menunjukkan 84,4% resep pediatri
mengandung lebih dari 4 kandungan aktif. Di Sumatera Barat, rerata obat yang
diberikan untuk anak ISPA adalah 3.69 obat. Sedangkan penelitian Depkes menunjukkan
bahwa rata-rata jumlah obat yang diberikan adalah 3,49.

Peresepan obat yang tidak perlu. Pada Technical briefing seminar WHO awal tahun
2004 perihal Kebijakan Obat Esensial dikemukakan bahwa di negara sedang berkembang,
jumlah obat yang diresepkan padahal sebenarnya tidak perlu diberikan sebesar
39 – 59%. Hal ini mencerminkan tingginya uang yang dibelanjakan untuk
obat sebenarnya tidak perlu dikeluarkan; sungguh suatu pemborosan.
Obat injeksi. Di negara sedang berkembang, persentase pemberian obat secara
injeksi (yang sebenarnya bisa diberikan secara oral) juga tinggi (20 –
76%). Sebenarnya, tidak banyak pasien yang membutuhkan pemberian obat melalui
suntikan. Selain itu, dipandang dari berbagai aspek, selama obat masih dapat
diberikan secara oral, pemberian melalui suntikan banyak dampak negatifnya termasuk
tingginya biaya karena pasien umumnya harus rawat inap di rumah sakit dan meningkatnya
risiko efek samping obat, kemungkinan masuknya bakteria ke tubuh kita saat penyuntikan
dilakukan, serta terusiknya rasa nyaman. WHO melaporkan bahwa sedikitnya 15
milyun penyuntikan per tahun di seluruh belahan dunia. Separuhnya mempergunakan
jarum suntik yang tidak steril. Setiap tahun, tercatat 2,3 – 4,7 juta
infeksi hepatitis B/C dan 160.000 infeksi HIV akibat pemberian obat melalui
suntikan. Diskusikan dengan dokter bila dinyatakan perlu memperoleh obat suntikan.

Antibiotika. Di beberapa negara sedang berkembang, persentase peresepan antibiotika
yang sebenarnya tidak perlu diberikan sebesar 52% – 62%. Data yang terekam dari
Indonesia mencatat sedikitnya 43% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak
diperlukan. Mengingat luasnya Indonesia, tidak kecil kemungkinan adanya data
yang lolos dan tidak terekam. Penelitian di beberapa tempat di Sumbar menunjukkan
bahwa tingkat pemakaian antibiotika sebesar 90%. Sedikit sekali puskesmas yang
memberikan antibiotika kurang dari 70%. Tingkat penggunaan antibiotika untuk
balita mencapai 83% dan 60% pada mereka di atas 5 tahun.
Penelitian membuktikan bahwa setiap harinya, telah diresepkan jutaan antibiotika
bagi pasien dengan penyakit infeksi virus. K. Holloway di Technical Briefing
Seminar 2004 WHO Geneva, menyatakan bahwa 30 – 60% pasien memperoleh antibiotika;
padahal, sebenarnya hanya 10 – 25% saja yang memerlukannya. Indonesia
menempati urutan tertinggi dibandingkan Nepal dan Bangladesh.


PENYEBAB IRUD.

Menurut Dr Weerasurya salah satu pakar RUD dari WHO SEARO, antara lain karena:
1. Membanjirnya obat dalam jumlah yang sangat besar. Di pasaran, suatu produk
obat tertentu tersedia dalam ratusan bahkan ribuan macam. Dokter sulit memilih
suatu obat secara rasional dan independen dari ribuan pilihan tersebut.
2. Proses pengambilan keputusan oleh para dokter & farmasis. Secara garis
besar, hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan, kompetensi serta profesionalisme
dokter dalam menghadapi pasien yang demanding” (misalnya selalu meminta
antibiotika atau meminta obat yang manjur”) dan dalam menangkal promosi
obat yang agresif.
3. Dispensing doctors.
4. Perilaku interventionist, dll

Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan sedikitnya
3 alasan mengapa para dokter cenderung agak “abusive” dalam pola
peresepannya:
– LACK OF CONFIDENCE. Dokter sering “kurang percaya diri” untuk
menyata-kan bahwa penyakitnya disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan
antibiotika. Dokter juga bisa “cemas” pasien akan pindah ke dokter
lain yang justru akan memberikan antibiotika; saat pasien sembuh ia akan menganggap
antibiotikanya lah yang menyembuhkannya. Padahal, setiap penyakit memiliki pola
perjalanan penyakit; saat berobat ke dokter kedua, penyakitnya diambang kesembuhan,
samasekali tidak ada hubungan dengan antibiotika yang diberikan.
– PATIENT PRESSURE. Tidak sedikit pasien yang meminta antibiotika atau menuntut
obat cespleng”.
– COMPANY PRESSURE. Tidak akan dibahas di bagian ini.


HARUS PUYER?

Ketika pertama kali melontarkan pertanyaan mengapa harus puyer”? Aneh,
mengapa harus dipertanyakan? Selama ini semua orang take it for granted”
bahwa resep (khususnya buat anak) adalah puyer. Puyer adalah bagian dari kultur”,
tradisi, tak terpisahkan dari dunia kedokteran di Indonesia. Puyer dianggap
yang terbaik dan paling tepat untuk Indonesia karena murah” (tetapi tidak
ada negara miskin lainnya yang memberikan peresepan puyer). Puyer paling tepat
buat Indonesia karena dosisnya bisa tepat (padahal dosis bisa kurat dengan apabila
kita mempergunakan syringe” untuk mengukurnya. Puyer juga dianggap terbaik
buat Indonesia karena sedikit sekali sediaan buat anak. Puyer juga paling tepat
karena mudah” yaitu ketika anak butuh banyak obat (gagguan kesehatan harian
tidak butuh banyak obat ketika kita kerjakan sesuai guidelinenya). Benarkah?
Di lain pihak, pasien Indonesia pun sudah menganggap (otomatis) bahwa anaknya
jauh lebih baik mengkonsumsi obat puyer.

Puyer harus ditinjau sedikitnya dari 2 aspek yaitu aspek
1. Good Manufaturing Practice (GMP/CPOB)
2. Good Prescribing Practice (GPP) dan EBMnya (lihat 6 langkah peresepan yang
benar di halaman 7)

Sebelumnya, kita tilik beberapa contoh komentar providers dan consumers terkait
puyer.

Ilustrasi di lapangan – PROVIDERS (ketika terjadi diskusi seputar
puyer)

Puyer dibuat dengan dasar pemikiran bahwa obat paten yg ada di pasaran
tidak sesuai dengan kemauan dokter sehingga dokter memiih untuk meracik
sendiri. Selain itu ada juga pemikiran bahwa pasien akan mendapat obat dengan
harga lebih murah + manjur…. Tapi sekarang bukannya sudah banyak obat
paten, selain itu banyak obat berarti lebih banyak efek samping, dan lagi…..masih
ada puyer yg ternyata harganya selangit….sooooooooo ???
Merubah perilaku pemberian resep puyer juga tidak mudah, mulai dari pengajaran
saat kuliah di FK, bagian farmasi harus dilibatkan….. saat saya sekolah
di FK pelajaran membuat puyer merupakan salah satu mata kuliah farmasi,
gak tahu sekarang gimana??? Kemudian para guru dan guru besar yg mengajar
di FK maupun Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mesti juga memberi
contoh, agar generasi penerus lebih baik.
Membuat teori jadi kenyataan di lapangan bukan hal yg mudah apalagi kalo
pasiennya awam sekali…..membuat. Belum lagi pasien askeskin atau jamkesmas
yg dapet jatah obat sangat terbatas” dan kurang memberikan perhatian
pada obat anak sehingga hanya ada tablet untuk dewasa yg akhirnya dipuyerkan
agar sesuai untuk anak. Paket obat anti tuberkulosa (TBC) untuk anak juga
tidak memberi jatah yg cukup untuk masyarakat, OAT yg bentuk sirup atau
tablet untuk anak harganya mahal, tak ada di askeskin.
Dr X: silahkan… mungkin punya solusi jitu ttg masalah puyer … barangkali
pabrik obat disuruh bikin obat kecil2 kaya permen berdasarkan berat badan
si bayi misalnya??
ttg tulisan di”prof” yang bilang dalam bentuk sirup apakah bisa
juga menjamin dosis yang diminum bisa lebih “tepat” dibanding
puyer mengingat satu sendok misalnya bisa tertumpah, tidak pas takarannya
ataupun mengendap karena tidak dikocok sebelumnya.
dear all… menggerus obat… duuh rasanya di Indonesia aja nih yang masih
pakai… ya agak susah sih memberantasnya… tunggu menkes turun tangan
kali ya… tapi yang jelas… logikanya begini…..
Mortar itu permukaannya berbentuk pori pori kecil … dimana setiap habis
menggerus serbuk obat tersimpan didalamnya dan sulit dibersihkan… kebayangkan
kalau berkali kali digunakan mortarnya… berapa obat yang tertinggal di
dalamnya… belum lagi obat itu kan proses pembuatannya steril begitu masuk
mortar sudah tidak steril lagi…
Nah itu baru dari pembuatannya… belum lagi dari segi polifarmasi (poli
= banyak) (farmasi = obat), satu obat saja efek sampingnya sudah macam macam
apalagi kalau banyak…. dan belum lagi terjadi interaksi obat yaitu obat
satu meningkatkan atau melemahkan kerja obat yang lain, meningkatkan risiko
menjadi racun, meningkatnya risiko efek samping yang tidak diinginkan….
jadi … jangan mau ya kalau dikasih puyer…

Ilustrasi di lapangan – CONSUMERS

Seperti biasa anak – anak common cold, semua menganggap saya kebangeten
nggak bawa ke dokter. Kadang saya berfikir saya bawa anak ke dokter karena
tidak tahan pandangan orang atau tidak tahan anak batuk pilek, atau kurang
sabar? Ketemu dokter langsung dituduh tidak memberikan ASI, duh senang juga
ni dokter pro ASI, setelah itu sedih deh diresepin puyer, ditambah antibiotik
ditambah vitamin. Saya langsung nanya kok puyer dok kan berbahaya. Puyer
kan cuma ada di Indonesia. Dia bilang itu karena puyer paling sesuai
dengan Indonesia (????)
Jadi puyer termasuk kekayaan budaya kita
ya??? Bulan depan aku mau ke dr. lagi, siapa tahu bulan depan beliau sudah
tidak mau meresepkan puyer. Semoga ya…! Li…
Dear SP & doctors,
Saya punya dokter langganan yg cukup unik (menurut ukuran saya). Beliau
ini kalo ngasih obat ke pasien, selalu dari obat2-an yg dia punya dgn
jenis obat, jumlah maupun ukuran yg ber-variasi. Misalnya, 1 (satu) plastik
berisi tablet A, kapsul B, setengah tablet C, dst., dan 1 plastik ini
untuk (misalnya) dikonsumsi 3 kali sehari Uniknya (sekali lagi, ini menurut
ukuran saya), si pasien-lah yg harus menggerus obat2an itu sendiri.
Sebenarnya boleh nggak sih hal seperti ini dalam kode etik kedokteran?
Salam, Sa….

J1: Ikut urun rembug yah….. Yang saya tahu Pak…..dokter itu kalau
ngasih obat ati2….. ndak lebih dari 2 baris atau 2 jenis obat….pun
tidak di tumbuk…
Nah Pak…..kenapa ndak boleh di gerus…diuleg jadi satu…..alias puyer….
bahasa kerennya polifarmasi. Kenapa ndak boleh…lebih banyak mudhorotnya
Pak.
Pemberian obat secara polifarmasi lebih banyak ruginya daripada untungnya
bagi pasien…… harga lebih mahal…belum tentu perlu semua obat2annya….mubazir.
Yang tidak kalah syeremnya….kemungkinan timbulnya interaksi obat semakin
besar…sehingga kemungkinan timbulnya efek toksik dan efek samping serta
penyakit karena obat semakin meningkat/nggilani. mohon maaf kl kurang
membantu, salam, ba….

saya coba urun rembug versi buruh pabrik dan pengalaman saya ngasuh
anak.
Pak…kalau anak-anak sakit kira2 butuh obatnya apa saja? Paling bater
Paracetamol…. ada sirupnya kok. Apalagi…diare….ada oralit; Butuh
antibotik…ada tuh syrup amoksisilin
gimana yg ndak ada syrupnya? Misalnya … antihistamin..buat alergi. alergi
kan umumnya cukup cegah pemicunya..jarang butuh antihistamin.
apalagi…steroid…..jaraanggg sekali ini pak. kl di indon iya batpil
hajar pakai ginian… alhamdulillah anak saya cukup minum air putih hangat
dan cukup makan.

Bagaimana dgn keadaan di puskesmas yg juga masih menggerus puyer ???
masih banyak juga pasien batpil di puskesmas dikasih racikan puyer (termasuk
jaman dulu saat si sulung kena batpil dan saya masih oon dgn RUD). Moga
kedepannya bisa lebih baik lagi
Thks/ Mamanya F…

masukan please… Habis ke DSA…dapet resep kayak antrian bus-way abis
jam kantor 😦
– Zitromax (ga ketemu di medicastore?)–> AB, kata DSA karna infeksi
– Puyer : Spiropen, homoclomin, kenacort, ambril, HCL codein –> katanya
untuk batuk pilek, tp indikasi obatnya kok untuk penyakit yg cukup gawat
ya??
– Dumin–> obat panas
Kecewa berat ama DSA nya… terburu2 (banyak pasien). Jadi masuk ruang
periksa, periksa pake stetoskop, tulis resep.. selesai d acaranya… (ngukur
panas juga kaga tuh…) Kemudian, ke kasir bayar, di apotik, pas saya
nanya famasisnya (kebetulan lagi keluar dari tempat persembunyian..hehehe..)
eh, malah nanya: “Ibu mau beli obat nya di sini apa tempat laen?”….

Oh ya, Ruam yg keluar di bag dada, perut, ketiak, punggung, n sedikit
di selangkang itu Roseola ya? Kata DSA, karna minyak.. Sori ya, rada curhat.
Salam, Ri…

GOOD MANUFACTURING PRACTICES
Industri farmasi harus memenuhi stau standar untuk memperoleh ijin produksi
dan mereka yang telah memperoleh ijin untuk memproduksi obat, harus mematuhi
standar Quakity Assurance.

The quality of pharmaceuticals has been a concern of the World Health Organization
(WHO) since its inception. The setting of global standards is requested in Article
2 of the WHO Constitution, which cites as one of the Organizations functions
that it should develop, establish and promote international standards with respect
to food, biological, pharmaceutical and similar products.”
Every government allocates a substantial proportion of its total health budget
to medicines. This proportion tends to be greatest in developing countries,
where it may exceed 40%. Without assurance that these medicines are relevant
to priority health needs and that they meet acceptable standards of quality,
safety and efficacy, any health service is evidently compromised. In developing
countries considerable administrative and technical effort is directed to ensuring
that patients receive effective medicines of good quality. It is crucial to
the objective of health for all that a reliable system of medicines control
be brought within the reach of every country.
Both for manufacturers and at national level, GMP are an important part of a
comprehensive system of quality assurance. They also represent the technical
standard upon which is based the WHO Certification Scheme on the Quality of
Pharmaceutical Products Moving in International Commerce.
Good manufacturing practice is that part of quality assurance which ensures
that products are consistently produced and controlled to the quality standards
appropriate to their intended use and as required by the marketing authorization.
GMP are aimed primarily at diminishing the risks inherent in any pharmaceutical
production. Such risks are essentially of two types: cross contamination (in
particular of unexpected contaminants) and mix-ups (confusion) caused by, for
example, false labels being put on containers. Under GMP:

a. all manufacturing processes are clearly defined, systematically reviewed
in the light of experience, and shown to be capable of consistently manufacturing
pharmaceutical products of the required quality that comply with their specifications
b. qualification and validation are performed;
c. all necessary resources are provided, including:

(i) appropriately qualified and trained personnel;
(ii) adequate premises and space;
(iii) suitable equipment and services;
(iv) appropriate materials, containers and labels;
(v) approved procedures and instructions;
(vi) suitable storage and transport;
(vii) adequate personnel, laboratories and equipment for in-process controls;

d. instructions and procedures are written in clear and unambiguous language,
specifically applicable to the facilities provided;
e. operators are trained to carry out procedures correctly;
f. records are made (manually and/or by recording instruments) during manufacture
to show that all the steps required by the defined procedures and instructions
have in fact been taken and that the quantity and quality of the product are
as expected; any significant deviations are fully recorded and investigated;

g. records covering manufacture and distribution, which enable the complete
history of a batch to be traced, are retained in a comprehensible and accessible
form;
h. the proper storage and distribution of the products minimizes any risk to
their quality;
i. a system is available to recall any batch of product from sale or supply;
j. complaints about marketed products are examined, the causes of quality defects
investigated, and appropriate measures taken in respect of the defective products
to prevent recurrence.
Singkatnya, urusan membuat obat merupakan rantai panjang nan rumit. Banyak persyaratan
yang HARUS dipenuhi. Misalnya, untuk premise, ada 36 persyaratan. Salah satunya
saya kutip di bawah. Apakah penggerusan obat kembali” menjadi bubuk tidak
melanggar konsep GMP? Bagaimana dengan kualitas (dan stabilitas) obat yang digerus
apalagi ketika penggerusanya bersama-sama dengan berbagai obat lainnya? Apalagi
Indonesia sebagai negara tropis yang lembab, kita patut mempertanyakan stabilitas
obat apalagi yang dicampur dan digerus bersama menjadi puyer.

12.3 Where dust is generated (e.g. during sampling, weighing,
mixing and processing operations, packaging of powder), measures should
be taken to avoid cross-contamination and facilitate cleaning.


PENUTUP

Apakah kita bisa dan mau membuka hati meninjau kembali praktek peresepan kita
termasuk peresepan puyer yang nampaknya suda menjadi suatu comfort zone”
buat kita semua? Apakah kita bisa jujur menilai diri kita sendiri, seberapa
jauh kita sudah menjalankan tugas sesuai evidence dan panduannya? Mari kita
bergandengan tangan …..PRIMUM NON NO CERE” … Above all do not harm.
Semoga kita bisa bersama-sama men translate” EBM ke kehidupan & praktek
sehari-hari dan tidak berkubang dalam atmosfer lost in translation”.

Daftar Pustaka:

1. World Health Organization. The Role of Education in the Rational Use of
Obat-obatan. South-East Asia Regional Office Publication Series, No. 45, 2006:
ix.
2. Arustiyono. Promoting Rational Use Of Drugs at the Community Health Centers
in Indonesia. Department of International Health School of Public Health Boston
University September 1999.
3. Bjerrum L. Pharmacoepidemiological Studies of Polypharmacy: Methodological
issues, population estimates, and influence of practice patterns. PhD Thesis,
Research Unit of General Practice and Department of Clinical Pharmacology The
Faculty of Health Sciences Odense University Denmark 1998.
4. Aman GM. Masalah Pemberian Polifarmasi.
5. Dwiprahasto I. Improving the Quality of Prescribing at Primary Health Centres
through a Training Intervention for Doctors and Paramedics. Jurnal Manajemen
Pelayanan Kesehatan, 2006: 94-101.
6. Widyastuti S, Dwiprahasto I, Andajaningsih, Bakri Z. The impact of problem-based
rational drug use training on prescribing practices, cost reallocations and
savings in primary care facilities. International
Conferences on Improving Use of Obat-obatan (ICIUM)
. World Health Organization
Essential Obat-obatan and Policy Department (EDM).
7. Quick J D, Foreman P, Ross-Degnan D. Where Does the Tetracycline Go? Health
Center Prescribing and Child Survival in East Java and West Kalimantan, Indonesia,
Jakarta: Management Sciences for Health, 1988.
8. MOH Republic of Indonesia. Integrated Analysis of Focused Problem Assessments
on Drug Management and Use and Design Interventions, Washington, DC: International
Science and Technology Institute Inc, 1990.
9. MOH Republic of Indonesia. Final Report on Pre-Post Controlled Trial of Drug
Use, Jakarta, 1994
10. Ross-Degnan D, Laing RO, Quick JD, Santoso B, Bimo, Chowdlury AK, Ofori-Adjei
D, et al. Field tests for rational drug use in twelve developing countries,
The Lancet 1993; 342:1408-1410
11. Department of Child and Adolescent Health and Development. The Treatment
of Diarrhoea. A Manual for Physicians and Lain-lain Senior Health Workers. World
Health Organization. 2005.
12. Makalah workshop Promoting Rational Use of Drugs in the Community (PRUDC),
WHO SEARO, Jaipur, India, January 2005.
13. WHO. Quality assurance of pharmaceuticals. A compendium of guidelines and
related materials Volume 2, 2nd updated edition. Good manufacturing practices
and inspection, 2007. www.who.int/topics/pharmaceutical_products/en

THE GREAT PHYSICIAN. We physicians all have heroes during
our training. We all remember the great physicians. I contend that the great
physicians differ from the good physicians because they understand the entire
story. Only when we understand the complete story do we make consistent
diagnoses.
Each patient represents a story. That story includes their diseases, their
new problem, their social situation, and their beliefs.
How do we understand the story? We must develop excellent communication
skills and gather the history in appropriate depth. We must perform a targeted
physical examination based on the historical clues. We must order the correct
diagnostic tests, and interpret them in the context of the history and physical
exam. Once we collect the appropriate data, we then should construct that
patient’s story.
The story includes making the correct diagnosis or diagnoses. The story
must describe the patient’s context. Who is this patient? What are the patient’s
goals? How might the patient’s personal situation impact our treatment options?
Sir William Osler said, “The good physician treats the disease; the
great physician treats the patient who has the disease.” The great
physician understands the patient and the context of that patient’s illness.
Be a great physician. Understand the full story. Make correct diagnoses.
Consult the patient in designing the treatment plans that best fit that
patient.
Follow the results with consistency and compassion. By so doing, you will
not only be providing the highest quality medical care; you will also be
living up to the ideals of William Osler and those of Tinsley Randolph Harrison
— the greatest of physician role models. That’s my opinion. I’m Dr. Robert
Centor, Professor of Medicine at the University of Alabama, Birmingham.

Comments (6) »

Berita Pers : Pengobatan Irasional Marak di Indonesia

JAKARTA, 3 Mei 2008 – Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di
Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat
kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter,
apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak
mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi
rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai
kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta
dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola
pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan
tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan
Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari
ini di Aula FK-UI Salemba. Seminar yang diharapkan menjadi titik balik dunia
kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi
rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa
tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI.

Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr.
Rianto Setiabudi, Sp.FK (Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto,
Sp.A(K), MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI); Prof. dr.
Effionora Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI
Jakarta); Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran); dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr.
Dra. Delina Hasan Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di
akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan
rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara
lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen
kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat
sekaligus pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi),
pemberian antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian
obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Salah satu contoh polifarmasi adalah
pemberian puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat
sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti
demam, batuk-pilek atau diare.

Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat. Suatu analisis terhadap sejumlah
resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan
pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat
secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan 12% diantaranya memicu timbulnya
interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan
Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang
sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang
terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat
sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan.
Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru,
yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI,
pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%.
Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai.
Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa
membuat rata-rata 130 resep puyer.

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi
pasien dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam
pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu,
stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus,
sedangkan toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan
audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat
dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta
terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan
farmakoterapi tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini
dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter
dibanjiri informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini
umumnya tidak seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada
kepentingan komersial.
-Selesai-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yayasan Orang Tua Peduli
Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No. 60, Jakarta 12540
Tel: (021) 780 0271
dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (purnamawati.spak@cbn.net.id)
dr. Yoga Pranata, S.Ked (doyogh@gmail.com)

Comments (3) »

Antibiotik? Siapa Takut?

by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi resep oleh dokternya ketika berobat…karena sudah seringnya diberi AB, kita langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita perlu AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas dengan singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan…..

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan :

1. produk alami,
2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas jenis bakteri yang dapat dibunuh, 
3. full sintetik.

Jenis AB:
1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik. Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).
2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada) umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang disebabkan oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak sekali terdapat bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Jadi, sebenarnya, kebanyakan bakteri tidaklah “jahat”. Manfaat bakteri diusus kita adalah:
1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. memproduksi vitamin B & K.
3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).
5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus

Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan penting: virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam merupakan bagian dari sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus, karena virus tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila anak/anda mengalami demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Untuk petunjuk lebih lanjut, buka e-mail terdahulu yg membahas demam.

When AB doesn’t work?

Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu :
1. Demam, 

2. Radang tenggorokan, 
3. Diare. Padahal, sebenarnya, penggunaan AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan tidak berguna. Dibawah ini petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3.Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan
menguntungkan, bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi  telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala,
pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari  untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek
samping yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim, sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat
TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini
adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena),
Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya:
1.  Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai “superinfection”.

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak
terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat.
Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama
kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, maka
suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan mengapa apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
1. Diagnostic uncertainty.
2. Time pressure.
3. Patient Demand.”People don’t want to miss work or they have a sick
child who kept the family up all night and they’re willing to try anyhing
that might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain
why it might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB
irrational use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia,
dimana kita beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu harus membawa resep. Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa resep. Hal ini justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak diperlukan. Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi AB untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun. Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid jangka panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.
Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang
rasional, yaitu:
1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang ringan atau narrow spectrum.
3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus)
yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti
infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis
bakteri) pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di
rumah sakit.
6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule fo Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau
makanan, dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart and critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita
harus mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru AB yang irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan manfaatnya. Antibiotics save lives, therefore we also have to save Antibiotics.

Comments (5) »

COMMON PROBLEMS IN PEDIATRICS

Beberapa negara, terutama negara maju, telah menerapkan konsep partnership atau kemitraan antara dokter dan konsumen medis (pasien).  Kondisi ini suka atau tidak suka masih belum membudaya di negara kita, Indonesia. Sistem yg berlaku relatif paternalistik. Sementara itu di era komunikasi ini, konsumen banyak sekali dibantu dengan kemudahan teknologi yg ada. Melalui internet, konsumen medis dapat belajar lebih jauh untuk memahami masalah kesehatan. Sehingga pasien yg aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya merupakan hal penting dalam layanan kedokteran yang baik. Karenanya, istilah Konsumen Medis jauh lebih tepat dibandingkan “pasien”. Konsumen terkesan lebih aktif dibandingkan dg pasien yg terkesan pasif dan pasrah. Ingat, sebagai konsumen medis/kesehatan, kita memiliki hak, bukan hanya kewajiban.

Apa hak konsumen kesehatan? Memperoleh informasi yang benar dan obyektif. Hal ini sesuai dengan tugas seorang tenaga kesehatan. Tugas dokter bukan hanya KURATIF (mengobati kondisi sakit), melainkan juga EDUKATIF PROMOTIF (penyuluhan kesehatan) dan upaya PREVENTIF (Pencegahan).

Apa kewajiban konsumen? Learn as much as possible. Salah satunya adalah mencari informasi, mempelajari dasar-dasar kesehatan dan mempelajari segala sesuatu perihal penyakit yang sedang dialami. Manfaatkan kemajuan teknologi yanga ada. Cari informasi kesehatan melalui internet, tetapi selektiflah memilih situs yang dipercaya. Be active, speak up terutama saat medical visit. Jika perlu cari 2nd opinion.

Topik pertemuan kali ini adalah berbagai masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak. Selain demam, alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter adalah batuk pilek, radang tenggorokan, dan diare. Orang tua panik, anak memperoleh berbagai macam obat yang belum tentu diperlukan, yang juga belum tentu tanpa efek samping. Sedihnya lagi, tak jarang anak diberikan antibiotik.  Padahal sebagian besar penyebabnya adalah virus, yang tidak bisa “dilawan” oleh antibiotik.

Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional, agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala tersebut.

Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.

SLIDE 1. Common Problems in Pediatrics : Title

Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs / RUD) .  Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE. Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat.

Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula.  Demikian pula sebaliknya.

SLIDE 2. IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)

Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia.

Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya. 

Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit. Evaluasi kembali buku kesehatan / kartu berobat putra/I bapak/ibu. Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit.

Coba jawab pertanyaan berikut :

·        Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ?

Tidak juga antibiotik ?

·        Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?

·        Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?

Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung “abusive”, yaitu :

1.      LACK OF CONFIDENCE.

Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa “insecure” takut pasien pindah ke dokter lain.

2.      PATIENT PRESSURE.

Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat.

Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik , karena menganggap antibiotik merupakan “obat dewa” yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering “menuntut” dokter sebagai “tukang sihir”, yang dapat memberikan obat yang cespleng.

DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.

3.  COMPANY PRESSURE.

Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung / membutuhkan dokter.  Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.

SLIDE 3. IMMUNE SYSTEM

Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI.

Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :

1.      Bagian yang langsung “membunuh” kuman/virus/parasit, dll yang menyerang tubuh kita dan membuat tameng / proteksi untuk “serangan” serupa. Sistem imun yang bertugas langsung membasmi “musuh” tsb adalah Sel Darah Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk menetralisir “musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi yang sama.

2.      Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga leukosit jauh lebih efektif “serangan”nya.

SLIDE 4. BACTERIA & VIRUS

Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

·        Bakteri.

Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri.

Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti untuk :

a) Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi

b) Mengolah makanan menjadi vitamin B & K

c) Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.

d) Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit

Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif dan bakteri Gram negatif.

1. Bakteri Gram positif

a.  umumnya lebih mudah di”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.

b. dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)

c. umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma

2. Bakteri Gram negatif

a. menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma

Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok bakteri di atas

INGAT :

– Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan kuman yang baik.  Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat munculnya banyak jamur,  kekurangan vitamin B & K.

– Semakin sering kita  memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

·        Virus.

Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 5. RADANG / INFLAMMATION – ITIS

Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat infeksi kuman.

Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan, artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak (amandelnya).

v     Radang karena INFEKSI.

Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :

1.       Radang karena kuman

2.       Radang karena virus.

85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS  – sehingga tidak perlu antibiotik.

v     Radang BUKAN INFEKSI.

Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN, TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance – mengurangi kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet, binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna, pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

v     Demikian halnya dengan DEMAM.

Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi.

Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dg infeksi.

SLIDE 6. FEVER

Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam & tatacara merawat anak demam.

Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?

Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam.

There is something for many reasons.

Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu.

Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .

Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu diatas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak à suhu demam stabil à suhu mulai turun.

Bagaimana dan mengapa timbul demam ?

Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN – suatu zat pencetus panas.

Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?

Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll. Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).

Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang ebrtugas :

1.      Mengerahkan sel darah putih (leukosit)

2.      Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subut di suhu rendah.

Perhatikan hal berikut :

1.      Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.

2.      Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi infeksi.

3.      Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak penyebab utamanya adalah infeksi virus.

4.      Beri minum lebih banyak dari biasanya.  Waspadai kemungkinan terjadinya komplikasi dehidrasi.  

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara penanganan demam.  Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :

v     Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh > 38C

v     Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C

v     Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

  Konsultasikan juga dengan dokter jika terdapat kondisi berikut :

v     Sama sekali tidak mau minum atau sudah dehidrasi; Gelisah, muntah, diare

v     Iritabel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan 

v     Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)

v     Kejang; Kaku kuduk leher; Sakit kepala hebat

v     Sesak napas

v     Gelisah, muntah, daire

SLIDE 7. TREATING FEVER

Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah :

1.      Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak. Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.

2.      Cegah dehidrasi.Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim. Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.

3.      Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.

4.      Kompres air hangat atau berendam di ari hangat.

5.      Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.

6.      Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.

7.      Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :

<102F (<38.3C)   : Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan (minum banyak)

>102F (38.3C), uncomfortable  : Beri obat penurun panas, kompres  hangat

>104 (>40C)  : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)

SLIDE 8. COLDS AND FLU

Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 – 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bai dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu.

Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu

Tatalaksana:

v     Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.

v     Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu. 

v     Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Breathy).

v     Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur.

v     Paracetamol – bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)

v     Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yg mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:

v     Sering cuci tangan

v     Hindari kontak erat dengan penderita flu

v     Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.

Kapan menghubungi dokter?

v     Persistent cough, fever > 72 hours

v     Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru

v     Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan)

Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.

SLIDE 9. SORE THROAT / PHARYNGITIS (Radang tenggorokan & infeksi amandel)

v     Umumnya disebabkan oleh infeksi virus. ARTINYA: akan sembuh sendiri – self limiting; dan samasekali tidak memerlukan antibiotik.

v     Hanya sekitar 15% saja yg infeksinya disebabkan oleh kuman Streptococcus dan umumnya menyerang anak usia 4 – 7 tahun. Dengan catatan, diagnosisnya harus berdasarkan biakan usap tenggorokan.

Tatalaksana  

  1. Banyak minum; minuman yg hangat akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan.
  2. Untuk anak yg lebih besar, bisa diajarkan untuk kumur2 atau mengisap lozenges.
  3. Kalau panas atau kesakitan, berikan paracetamol (seperti panadol atau tempra).
  4. Kalau hidung tersumbat, dapat diberikan tetes hidung NaCl dan menghirup uap panas. Kalau anak sangat terganggu, dapat diberikan Nasal decongestant.

SLIDE 10. COUGHS

Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb).  Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya.

Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.

Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.

Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk.  Infeksi kah atau bukan infeksi. Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi.

Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi.  Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.

Tatalaksana  :

M Cari PENYEBAB batuk.

Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :

v     Minum banyak yang hangat misalnya lemon

v     Jangan ada asap rokok

v     Rangan jangan kering (Moist air – kamar mandi – buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)

v     Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi

v     NO – ANTIBIOTICS. Ingat !  Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik

v     NO cough suppressant.  Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan / puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.

Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu.

Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

SLIDE 11. BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)

Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi  – belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.

Tatalaksana :

v     Mencari penyebab. Bila karena alergi – modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak

v     Humidifikasi

v     Ekstra cairan, dll

Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang – inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri – mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.

SLIDE 12. EAR INFECTION

Penyebab :

v     Umumnya karena infeksi virus

v     Pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold / flu

v     Tooth problem

Gejala:

v     Sakit telinga (biasanya 1 sisi), demam, pilek dengan hidung buntu, rewel, telinga di-tarik2, nafsu makan menurun

v     Kadang2 tampak cairan kuning keluar dari telinga, kadang2 juga anak mengalami sedikit gangguan pendengaran

v     Rata-rata setiap anak mengalami infeksi minimal 1 x sebelum usia 5 tahun.

Tatalaksana :

v     Penghilang rasa sakit

v     Posisi tegak/upright position,

v     Jangan ada yang merokok

v     Jangan minum susu dari dot-botol sambil tiduran

v     Air hangat di botol, bungkus kain perca, taruh di atas telinga

v     Kalau perlu minum obat decongestant (mengurangi hidung buntu)

Pencegahan: berikan ASI selama mungkin

Hubungi DOKTER / penggunaan ANTIBIOTIK :

v     Bila berkepanjangan, lebih dari 2 minggu atau

v     Bila infeksi berat dan anak kesakitan hebat

SLIDE 13. DIARRHEA – VOMITING

Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia.  Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yg tidak beres dalam tubuh kita.

Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya. Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk “mampet”kan diarenya.  Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi tidak mengobati penyakitnya.

Perbaikan tersebut bersifat “semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung.  Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko / efek samping.

PENYEBAB:

v     >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS.

v     Food poisoning

v     Alergi makanan,

v     Pemakaian antibiotik.

TATALAKSANA – CEGAH DEHIDRASI – Minum banyak

v     ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.

v     Perbanyak minum.

v     Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi).  Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi

Kapan menghubungi dokter?

v     Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam

v     Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.

v     Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan

v     Luar biasa lemas, layu

PRINSIP:

v     Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida

v     Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb.

v     Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.

– INGAT – Jangan memberikan obat anti muntah!!!!

SLIDE 14. KONSTIPASI

PENYEBAB:

Penyebab utama biasanya pola perilaku, khususnya pola konsumsi makanan yang low-fiber, high-fat & high-sugar.

Pola makan kita dulu sarat dengan sayur dan buah (serat), sekarang beralih ke fast food yang bukan hanya rendah serat, tetapi juga tinggi garam dan lemak. Penyebab lainnya adalah:

v     Kurang minum

v     Ignoring the urge (anak mengacuhkan rasa ingin buang air besar dan justru menahannya)

v     Kurang gerak/olah raga, banyak duduk

v     Penyakit: Hypothyroidism (kelenjar gondok kurang berfungsi, jarang, ada gejala lain sejak bayi seperti retardasi mental), retardasi mental

GEJALA:

v     Sakit perut, melilit, mules, kembung

v     Nafsu makan menurun

v     Rewel

v     Celana dalam ada berkas tinja (Soiled underwear)

v     Tinja keras, tinja ada goresan/bercak darah (Large/blood streaked stools)

v     Sering buang air kecil

TATALAKSANA :

v     Minum banyak

v     Pola makan yang kaya serat

v     Lebih memperhatikan bowel’s habit dari anak.

v     Melatih anak akan kebersihan.

v     Berbicara & diskusi dengan anak.

Hubungi dokter jika terjadi hal berikut :

·        Tidak BAB > 10 hari

·        Sering / rutin mengalami konstipasi sejak lahir.

·        Aktivitas sehari-hari menurun.

·        Terdapat anal tears atau hemorrhoids

·        Sulit mengejan saat BAB

·        Ada darah di tinja

SLIDE 15. TYPHOID

Sebenarnya, tifus tdk tergolong kondisi yang sering terjadi pada anak. Namun demikian, kondisi ini sering sekali didiagnosis (“gejala tifus”/verdacht typhus”).  Padahal seharusnya untuk mendiagnosa suatu penyakit harus jelas dan tegas : TIFUS atau BUKAN.

Bagaimana dan kapan kita menegakkan diagnosis tifus?

v     Curigai bila ANAK demam > 7 hari.  Mengapa anak, bukan bayi ? Karena tifus ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Sementara bayi masih mengkonsumsi ASI, susu formula, makanan rumah.

v     Diagnosis: pemeriksaan laboratorium biakan empedu (GAL CULTURE) bukan pemeriksaan widal. Di negara endemis seperti Indonesia, pemeriksaan widal hampir pasti akan positif tetapi tidak otomatis menyatakan yang bersangkutan sedang menderita infeksi tifus.

v     Be critical !

TBC

Kondisi serupa yang juga sering salah diagnosa adalah TBC. Angka kejadian infeksi TBC di Indonesia memang tinggi, tetapi itu bukan berarti – sedikit-sedikit TBC. Anak yang kurus, yang kurang nafsu makan, anak yang batuk-batuk, sering dicap “ada vlek” di paru2nya. Padahal mendiagnosis TB tidak sesederhana ini. 

Di lain pihak, kalau memang anak kita TBC, perlu diterapi dengan benar agar kuman TBC benar-benar bisa dieradikasi dari tubuh kita. Yang sering terjadi:

v     Anak mendapat obat TBC tanpa dasar diagnosis yang jelas.

v     Obat TBC tersebut tidak diberikan dengan benar (jenis obat, jumlah obat, dosis, lama pemberian).

Selalu mencari second opinion ! Karena mendiagnosis TBC tidak mudah. Dan sekali anak didiagnosis TBC – konsekuensinya banyak – harus mengkonsumsi obat-obatan untuk jangka waktu panjang.  Padahal obat-obatan tersebut sangat berat`- berpotensi menimbulkan gangguan hati.

Again, be critical !

SLIDE 16.  HOSPITALIZATION

Indikasi rawat inap harus kuat, seperti :

v     Kehilangan kesadaran

v     Kejang berulang

v     Sesak napas

v     Dehidrasi berat

v     Membutuhkan obat yang harus diberikan ke pembuluh darah (IV medication)

Bagi anak, rawat inap di RS bukan hanya menyebabkan trauma kejiwaan, tetapi juga menghadapkan anak kepada risiko tertular INFEKSI NOSOKOMIAL. Yaitu infeksi akibat kuman rumah sakit, dari pasien lain.  Sementara itu kuman di RS jauh lebih “GANAS” dibandingkan kuman di rumah.  Mengapa?  Coba cermati kalimat-kaliamt berikut.

Di RS, kita terlalu banyak mempergunakan antibiotik dan umumnya yang dipergunakan adalah antibiotik yang “kuat”. Dengan demikian, kuman di rumah sakit banyak yang sudah resisten (kebal) terhadap berbagai macam antibiotik (superbugs). Kuman di rumah jauh lebih “jinak”. Perawatan di RS dapat memperbesar potensi terkena infeksi tambahan (nokosomial) ini.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus memahami betul kondisi emergency (kapan anak harus dirawat di RS). Sehingga kondisi-kondisi yang tidak memerlukan perawatan RS, maka anak tidak perlu dirawat di RS.

SLIDE 17.  THE LIVER AND THE DRUGS

Apa yang terjadi dengan obat yang kita konsumsi? Obat harus menjalani serangkaian proses metabolisme di hati. Prosesnya dua tahap. Di antara kedua tahapan tersebut, dihasilkan suatu zat antara yang bersifat toksik (beracun). Hal inilah yang   dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan kerusakan hati akibat obat.

Makin banyak obat, makin besar kemungkinan efek sampingnya (termasuk kerusakan hati).

Sebagai contoh adalah gabungan beberapa obat dalam satu puyer. Ibu umumnya tidak menyadari bahwa puyer tersebut terdiri dari beberapa obat. Tidak tertutup kemungkinan obat-obat tersebut saling berinteraksi.  

Pertanyaan yang seharusnya selalu ada di benak kita sebelum mengkonsumsi obat atau menerima resep obat adalah :

v     Apakah anak kita benar-benar membutuhkan obat ?

v     Apakah memang benar anak kita membutuhkan sekian banyak obat dan bukan hanya 1 atau 2 obat saja ? Ada baiknya kita mencari second opinion atau mencari informasi tentang penyakit & obat-obat tsb. Manfaatkan teknologi terkini yaitu internet untuk mencari informasi.

Siapa yang potensial terkena efek samping obat?

v     Mereka yang berusia sangat muda

v     Mereka yang lanjut usia

Sekarang mari kita evaluasi kembali kartu berobat anak kita. Coba perhatikan & hitung berapa banyak obat dalam setiap puyer / racikan.

      Bagaimana mengurangi risiko terkena efek samping obat?

  1. Pada dasarnya, obat itu ”racun” sehingga potensial menimbulkan efek samping.  Konsumsi obat hanya bilamana benar-benar diperlukan. Hindari polypharmacy
  1. Antibiotik bukan obat “ dewa “yang dapat menyembuhkan semua penyakit, atau menyembuhkan semua gejala (mulai dari demam, diare, batuk, pilek, radang tenggorokan, alergi, dll)

SLIDE 18.  WHAT ARE ANTIBIOTICS

Antibiotik adalah obat untuk membunuh infeksi bakteri. ANTIBIOTIK TIDAK DAPAT MEMATIKAN VIRUS.

After their discovery in the early 20th century, they transformed medical care and dramatically reduced illness and death infectius diseases. Indeed, antibiotics are among the most powerful and important medicines known because when they are used properly, they can save lives.

  Antibiotics = Against Life. Artinya antibiotik adalah suatu zat yang sifatnya mematikan kehidupan dalam hal ini, mematikan kuman.

Berdasarkan konsep “against life” tsb, beberapa ahli menyatakan bahwa penggunaan antibiotik dapat dikatakan sebagai penggunaan PESTISIDA bagi manusia (pesticide used on people).

APA BAHAYA PEMBERIAN ANTIBIOTIK YANG MEMBABI BUTA?

Setelah pemakaian antibiotik selama beberapa dekade, ternyata bermunculan banyak bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian antibiotik yang tidak rasional/membabi buta, justru akan merugikan pasien dan khalayak luas. Antibiotik merupakan satu2nya obat yang memiliki dampak sosial yang besar.

Contoh. Anak X sering memakan antibiotik setiap kali demam atau pilek.batuk, diare. Cepat atau lambat, kuman-kuman di sekitar X menjadi kebal terhadap berbagai antibiotik.  Bila kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut menyerang anak Y, maka anak Y otomatis juga tiurut dirugikan, bukan hanya anak X.

Antibiotic resistance dapat membahayakan jiwa dan memperberat kondisi dan penderitaan si pasien yang mungkin infeksinya sebenarnya tidak berat tetapi kumannya tidak dapat dibunuh oleh berbagai antibiotik (padahal sebelumnya, infeksi kuman ni dengan mudah dapat diatasi). Kuman yang kebal terhadap antibiotik ini –berkembang biak dengan cepat, menyerang anggota keluarga lainnya, tetangga, teman sekolah, teman kerja – mengancam seluruh komunitas. Lingkungan terancam infeksi oleh kuman jenis baru, yang sudah berubah bentuk, yang lebih ganas, kuman yang sulit dibunuh oleh antibiotik.

SLIDE 19.  THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS

v     Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak terbunuh mengubah diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik. Kuman itu disebut juga “superbugs”. Superbugs ini juga dapat lolos dari serangan sistem imu tubuh kita, karena perubahan dirinya. Sistem imun tubuh kita tidak mengenalinya.

v     Superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotik harus diberikan melalui selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu dalam waktu cepat, bakteri tsb juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang super kuat. Pada kondisi ini, tenaga medis / dokter seperti berlari di treadmill, terus mengejar, mencari antibiotik yang lebih kuat dan lebih baru.

v     Dampak negatif kedua dari pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijak adalah terbunuhnya “kuman baik” di dalam tubuh kita. Tempat yang semula dipakai oleh kuman2 ini menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman  “jahat” atau jamur. Kondisi infeksi ini disebut sebagai “superinfection”.

v     Semakin lama/sering makan antibiotik semakin besar risiko terbentuknya superbugs, dan superinfection. Akibatnya semakin sering kita mengkonsumsi antibiotik, SEMAKIN SERING KITA SAKIT.

Antibiotik adalah sumber alam,  karunia Tuhan yang harus dipergunakan secara bijaksana. Antibiotik menyelamatkan kita, kita harus “menyelamatkan” mereka.

SLIDE 20.  APPROPRIATE ANTIBIOTIC USE

Penelitian membuktikan setiap harinya, telah diresepkan jutaan antibiotik bagi pasien infeksi virus.  Suatu kekeliruan yang sangat besar. Beberapa alasannya:

v     Pasien  meminta obat yang cespleng – apa saja – termasuk antibiotik kalau perlu antibiotik yang superkuat

v     Bagi dokter, jauh lebih mudah menulis resep dibandingkan harus bersusah payah memberi penjelasan, menenangkan orang tua.

Pada tabel tertera beberapa kondisi yang umumnya disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotik.

ILLNESS

ANTIBIOTICS ?

Cold – Flu

No

Runny nose – green yellow

No

Sore throat *

No

Sinusitis*

No, some yes

Bronchitis*

No

Fluid in the middle ear

No

SLIDE 21.  HOW TO BE A GOOD HEALTH CONSUMER

Selalu pertanyakan: Does MY child really need the drug?

Hal lain yang selanjutnya perlu dilakukan adalah:

v     Hitung jumlah obat yang diberikan kepada anak.

Bila dalam bentuk puyer, hitung jumlah baris dipuyer – yang mencerminkan jumlah obat (bila bingung, tanya ke ahli farmasinya)

v     Selalu membuat foto kopi resep dan diarsip dengan baik.

v     Konsultasi ahli farmasi. Tanyakan obat apa saja (minta agar ditulis nama obat satu persatu), apa mekanisme kerja obat2 tersebut, apakah ada antibiotik, berapa antibiotik yang diberikan, bagaimana interaksi obat sebanyak itu. 

v     Beritahu dokter bila anak anda sedang mengkonsumsi produk herbal, suplemen, obat tradisional. Obat-obataan tsb mungkin saja berinteraksi dengan zat2 tambahan tersebut.

Intinya:

1.   Hindarkan polifarmasi – mengkonsumsi obat sesedikit mungkin.

2.  Antibiotik bukan “magic saver. Hanya keadaan tertentu saja yg memerlukan antibiotik. Dan Mayoritas penyakit pada anak – disebabkan oleh infeksi virus, yg samasekali tdk membutuhkan antibiotik.

(Original article written by Dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed.

Edited by Lulu to be used in Seminat PESAT 2)

Comments (1) »

%d bloggers like this: