Archive for My Tears

A tribute to inspiring doctors: A doctor’s touch

Dear all

Terimakasih banyak atas atensi, doa dan cinta – Hari ini, genap 10 tahun milis sehat.

Saya banyak belajar
Saya banyak memperoleh “harta” selama bergumul di milis ini. Bahagia melihat wajah2 mungil yang protected krn onu ayah mereka sdh bijak.
Bbp mg yl saya membuat draft di bawah ini:

Jakarta 6 Des 2013

Time flies!
Sebentar lagi, milis sehat genap berusia 10 tahun. Alhamdulillaah.

So many things have happened.
So many things have been shared among us.

Selain itu, bbp mg terakhir, ada saja liputan media terkait nakes dan profesionalismenya.
Saya mencoba mencerna dan berharap bisa menarik pelajaran.

However, tonight, I virtually met two great physicians. Dr Robert Gupta and Dr Abraham Verghese.

(Dr Robert Gupta is a neurosurgeon, has a great love for neuroscience. He is also a great violinist (LA philarmonic orchestra). Namun demikian, email kali ini lebih merupakan renungan perihal “sentuhan” dokter.

Dr Abraham V adalah seorang ahli infeksi yang saat ini bekerja menangani HIV AIDS. Beliau juga seorang penulis.
Sebelumnya minta maaf ya kalau dongengnya kepanjangan atau gak penting. Minta maaf juga krn bahasanya campur aduk. Biar saya tetap latihan menulis dlm bahasa inggris (hehehe justifikasi bni yee)

Menurut dr Abraham,
Modern medicine is in danger of losing a powerful, old fashioned tool:
Human touch.

This new world is strange; patients are merely data points.
Let’s return to the traditional one-on-one physical exam.
BEgitu ujar dr abraham V.

In this era of the patient-as-data-point, Abrahan Verghese believes in the old fashioned physical exam, the bedside chat, the power of informed observation.

When we shortcut PE, we are losing the Lopportunity”

Lalu beliau bercerita peihal salah satu guru di dunia kedokteran:

Joseph bell (best teacher) dan muridnya Conan Doyle.

Dr Joseph Bell
Born2 December 1837 was a Scottish lecturer at the medical school of the University of Edinburgh in the 19th century. He is perhaps best known as an inspiration for the literary character Sherlock Holmes.

In his instruction, Bell emphasized the importance of close observation in making a diagnosis.

To illustrate this, he would often pick a stranger and, by observing him, deduce his occupation and recent activities.

These skills caused him to be considered a pioneer in forensic science (forensic pathology in particular) at a time when science was not yet widely used in criminal investigations.

Arthur Conan Doyle met Bell in 1877, and served as his clerk at the Edinburgh Royal Infirmary. Doyle later went on to write a series of popular stories featuring Sherlock Holmes, who Doyle stated was loosely based on Bell and his observant ways.

According to Irving Wallace (in an essay originally in his book The Fabulous Originals but later republished and updated in his collection The Sunday Gentleman) Bell was involved in several police investigations, mostly in Scotland, such as the Ardlamont Mystery of 1893, usually with forensic expert Professor Henry Littlejohn.

Bell studied medicine at the University of Edinburgh Medical School and received an MD in 1859. Bell served as personal surgeon to Queen Victoria whenever she visited Scotland. He also published several medical textbooks. Bell was a Fellow of the Royal College of Surgeons of Edinburgh, a Justice of the Peace, and a Deputy Lieutenant.

Dalam episode berikutnya, dr Abraham bercerita seputar penemuan dua metode pemeriksaan fisik yaitu PERKUSI (diketuk) dan AUSKULTASI (didengar).
Sejarah penemuan perkusi dan auskultasi menurut dr abraham merupakan – The peak of the clinical era

Leopold Ohnburger (kalau gak salah ingat tulisannya) adalah sang penemu percussion.

Apa sih yg bisa ditemukan US tapi tdk bisa ditemukan dg perkusi?
Written: Inventum novum

Sayangnya, semakin sedikit dokter masa kini yg melakukan perkusi. Padahal dengan perkusi kita bisa menemukan adanya: cairan, tumor/massa, atau pembesaran organ.
Saat ini, alih2 melakukan perkusi, tancap langsung: USG or CT dll.

Laennec – developimg the stethoscop.
Silakan googling sejarah beliau menemukan stetoskop. Menarik.

Jadi, menurut dr Abraham:
Kita lupa akan – The power of the human hand.
Our hand that should touch, and make the diagnosis

Dr Abraham juga bercerita perihal seorang perempuan dengan Ca mammae. Ybs browsing dan menemukan the best breast cancer center di USA.

“Aneh”nya, setelah bbp bulan, si pasien kembali ke RS lokal setempat. Dr abraham pun bertanya, mengapa?
Si ibu menjawab:
“They did nt touch my breast”

Mungkin para ahli yg menangani si pasien beranggapan semua sdh jelas dg mri dan ct tetapi, buat pasien, sangat penting bahwa dirinya diperiksa, diteliti, diraba, ditanya, diajak diskusi.

Selanjutnya, dr Abraham bercerita bahwa: That the patient and I are in a “primitive” ritual.

Maksudnya? Ritual yang mencakup:
– chat ( anamnesis)
– pemeriksaan fisik mulai dr observasi (inspeksi) sd auskultasi

Dan kebanyakan pasien lantas bertutur:
“I have never been examined like this before”

Padahal, pasien HiV tsb sudah tahu dan dokternya juga sdh tahu bahwa ia/mereka berada dalam kondisi terminal. Namun, bahwa dokter masih meluangkan waktu utk mendengar, meraba dsb, means a lot to them.

Jadi, menurut dr Abraham:
Rituals are all about TRansformation

Ketika seorang pasien, membuka kancing baju, berbaring untuk diperiksa oleh seorang dokter, maka sebenarnya ritual ini sangat “sakral” karena si pasien tengah melakukan “penyerahan diri”.
It was a submission
It was an offer

Ketika dokter sedang duduk di samping pasien yang dying, sambil memegang tangan si pasien, maka sungguh indah jalinan emosi antara keduanya. (Baca dr peter Saul seorang intensivist; beliau meminta maaf krn dokter sering memakai istilah “life saving” which is not true at all.

Mari kita kembali ke “ritual” tsb, mari kita lakukan observasi dan pemeriksaan fisik yang baik (bukan jumping ke lab atau pem radiologi).

Katakanlah kita tak berhasil menolong, dan merasa “gagal” tetapi … Let us always examine the pt

The ritual is catrrtic for the doctors and necessary for the patient

Maaf jika tidak berkenan

Salam sehat
Selamat milis Sehat, semoga tak lekang oleh waktu

Wati

-patient’s safety first-

Leave a comment »

PELANGI 6 : PRUDC

Dear all

Karena isi surat ini campuran dari hati dan otak,
heart and brain, love and science, maka saya putuskan
utk disampaikan dalam bentuk Pelangi.
Lagi2 minta maaf soal numeriknya … mungkin moderator
bisa mengoreksinya

Workshop yang disponsori WHO ini adalah Promoting RUD
in the community dan diselenggarakan pertama kali
tahun yl di India juga (semua kegiatan WHO perihal RUD
untuk wilayah Asia diselenggarakan kalau tdk di
Thailand ya di India).

Saya merasa sangat berbahagia bisa menghadiri workshop
ini meski tadinya nyaris tdk berangkat karena anak2
protes keras. Anxious .. tapi saya ,emgucapkan beribu
janji .. dan ketika hari ke3 “sakit” … saya putuskan
tdk mengikuti kegiatan kultural di luar acara workshop
(jalannya kecil, berlubang, kadang supirnya ngebut,
bisnya kecil, shockbreaker gak bagus, so very bad for
my spinal problem).

Ada beberapa hal penting dan menarik yg ingin saya
share dengan kalian.

Pertama, GERAKAN RUD AKAN JAUH LEBIH EFEKTIF MELALUI
PROGRAM EDUKASI KONSUMEN.
Konsep RUD pertamakali dicanangkan th 1985 di Nairobi
(in fact, RUD is the biggest contribution of WHO in
public health)
Namun demikian, para pakar sangat prihatin akan masa
depan implementasinya. Selama ini gerakan RUD
ditujukan bagi provider (pemberi jasa layanan
kesehatan) dan dianggap hasilnya hampir nihil.
Public education merupakan salah satu indikator (dari
12 indikator implementasi RUD) … dan dianggap justru
amat sangat penting sejak beberapa tahun terakhir.
Oleh karena itu salah satu outcome dari workshop ini
adalah munculnya berbagai proyek edukasi konsumen
perihal RUD.

Kedua … KONDISI RUD DI NEGARA KE3 ASIA …
Prof Krisantha .. dari WHO regional … dalam
presentasinya perihal WHO perspective on RUD
mengungkapkan kondisi RUD yg memperihatinkan.
Di jentreng lah kondisi RUD based on those 12
indicators. Saat mengjentreng Indonesia … dia bilang
di Indonesia selain payah ke 12 indikator tsb, juga
tdk ada regulasi harga obat. Pas perihal Indo… dia
singkat aja… INDONESIA IS … DISASTER. Sedih, tapi
mau apalagi, kan begitu ya kenyataannya.

Bangladesh. Bagus banget. Mereka punya NDP (National
Drug Policy yg ketat). Semua obat yg ada di Bangladesh
hanya yg sesuai daftar obat esensial. Providers gak
bisa meresepkan obat lain (artinya … menutup
kemungkinan kolusi dg industri obat). Di Indonesia?
Amoksisilin aja lebih dari 150 macam!!
Makin banyak oabt, makin sulit pengendalian dan
monitoringnya!!
Kedua, Di Bangladesh, semua bentuk vitamin .. BANNED!!
Gak ada cerita stimuno, imboost, elkana, dll dll dll
Ketiga, Tidak ada OTC alias obat bebas!!

India. NDP nya bagus. EDLnya mulai jalan (Indonesia
punya daftar obat esensial tetapi implementasinya?
Pemakaian generik amat sangat rendah dan peresepan
umumnya obat bermerek yg mahal)
Institusi pendidikan nya sangat memperhatikan etika.
Misalnya, mereka terus mendengungkan bahw pemberian
antibiotika pada kondisi yg tidak membutuhkannya
merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika.
Indonesia? Institusi pendidikan nya teoritis bisa dan
tahu ngomong soal RUD tapi pada prakteknya??? Kita
tidak punya journal untuk para dokter perihal good
prescribing, perihal RUD. India punya journal yg
terbit regular utk para dokter. Di Bengal, mereka
bahkan sudah menerbitkan journal untuk masyarakat awam
perihal RUD.

Saya sangat tertarik ketika saya menyempatkan
menghadiri kongres nasional IDI nya sana.
Venue? Bukan hotel bintang 5 seperti di Indo melainkan
di ruang pertemuan kampus FKUI nya sana hehehe. Tidak
ada satupun banner pabrik obat. Tidak ada stand
pameran (di Indo biasanya bejubel sampai peserta
umumnya sibuk mengumpulkan cindera mata dari berbagai
stand instead of duduk mendengarkan ceramah)
makanan? Bukan catering hotel bintang lima yg per
orang at least 200 ribuan.
Kami makan di kebun di tengah api unggun (saya gak mau
bergeming dari api unggun sampai bercucuran air mata
hehehe yapi suasanaya cozy banget). Makanan ya
sederhana
Di Indo, kegiatan ilmiah apalagi skala nasional,
sponsor abis pabrik obat…. Saya pernah usul ketika
masih jadi pengurus …tapi kayaknya saya “ada
kelainan” hehehe
Kegiatan sponsor mensponsor ini berakibat ekonomi
biaya tinggi… gak heran kalau harga obat di Indo
selangiiitt. Tidak sedikit orang kita beli obat di
malaysia atau singapur kan

Implementasi di masyarakat? Di India, Puskesmasnya 2
rupee sudah mencakup pemeriksaan dokter, obat sesuai
EDL. kalau perlu lab atau ronsen, 5 rupee.
Memang suasana masih kayak di Indo alias saking
banyaknya pasien di puskesmas, periksanya sambil
duduk, kecuali ada suatu kecurigaan baru dibaringkan
dan diperiksa. Dokternya masih kuat aroma
“arogansi”nya alias kedudukannya amat sangat tinggi
sehingga pasien juga takut banyak bertanya. Pemberian
multivitamin tonik suplemen masih marak.
Praktek swasta juga masih marak ketimbang public
servicenya tapi untungnya puskesmas buka 2 kali. Jam 9
– 11 dan jam 16 – 18.
Apotik swasta masih banyak.
TAPI…. DI INDIA GAK ADA PUYER!!! DI SEMUA NEGARA
PESERTA WORKSHOP GAK ADA PUYER… nanti saya kembali
ke topik yang satu ini
Kesimpulannya… penyelewengan masih banyak di India
tetapi proses menuju perbaikan terasa dan memang ada.
Indo? Bisakah kita mengandalkan pada pemerintah dan
institusi pendidikan?
Prof Krisantha memanggil saya secara pribadi. katanya
beliau banyak mendengar kegiatan saya … saya diberi
buku …
Lalu kami bicara lama. salah kesimpulannya (lainnya
off the record) … bagus sekali kalau Indonesia tdk
mengandalkan ke2 institusi di atas melainkan
menggalakkan kegiatan edukasi konsumen!! hehehe muter
ya bahasanya

Ketiga … Saya diminta presentasi kegiatan saya di
Indo. By the end of the session, applause and bows.
Prof Goran Tomson (Swedia) staf ahli WHO utk RUD …
ini pengejawantahan agar Wati tidak NATO katanya
hehehe (No action talk only)
Kedua, amazing kata mereka … ini movement
revolutionary – drug information services yang
mempergunakan modern IT

Keempat … saya mesti menjalin network dengan LB
diberi beberapa badan yg perlu dihubungi. dst dst
tetapi intinya… jangan sendirian. Aduuhhh saya
keopinginn banget gak sendirian tetapi Prof Roy
bilang..
This field (RUD)… is a very lonely path… the only
friends you have are the customers themselves… nah
lho!! padahal beberapa pihak suggest .. mesti cari
support dari sesama dokter (terutama DSA) dan dari
pemerintah hehehe .. lagi sibuk Tsunami saya bilang.

Kelima… saya diminta memberikan demo praktek
dispensing obat di Indo. Lalu saya memberikan contoh
resep untuk anak batuk pilek
Mereka bingung … kok obatnya banyak banget!! Gimana
cari kasihnya?
Saya ambil cawan obat, masukkan semua obat …
gerus!!! Heeehhhh!! Ternyata dari semua negara
participants … Indo satu2nya yg punya puyer
hehehehe. Peserta yg pharmacist pada protes… aduh
kan pabrik obat bikin penelitiab susah2 untuk
menemukan bentuk obat yg terbaik kayak apa kok malah
digerus, dijadikan satu lagi, interaksinya gimana,
pharmakokineticnya gimana? Kok ahli farmasinya mau
sihhhh
Saya bilang kan instruksi di resep, farmasi gak bisa
ubah selain mereka sendiri juga pola pikirnya memang
puyer yg terbaik!!
Lalu mereka komentar lagi .. The way you write the
prescription is so ancient!!
Seorang teman berkomentar di jakarta kemarin … tapi
puyer tuh yg terbaik buat anak, bisa di desain
individual. Bulshit (maappp) saya bilang. kalau ini
yng terbaik, yg teraman, yang termurah … pasti sudah
diadopt negara lain. WHO dan Unicef pasti gak tinggal
diam. pasti disosialisasikan agar dimanfaatkan negara
lain seperti ketika mensosialisasikan pemberian ORS
untuk anak diare karena itu yg paling tepat selain
murah.

Kesimpulannya
Apa yg kita kerjakan sudah benar… konsumen punya
daya untuk melakukan perubahan
In fact .. it is individuals that make changes
Apalagi
kata M Gandhi .. knowledge without devotion is like a
misfire… so please spread your knowledge
Tempo hari saya ngobrol sama Widowati (alhamdulillah
gak jadi operasi appendix) … tahap berikuitnya
selain menyebarkan ilmu pada keluarga dan teman dekat
adalah nicely inform you DSA bahwa selama ini obat nya
gak ditebus… beritahu juga bahwa SAYA MENOLAK PUYER
(pakai seribu strategi tapi jangan ketus dan jangan
mengghurui … saya yakin kalian very2 smart and wise)

Ok sekian dulu
Mudahan nanti bisa nyicil lagi tapi mau meeting dulu
dan selasa mesti meeting report.

Love u all
wati

Comments (4) »

PELANGI 5 : RAWAT INAP

Dear all

Jakarta mendung …. banjir …. Sedihnya ….
Hati-hati ya … biasanya penyakit infeksi jadi marak
… jaga kebersihan … cuci tangan … imunisasi
tepat waktu ….
Kalau anak sakit .. please baca kapan harus
menghubungi dokter … baca juga apa indikasi rawat
inap ….
Saya mau cerita ya …
Bulan lalu … saya ditelpon suatu RS bintang 5 …
ada konsul bayi 2 bulan dirawat dengan observasi demam
tetapi SGOT dan SGPT tinggi 400 an … terjadilah
serentetan tanya jawab antara saya dengn susternya per
telepon …
mulai dari riwayat penyakitnya … ok demam 2 hari
…tidak ada batuk pilek tapi bersin2 menurut orang
tuanya
Pemeriksaan penunjuang: hasil labnya tidak ada yang
mencolok (kecuali peningkatan leukosit alias WBC (jadi
virus nih kemungkinannya … begitu pikir saya) …
LED juga normal …
Suster: widalnya negatif dok …
W: Ahhh kenapa periksa widal sih … bayi 2 bulan …
demam baru 2 hari … mana ada sih bayi 2 bulan kena
tifusssss (dalam hati)
W: Obatnya?
S: … sefalosporin generasi ke3 lah pokoknya dan
infus dok …
W: periksa dulu deh … lalu kasih instruksi pem lab
tambahan untuk menyingkirkan beberapa kemungkinan
kelainan hati (tapi pastinya bukan hep A-C) dan minta
USG

Besoknya… saya visit pasiennya
Ketemu sama dokternya ..
W: Kenapa dirawat ya dik?
Dr: Demamnya tinggi mbak…
W: So what dik … kan kalau virus memang harus demam
… dan demamnya pasti tinggi …
Dr: takut kejang demam mbak …
W: lho kan kejang demam kalau usia 6 bulan sampai 5
tahun … kalau dia kejang pasti bukan kejang demam
melainkan meningitis atau ensefalitis … tapi anaknya
gimana? Kesadaranannya?
Dr: Bagus siiihhhhh… tapi ibunya panikan mbak
W: Ya kamu terangin dong …

Di kamar denganorang tua:
kesan pertama… memang ibu panik tetapi amat educated
… ohhh kurang informasi aja nih
Bicara deh soal demam, soal infeksi, soal kejang
demam, SOAL OBAT2AN … (SIAPA TAHU SGOT SGPT NAIK
KARENA OBAT TAPI SAYA GAK BILANG SAMA PARENTSNYA)
ibunya tenang…. asi asi asi
Bapak: dok kalau gitu antibiotikanya gak usah dong …
infusnya cabut dong …
W: nah itu yg memutuuskan … Dr C… ya …
Saya kan hanya dikonsulkan perihal hatinya

Keesokan harinya … alhamdulillah … meski masih
demam ibu tenang dan rasional … sore… biduran
W: dalam hati … alhamdulillaah …

LHoooo kok gitu sih dokter wati?
Iya … gara2 biduran semua dilepas… infus dan obat
hehehe… besok paginya pulang … ibu harus keep in
touch
Alhamdulillah baik aja … sampai sekarang

Nah sekian dulu cerita pendek kali ini
Saya akan buat ceritra lain misalnya tentang cairan
infus yang sering banget salah ngitung jumlahnya …

Ok dear anak2ku… please take care ya ditinggal 10
harian hehehe
Mau tau nih … semacam batu ujian buat kalian …
untuk tetap mandiri dan tetap menjaga kekeluargaan
dan tetap browsing

Love u all
wati

Comments (1) »

PELANGI 4 : SEPUTAR PERSIAPAN MELAHIRKAN

Dear Ony and all

kamu berhak untuk meminta RS nya agar tidak memberikan
susu formula
TOLONG DIINGAT .. BAYI BARU LAHIR BISA BERTAHAN SAMPAI
DENGAN 48 JAM TANPA ASUPAN APAPUN …
Itulah salah satu kebesaran Tuhan … Apakah kita akan
menafi kannya?? Tentunya tidak yaa

saran saya
1. Bicarakan dengan DSOG mu ..perihal: keinginan mu
agar bayi mu nanti langsung ditetekkan

2. Bicarakan pula dengan beliau bahwa kamu
menginginkan Rawat gabung … coba lihat arsip
terdahulu perihal rawat gabung

3. Bicarakan dengan DSOg mu bahwa kamu ingin ASI
eksklusif

4. Lihat reaksinya .. lihat komitmen nya … saya
berharap ia bisa membantu kamu

5. BICARA DENGAN DSA NYA AGAR BAYI MU DIBERI IMUNISASI
HEPATITIS B SEGERA SETELAH LAHIR (TIDAK LEBIH DARI 12
JAM SETELAH LAHIR) … BILA DSA nya menolak …
PERLIHATKAN REKOMENDASI IDAI … danTANYAKAN …
A. Apa kerugiannya kalau disuntik segera setelah lahir
(mengikuti saran Hanny) … jawabannya kamu pasti
sudah tahu … samasekali tdk ada kergiannya bahkan
buanyaaak sekali keuntungannya

B. Kalau DSA nya masih juga tdk mau memberikan ASAP
… tanyakan … apakah DSA nya mau menjamin BAHWA
BAYIMU TIDAK AKAN KETULARAN hep B … (jawabannya
kamu sudah tahu … diimunisasi saja proteksinya 98%
masih ada bolong 2% … apalagi tidak diimunisasi

Ok segitu dulu tips dari saya
saya juga saran .. mulai buka mayo clinic seputar
BIRTH
banyak info bermanfaat lhoo

love
wati

Comments (1) »

Pelangi 12 : Cermin

Dear all

apa kabar? wah lamanya ya saya gak bikin pelangi hehehe … Mudah-mudahan semester kedua tahun 2007 swaya punya lebih banyak waktu senggang untuk berbagai hal yang selama ini agak terbengkalai.

Alhamdulillah .. kalau menengok kebelakang, kegiatan edukasi kesehatan anak sudah memasuki tahun ke lima…. Dari suatu kegiatan kecil-kecilan karena saya semula akan pergi jauh untuk waktu yang tak dapat ditentukan .. ternyata terus bergulir.
Pelangi edisi ini bisa dianggap sebagai “laporan” kerja buat keluarga besar Sehat/YOP. FYI, tahun 2007 ini didedikasikan untuk buku kedua (InsyaAllah selesai bulan depan … molor terus) dan penelitian.

Pertama … PESAT …
sudah memasuki angkatan ke 7 dan selain Jakarta, kota yang sudah dikunjungi adalah Batam, Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, Bogor
Dan Kota lain yang sudah dikunjungi sehubungan dengan ceramah perusahaan adalah Balikpapan dan sekitarnya serta Paiton
Kami menyadari beratnya beban dan tanggung jawab panitia Pesat karena karakteristik kegiatan kita yang mencoba untuk tetap independent dari sponsorship terkait kesehatan. Belum lagi ribetnya administrasi dan teknis pesat seperti mencari tempat, mencari konsumsi yang murmer, mencari fotokopi yang murmer, dst dst … padahal … semua panitia sudah memiliki kesibukan yang segabrek baik sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat maupun di tempat kerja. Semangat kebersamaan dan kerja keras ini sungguh sangat menyejukkan karena hanya kitalah yang mampu mengangkat kondisi bangsa dan negara ini.
HARAPAN … Harapan saya dan YOP … kegiatan PESAT terus bergulir termasuk di daerah
Ada permintaan Pesat dari Nia di Aceh dan Dian di Medan … saya dan YOP sedia badan dan tenaga serta tiket dan akomodasi … silakan kumpulkan teman2 bentuk panita .. sederhana saja penyelenggaraannya .. kan yang penting isinya … Kalau Tuhan berkenan .. pasti terlaksana.
Bekasi bagaimana? Jadi mau bikin PESAT Bekasi? hehehe hayu atuh ….

Kedua … BOOSTER PESAT
Desember 2006, seminggu sesudah “acara besar keluarga” … Booster Bandung. Thanks Patty dkk, kompakk banget
Disusul januari Booster Surabaya … thanks Puji dkk. Puji (mama Bagas) nih hebat .. berhasil menghimpun eks peserta PESAT surabaya untuk menjadi panitia .. siapa tahu bakal ada pesat Surabaya ditengarai panitia baru?
Maret … Booster Batam …. Thanks Liza dkk … Seneng banget ketemu Eva, Mondang, Wied, dan sebagian eks peserta Batam. Kayaknya Batam bisa maju terus tuh, setahun sekali ajah hehehe
Pelajaran menarik yang diperoleh dari penyelenggaraan Booster tsb .. ternyata pesertanya bisa melebihi waktu pesat awal nya hehehe … Ini pelajaran buat mereka yang ingin jadi panitia pesat daerah .. kalau sulit mengumpulkan peserta … jangan kecil ha=ti, satu ibu kan minimal satu anak. Kedua, nanti boosternya siapa tahu bisa lebih banyak

KETIGA … PESAT untuk NON milis members
Nah ini biasanya merupakan ceramah di sekolah, di beberapa perusahaan, untuk pendengar radio DeltaFemale (2x), untuk pembaca Majalah Ayah Bunda.
21 April ini Insya Allah ceramah di SD AlIzhar (buat orangtua). Sedang disusun ceramah2 di SD lain nya.

Pada dasarnya, PESAT perusahaan, sekolah, merupakan sumber pemasukan bagi YOP. …. dipergunakan untuk menutupi kebutuhan harian (hehehe …. yang ternyata gak sedikit …)

PERUSAHAAN dll
PAKET/PESAT sudah berlangsung di Vico, BP, dan terakhir di Indocement
Bahkan di Indocement selain untuk karyawan, juga untuk keluarga dan untuk para dokternya dalam bentuk TOT
Paket lain adalah kerjasama dengan 1 perusahaan asuransi untuk PAKET PESAT di satu perusahaan yang menjadi klien nya

PESAT NON PAKET lain contohnya di PT Mattel, di Unilever, Rotary, kelompok Expatriates di Indonesia.

Keempat …. FAMGATH
Alhamdulillah .. dengan semanat tinggi dan kerja keras, terselenggara pula Famgath ke2. Berbeda dengan yang pertama .. kami menyelenggarakannya sehemat mungkin karena kami beranggapan, kalau toh ada uang … lebih baik untuk kegiatan inti YOP yaitu paket edukasi kesehatan anak apakah paket atau non paket khususnya untuk daerah
Saya pribadi memohon maaf apabila banyak ketidak puasan tetapi saya bangga akan dedikasi panitia … luar biasa
Hayooo kalau kepingin ada Famgath ke3 .. siapa mau menawarkan diri menjadi panitia? TIA

Kelima … CERMIN
Ingat kan Januari lalu saya melayangkan kueisoner evaluasi kinerja? Kuesioner ini sudah direkap datanya oleh Dr Ian … dan sudah kami bahas bertiga dengan Dr Shahjahan dari WHO. Rencananya… bulan Mei kami akan melayangkan kembali kueioner seri 2 dengan beberapa perbaikan, kami sangat mernharapkan partispasi SP untuk meluangkan waktu dan menjawabnya.
Selain itu, ada penelitian lain yang tengah dan akan kami lakukan. Dengan data, kami harap, suara YOP dan konsumen kesehatan di Indonesia, akan semakin kuat dan sahih.

REKAP DATA KUEISONER JANUARI 2007
1. Mayoritas responden sudah menjadi member selama 6 – 12 bulan. Ada 22% < dari 6 bulan (< 1 bulan 8% dari total responden) dan yang mengagumkan ada 8% yang sejak awal/> 3 tahun dan 30% selama 2-3 tahun.
Semoga betah di milis sehat

2. Sebagian besar responden (46%) mengetahui milis sehat dari internet. Saya sering dikritik bahwa saya hanya “menggarap” komunitas yang kaya .. padahal “punya” akses internet kan gak berarti kaya ya hehehe.
38% dari teman kantor … ini mencerminkan kebersamaan dan kepedulian anak muda Indonesia.
Masih sedikit yang tahu dari media (8%) dan di tahun ini, saya harap, kami bisa lebih banyak menulis di media cetak melaporkan hasil penelitian kami sehingga kami berhasil menggaet lebih banyak member milis dari media.
Menarik .. ada 3% yang tahu dari dokternya .. alhamdulillaah .. semoga semakin banyak dokter yang merekomendasikan milis sehat

3. Tingkat pengetahuan
60% responden menyatakan lebih PeDe dan 95% menyatakan tingkat pengetahuannya bertambah.
Tampaknya, tingkat pengetahuan belum paralel dengan ke PeDean hehehe …m semoga dengan berjalannya waktu … tingkat PeDe pun meningkat menjadi 95%. Tentunya setelah ini yang lebih penting adalah apakah keduanya di atas membuahkan perubahan dan perbaikan sikap?

4. Perubahan sikap
86% responden mengaku kunjungan ke dokjter berkurang. Bravo!! eski masih ada 3% responden yang justru semakin sering ke dokter

88% tergopoh2 ke dokter ketika anak demam belum 72 jam .. (masih ada 8% yang masih segera ke dokter) .. dan .. 94% tak kedokter ketika anak BAB lembek atau frekuensi lebih sering (hanya 5% yang masih ke dokter)

65% berhasil imunisasi simulta (sepertiganya kadang berhasil kadang tidak sedang 2/3nya senantiasa berhasil) .. Bravo!! Meski masih ada 5% yang belum pernah meminta imunisasi simultan

Perubahan sikap terkait pemeriksaan penunjang:
82% tak meminta periksa darah sebelum demam 72 jam tetapi masih ada 14% responden yang periksa darah meski demam belum 72 jam (semoga ini berkurang)

56% responeden hanya akan periksa tinja apabila diarenya ada darah tapi masih ada 7% yang meski tak berdarah tetap memeriksakan tinja ketika BAB lembak/lebih sering.

perubahan sikap terkait terapi
Ketika anak diare/muntah, 70% memberikan oralit/pedialit
Masih tinggi yang tidak memberikan ORS yaitu 23%

20% responden menanyakan perihal obat yang diresepkan tetapi hanya sekilas. 76% menanyakan agak lebih teliti

61% browing obatnya; 31% hanya kadang-kadang saja dan 8% tidak pernah brwosing obat

Mayoritas responden (37%) tidak minta obat generik (hiks)
32% meminta generik dan 27% kadang2 saja
Dan 51% responden memang tak pernah diberi resep generik

Mayoritas responden mengakuu diberi puyer (67%) hanya 28% yang tidak pernah mendapat puyer

74% responden diberi antibiotik (hiks 1-3kali)

Biaya … mayoritas tidak menjawab (nah mulai sekarang tolong dicatat yaaa)
Biaya minimal …. 23% biaya 20-50 ribu
Biaya maksimal .. mayoritas (12%) sampai 200 rb dan ada 5% yang di atas 200 rb

Nah … selamat menikmati “tampilan kita” di cermin di atas ….
Pasti bisa lebih “cantik” ya .. “harus” lebih cantik hehehe
Kalau ayah ibunya “cantik” … pasti anak-anaknya juga “cantik”
Akhirnya, saya sudahi Pelangi ini
Doakan bisa segera muncul edisi berikut

tetapi sebelumnya, atas nama YOP .. kami mengucapkan terimakasih atas beberapa usulan donasi
Kami sengaja belum menjawab karena kami akan “meeting” terlebih dahulu minggu depan
Saya pribadi suka takut kalau menyangkut uang
hehehehe
maklum .. gak pernah punya uang banyak hehehe

Nah saya sebenarnya ingin tahu .. donasi tsb bolehnya dipergunakan untuk apa? hehehehe
kan saya takut salah .. biarpun pertanyaannya bodoh kan mending tanya ya hehehe

Love
wati

Leave a comment »

Pelangi 11 : Obat, Ongkos

Jakarta, 15 januari 2007 jam 10.32 pm

dear all ….. selamat malam
tadi malam baru kembali dari Solo  (hiks as usual, delayed pesawatnya … oh endonesia)..
alhamdulillaah .. Insya Allah kunjungan ke3 nanti awal Maret
Ternyata januari lumayan puadattt
Kayaknya april mau istirahat ah hehehe … enak kali ya … Insya Allah …
Wah dipotong dulu ya …

Sambung lagi
Saya janji lamaaa sekali mau membuat Pelangi .. saya kepingin share soal “obat” …. tapi ya itu, baru malam ini meski sebenernya mata sudah 5 watt

Tadi saya di radio … talk show. Sudah lama saya ingin share perihal talk shows saya .. dulu sih selalu ada SP yang membuat summary nya lalu dishare di milis hehehe

Nah berikut ini script yang disusun oleh saya dan Ida Arimurti (siapa tahu lalu ada yang berminat mau membantu membuat script setiap 2 minggu buat Ida dan saya hehehe nikmatnya) ….
Oh ya … waktu on air tidak bisa ketat mengikuti script nya tapi 80% tercapai.
Tadi SMS banyak yang masuk … ruame hehehe …
ada 2 on air phone calls

Saya copy paste ya run down nya … siapa tahu bisa dinikmati sekaligus jadi bahan renungan …
Saya selalu mempergunakan font 14 supaya di studio gak usah pakai kacamata hehehe …

SESI 1. (DELTA) Delta Medika, be smarter – be healthier bersama Dr Purnamawati/wati …. sebagai suatu upaya agar kita semua menjadi konsumen yang cerdas dan BIJAK.

Topik hari ini …  ISU SEPUTAR HARGA OBAT DI INDONESIA
Selama ini, kalau bicara obat …. kita cuma bicara aspek medis klinisnya … ternyata obat juga punya konteks psikososial ya dok?

W: Sejak 3 dekade terakhir ini, obat menjadi salah satu andalan utama bagi sistem pelayanan kesehatan. pengembangan obat di dunia berlangsung begitu cepat. Kondisi ini antara lain diakibatkan karena sistem layanan kita semakin berkiblat pada upaya kuratif, bukan pada upaya edukatif dan preventif…. Bahkan puskesmas sekalipun … lebih berkutat di upaya kuratif ketimbang upaya penyuluhan kesehatan dan pencegahan penyakit. Bagaimanapun, upaya kuratif (baca = layanan seputar obat) …. memang lebih menjanjikan dari sudut pandang ekonomi.

Dilain pihak .. kenyataannya …. memang … Pelan tapi pasti, obat telah menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia.  Tuntutan pasar yang demikian tinggi, khususnya di negara-negara sedang berkembang, telah menjadikan obat sebagai suatu industri yang sangat menggiurkan. Persainganpun terjadi di kalangan industri farmasi untuk merebut minat pasar yang begitu tinggi. Tidak jarang …. para pelaku pasar farmasi menggunakan berbagai strategi yang secara sadar telah melanggar nilai-nilai etika dan kepatutan. Kondisi ini potensial violating hak manusia untuk memperoleh layanan kesehatan, hak kemudahan mengakses obat yang aman dan efektif.

DELTA: Berbeda dengan komoditi ekonomi lainnya, obat punya sifat khusus terkait fungsinya dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian. Untuk barang seperti ini, apakah bijak kalau obat sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar?

Kita sambung nanti

SESI 2. DELTA: Mahal ya obat itu. Sedih ya kalau sakit … ongkosnya jadi guede … Tapi, harga obat yang mahal itu cuma di Indonesia atau di seluruh dunia? Jadi bisa dibilang bahwa obat … sudah mendiskriminasi sosial-ekonomi masyarakat?

W: Obat memang sudah menjadi komoditas ekonomi artinya ….  penetapan harganya diserahkan pada mekanisme pasar. Coba saja simak … Ada perbedaan harga yang sangat lebar antara obat generik dan obat merek dagang (branded generic) – bisa mencapai 300 kali lipat. Ini kan bukti bahwa telah terjadi penetapan harga obat oleh industri yang tidak rasional, tidak transparan, dan tanpa mekanisme kendali. Ironisnya, ketidakadilan penetapan harga obat justru marak di negara sdg berkembang (daya belinya rendah).

Obat merupakan komoditas ekonomi yang sangat menggiurkan. Pasar obat dunia mencapai US$ 600 milyar. Di Indonesia (perkiraan jumlah penduduk 218 juta jiwa), total market obat mencapai Rp 34 trilyun (IMS, 2005). Gemuk ya  … OKI obat pun menjadi “kue” ekonomi yg diperebutkan 200 industri farmasi yang ada di Indonesia.

DELTA: Kondisi ini pasti besar dampak sos-ek nya. Kok kayaknya “kejam” banget. Dimana posisi pasien  sebagai konsumen nya?

W: Memang apa kondisi inilah yang disebut sebagai an Imperfect market. Ketika Seseorang yang membutuhkan obat (apalagi obat yg diresepkan) justru tidak memiliki hak untuk memilih”, karena:

1.    Keputusan ditetapkan oleh dokter (Sepihak ya).

2.    Tidak tersedia informasi transparan mengenai sifat-jenis obat, mutu, kelebihan-keunggulan, serta harga dari masing-masing obat sehingga masyarakat tidak bisa menetapkan pilihan

3.    pemilihan umumnya dilakukan tenaga medik, yang keputusan pemilihannya cenderung tidak transparan … lebih banyak dipengaruhi oleh industri farmasi yang secara implisit lebih memberikan keuntungan bagi tenaga kesehatan bersangkutan.

DELTA: Menyedihkan, yang membayar justru tidak bisa membuat keputusan … Kita sambung setelah jeda berikut ini

SESI 3: DELTA – Obat telah kehilangan rohnya sebagai bagian dari hak individu rakyat untuk dapat sembuh dari penyakit atau memperpanjang usia. Kesehatan sudah benar2 jadi industri ya ……

W: DR Magie Mahar dalam artikelnya (2006) berjudul Money-Driven Medicine: The Real Reason Health Care Costs So Much. Menyatakan: dalam 25 tahun terakhir, “power”nya system layanan kesehatan sudah bergeser dari dokter ke korporasi, ke industri. Nah, kiblatnya korporasi = kepentingan shareholders’, pemegang sahamnya. Sehingga, keputusan alokasi biaya layanan kesehatan merupakan keputusan ekonomi/pasar. Pengembangan produk atas dasar keuntungan tertinggi … bukan berangkat dari kebutuhan pasien. 1 dari 3 dolar belanja kesehatan terbuang untuk tes yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, untuk prosedur yang belum terbukti efektivitas dan safetynya (belum ada EBMnya), dan untuk obat/alat baru yang tak lebih baik dari yang mereka gantikan.

DELTA: Dok, money-driven medicine alias layanan kesehatan yang sarat dorongan finansial…. bikin tambah sengsara orang sakit…. ongkos tinggi yang dibelanjakan pasien juga sebenarnya mubasir ya?

W: Sengsara rakyatnya, sengsara pemerintahnya. (1) menciptakan kondisi duplikasi. Kalau satu RS membeli alat MRI baru, maka RS tetangganya pun membeli alat MRI yang baru . nah. bagaimana mereka membayar alat itu? Tentunya dengan mempergunakannya! (2) system layanan kesehatan yang berorientasi keuntungan, berlaku praktek: what is good for business is more business: more drugs, more devices, more procedures, more tests. Mahal tapi kondisi kesehatan tdk menjadi lebih baik.

DELTA: Sedihnya. Susah bener jadi pasien di Negara berkembang apalagi kalau negaranya BELUM memiliki sistem asuransi kesehatan yang kokoh.

SESI 4, DELTA: Bagaimana proses penetapan harga obat di Indo? Pengalaman sih … obat yg sama … beda harganya. Kok bisa?

W: Di Indonesia, harga obat untuk jenis yang sama juga sangat bervariasi. Harga amoksisilin kaplet 500 mg bervariasi mulai dari Rp 425,-, Rp 615,-; Rp 875; Rp 1100,-; hingga Rp 2850,- atau harga tertinggi mencapai sekitar 7 kali lipat harga terendah.

Ternyata, penetapan Harga obat memangtdk transparan dan tidak berpihak pada konsumen. Obat yang oleh suatu industri farmasi semula ditetapkan dengan harga jauh lebih murah dari kompetitornya, akhirnya harus juga menyesuaikan/menaikkan harga dengan harga yang ditetapkan oleh industri farmasi yang telah terlebih dahulu  memiliki “brand image”. Ini dilakukan agar tetap mendapat kepercayaan dari konsumen.

Saat mengikuti lokakarya “Obat murah, efektif, mungkinkah?” ketika sedang terjadi forum diskusi … ada seorang apoteker yang angkat bicara. Singkatnya … ia mangatakan bahwa …. “Org INDONESIA TIDAK SUKA OBAT MURaH!)

DELTA: Nyata sekali bahwasanya konsumen memang tak berdaya menghadapi proses penetapan harga yg demikian “chaotic”.Apa saja sih komponen harga obat? Dan yang paling besar komponen apa? R & D, atau marketing, atau bahan bakunya?

W: Di negara sedang berkembang (Indonesia), kecil sekali proporsi industri yg melakukan R & D. OKI … komponen harga sektor R & D tidak sebesar yg dikeluarkan industri ybs di negara asalnya.

5 komponen utama yg sgt menentukan harga obat: (1) bahan baku; (2) Biaya manufacture; (3) biaya pemasaran; (4) distribusi; dan (5) penetapan harga di tingkat retailer/outlet.

Biaya pemasaran paling sulit diketahui dg pasti, umum nya 20-40% … semakin baru produknya, semakin tinggi pula biaya marketingnya  (Wagner, ’04). Jadi … Terlihat tetapi tak mudah untuk dilacak. Penyediaan biaya kongres, pertemuan ilmiah, biaya transportasi peserta kongres, akomodasi, hingga pelayanan permukaan (surface services). Pada dasarnya tidak terbantahkan tetapi sulit dibuktikan karena umumnya menggunakan pos-pos dana yang seolah dimasukkan sebagai komponen biaya produksi.

DELTA: Ada berapa m,acam sih obat itu? Kok obat generik murah? Apa karena biaya marketingnya rendah? Kita sambung lagi ya nanti

SESI 5 – DELTA: Sebenarnya, ada berapa macam sih obat itu .. tadi dokter menyebut branded generic .. nah maksudnya apa? Apakah itu sama dengan obat paten?

W: Obat ada berapa macam? Kalau mau jujur dan saintifik, obat hanya ada 2 kelompok yaitu obat paten (original) dan obat generik.

(saya menerangkan perihal obat paten …… [tidak sedikit masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa obat paten adalah obat yang kuat … padahal paten artinya hal cipta)

Jadi, sebetulnya penggunaan istilah branded generic merupakan tindakan yang “membodohi” konsumen. Wong isinya sama … Kenapa dia harganya mahal dan berkali lipat dari obat generik? Karena ongkos promosi nya, ongkos manufacturing nya (kemasan, warna, rasa, bentuk dll)

Jadi, karena moto kita ini be smarter be healthier, saya yakin pendengar Radio Delta tak akan ragu untuk memilih obat generik!!

Kedua, pendengar radio Delta juga semakin menyadari bahwa kita punya hak untuk bisa mengakses obat yang aman dan efektif

DELTA: Jadi, jangan kita terpaku pada pola pikir bahwa yang mahal pasti lebih baik ….

Kita jumpa Dua minggu lagi …. masih seputar obat dan farmakoekonominya

Be smarter, be healthier

Script di atas berangkat dari keikut sertaan dalam Workshop di bulan lalu dengan tema yg sudah saya kemukakan di atas

Tulisan ini juga bahan dasarnya adalah makalah Dr Iwan DP dari UGM …. wah enak lho kalau mendengar beliau bicara

Berikut ini saya copy paste beberapa sms. Komentar di bawahnya adalah urun rembug saya dengan kalian (kebetulan sms yg di bawah ini bukan/tdk termasuk sms yang saya tanggapi langsung tadi/on air) .. yaitu sms yang akan saya balas melalui milis Ida arimurti …

Nah kalau ada yang mau bantu menjawab buat saya hehehe .. thanks a lot lhoo

Mbak ida, sy bkn praktisi farmasi, hanya pernah jadi medrep utk waktu yg singkat. Menurut sy hrg obat tinggi krn ada “biaya siluman” yg keluar. Mungkin dr wati bisa terangkan. Le…, otw.
nah ini biaya marketing mungkin ya ….

Sebetulnya kalau Pemerintah MAU memberantas praktek’dokter kontrak’ yg menyebabkan harga obat mahal,bisa mengaudit resep di apotik oleh Depkes/Ag……-Jati…..

Tuh, konsumen saja sudah paham pentingnya audit
Kita diaudit kok tapi bukan oleh pem/organisasi profesi melainkan oleh industrinya

Sy juga heran tentang harga obat di sini, dgn kandungan yg sama, harga obat import itu harganya separo dari harga obat lokal !!

Leonie, 43 Taman Aries mohon tanya harga obat import kan jauh lebih murah daripada obat lokal, gimana dengan kualitasnya apakah yg lokal jadi lebih baik? Thanks

Wiwik, 36th,bekasi. Dr Wati, kalo obat generik sama isinya, knp dr jrg menyarankan u/ pake generik? Aplg kl qt punya asuransi. Gmn donk ??

Apakah

Setiap obat yg dikirim suplayer/apotik sama? Kenepa setiap apotik hrg obat berbeda,artinya aptk mengambil marginsendiri2x/ican

ini contoh komponen ke 5 yang menentukan harga obat
saya kalau punya apotek juga mungkin bisa saja menentukan harga obat sesuai selera
Untungnya BPOM sudah mengeluarkan aturan agar obat mencantumkan label HET

Pmrntah sdh layak masukn obat sbg bhn kbutuhn pokok ke 10,dg dmikian mulai bhn baku sd/ distribusi dpt diatur,diawasi masyrkt.Hrg obat bisa turun 50% “Un….   ….o”

Memang ada penelpon yang berargumen bahwa obat kita mahal karena bahan bakunya impor
Kalau dolar naik .. harga bahan bakunya jadi semakin mahal
lalu saya bilang … bahan baku hanya 1 dari 5 komponen utama penentu harga obat
kedua, ketika dolar melemah dan nilainya menurun  dibanding rupiah, harga obat toh juga gak turun hehehe

satu lagi nih
Waduh mba ida, bgs skali acara dg Dr Wati. Congrat.

gak ngarang lho saya hehehe
seneng ada yg appreciate (soalnya ada juga yang ….)
semoga memang bermanfaat

Sudah ya .. segitu aja contoh sms nya … hehehe
yang lain … buat disimpen aja deh .. syeremmmmm

Ok … 2 minggu lagi insya Allah delta Medika … masih seputar obat deh kayaknya

ok selamat melanjutkan mimpi

wati

Leave a comment »

Pelangi 10 : Mekanisme Kontrol

Jakarta, 3 November 2006 – jam 15.27

Dear all

selamat sore
hehehe … dah luamaaaaa buanget gak bikin pelangi ya
alasan sih banyak hehehe … dan saya tak mau berkelit … jadi … saya
cuma
bisa minta maaf yang sebesar-besarnya (padahal dah di “himbau” terus oleh SP
hehehe; padahal yang ada di kepala dan di hati buanyaaak banget hehehe)

Mumpung masih kental di tengah suasana saling bermaafan, mumpung masih
syawal
… saya kepingin urun rembug soal mekanisme kontrol dalam layanan
kesehatan.
Khususnya ditinjau dari peran konsumen nya.

Coba buka Pelangi 8 hehehe tentang hak dan peran konsumen kesehatan

Perannya: sebagai complainants, sebagai participants, dan sebagai recipient
of
information

tempo hari ada yang mengeluh soal layanan di suatu rumah sakit bersalin …
lalu
ada yang menanggapi … coba buat surat ke manajemen …
Surat tsb (sepanjang obyektif dan sopan) menjadi asupan berharga buat si RS
Nah itu cuma salah satu contoh dari peran sebagai complainants

Sebagai partisipan
Dalam setiap kesempatan … YOP selalu menyatakan bahwa konsumen kesehatan
yang
rasional, yang bijak, akan sangat membantu pola layanan kesehatan agar
semakin
hari semakin baik (sesuai QUM – quality use of medicine)

Partisipasi seperti apa?
Banyak kok
mengupdate pengetahuan dasar kesehatan
membaca dan memahami guidelines / panduan tatalaksana gangguan kesehatan
….
meminta waktu untuk diskusi saat berkonsultasi medis
mencatat no batch vaksin dan memastikan belum expired .. dst dst

selama ini saya sangat puas melihat perkembangan mind set anak-anak muda
Ketika anaknya mengalami gangguan kesehatan
mis diare … pertanyaan pertama … kenapa ya?
Kalau duluuuu /…. pertanyaan pertama yang muncul adalah … obatnya apa ya
….
Ini sudah suatu kemajuan luar biasa.
semoga mind set problem based ini tetap dipeluk erat

Khusus di pelangi ini …. saya ingin mengusulkan satu mekanisme sederhana
Sebelumnya, terimakasih banyak kepada Dr Faustinus yang kemarin mengusulkan
hal
ini kepada saya. Hebat banget nih
Orangnya hebat … konsepnya hebat

\Apa sih:
“biasakan … ketika ke dokter
selain menanyakan penyebabnya
ketika memperoleh resep tanyakan

1. Dok ini obat apa?
Dengan catatan … kita bukan mengharap jawaban …”oh ini obat batuk”….
Ini
obat radang” …

Bukan … bukan begitu
melainkan “oh ini obat batuk”

2. Dok yang mana obat batuknya?
lalu tunjuk deh puyernya
tanyakan setiap baris di puyer tsb
dari atas sampai bawah

jangan lupa bilang terimakasih banyak ya

semoga bisa menjadi renungan di penghujung minggu ini

salam sehat
wati

Leave a comment »

%d bloggers like this: