Anak Pilek dan Diare Jangan Buru-buru Kasih Antibiotik

Penulis : Unoviana Kartika | Jumat, 7 Maret 2014 | 08:52 WIB


KOMPAS.com – Jika membawa anak ke dokter karena sakit pilek atau diare, tidak jarang dokter memberikan resep antibiotik. Bahkan jika tidak diberikan sekalipun, kadang-kadang konsumen justru memintanya. Padahal untuk sakit tertentu, penggunaan antibiotik dinilai sebagai tindakan yang berlebihan.

Dokter spesialis anak Purnawati Pujiarto yang juga aktivis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) memaparkan, jika mengalami sakit maka perlu diperiksa penyebabnya. Apakah karena infeksi atau lainnya. Jika memang terjadi infeksi, perlu diketahui lagi penyebab infeksinya oleh virus atau bakteri.

“Jika virus maka tidak perlu diberikan antibiotik karena antibiotik tidak bisa mematikan virus, melainkan bakteri. Jadi bakteri yang bukan menyebabkan penyakit juga mati akibat antibiotik. Jika dibiarkan maka akan lama-lama akan menimbulkan resistensi,” tutur Purnawati dalam sebuah diskusi kesehatan bertajuk “Bakteri: Kawan atau Lawan?” di Jakarta, Kamis (6/3/2014).

Untuk penyakit pada anak seperti pilek dan diare, imbuh dia, sebenarnya tidak memerlukan pengobatan apalagi antibiotik. Pilek yang dimaksud adalah pilek umum dengan gejala produksi lendir meningkat disertai pusing dan batuk. Sementara diare akut yang tidak berdarah.

“Obat-obatan untuk sakit seperti pilek dan diare tidak perlu karena memang akan sembuh dengan sendirinya. Obat-obatan itu hanya memberikan sedikit rasa nyaman,” ujarnya.

Menurut Purnawati, pada anak, kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang umum terjadi. Apalagi menurut situs kesehatan Mayo Clinic, anak wajar jika sakit belasan kali di usia kurang dari dua tahun.

“Sakit pada anak itu justru baik untuk memacu sistem pertahanan tubuhnya supaya kuat,” tegasnya.

Atas dasar itu pula lah, Purnawati juga menyarankan agar orangtua tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kesehatan anak jika mereka ingin bermain tanah atau hujan. Pasalnya kegiatan tersebut akan membantu mereka lebih kebal terhadap serangan panyakit.

Sumber : Kompas.com

Advertisements

Leave a comment »

Antibiotik Berlebihan Ancam Kesehatan

PENGGUNAAN antibiotik sesuai dengan kebutuhan dan penyakit harus diperhatikan masyarakat yang jadi pasien agar tidak muncul resistensi bakteri atas antibiotik yang bisa mengancam kesehatan.
Karena itu, kesadaran masyarakat atas penggunaan antibiotik harus ada terutama bersikap cermat saat diberi dosis obat oleh dokter.

“Jika antibiotik tidak sesuai dengan kebutuhan dan penyakit, mereka mesti bertanya pada dokter,’’ kata Dr Purnamawati dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) pada diskusi Pentingnya Pengetahuan Masyarakat atas Antibiotik, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, resistensi bakteri terhadap antibiotik akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai bisa menyebabkan beberapa hal, di antaranya memperpanjang periode sakit, memperburuk kondisi klinis, meningkatkan biaya pengeluaran, serta menimbulkan efek samping dan toksisitas yang lebih besar pada tubuh.

“Resistensi bakteri atas antibiotik pun akan menyebabkan peningkatan potensi jumlah pasien infeksi dan menambah risiko terjadinya

pandemi bakteri yang resistens terhadap antibiotik,’’ terang Purnamawati.
Dia menyarankan pasien agar saat berkonsultasi ke dokter menanyakan tiga hal, yaitu mengenai diagnosis penyakit, tata laksana penyakit, dan kapan harus cemas.

“Pasien pun diminta cermat sebelum dia diberikan obat dengan bertanya apakah dia benar-benar membutuhkan obat itu, jumlah obat, apa kandungan aktifnya, cara kerja, efek sampingnya, dan lain-lain,’’ kata Purnamawati.

Secara terpisah, Communication Advisor Action on Antibiotic Resistance ReAct Satya Sivaraman menyatakan terdapat lima cara untuk menghentikan resistensi terhadap antibiotik.

Kelima hal tersebut ialah menggunakan pendekatan ekologis, menciptakan kebijakan nasional, meningkatkan kepedulian konsumen, membentuk suatu guideline atau patokan, dan mengadaptasi pesan-pesan ke konteks lokal. “Para tenaga kesehatan dan masyarakat juga perlu mendapatkan pengetahuan terkait dengan penggunaan antibiotik.’’ (Vei/H-2)

Sumber : mediaindonesia.com

Leave a comment »

Antibiotik Bukan untuk Semua Jenis Penyakit

Kamis, 06 Maret 2014 | 15:48

 

 Obat antibiotik

Obat antibiotik

Jakarta – Banyak yang menganggap antibiotik bisa dikonsumsi kapan saja dan untuk penyakit apapun. Padahal hal itu tidak benar dan bisa membuat seseorang mengalami kebal antibiotik atau resisten. Untuk itu, Yayasan Orangtua Peduli (YOP) bersama organisasi nirlaba berpusat di Swedia, Action on Antibiotic Resistance (ReAct) menjalankan program Bijak Antibiotik atau Smart Use Antibiotic (SUA).

SUA yang berjalan sejak 2012 lalu ini menyebarkan pesan-pesan terkait penggunaan antibiotik dan resestensi bakteri kepada masyarakat luas terutama para orangtua.

“Program ini difokuskan pada penggunaan antibiotik untuk berbagai penyakit harian yang disebabkan virus, khususnya selesma dan diare akut,” ujar Koordinator Porgram SUA YOP, Vida Parady, saat ditemui di Jakarta, Kamis (06/03).

Program SUA ini hadir untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan bakteri bermutasi dan kebal sehingga tidak mampu dilawan antibiotik.

Menurut Vida, alasan fokus ke selesma dan diare akut dikarenakan kedua penyakit itu yang sering dialami. Khususnya anak-anak dan selama ini masyarakat salah kaprah akan penanganannya yang menggunakan antibiotik. Padahal penyakit tersebut disebabkan oleh virus dan dapat sembuh tanpa obat.

“Sudah jadi common practice kena pilek, demam dan diare menggunakan antibiotik, padahal salah. Apalagi ini sering terjadi pada anak-anak,” ujar Vida.

Dalam menjalankan program ini, ada sekitar 50 orang relawan yang berasal dari Jabodetabek, Yogjakarta, Bali, dan Surabaya. Masing-masing relawan membagikan informasi kepada keluarga binaan.

“Training untuk relawan di kota-kota tersebut selama 2 hari penuh dari dokter-dokter YOP. Training mengenai beda virus dan bakteri, bagaimana treatmentnya,” kata Vida.

Selain itu YOP juga berbagi informasi melalui twitter @milisehat, Facebook, sehat@yahoogroups.com, serta situs www.milissehat.web.id dan www.bijak-antibiotik.com.

“Harapan kami dengan berbagi dan sering menyebarkan informasi, masyarakat tahu bahwa hal yang dianggap diluar kebiasaan (tidak memberikan antibiotik ke penyakit seperti flu maupun demam) adalah hal yang benar,” ujar Vida.

Penulis: Carla Isati Octama/MUT

Sumber : beritasatu.com

Leave a comment »

Ini Alasan Antibiotik Harus Dihabiskan Sesuai Resep

Kamis, 06 Maret 2014 | 22:30

Ilustrasi obat-obatan
Ilustrasi obat-obatan (sumber: Wikipedia)

Jakarta – Banyak pasien yang merasa sudah sembuh setelah meminum beberapa kali obat antibiotik. Sehingga, tidak menghabiskan antibiotik yang telah diresepkan dokter. Padahal harusnya pasien menghabiskan sesuai petunjuk dokter.

“Sangat keliru kalau antibiotik tidak dihabiskan. Misalnya TBC antibiotik untuk 6 bulan, lalu baru sebulan merasa sehat dan distop obatnya,” ujar dokter anak dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed saat ditemui di Jakarta.

Purnamawati melanjutkan, apabila obat yang seharusnya dikonsumsi selama 6 bulan dan baru sebulan sudah dihentikan oleh pasien, maka baru beberapa persen kuman yang mati.

“Yang lainnya akan bermutasi dan menjadi resisten supaya tidak bisa diperangi lagi,” kata Purnamawati yang merupakan founder dari Yayasan Orang Tua Peduli (YOP).

Apabila bakteri sudah menjadi resisten (superbugs) maka nantinya penderita penyakit akan sulit mencari antibiotik yang efektif. hal itu karena bakteri sudah kebal akan antibiotik.

“Maka saat kita jatuh sakit cari tahu kenapa, penyebabnya apa. Kalau sayang badan kita, mari sama-sama gunakan antibiotik dengan bijak. Pada saat butuh antibiotik tidak akan susah karena (bakteri dalam tubuh kita) tidak resisten,” tutupnya.

Penulis: Carla Isati Octama/MUT

Sumber : Beritasatu.com

Leave a comment »

Antibiotik Bisa Bunuh Bakteri Baik Dalam Tubuh

Kamis, 06 Maret 2014 | 17:36

Bakteri baik dalam tubuh. 

Bakteri baik dalam tubuh.

Jakarta – Jangan pernah mengkonsumsi antibiotik tanpa resep dokter. Pasalnya, obat ini justru bisa merugikan kesehatan Anda. Antibiotik dapat membunuh bakteri baik dalam tubuh manusia apabila digunakan secara tidak tepat. Seperti, mengonsumsi antibiotik padahal sakit yang diderita bukan disebabkan oleh bakteri.

“Ketika mengkonsumsi antibiotik padahal cuma batuk pilek, antibiotik tidak akan membunuh bakteri jahat karena tidak ada bakteri jahat,” ujar dokter anak sekaligus founder YOP, dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed saat ditemui di Jakarta, Kamis (06/03).

Batuk dan pilek yang disebabkan oleh virus dan bukan disebabkan bakteri jahat. Nantinya, antibiotik malah akan membunuh bakteri baik yang berada di dalam tubuh kita.

“Maka nanti kavling yang diisi bakteri baik kosong dan bakteri jahat bisa menduduki kavling di dalam tubuh kita,” ujar Purnamawati.

Masyarakat perlu memahami bahwa antibiotik sangat jarang dibutuhkan dan mayoritas penyakit disebabkan oleh virus.

“Kalau penyakit kita butuh antibiotik, silahkan dan (dikonsumsi) sesuai guideline-nya, tiap penyakit beda-beda,” ujarnya.

Penulis: Carla Isati Octama/MUT
Sumber ; Beritasatu.com

Leave a comment »

Pemahaman Orangtua Tentang Antibiotik Masih Minim


 

Liputan6.com, Jakarta Orangtua lebih memilih memberikan antibiotik (AB) kepada anak yang terserang flu ketimbang membawa anaknya itu ke dokter. Masih banyak orangtua yang percaya bahwa AB ampuh membunuh virus dalam tubuh anaknya, padahal AB tidak dapat membunuh virus sama sekali.

“Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik. Ketika anak terserang virus lalu dikasih antibiotik, maka yang dibunuh adalah bakteri baik dalam tubuh si anak, bukan bakteri jahatnya,” kata Dokter Anak Kemang Medical Centre sekaligus Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli dan Milis Sehat, dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, dalam acara bertema `Bakteri: Kawan atau Lawan` di Restoran Gemoelai Panglima Polim, Jakarta, Kamis (6/3/2014)

Diakui dr. Purnamawati, kesalahpahaman seperti ini masih sering terjadi sampai detik ini. Orangtua dengan percaya diri memberikan AB kepada anak yang sebenarnya tidak diperlukan. Pemahaman orangtua akan AB, lanjut dia, memang sangat minim. Banyak orangtua yang tak sadar efek negatif yang ditimbulkan bila salah dalam menerapkan pemberian AB pada anak-anaknya.

“Penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak menguntungkan sama sekali, bahkan merugikan dan membahayakan,” kata dia melanjutkan.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa penggunaan obat yang tidak aman, seperti halnya pemberian antibiotik ini, merupakan permasalahan kesehatan yang serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Padahal, bila asal dalam menerapkannya akan membahayakan kesehatan si anak.

Bahkan dalam kesempatan itu dr. Purnamawati mengatakan, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik cenderung berlebihan dan umumnya justru diberikan pada penyakit atau kondisi yang tidak memerlukan antibiotik sama sekali.

Tak hanya itu, pemakaian AB yang tidak pada tempatnya atau berlebihan, dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas, tidak hanya terhadap diri kita sendiri, melainkan lingkungan sekitar.

“Pemberian AB yang berlebihan dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada di dalam tubuh kita. Ketika bakteri baik itu terbunuh, bakteri jahat jadi pesta pora. Sehingga, tempat semula yang ditempati oleh bakteri baik akan diisi dengan bakteri jahat atau oleh jamur,” kata dr. Purnamawati menjelaskan.

Dalam dunia kedokteran, kondisi seperti ini disebut dengan superinfection. Lalu, pemberian AB yang berlebihan, menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten terhadap AB, atau biasa disebut dengan superbugs.

(Melly Febrida)

Sumber : Liputan6.com

Leave a comment »

Berlebihan Antibiotik Bikin Resistensi Bakteri

Headline
INILAHCOM, Jakarta – Tidak semua bakteri dalam tubuh tersebut merugikan atau jahat. Pemakaian antibiotik yang berlebihan ketika sakit justru bisa membuat resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Akhirnya penyakit tidak tersembuhkan dan justu menimbulkan risiko yang lebih besar lagi.

“Karena bakteri adalah juga mahluk hidup, maka ketika ia sering terpapar antibiotik ia akan mencari cara untuk melindungi dirinya sendiri. Hingga akhirnya menyebabkan resistensi, bakteri menolak antibiotik yang masuk ke dalam tubuh dan akhirnya mengganggu proses pengobatan,” ujar Satya Sivaraman, Communication Adviser dari ReAct (Action on Antibiotic Resistance) dalam Media Briefing Bijak Antibiotik bersama Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) di Jakarta, Kamis (6/3/2014).

Satya menambahkan, jumlah bakteri jahat yang dapat menimbulkan penyakit, yang ada di seluruh permukaan bumi jumlahnya masih sangat sedikit yaitu hanya sekitar 150 jenis. Sementara dalam tubuh setiap manusia bakteri sendiri jumlahnya 10 kali lebih banyak ketimbang sel-sel dalam tubuh.

“Bakteri banyak dalam tubuh kita jadi mengapa kita harus mencoba membunuhnya. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat bisa membuat lebih banyak kuman jahat dalam tubuh kita,” imbuh dia.

Bentuk penggunaan antibiotik yang tidak bijak meliputi pemberian dosis yang tidak tepat, frekuensi pemberian yang keliru, atau waktu pemberian terlalu singkat atau terlalu lama selain mengurangi efisiensinya sebagai pembunuh mikroba juga menimbulkan resistensi. Akhirnya pasien menderita sakit yang lebih berat, lebih lama, terpapar risiko toksisitas, risiko kematian dan pengobatan yang mahal.

“Yang dikhawatirkan ketika tubuh kita sakit dan memerlukan antibiotik maka bakteri akan menolak atau resistensi terhadap antibiotik sehingga pengobatan akan lebih sulit dilakukan,” ujar dokter spesialis anak Purnamawati S. Pujiarto SpAK yang juga Penasehat YOP.

Purnamawati menyayangkan banyaknya masyarakat yang tidak bijak dalam mengkonsumsi antibiotik. Mulai dari pemakaiannya sebagai pengobatan terhadap penyakit yang tidak memerlukan antibiotik hingga membelinya dengan bebas tanpa resep dokter.

“Kalau tidak ada bakteri jahat (yang menyebabkan sakit kita) ketika kita minum antibiotik lalu siapa yang kita bunuh? Maka yang dibunuh adalah bakteri yang baik, sementara yang berpesta pora adalah bakteri jahat yang akan menempati tempat-tempat yang sebelumnya ditempati bakteri baik,” tandas Purnamawati.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 Kementrian Kesehatan, sebesar 86,1% rumah tangga di Indonesia menyimpan antibiotik di rumah tanpa resep dokter. Studi WHO tahun 2005 menemukan, 50% puskesmas dan rumah sakit di Indonesia mengandung antibiotik.

Sedangkan survei nasional 2009 menemukan bahwa antibiotik merupaka resep untuk penyakit-penyakit akibat virus seperti diare akut dan selesma atau flu.

“Penyakit-penyakit seperti selesma atau comon cold, diare atau batuk pilek adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, virus bukan dimatikan dengan antibiotik jadi mereka tidak membutuhkan antibiotik,” tandas dia. [aji]

Sumber: inilah.com

Leave a comment »

%d bloggers like this: